Aaron melepaskan pelukannya lalu menatap lekat Kate. "Maafkan aku sudah membuatmu salah paham. Seharusnya aku mengatakannya padamu sejak dulu, tapi aku mencoba mencintaimu sebagai istri bukan secret admirer yang dulu aku lakukan, Kate," terangnya melihat Kate terperangah lalu tersenyum.
"Harusnya kau ceritakan padaku sejak dulu, Aaron. Sehingga aku tak salah paham dan aku takkan pergi meninggalkanmu seperti.." Kepala Kate tertunduk lemah. "Yang sudah kulakukan sebelumnya. Maaf…"
"Kau tak salah, Kate," Aaron mengangkat kepala Kate dan menatap kedua bola mata lalu beralih ke bibirnya yang selalu membuat darahnya berdesir kencang. "Kau melakukan apa yang wanita lakukan jika merasa dirinya tak dicintai oleh suaminya. Kau sudah melakukan benar. Makanya aku minta maaf..sudah menyakiti hatimu."
Tangan Aaron mengusap lembut pipi Kate sementara jakunnya naik turun merasakan hasratnya bangkit sebagai pria normal yang sudah lama tak bercinta dengan seorang wanita yang selama tujuh tahun ini bersemayam di hati dan pikirannya.
Wanita yang selalu menghiasi mimpi dan angannya hingga sekarang. Dan hanya kepada Kate hasratnya bergejolak.
Aaron memiringkan wajah sambil berbisik,"Kau tahu, Kate? Aku sangat mencintaimu." Ucapannya terhenti ketika bibirnya mendarat di bibir Kate dan mengulumnya lembut.
Kate membalas ciuman Aaron walau Ada sebersit rasa bersalahnya karena sudah melakukan ciuman bersama Kendrick. Hatinya menjadi campur aduk sekarang. Di lubuk hatinya paling dalam, ia mencintai Aaron. Tapi kehadiran Kendrick dalam hidupnya juga memberi warna berbeda. Pria tampan yang sudah menyelamatkan nyawanya itu memang sudah merelakannya kembali pada Aaron, walau Kate tahu hati Kendrick pasti hancur berkeping-keping. Tapi Kate sudah memutuskan, jika dirinya kembali pada Aaron dan meninggalkan Kendrick.
Seperti buku diary yang sudah penuh lalu tersimpan di dalam kotak.
Kate mengerang ketika bibir Aaron menjelajahi leher dan hembusan nafasnya yang hangat membuat hasratnya bangkit hingga menginginkan rasa yang sudah lama tak ia rasakan.
Sex.
Aaron mendorong tubuh Kate dan menjatuhkannya di atas ranjang. Mengeluarkan blouse pink motif floral Kate dengan nafas saling berkejaran.
Kate membantu, menggoyangkan pinggulnya ketika kedua tangan Aaron mengeluarkan celana jeans.
Melihat tubuh naked Kate yang terbaring pasrah diatas ranjang, Aaron pun menanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuhnya lalu merangkak di atas ranjang. Mengapit, menindih dan kembali mencumbui Kate.
"Aku ingin kita selalu bersama, Kate. Kumohon, jangan pergi lagi. Karena waktuku--"
"Sstt---" Kate menutup mulut Aaron dengan jari telunjuknya. "Aku akan selalu bersamamu, Aaron. Aku takkan meninggalkanmu lagi karena..kita saling mencintai." Mencoba tersenyum walau sadar diluar sana ada seorang pria yang menangisi kepergiannya. Kate tahu itu, walau Kendrick akan selalu mencintainya juga.
Aaron memiringkan wajah lagi. "Kau milikku, Kate. Hanya milikku.." Bibirnya mengulum bibir Kate dan mereka berciuman penuh hasrat.
Kate melebarkan kedua paha membiarkan Aaron memasukinya. Dengan kedua tangan yang sudah melingkar di punggung, mata terpejam dan kepala mendongak merasakan milik Aaron memasukinya pelan.
Berulangkali Kate mengerang dan menyebut nama Aaron. Pria yang menjadi suaminya itu terus menghentak pinggulnya dari kecepatan pelan hingga seirama dengan deru nafasnya yang semakin cepat.
Udara dingin London seakan berganti menjadi hangat. Tubuh mereka dibanjiri keringat dan erangan Kate memenuhi kamar.
Erangan demi erangan, dan tubuh mereka yang menyatu menambah syahdu malam itu.
Tidak hanya basah dengan keringat, beberapa love mark, Aaron tinggalkan di kulit putih Kate, sesuatu yang menjadi kebanggannya sebagai tanda bawa ia lah pemilik tubuh itu. Bukan pria yang bernama Kendrick, walau telah menyelamatkan nyawa Kate seminggu yang lalu.
Aaron makin menambah ritme hentakan pinggulnya dan merasakan sesuatu yang akan membuatnya puas. Ia mendongakkan kepala dan mengatakan 'Aaah' setelah mendapatkan kepuasan dan sebagai tanda menjadi pemenang malam ini.
"Aku mencintaimu." Sekali lagi Aaron mengucapkan kalimat itu dengan senyum mengembang memandang Kate dibawah tubuhnya yang juga melakukan hal yang sama.
"Aku juga mencintaimu, Aaron." Kate membalas lalu mengulum bibir Aaron lagi.
❤❤❤
Kate membuka mata pelan ketika bias sinar matahari masuk melalui celah jendela kamar Aaron.
Udara dingin perlahan menyelimuti tubuh naked Kate yang sebagian tertutupi selimut berwarna gading yang sudah berada di pinggang dan membuatnya meringkuk kedinginan.
"Aaron?" Kate memanggil lalu membalikkan tubuh dan melihat sisi sebelah ranjangnya kosong.
Kate bangkit lalu meraih kimono dan mengenakan. Ia keluar kamar mencari Aaron tapi tak menemukannya di sana, baik di pantry ataupun di balkon yang pintunya sudah terbuka lebar.
"Dia pasti sedang mandi," gumamnya sambil melangkah menuju balkon dengan senyum mengembang menyambut matahari pagi.
Di ruangan yang berbeda, sebelah tangan Aaron menopang tubuhnya di tepi wastafel dalam keadaan membungkuk dan meringis kesakitan.
Sebelah tangan yang lain mengusap punggung
sambil berkata dengan lirih, "Kumohon..sembuhkanlah aku Tuhan.." Air matanya menetes merasakan sakit yang semakin menjadi-jadi.
'Bruuk'
Aaron terjatuh dan tergeletak di atas lantai.
Mendengar suara sesuatu yang terjatuh dari kamar mandi, Kate terperanjat kaget dan langsung berlari ke arah kamar mandi.
"Aaron? Kau kah itu?!" Kate menggedor pintu kamar mandi dan mendengar rintihan di dalamnya. "Aaron?" Kate membuka knop dan terkejut ketika pintu itu terbuka melihat Aaron tergeletak di lantai dalam keadaan setengah telanjang.
"Aaron?! Kau kenapa?!" Kate lari berhamburan mendekati Aaron yang meringkuk di lantai dengan tubuh dipenuhi keringat dingin dan wajahnya terlihat pucat.
"Kate.." Aaron meringis sambil menatap Kate yang duduk memangku kepalanya.
"Kau kenapa?! Apa perlu aku telepon 911?!" Kate panik dan kalang kabut melihat keadaan Aaron yang lemah seperti pasien kekurangan oksigen. "Sebaiknya aku menghubungi 911 sekarang. Kau tunggu disini. Aku akan kembali," Kate mencoba bangkit tapi Aaron menggenggam tangannya dan memohon.
"Jangan.." Aaron mencegah. "Kumohon jangan. Sebaiknya kau ambilkan..sebuah botol kecil berisi cairan dan suntikan didalam.." Nafas Aaron terus melaju cepat. "Di laci meja kerjaku.." Aaron meminta sambil meringis dan sesekali ia memejamkan mata menahan sakit.
"Ba--baiklah..aku akan mencarinya." Kate bangkit lalu berlari keluar kamar mandi menuju meja kerja Aaron yang berada di dekat sofa, tepat sebelum pantry.
"Laci?" Kate melihat ada tiga laci di meja itu. Ia membuka satu persatu laci dan memeriksa isinya.
Laci pertama hanya berisi beberapa lembar kertas disana. Sedangkan laci kedua ia menemukan diary dan tiga lembar foto candid. "Sejak kapan dia menyimpan fotoku?" Tercengang melihat fotonya saat sedang berdiri di depan kampus di hari wisuda bersama Lisa. "Tidak! Kau harus fokus menemukan barang itu Kate!" Berbicara sendiri sementara tangannya kembali membuka laci ketiga.
"Aku menemukannya!" Kate bersorak gembira tapi sekaligus terkejut meraih lalu membaca botol kecil itu bertuliskan 'Morfin'. Dan suntikan itu berada dilaci yang sama.
Kate tak ingin berpikir banyak. Tugasnya hanya mengambil dua barang tadi sesuai permintaan Aaron lalu berlari menuju kamar mandi lagi.
Tiba disana ia mendekati Aaron dan bertanya, "Apakah ini?" Menyodori dua barang itu.
Aaron mengangguk lemah. "Ya.." Dengan suara lemah dan berusaha untuk duduk.
Kate duduk di dekatnya, memperhatikan Aaron dengan tangannya yang bergetar memasukkan cairan itu ke dalam suntikan.
"Biar aku saja," Kate merebut kedua barang tersebut dari tangan Aaron dan melanjutkannya. "Lalu aku harus apalagi?"
"Kau bisa menyuntik?"
Kate mengangguk. "Aku pernah belajar dari temanku yang perawat saat di Bali."
Aaron menunjuk punggungnya sendiri. "Tolong kau suntik disini," pintanya cepat.
Kate menurut dan menusukkan suntikan itu tepat pada titik yang sudah Aaron tunjukkan. Tanpa keraguan ia menyuntikan hingga cairan itu habis.
Aaron menghela nafas lega dan mengyandarkan kepala di pangkuan Kate.
"Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa merasa lebih baik?" Kate melihat wajah Aaron tak sepucat tadi.
"Ya. Bantu aku ke kamar, Kate," Aaron meminta sambil berusaha bangkit.
Kate memapah Aaron dan membawanya ke kamar lalu membaringkan Aaron di ranjang. Ia menyelimuti sebagian tubuh Aaron yang tak lama tertidur karena efek dari obat yang ia suntikkan tadi.
Setengah jam lamanya Aaron tertidur, setelah Kate membersihkan diri dan sarapan, ia menghubungi Josh dan menanyakan tentang keadaan yang baru saja terjadi pada Aaron. Tapi sayangnya Josh tak banyak berkata hanya menjawab, "Dia harus banyak beristirahat. Sebaiknya kau tanyakan padanya, Kate. Kurasa dia akan menjawabnya."
Kate memang tak puas mendengar jawaban Josh dan menduga pria berambut pirang itu menyembunyikan sesuatu.
❤❤❤
Keadaan Aaron perlahan membaik setelah kedatangan Josh. Setelah makan siang yang berupa sup kentang, Aaron meneguk obat dan kembali beristirahat.
Melihat Aaron kembali tertidur, Kate menarik tangan Josh yang duduk disamping Aaron menuju sofa.
"Ada apa, Kate?" Josh melangkah mengikuti Kate keluar kamar.
Kate berhenti melangkah setelah tiba di dekat sofa. "Jujurlah padaku, Josh. Kau pernah bilang jika Aaron mencintaiku sejak lama dan menutupinya dariku. Sekarang katakan padaku, apa penyakit yang ia derita sekarang?" Mata Kate mamandang tajam Josh dan menagih jawaban.
Josh tahu selama ini banyak hal yang mereka tutupi dari Kate. Mengenai perasaan cinta Aaron, bisa Josh ungkapkan tapi mengenai penyakit yang sedang diderita Aaron, rasanya terlalu sulit. Josh takut Kate pergi meninggalkan Aaron dan kembali pada pria tampan bernama Kendrick itu.
Josh dilema membalas tatapan mata indah Kate yang penuh penasaran. Ingin rasanya ia memberitahu agar Kate menyadari jika Aaron selalu mencintainya walau dalam keadaan sakit. Tapi satu sisi, Aaron melarang Josh untuk memberitahu. Dan Josh benci itu.
Sifat Aaron yang selalu menutupi dan menanggung luka sendiri, Josh sangat membencinya.
"Josh?" Kate menagih jawaban lagi.
Josh memegang kedua bahu Kate dan berusaha untuk tenang mengatakan sesuatu pada Kate. "Aku sudah bilang padamu, Kate. Jika Aaron butuh istirahat dan tak boleh banyak pikiran. Kau harus membuatnya bahagia dan tentu saja tak boleh meninggalkan dia lagi." Josh menjawab tapi Kate menghela nafas tak puas dengan jawaban Josh.
"Aku tahu itu, Josh. Semua orang sakit juga harus melakukan apa yang kau katakan tadi. Tapi aku hanya ingin tahu nama penyakit yang ia derita sekarang, agar aku bisa membantu dalam masa penyembuhannya. Anggaplah aku susternya sekarang." Air mata Kate mengembang dan merasa sesuatu buruk memang sedang Josh sembunyikan.
"Sudahlah lupakan saja. Kau takkan menjawabnya!" Kate gusar Josh tak juga menjawab. Ia membalikkan tubuh dan bermaksud menuju kamar lagi.
Josh menarik tangan Kate. "Umurnya takkan lama lagi, Kate."
Mata Kate melotot, jantungnya seketika berdetak kencang dan kepalanya tiba-tiba menjadi pusing mendengar ucapan Josh seperti petir di siang hari.
Kate berbalik dan air matanya menetes. "Apa maksudnya, Josh?" Memegang kedua lengan Josh dan mengguncangnya.
"Dua bulan." Josh menatap Kate serius dan raut wajahnya berganti menjadi sedih.
"Dua bulan? Maksudmu?" Dahi Kate berkerut dan tangannya spontan melepas pegangannya.
Josh menghela nafas lalu menggeleng lemah. "Umur Aaron tinggal dua bulan lagi, Kate. Dokter memvonis umurnya hanya dua bulan lagi."