Perlahan mata itu terbuka, silauan cahaya dan ruangan serba putih langsung menyambut retina matanya. Sekejap ia kembali menutup matanya berusaha menyesuaikan pandangannya. "Amierra!" Seketika mata itu terbuka lebar dan sosok itu ada tepat di hadapannya dengan wajah yang sulit di jelaskan. Seseorang itu tampak khawatir, wajahnya sedikit kusut dan pucat. "Aku akan panggilkan Dokter," serunya membuat Amierra berusaha membuka suaranya yang terasa sakit dan perih. "Pa-paman." Setelah bersusah payah, akhirnya dia mampu membuka suaranya membuat pria itu menghentikan gerakannya dan kembali menoleh pada Amierra. "Paman," panggil Amierra sekali lagi dengan air mata yang luruh membasahi pipinya. "Aku di sini Amierra, tenanglah," seru pria itu menahan tubuh Amierra yang hendak terbangun. "Ka

