SILUET DI AMBANG PINTU
“Jangan!”
Satu kata itu mati di tenggorokan, tercekik oleh aroma bensin yang memenuhi setiap inci rongga parunya. Bau itu bukan lagi sekadar aroma kimia, itu adalah bau kematian.
Rose terjerembap di atas semen dingin gudang yang lembap, gaun sutra mahalnya kini basah kuyup oleh cairan yang akan segera melumatnya hidup-hidup.
Di depannya, dalam keremangan yang mencekam, berdiri Sloan—tangan kanan Jace yang paling setia itu tidak menunjukkan emosi apa pun saat ia memegang jeriken yang kini sudah kosong. Sloan menoleh ke arah kegelapan di sudut gudang, seolah menunggu aba-aba dari penguasa yang sebenarnya.
Lalu, sesosok wanita melangkah keluar dari bayang-bayang.
Darah Rose membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat sosok itu. Ia tidak melihat orang asing. Namun, ia melihat dirinya sendiri. Wanita itu berdiri dengan keanggunan yang sama, mengenakan anting berlian yang sama, dan memiliki wajah yang benar-benar identik dengan wajah Rose—hingga ke garis rahang dan sorot matanya.
Rose merasa dunianya terbelah. Bagaimana mungkin dia ada di dua tempat? Apakah dia sedang melihat kematiannya sendiri dalam bentuk fisik?
“Kau terlalu berisik, Rose,” bisik wanita itu. Suaranya adalah replika sempurna dari suara Rose, namun dengan nada yang jauh lebih dingin. “Aku akan menjaga Jace dan kekayaan St. John dengan lebih baik. Kau hanya perlu... menghilang.”
Wanita yang mengenakan wajah Rose itu memberikan isyarat kecil pada Sloan. Sehingga, Sloan menjentikkan pemantik zippo-nya.
Krak!
Bunga api menyala.
Tanpa ragu, api itu dilemparkan.
WOOOOSH!
Api seketika menyambar bensin yang menggenang di bawah kaki Rose dan menjalar cepat. Dalam satu detik, meledak menjadi nyala merah yang ganas. Api itu menjilat dengan nyata tubuh Rose.
Rose menjerit, namun suaranya habis dimakan deru api yang melahap rambut dan kulitnya.
Kegelapan menyergap setelahnya. Rose ingat rasa sakit yang tak terlukiskan saat jemarinya mencakar lantai semen, mencari celah udara di antara asap hitam. Ia ingat suara sirine yang sayup-sayup, tangan dingin seseorang yang menariknya dari neraka, dan berbulan-bulan rasa perih cairan disinfektan di bangsal rumah sakit yang pengap.
Rose yang lama memang sudah mati di gudang itu, menyisakan raga yang hancur namun keras kepala.
Deg!
Mata wanita di kursi belakang taksi itu terbuka lebar. Napasnya tersengal, meninggalkan uap tipis pada masker medis hitam yang menutupi separuh wajahnya. Ia meremas pegangan tas jinjingnya hingga jemarinya memutih. Bau bensin itu masih di sana, tertanam di memorinya, meski udara di luar taksi kini hanya membawa aroma mahoni yang basah. Kejadian pahit itu melekat bak parasit dalam ingatannya hingga detik ini.
Di luar, gerbang besi hitam setinggi tiga meter itu bergeser tanpa suara, menyambut taksi tua yang tampak asing di antara deretan mahoni yang terpangkas sempurna. Di kursi belakang, seorang wanita duduk mematung. Namanya Noa. Setidaknya, itulah nama yang tertera pada kartu identitas di dalam tas jinjingnya yang murah.
Wajahnya tersembunyi di balik masker medis hitam dan poni panjang yang menutupi sebagian besar dahi. Hanya matanya yang terlihat—sepasang iris yang tajam, dingin, dan menyimpan keruh yang sulit dibaca. Ia tidak datang untuk bertamu, melainkan untuk bekerja sebagai perawat pribadi bagi sang matriark keluarga St. John, Eleanor.
Taksi berhenti di depan pilar-pilar marmer yang menjulang dengan fasad marmer yang berkilau. Segala sesuatu di Kediaman St. John berbau uang, dari aroma rumput yang baru dipotong hingga kilap perunggu pada gagang pintu utama.
Noa turun, tangannya yang terbungkus sarung tangan tipis mencengkeram tali tasnya kuat-kuat. Detak jantungnya stabil, namun ada denyut amarah yang tertahan di balik tulang rusuknya saat kakinya menyentuh lantai teras.
“Nona Noa?”
Suara bariton itu menghentikan langkahnya. Di sana, di bawah naungan kanopi yang luas, Jace St. John berdiri. Ia tampak lebih gagah dari yang Noa ingat dalam bayang-bayangnya. Setelan jas abu-abu gelapnya jatuh sempurna di bahu lebarnya. Ia adalah gambaran pria sukses yang memiliki segalanya.
Namun, perhatian Jace tidak tertuju sepenuhnya pada Noa. Lengannya melingkar posesif di pinggang seorang wanita yang berdiri di sampingnya. Wanita itu adalah Rose.
Noa menatap wanita itu. Gaun sutra putih yang melekat di tubuh Rose tampak sangat akrab. Noa tahu persis bagaimana rasa kain itu menempel di kulit, karena gaun itu adalah miliknya. Rose, yang dunia kenal sebagai istri sah Jace—memiliki wajah yang sempurna, hidung yang tegas, dagu yang lancip, dan senyum yang tampak seperti pahatan malaikat.
“Perawat baru untuk Ibu,” Jace berucap. Ia menoleh pada Rose, lalu mengecup keningnya dengan lembut. “Eleanor sudah menunggumu di atas.”
Rose tertawa kecil, suara yang merdu namun terdengar seperti gesekan pisau di telinga Noa. “Semoga kau lebih tahan lama dari perawat sebelumnya,” ucap Rose sambil membelai lengan Jace. Ia kemudian melirik anting berlian yang menggantung di telinganya—warisan keluarga Rose yang seharusnya terkunci di brankas baja.
Noa menundukkan kepala. Ia tidak boleh bicara terlalu banyak. Suaranya bisa mengkhianati rencananya. Ia hanya memberikan anggukan kecil sebagai tanda hormat.
“Namamu Noa, bukan?” Rose melangkah maju, mendekati perawat bermasker itu. Bau parfum Le Labo Santal tiga puluh tiga yang menyengat segera menyerbu indra penciuman Noa. Itu adalah parfum favorit Rose. Parfum yang ia gunakan saat malam api itu menyentuh kulitnya.
“Iya, Nyonya,” jawab Noa singkat, suaranya sengaja dibuat parau dan rendah.
Rose mengamati Noa dari kepala hingga kaki, bibirnya melengkung sinis saat melihat bekas luka yang mengintip di balik kerah baju Noa yang tinggi. “Apa yang terjadi dengan wajahmu? Kau terlihat... malang.”
“Kecelakaan, Nyonya,” jawab Noa tanpa emosi.
Jace, yang sedari tadi hanya memerhati, tiba-tiba melangkah mendekat dan berdiri tepat di hadapan Noa. Ada sesuatu dalam atmosfir yang mendadak berubah. Jace tidak melihat masker hitam itu, tapi melihat ke dalam mata Noa.
Selama beberapa detik, dunia seolah membeku. Jace mengerutkan kening, matanya ikut menyipit penuh selidik. Ada kilatan pengenalan yang sangat tipis di sana—sebuah dejavu yang menyerang kesadarannya. Ia merasa pernah melihat tatapan itu—tatapan yang sama yang menghantuinya di setiap mimpi buruk tentang gudang yang membara.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Jace.
Noa tidak berkedip. Ia menahan napas, membiarkan kebenciannya menjadi dinding pelindung agar matanya tetap terlihat kosong. “Saya rasa tidak, Tuan St. John. Saya hanya perawat dari agensi.”
Jace masih tidak bergerak. Ia seolah ingin merobek masker itu untuk memastikan sesuatu. Tangannya sedikit terangkat, namun sebelum ia sempat melakukan apa pun, Rose segera menarik lengannya kembali.
“Jace, sayang, kita terlambat untuk pertemuan dengan Sloan,” sela Rose dengan nada manja yang dipaksakan. Ia memberikan tatapan peringatan pada Noa, lalu menyeret Jace menuju mobil Bentley yang sudah menunggu di ujung teras.
Jace masuk ke dalam mobil, namun sebelum pintu tertutup, ia sekali lagi menatap ke arah pintu utama. Noa masih berdiri di sana, siluet gelap di antara kemewahan marmer putih.
Setelah mobil itu menjauh, Noa melepaskan napas yang sedari tadi tertahan. Ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah, melewati cermin besar di aula utama—cermin yang dulu sering ia gunakan untuk mematut diri. Noa berhenti sejenak, melihat pantulan dirinya yang sekarang.
Seorang wanita tanpa wajah, lebih tepatnya seorang perawat misterius, atau seorang penyusup di rumahnya sendiri?
Ia melihat Rose telah mengganti semua foto keluarga di dinding. Foto pernikahan mereka telah diganti dengan versi baru—dengan wajah Rose yang sekarang. Noa menyentuh pigura foto itu dengan ujung jarinya.
“Kau mencuri wajahnya, Noa,” bisiknya dalam hati, matanya berkilat dingin. “Tapi kau lupa satu hal. Kau hanya mencuri kulitnya, bukan jiwanya.”
Ia melangkah menuju lift pribadi yang menuju ke kamar Eleanor di lantai tiga. Di sana, sang matriark telah menunggu, Eleanor St. John.
Saat pintu lift terbuka, Noa melepaskan satu sarung tangannya, memperlihatkan kulit tangan yang keriput dan kemerahan akibat luka bakar yang belum sepenuhnya sembuh.
Ia tidak datang untuk merebut kembali Jace, apalagi untuk mengemis cintanya yang sudah mati. Ia hanya ingin memastikan bahwa setiap orang yang terlibat dalam malam itu akan merasakan panasnya api yang sama, perlahan tapi pasti.
Noa mengetuk pintu kamar Eleanor.
“Masuk,” suara tajam dari dalam memberikan izin.
Noa melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati. Di rumah St. John, satu-satunya hal yang lebih berbahaya daripada rahasia adalah wanita yang tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan.
Kediaman itu tidak berubah, namun segalanya terasa asing. Di sudut ruang tamu, sebuah grand piano Steinway berdiri angkuh—instrumen yang dulu sering ia mainkan untuk merayu sunyi. Kini, di atasnya bertengger foto Rose yang sedang tertawa, memegang segelas sampanye dengan jemari yang mengenakan cincin safir milik ibu Rose.
Noa memalingkan wajah. Rasa mual itu bukan berasal dari luka di tubuhnya, melainkan dari pemandangan identitasnya yang telah dikuliti dan dikenakan oleh orang lain.
“Siapa yang mengizinkanmu berhenti di sini?”
Suara tajam itu memotong lamunan Noa. Sloan muncul dari arah dapur dengan langkah yang disengaja untuk mengintimidasi. Pria itu kini mengenakan jam tangan Patek Philippe—hadiah dari Jace atas kesetiaannya, atau mungkin upah atas tutup mulutnya mengenai apa yang terjadi di gudang setahun lalu. Sloan menatap Noa dengan pandangan merendahkan, khas seorang pria yang merasa posisinya di rumah ini sudah tak tergoyahkan.
“Saya mencari lift menuju kamar Nyonya Besar,” jawab Noa, menjaga nada suaranya agar tetap datar.
Sloan mendekat, langkah sepatunya berbunyi denting yang ritmis di atas lantai. Ia berhenti tepat di depan Noa, menyesuaikan letak dasinya dengan sombong. “Kau perawat baru itu? Eleanor sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Sebaiknya kau tidak melakukan kesalahan, atau kau akan berakhir di jalanan sebelum matahari terbenam.”
Noa menunduk, matanya menatap sepatu mengkilap Sloan. “Saya mengerti, Tuan.”
“Dan satu lagi,” Sloan mencengkeram dagu Noa dengan kasar, memaksa wajah bermasker itu mendongak. Matanya menyipit saat melihat tekstur kulit yang rusak di sekitar mata Noa. “Jangan pernah berkeliaran di area pribadi Tuan Jace. Nyonya Rose sangat tidak suka jika ada... makhluk sepertimu merusak pemandangan di rumah ini.”
Noa merasakan jemari Sloan yang dingin di kulitnya. Kebencian membakar di balik maskernya, namun ia tetap diam.
“Baik, Tuan. Maafkan saya,” bisik Noa.
Sloan melepaskan cengkeramannya dengan gerakan menyentak, seolah ia baru saja menyentuh sesuatu yang menjijikkan. Ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Noa dalam keheningan yang menyesakkan.
Noa segera menuju lift. Begitu pintu besi itu tertutup, ia menyandarkan punggungnya ke dinding lift yang berlapis emas. Napasnya memburu. Pertemuan dengan Jace dan Sloan dalam waktu kurang dari sepuluh menit hampir menghancurkan pertahanan mentalnya. Ia menyentuh masker hitamnya, memastikan benda itu masih terpasang sempurna. Luka di wajahnya berdenyut—mengingatkan akan pengkhianatan yang ia terima.
Lift berdenting lembut saat tiba di lantai tiga. Lantai ini adalah wilayah kekuasaan Eleanor St. John. Berbeda dengan lantai bawah yang penuh dengan kemewahan modern yang dingin, lantai tiga didominasi oleh perabotan kayu jati tua dan aroma minyak cendana yang berat. Di sinilah sang matriark mengasingkan diri, mengamati keruntuhan moral keluarganya dari balik pintu kamar yang tertutup rapat.
Noa melangkah menyusuri koridor yang diterangi lampu dinding temaram. Di ujung koridor, berdiri dua pengawal bertubuh tegap. Mereka memeriksa tas Noa dengan teliti seolah ia membawa bom, sebelum akhirnya mengizinkannya masuk.
Di dalam kamar yang luas itu, Eleanor duduk di kursi roda menghadap jendela besar yang menghadap ke taman labirin. Rambut peraknya disanggul rapi, dan punggungnya tetap tegak meski usianya sudah senja. Ia adalah satu-satunya orang di rumah ini yang tidak bisa dibeli oleh Jace maupun dipengaruhi oleh kecantikan Noa.
“Kau terlambat tiga menit,” ucap Eleanor tanpa berbalik.
“Mohon maaf, Nyonya. Saya tertahan di teras oleh Tuan Jace,” jawab Noa.
Eleanor memutar kursi rodanya perlahan. Mata tuanya yang abu-abu menatap Noa dengan intensitas yang seolah bisa menembus masker medis tersebut. Ia tidak langsung bicara, wanita renta itu hanya memperhatikan cara Noa berdiri, cara Noa meletakkan tasnya, dan cara Noa menundukkan kepala.
“Duduklah!” perintah Eleanor, menunjuk ke sebuah kursi kayu di hadapannya. “Buka maskermu. Aku ingin melihat apa yang akan aku urus setiap hari.”
Noa tertegun. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak menyangka Eleanor akan langsung memintanya membuka identitas fisiknya. “Nyonya, wajah saya... mungkin akan membuat Anda tidak nyaman. Luka bakar ini—”
“Aku sudah melihat banyak kematian dan kehancuran dalam hidupku, Nak. Luka di wajahmu tidak akan menakutiku. Yang aku takutkan adalah orang yang menyembunyikan niat di balik topeng yang bersih,” Eleanor memotong dengan tajam. “Buka!”
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Noa perlahan melepas kaitan masker di telinganya. Kain hitam itu jatuh, mengungkap sisi kiri wajahnya yang masih halus, dan sisi kanan yang merupakan jalinan jaringan parut kemerahan yang mengerikan—sebuah peta penderitaan yang memanjang dari tulang pipi hingga ke garis rahang.
