Holiday #1

1223 Kata
“Tidak perlu datang kesini, aku baik baik saja” kata gadis yang tengah berdiri dijendela menatap indahnya langit dimalam hari. “.......” Gadis itu merotasikan bola matanya, terlihat malas berbicara dengan seseorang yang menelfonnya. “kenapa kakak mencemaskanku? Sedangkan saat menampar waktu itu terlihat tanpa ragu” celetuknya. Zeline berjalan mendekati ranjang kemudian mendudukan pantatnya dikasur empuk “sudahlah aku capek, aku tutup dulu telfonnya” ucapnya lalu memutuskan sambungan telfon. Setelah menutup telfon ia melempar benda pipih persegi panjang tersebut dikasur, lalu tubuhnya ia hempaskan pada kasur empuk milik hotel yang dirinya tempati. Gadis itu mendesah pelan, kejadian tak terduga yang akhir akhir ini sering ia alami. Dirinya selalu menganggap bahwa ini hanya kebetulan namun, semakin ia rasakan bahwa ini bukan sekedar kebetulan. Melainkan takdir. Zeline mengacak rambutnya kesal “arghhh” Tubuh dan hatinya sangat lelah mendapatkan kejutan tak terduga dari sang semesta, fikirannya terlalu banyak beban yang harus ia fikirkan. Zeline memang bukan tipe orang bodo amat dengan hal yang sudah masuk kedalam hidupnya, fikirannya akan terus bekerja. Sehingga hatinya siap tidak siap harus merasakan sakit yang luar biasa. “aku sangat lelah” lirihnya. Ia mencoba memejamkan matanya. Karna rasa kantuk sudah menyerangnya jadi, dirinya segera mengistirahatkan tubuhnya. Kruk kruk kruk Sangat menyebalkan memang, bila ingin segera tidur tapi ternyata perut mengiginkan hal lain. “tuh kan laper” katanya dengan mata yang masih terpejam. Tangannya meraba sisi atas kasur mencari ponselnya yang sempat dirinya lempar, setelah mendapatkannya. Jarinya menekan tombol bulat yang ada dibawah. Gadis itu membulatkan matanya lalu berkata, “mampus, udah tengah malam aja” Dirinya bisa saja menghubungi pihak hotel untuk memesan makanan, namun banyak hal yang ia takutkan. Kali aja tiba tiba belnya bunyi, dirinya mengira bahwa itu seseorang yang mengantarkan makanan. Padahal ternyata hantu atau seseorang yang ingin berbuat jahat kepadanya. Zeline menggeleng, ia memukul pelan kepalanya. Fikiran macam apa ini. Sepertinya otaknya sekarang lebih banyak dihantui oleh ketakutan daripada hal yang positif. Lebih baik ia menahannya lalu segera tidur, ya mungkin itu keputusan terbaik untuk menghilangkan rasa laparnya. Gadis itu mengubah posisi tidur senyaman mungkin dengan memeluk bantal dan menghadap kesamping. Sebelum itu ia membaca doa sebelum tidur terlebih dahulu agar tidak mimpi dikejar kejar oleh hantu seperti yang ada difikirannya. Sampai akhirnya, dirinya berhasil terbawa arus rasa kantuknya. * * * Sudah 10 menit zeline dan farel berjalan dari hotel sampai ketujuannya, sedari tadi farel tak hentinya ngedumel kesal karna menuruti kemauan zeline. Pria itu tak habis pikir, mengapa gadis disebelahnya sangat suka menyusahkan dirinya. Padahal mengunakan transportasi tidak memakan banyak waktu, alasan zeline ingin jalan kaki karna sekalian olah raga dan menikmati suasana dipedasaan kota lampung. Melihat farel yang cemberut dan mengoceh tanpa henti, zeline hanya terkekeh. Saat penglihatannya menangkap seseorang yang berdiri dengan senyum yang merekah, rasa capeknya hilang seketika diganti terbalasnya rindu. Ia berlari kecil dengan menelentangkan kedua tangannya lalu berteriak, “tante cia” Wanita paruh baya tersebut dengan senang membalas pelukan zeline, cia tak hentinya menciumi pipi zeline dengan gemas. Sudah sebelas tahun dirinya tak bertemu dengan gadis tersebut. “semakin cantik ya kamu zeline” kata cia dengan mencubit gemas pipi zeline. "Ah tante juga makin bohay hahaha" goda zeline. Cia menuntun zeline untuk masuk kedalam dan mempersilahkan untuk duduk, sedangkan farel yang masih termenung didepan pintu membuat dua wanita tersebut menatapnya heran. "Jadi anaknya mama ini farel apa zeline?" Tanya farel. Mendapat pertanyaan konyol dari anaknya, sontak cia tertawa. "Hahaha ada ada aja kamu tuh, sini duduk" cia menarik lengan farel lalu mendudukan disofa. Sedangkan zeline yang senang dengan raut wajah murung sahabatnya malah menahan tawa. "Nyengir mulu lu" sindir farel. Zeline mengejeknya dengan menjulurkan lidah, perilaku tersebut semakin membuat