Kendrick menggenggam tangan Kate dan berdiri di balkon setelah mereka menghabiskan sarapan.
Cahaya matahari pagi menyinari tubuh mereka dibarengi semilir angin dingin berhembus mengibarkan rambut panjang Kate.
Di bagian barat terlihat awan hitam menggulung dan berjalan perlahan menuju timur. Tak lama lagi mungkin London akan diguyur hujan.
Sejak tadi wajah Kendrick terlihat cemas, tak tenang dan perasaannya campur aduk.
Berulangkali Kate menenangkan dan berkata, "Semua akan baik-baik saja, Ken. Sekalipun Aku kembali padanya, kita tetap terus berhubungan walau tak seperti ini."
Melihat genggaman Kendrick yang semakin erat lalu memeluk dan mencium kening, Kate menepuk pelan punggungnya dengan mata berkaca-kaca. Walau baru seminggu Kate mengenal Kendrick, pria itu sudah membuatnya nyaman, hangat dan dicintai. Sesuatu yang tidak ia dapatkan dari Aaron.
Kendrick tahu jika cintanya baru saja terbalas tapi harus melepas Kate untuk kembali ke pelukan Aaron. Ia mengakui kesalahannya yang sudah mencintai Kate, tapi hanya wanita itu yang ia inginkan walau tak lama lagi harus melepasnya pergi.
'Ting tong ting tong'
Suara bell mengejutkan mereka dan Kendrick spontan melepaskan pelukan sementara pandangannya tertuju ke arah pintu.
"Biar aku saja yang buka," Kendrick berjalan menuju pintu lalu membukanya.
"Anda mencari siapa?" sapa Kendrick pada pria berambut pirang berpenampilan rapi.
Tamu itu menaikkan sudut bibir kanannya. "Apa kau yang bernama Kendrick Benson?" Memastikan sambil melirik ke arah handphone yang di genggam. Sebuah alamat tempat ia tandangi sekarang.
"Ya, itu aku. Ada apa?" Kendrick merasa pria itu bukanlah Aaron, atau mungkin orang suruhan Aaron.
"Boleh aku masuk? Atau kita bicara disini saja?" Menunjukkan tempat mereka berdiri sekarang.
Kendrick gelagapan. "Eh? Maaf. Silahkan masuk," Membuka pintu lebar-lebar dan menyilakan pria itu masuk dengan langkah santai.
Tiba di ruang tamu, Kate terkejut melihat Josh yang menjadi tamu mereka sekarang, bukan Aaron.
Kate berjalan dari arah balkon mendekati sambil bertanya, "Josh? Kau Josh bukan?"
Pria yang dituduh bernama Josh itu mengangguk. "Apa kabarmu, Kate?"
"Baik. Silahkan duduk, Josh." Kate menyilakan Josh sementara ia beranjak menuju pantry.
Josh duduk berhadapan dengan Kendrick. Pria tampan berambut coklat yang memiliki bola mata berwarna biru.
Mereka terdiam sebentar saling mengamati dan berbisik dalam hati.
"Apa kau teman Aaron, suami Kate?" tebak Kendrick memulai percakapan lagi.
"Ya. Aku mewakili Aaron untuk menjemput, Kate." Josh menjawab dan disambut dengan kerutan dahi Kate yang mendekat membawa secangkir kopi.
"Menjemputku? Kenapa harus kau, Josh? Apa dia.." Kate berusaha berpikir positif. "Sakit?" Kate menaruh cangkir di atas meja lalu duduk disamping Kendrick walau berjarak tiga jengkal darinya.
"Eh?" Josh tertegun mendengar tebakan Kate, tangannya melambai tanda menolak. "Dia sedang ada janji dengan pasiennya. Hari ini dia sibuk sekali." Josh menerangkan dengan raut wajah ragu. Dan Kate tahu itu.
Kate menghela nafas sambil bersandar menatap Josh yang menyembunyikan kebenaran dari wajahnya dengan cara meneguk kopi.
"Apa yang kalian sembunyikan dariku, Josh?"
Kendrick berdehem lalu bangkit. "Aku keluar dulu, Ada sesuatu yang harus ku beli." Menatap Kate dan Josh bergantian. "Sebaiknya aku tinggal kalian agar nyaman bicara." Menepuk bahu Josh pelan. "Aku tinggal dulu, Josh."
Josh mengacungkan ibu jari. "Terima kasih, Kendrick."
"Panggil saja aku Ken." Kendrick meminta lalu beranjak meninggalkan mereka setelah Josh mengangguk.
Josh bersandar memandangi Kate yang tak sabar menanti jawaban. Wajah wanita cantik itu memang menarik seperti yang sering Aaron ceritakan sejak dulu. Tapi sayangnya Aaron tak tahu cara untuk memperlakukan Kate yang seharusnya ia lakukan. Bodoh.
Aaron bodoh memperlakukan istrinya. Seandainya melihat Kate satu rumah dengan seorang pria yang sudah menolongnya, pasti hatinya hancur. Itulah yang terpikirkan oleh Josh sekarang.
"Aku tak menyembunyikan apapun, Kate." Josh kembali mengelak. "Aku hanya menjemputmu dan mengatakan sebuah kebenaran tentang perasaan Aaron terhadapmu selama ini."
"Kebenaran?" Kate memastikan cepat sambil memutar bola matanya. "Kebenaran jika dia takkan pernah bisa melupakan Lisa? Yang selalu mencintai Lisa karena hanya Lisa lah wanita yang paling sempurna?" Air Mata Kate mengembang mengingat semua yang sudah terjadi. Sikap, ucapan bahkan hati Aaron yang hanya ditujukan Lisa semata walaupun mereka sudah melakukan semua.
"Kau salah, Kate." Josh meneguk kopi lagi sambil memandang Kate yang terperangah.
"Eh? Apa maksudmu?" Kate tak mengerti maksud Josh.
Josh berdehem. "Semua yang kau tuduhkan pada Aaron adalah salah besar. Untuk itulah aku datang menjemputmu, jika Aaron yang tiba kau tak kan sedikitpun mendengar penjelasannya." Josh menatap serius, menghela nafas pelan. "Aaron mencintaimu."
Mata Kate melotot tak percaya apa yang baru saja ia dengar. Yang ia tahu selama ini Aaron hanya menyanjung dan mencintai Lisa. Bukan dirinya yang hanya sebagai istri pengganti. Tapi mendengar ucapan Josh hatinya menjadi bimbang. Entah harus bahagia atau bersedih, satu sisi ia bahagia jika benar cintanya tak bertepuk sebelah tangan, sementara di sisi lain..Kendrick sudah mengetuk pintu hatinya yang sudah terbuka lebar. Untuk memulai hubungan baru dari awal.
"Apa itu benar?" Kate memastikan lagi.
Josh mengangguk. "Ya. Sejak dulu. Sejak kau belum mengenalnya."
"Tunggu dulu," Kate menghentikan penjelasan Josh yang menurutnya tak masuk akal. "Sebelum mengenalku? Bagaimana bisa, Josh?" Dahi Kate berkerut lalu menggeleng. Bagaimana bisa mencintaiku sementara kami saling mengenal empat bulan yang lalu? Semua orang pasti akan berpikir seperti itu kecuali Aaron menjadi secret admirernya.
Josh tertawa kecil. "Apa kalian sudah saling mengenal sebelum kau menikahinya?"
"Tidak." Kate menggeleng lugas. "Aku pastikan belum mengenalnya sebelum kematian Lisa." Menyakinkan Josh jika ingatannya cukup tajam untuk mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
"Sepertinya kau melewatkan sesuatu, Kate. Tujuh tahun yang lalu..pria yang kau temui setiap malam minggu."
"Tujuh tahun yang lalu? Umurku 20 tahun dan aku masih kuliah." Kate mencoba mengingat dan tak lama ia terperangah.
Tujuh tahun yang lalu
We Love it Bar, London
"Kau yakin tak menerima Scott menjadi kekasihmu?" Seorang wanita yang paling tinggi dengan rambut burgundy bergelombang dan mengenakan overall pendek plus knit model turtle neck bertanya pada Kate.
"Itu tak mungkin, Connie. Kau tahu Scott seorang Playboy. Aku tak mau kehilangan keperawananku hanya karena kencan dengannya," Kate membalas lalu tertawa menanggapi ucapan kawannya yang bernama Connie lalu meneguk cocktail.
Kawan Kate yang lainnya menggeleng. "Sampai kapan kau mempertahankan keperawanmu, Kate? Atau kau ingin menjadi biarawati?" Wanita itu tertawa lalu dengan cekatan tangannya meneguk segelas bir.
"Kau salah, Suzy." Timpal wanita bertubuh tambun dan berkacamata tebal ke arah Suzy, wanita cantik berambut Bob. "Kate menginginkan s*x di malam pertamanya. Dan tentu saja itu masih lama, itupun sebelum dunia kiamat." Ucap Margaret memutar bola matanya ke arah Kate yang seketika tertawa dan mengangguk.
Kate mengangkat gelas yang menyisakan setengah cocktail didalamnya ke arah Margaret yang duduk di samping Suzy. Tepat di sebelah kanannya. "Ternyata kau mengingat baik ucapanku, Margaret," Kate tertawa tapi tiba-tiba pandangannya terhenti dan tertuju pada pria yang duduk di meja sudut ruangan.
Seorang pria tampan memakai kacamata, topi dan jaket jeans biru muda, menarik perhatiannya. Dan pria itu juga sedang menatap ke arahnya sekarang.
Mereka saling berpandangan sejenak, sebelum Karen mengganggu Kate.
"Siapa yang kau lihat?" Pertanyaan Karen membuat ketiga kawan Kate lainnya tertuju pada pria itu yang spontan tertunduk.
"Eh?" Kate menggeleng. "Bukan siapa-siapa. Aku tak mengenalnya." Memberi tahu walau dari pandangan mereka yang seakan mengatakan 'Katakan pada kami siapa pria itu?'.
Kate tertawa kecut. "Sungguh..aku tak mengenalnya," Kembali meneguk cocktail dan mengabaikan pertanyaan mereka walau mereka berdecak kagum melihat ketampanan pria itu, bahkan Suzy sempat melambaikan tangan ke arahnya, begitu juga dengan Margaret.
Berselang lima menit kemudian pria berambut pirang memasuki Bar dengan langkah santai dan langkahnya terhenti tepat di meja sudut ruangan. "Maaf aku terlambat." Sapa pria itu tapi pandangannya mengikuti kawannya yang mengarah para gadis yang duduk di kursi depan Bartender. "Siapa yang kau lihat? Apa kau mengenalnya?" Menarik kursi lalu duduk memandang pria didepannya tersenyum memperhatikan mereka. Ia melambaikan tangan tepat di wajah pria itu. "Hallo, Aaron Williams? Apa kau jatuh cinta pada salah satu wanita disana?" tebaknya lalu menoleh kebelakang mengikuti pandangan Aaron lagi.
Dari lima wanita cantik dan muda yang duduk di meja panjang bartender, hanya satu wanita yang menarik disana. Wanita berambut coklat panjang sepunggung duduk tepat di samping wanita memakai overall.
"Ya, Josh" Aaron menjawab dengan senyum mengembang. "Wanita berambut coklat itu. Nomor dua dari kiri." Menyetujui pemikiran Josh.
"Ayo," Josh bangkit dari kursi.
"Kemana?" Aaron tak mengerti.
"Berkenalan dengan mereka," ajak Josh semangat.
Aaron menggeleng. "Tidak, Josh. Aku belum siap menjalin hubungan dengan wanita untuk saat ini." Menolak ajakan Josh walau senyumnya mengembang lagi melihat Kate.
"Come on, Aaron," Wajah Josh memelas melihat Aaron hanya bisa mengagumi Kate dari jauh. "Kita sudah dewasa. Sampai kapan kau bergelut dengan buku dan melupakan gadis cantik?" Josh membungkukkan tubuh ke arah Aaron dengan tangan berada di atas meja. "Kau pilih salah satu dari mereka lalu ajak ke hotel." Menoleh kebelakang dan melihat para gadis tertawa cekikian ke arah mereka. "Lakukanlah seperti yang pria normal lakukan, Aaron. Berkencan lalu tiduri mereka."
Aaron meneguk Bir. "Sudah kubilang aku tak ingin menjalin hubungan saat ini. Lagipula aku hanya ingin melakukan s*x dengan wanita yang kusukai. Bukan hubungan one night stand, Josh." Terang Aaron naif. Di usia 23 tahun saat ini hanya dua kali menjalin hubungan, itupun saat masih menjadi pelajar SMA. Sebatas kissing, tak lebih.
Josh kembali duduk sambil menghela nafas pasrah menatap Aaron yang sesekali masih melirik ke arah mereka. "Aku menyerah, Aaron. Terserah kau sajalah, jika kau memegang prinsip melakukan s*x sesudah menikah, aku salut padamu. Dan aku yakin dia wanita yang beruntung..." Josh mengambil rokok dari saku jaket. "Mendapatkan keperjakaanmu," sambungnya lagi lalu terkekeh.
Josh dan Aaron meneruskan perbincangan mereka, begitu juga dengan para gadis itu.
Di saat Josh berbicara, ia menerima pesan dari kekasihnya yang baru saja ia kencani seminggu yang lalu. Tak ada cara lain dan terpaksa meninggalkan Aaron sendiri di Bar.
Berselang beberapa menit, Kate dan kawannya pun terpaksa meninggalkan Bar mengingat malam semakin larut.
Setelah satu persatu kawan Kate menaiki kendaraan dengan rute yang berbeda, tinggalah Kate yang masih berdiri menanti bis.
Setelah menaiki bis, Aaron mengikutinya dengan mengendarai motor Kawasaki Ninja hingga Kate tiba di rumah. Ia tersenyum lebar sudah mengetahui tempat tinggal Kate, tapi masih banyak beberapa hal yang ingin ia ketahui, seperti di mana tempat Kate kuliah, mempunyai kekasih atau tidak dan tentang kepribadiannya.
Setelah seminggu menjadi stalker, akhirnya usaha Aaron membuahkan hasil dan bisa tersenyum lega. Ia berhasil mengetahui kampus dan jurusan yang Kate ambil dan yang terpenting Kate belum memiliki kekasih.
Setelah mempertimbangkan ucapan Josh, Aaron memberanikan diri bertandang ke rumah Kate. Walau harus meneguk kekecewaan karena tak bisa menemui Kate, melainkan Lisa.
Setelah perkenalannya dengan Lisa, Aaron merasa wanita itu terlalu agresif mendekatinya walau tahu jika dirinya menyukai Kate. Untungnya, Aaron mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliah kedokterannya di Kota Surrey, sekitar 40 kilometer dari Kota London.
Walaupun Aaron jarang pulang ke London tapi Lisa selalu menghubungi dan menyempatkan waktu untuk mengunjungi Aaron di apartemen.
Bukan Aaron tak pernah menolak Lisa, tapi kakak kandung Kate Jhonson itu selalu mendekatinya dengan berbagai cara. Sekalipun tahu Aaron hanya menyukai Kate walau kecewa wanita yang ia sukai sudah pergi meninggalkan London menuju Bali, Indonesia.
Tak ada cara lagi yang tak ia lakukan untuk menolak cinta Lisa hingga akhirnya Aaron menyerah dan terpaksa menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih.
Semua orang mengatakan jika mereka kekasih yang serasi dan harmonis. Tapi tidak pada kenyataannya, hati Aaron selalu untuk Kate walau pertunangan harus terjadi demi menyetujui permintaan Nancy yang sedikit memaksa Aaron.
Hari-hari yang Aaron lalui terasa hambar. Gadis yang ia sukai tak dapat diraih karena terpaksa menjadi tunangan Lisa.
Apakah Lisa selalu sabar menghadapi Aaron yang dingin dan hanya tertarik membicarakan Kate?
Tidak.
Saat Lisa tak sanggup lagi menjalani hubungan penuh kepalsuan, ia murka.
Lisa mencaci Aaron tak bisa move on dan tak bisa melupakan Kate yang tak pernah mengetahui dan membalas cintanya.
Dua tahun menjadi tunangan tak pernah Aaron mencium atau mencumbunya selayaknya pasangan lain yang sudah melakukan semua di ranjang. Aaron tak pernah membalas ciuman Lisa, kecuali saat mabuk. Itupun nama Kate yang terlontar dari mulutnya bersamaan dengan aroma alkohol yang menyengat.
Bagi Aaron, Kate lah wanita yang ia cintai sejak pertama kali bertemu. Wanita yang ia temui di Bar yang sama setiap malam minggu.
Wanita yang selalu bersemayam di hatinya hingga saat ini.
Masa sekarang, Apartemen Kendrick
Kendrick mendekap Kate yang menangis setelah menceritakan apa yang sudah Josh katakan beberapa jam lalu.
Sebuah kebenaran.
Ia tak menduga jika selama ini semua yang ia sangkakan terhadap Aaron ternyata salah. Terlebih lagi Aaron sudah mencintainya sejak tujuh tahun yang lalu dan itu berarti selama ini sudah salah paham terhadap Aaron.
Permasalahan Kate tak sampai di situ. Bagaimana dengan Kendrick yang sudah mencintai dan membantuku selama ini? Apa aku harus kembali pada Aaron sementara pria ini pun mencintaiku? Dan aku pun sudah jatuh cinta dengan kebaikan dan ketulusannya. Sungguh..aku tak tahu apa yang harus kulakukan agar tak ada hati yang tersakiti karena aku lagi..
Aku mencintai Aaron tapi..
"Kembalilah padanya, Kate"
Ucapan Kendrick membuat Kate terkejut dan spontan melepaskan pelukan dan menatap bola matanya. "Bagaimana denganmu, Ken?" Air Mata Kate mengembang dan dilanda dilema.
"Aku akan baik-baik saja, Kate." Memeluknya lagi dan kesekian kali mencium pucuk kepala Kate. "Bahagialah dengannya karena dia tidak seperti yang kau duga selama ini. Dia mencintaimu bahkan sudah dengan sabar menunggumu sampai sejauh ini. Aku.."Air mata Kendrick mengembang. Sedih harus melepas wanita yang sudah mengisi hari-harinya selama beberapa hari ini walau tahu cintanya terlarang. "Hanya terlambat mengenal dan mencintaimu."
Kate mengangguk sambil mengusap pipinya yang basah. "Ya. Kau hanya terlambat, Ken. Terlambat mencintaiku."