Eleanor tidak berkedip. Ia condong ke depan, memperhatikan luka itu dengan saksama. Sebuah keheningan panjang menyelimuti ruangan. Noa merasa seolah dirinya sedang diadili di pengadilan malaikat.
“Siapa yang melakukan ini padamu?” tanya Eleanor pelan, suaranya kini mengandung nada yang sulit ditebak.
“Kecelakaan di sebuah gudang, Nyonya. Seseorang ingin saya mati, tapi api ternyata tidak cukup panas untuk membawa saya pergi,” jawab Noa, suaranya kini bergetar oleh emosi yang tertahan.
Eleanor menyandarkan punggungnya kembali. Ia mengetuk-ngetukkan jemarinya yang berhias cincin zamrud di atas sandaran tangan kursi rodanya. “Agensimu bilang namamu Noa. Tapi matamu... matamu mengingatkanku pada seseorang yang sudah lama hilang.”
Noa menahan napas. Inilah saatnya. Titik di mana ia harus memutuskan seberapa jauh ia akan membuka kartu. “Mungkin karena kita semua memiliki kesedihan yang sama, Nyonya. Kehilangan hidup kita sendiri.”
Eleanor tersenyum tipis. “Mulai hari ini, kau adalah mataku dan telingaku di rumah ini. Jangan percayai siapa pun, bahkan Jace. Terutama jangan wanita yang mengaku sebagai Rose itu.”
Noa tertegun. “Nyonya tidak mempercayai menantu Anda sendiri?”
Eleanor tertawa kecil, suara yang kering seperti daun gugur. “Rose tidak pernah menatapku dengan rasa takut. Rose tidak pernah mencoba menyuap pelayanku. Wanita di bawah sana adalah sebuah mahakarya bedah plastik, tapi dia tidak memiliki jiwa St. John.”
Eleanor kemudian merogoh laci meja di sampingnya dan mengeluarkan sebuah amplop tua yang sudah menguning. Ia melemparkannya ke pangkuan Noa.
“Ambillah. Itu adalah foto menantuku sebelum dia berubah. Aku ingin kau mempelajarinya. Aku ingin kau tahu siapa yang sedang kau hadapi,” ucap Eleanor.
Noa membuka amplop itu. Di dalamnya bukan foto Rose yang sekarang masih bersama Jace, melainkan foto masa lalu Rose saat di hari pernikahannya. Namun, ada sesuatu yang aneh. Di bagian belakang foto itu, tertulis sebuah pesan pendek dengan tinta merah yang sudah memudar.
“Jangan percaya pada api, ia adalah kekasih Jace yang paling setia.”
Noa merasakan darahnya membeku. Pesan itu bukan tulisan tangan Eleanor. Itu adalah tulisan tangan ibunya yang sudah meninggal. Bagaimana Eleanor bisa memilikinya? Dan apa maksud dari pesan itu?
Tiba-tiba, suara pintu kamar Eleanor digedor dengan kasar.
“Ibu! Buka pintunya! Aku tahu ada yang kau sembunyikan!” suara Jace menggelegar dari balik pintu, terdengar penuh amarah dan kecurigaan.
Eleanor menatap pintu, lalu menatap Noa. “Pakai maskermu kembali!”
Noa terkesiap. Sebelum ia sempat bertanya, pintu kamar itu jebol terbuka, dan Jace melangkah masuk dengan mata merah menyala, menatap tajam ke arah mereka berdua. Di tangannya, Jace memegang sebuah masker medis hitam yang persis dengan milik Noa—namun masker itu berlumuran darah segar.
“Siapa sebenarnya wanita ini, Ibu?!” teriak Jace sambil melempar masker berdarah itu ke lantai, tepat di depan kaki Noa.
Noa menatap masker di lantai itu dengan ngeri. Ia menyentuh wajahnya sendiri. Maskernya masih terpasang. Lalu, milik siapa masker berdarah itu? Dan siapa yang baru saja terluka di rumah ini?