farel gemas dengan gadis disebalahnya. Pria itu dengan cepat mengacak rambut zeline. Gadis itu menatap nyalang farel lalu berkata, "dasar sinting" Farel memang asli orang lampung, dulu saat ia masih berusia 5 tahun keluarganya sempat pindah dikota surabaya karna masalah pekerjaan ayahnya. Lalu saat kontrak masa kerja ayahnya selesai, farel dan keluarganya pindah kembali ke lampung dan menjadi penduduk asli disana. Saat itu farel baru naik ke sekolah menengah pertama pada saat dirinya kembali kekota kelahirannya dan dengan terpaksa berpisah dengan zeline, setelah lulus sekolah pria itu memutuskan untuk kuliah dikota malang karna disana juga ada sanak saudaranya terutama kakek dari ayahnya. Waktu tanpa terasa berlalu, farel menuntaskan pendidikannya S1. Kakeknya memberikan sebuah jabatan sebagai direktur diperusahaan milik kakeknya. Karna beliau juga tau bagaimana kinerja cucu dari anak pertamanya. Dengan senang hati farel menerimanya, tapi ia bukanlah pria yang suka dengan kemewahan. Kakeknya sudah memberikan fasilitas untuk dirinya dan keluarganya, mereka menolaknya dengan halus. Dan memilih hidup sederhana didesa saja dari pada dirumah besar penuh kemewahan. "Mengapa kalian tidak menginap disini saja?" Cia meletakkan dua gelas jus jeruk dimeja. "Farelnya tidak mau tante, katanya nanti merepotkan tante" jawab zeline. Pria itu mencebikkan bibirnya "dih bisa aja kalau ngarang" "Lalu kenapa tadi jalan kaki? Kenapa gak naik motor atau mobil aja?" Tanya cia lagi. "Farel yang maksa tante, emang farel suka nyusahin orang lain ya tante" zeline tersenyum geli. Pria yang menjadi sasarannya hanya memutar bola matanya tanpa mengelak ucapan zeline, hal tersebut semakin membuat zeline tersenyum puas. "Serah lu dah" Puas mengoda farel, entah kenapa tenggorokannya terasa kering. Zeline memutuskan untuk membasahinya dengan minum jus yang sudah disediakan oleh cia, tiba tiba ia tersedak saat mendapat pertanyaan dari mama sahabat kecilnya itu. "Gimana kabar mama dan papa kamu zeline?" Tanya cia. "Huuk, eh mereka ya tante? umm" ia sengaja mengantung ucapannya, "mereka sangat baik baik saja" sambungnya dengan menekankan kata 'sangat'. Tak ingin terbawa emosi, zeline meletakkan gelas dengan pelan dan tubuhnya ia sandarkan di sandaran kursi. jari jarinya saling bertautan. Farel yang menyadari situasi tidak baik, segera ia mengalihkan pembicaraan. "Oh ya ma, papa kemana dari tadi kok gak kelihatan?" Tanya farel. "Ohh papamu lagi kepantai udah dari tadi pagi, biasa lah" jawab wanita paruh baya tersebut. Farel mengangguk mengerti, ia menengok gadis disebelahnya. Raut wajah zeline terlihat berubah menjadi murung. "Zeline, are you oke?" Tanya farel memastikan. Gadis itu menoleh, matanya berkunang kunang. Farel sangat jelas bisa melihatnya. Zeline tersenyum samar lalu perlahan mengangguk sebagai jawaban. Cia yang tidak mengerti perubahan raut wajah zeline, terlihat cemas. Wanita itu berfikir apakah ada yang salah dengan dirinya ?. "Nak, apakah tante baru membuat kesalahan?" Zeline menatap cia penuh arti, gadis itu ingin memeluknya lagi. Menumpahkan segala keluh kesahnya pada orang yang mungkin jauh lebih memahami situasinya. Namun sayang, gadis itu terlalu takut menunjukkan dirinya bahwa sebenarnya ia sangat rapuh. Zeline dengan cepat merubah raut wajahnya berganti dengan senyuman "Ahh Tidak ada tante, zeline hanya lapar belum makan dari semalam hehehe" ungkapnya. "Yahh tante belum masak, farel juga baru memberi tau jika kalian kesini waktu sudah mau sampai" sesal wanita tersebut. "Tidak apa apa ma, kami makan diluar aja. Sekalian mau jalan jalan" jelas farel, "oh ya ma pinjem motor ya hehehe" tambahnya. Cia mengambil kunci motor diatas etalase lalu melempar kearah farel, dengan sigap farel menangkapnya. "Sok sokan ngajakin cewek jalan kaki, jalan bentar aja udah linu linu tu kaki. Cemen ah anak mama" cibir cia. "Eh itu kan ke-" "Yaudah zeline pamit ya tante. Kapan kapan zeline main kesini lagi" potong gadis itu, lalu mencium pipi kanan kiri mama farel. Cia mengantar zeline sampai kedepan, sedangkan farel masih posisi duduk dengan menatap keduanya tak percaya. Ia menghela nafas pelan. Terabaikan lagi-batinnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN