MIMPI BURUK JACE

2052 Kata
Noa tidak bergerak. Ia tidak menarik tangannya. Namun, Xaviera bisa melihat iris mata Noa bergetar hebat di balik kelopak matanya yang menyempit. Xaviera mendongak, melihat Rose yang masih mengawasi mereka. Tanpa menunggu jawaban, Xaviera menepuk bahu Noa sekali, lalu berjalan pergi menuju pintu keluar dengan langkah yang jauh lebih cepat dari sebelumnya. Noa tetap berdiri di sana, tangannya masih menunjuk ke arah lorong yang kosong. Di belakangnya, Rose mulai melangkah mendekat. Rose mencengkeram bahu Noa dan memutar tubuhnya dengan kasar. “Apa yang dia katakan padamu?!” teriak Rose. Noa tidak menjawab, ia hanya menatap Rose dengan mata yang kini dipenuhi oleh air mata yang tertahan, namun bibirnya di balik masker menyeringai. Di luar, Xaviera masuk ke dalam mobilnya. Tangannya gemetar saat ia mengambil ponsel dan mencari nomor seseorang yang sudah lama tidak ia hubungi. Deru mesin Porsche milik Xaviera menghilang di balik gerbang besi, namun getarannya seolah masih tertinggal di ulu hati Rose. Ia masih mencengkeram bahu Noa dengan tenaga yang sanggup meninggalkan bekas memar. Kuku-kuku panjangnya yang baru saja dipoles warna merah darah menekan kain seragam perawat itu dengan gemetar. “Apa yang dia katakan padamu?!” Rose bertanya dengan suara tertahan. Matanya melotot, memindai masker hitam Noa seolah ingin menembusnya dengan laser kebencian. Noa tidak menjawab. Ia hanya menatap Rose. Keheningan itu justru menjadi bahan bakar bagi paranoia Rose. Ia merasa sedang ditelanjangi oleh bisikan-bisikan yang tidak bisa ia dengar. “Jawab aku, cacat!” Rose menyentak bahu Noa hingga perawat itu terhuyung ke dinding koridor. “Xaviera bukan orang sembarangan. Dia kurator, dia detail, dan dia punya mulut yang bisa menghancurkan reputasiku dalam satu jam. Apa yang kau tunjukkan padanya?!” Noa perlahan menegakkan tubuhnya. Ia merapikan maskernya yang sedikit bergeser. “Nona Xaviera hanya menanyakan jalan keluar, Nyonya. Saya rasa beliau merasa tidak nyaman berada di sini terlalu lama.” “Kau bohong!” Rose mengangkat tangannya, siap melayangkan tamparan, namun ia berhenti saat melihat siluet Sloan muncul di ujung lorong. Sloan berjalan dengan langkah cepat, wajahnya menunjukkan tanda-tanda kelelahan yang ekstrem. Ia memberi isyarat agar Rose menurunkan tangannya. “Cukup, Rose. Jace sedang dalam perjalanan pulang. Jangan biarkan dia melihat drama murahan seperti ini di koridor.” Rose menurunkan tangannya dengan kasar. Ia menatap Sloan, lalu kembali ke Noa. “Bawa perawat ini ke paviliun. Kunci dia di sana. Aku tidak mau melihat wajahnya sampai besok pagi.” Sloan mengangguk pada pelayan untuk membawa Noa pergi. Begitu Noa menghilang di balik pintu dapur, Rose menarik Sloan ke ruang tengah. “V tahu, Sloan. Dia menatapku seolah aku ini lukisan palsu yang gagal,” bisik Rose, suaranya pecah oleh ketakutan. “Dan perawat itu... dia punya bekas luka yang sama dengan Rose. V melihatnya.” Sloan terdiam. Ia mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya tanpa peduli pada larangan merokok di dalam rumah. “Xaviera adalah variabel yang tidak kita perkirakan. Tapi Jace jauh lebih berbahaya sekarang. Dia menyita kunci brankas Eleanor dari perawat itu. Dia mulai curiga, tapi bukan padamu, melainkan pada kemungkinan ada orang lain yang membantu ibunya.” “Aku harus menyingkirkan V,” ucap Rose dingin. “Dia tidak boleh bicara pada siapa pun.” “Jangan bodoh. Xaviera punya pengaruh di Eropa. Jika dia hilang di sini, St. John Corp akan menjadi sorotan internasional,” Sloan mematikan rokoknya di asbak kristal. “Biarkan aku yang mengurusnya secara halus. Sekarang, bersikaplah seperti istri yang berbakti. Jace sedang tidak stabil.” Tengah malam tiba membawa badai yang tidak biasa. Suara guntur beradu dengan denting jam kuno di aula utama. Jace melangkah masuk ke rumah dengan kondisi pakaian yang sedikit berantakan. Bau wiski mahal menguar dari tubuhnya. Ia tidak langsung menuju kamar utama di lantai dua. Ia justru berbelok menuju ruang kerjanya di sayap barat. Jace menjatuhkan tubuhnya di sofa kulit yang dingin. Ia memijat pangkal hidungnya. Bayangan Eleanor yang terkapar di lantai kantor terus berputar di kepalanya. Namun yang lebih menyiksa adalah suara rekaman di ruang VIP tadi—suara Rose dan Sloan yang merencanakan pembagian harta di belakangnya. Ia menutup matanya, berharap alkohol bisa mematikan saraf-sarafnya yang tegang. Namun, begitu ia terlelap, kegelapan itu justru menjadi layar yang memutar memori paling busuk dalam hidupnya. Dalam mimpinya, Jace berdiri di depan Gudang X-12. Aroma bensin begitu pekat, mencekik paru-parunya. Ia melihat tangannya sendiri memegang korek api. Di dalam gudang, seorang wanita sedang menjerit. Itu Rose, istri yang memberinya segalanya, namun kini ia korbankan demi ambisinya menjadi penguasa tunggal dinasti St. John. “Jace... kenapa?!” suara Rose menggema dari balik kobaran api. Jace dalam mimpinya mencoba lari, namun kakinya tertanam di semen yang basah oleh bensin. Api itu menjalar cepat, membentuk siluet wanita raksasa yang siap menelannya hidup-hidup. “Rose!” Jace berteriak dalam tidurnya. Penuh dengan rasa bersalah yang selama ini ia kunci rapat di bawah lapisan egonya. “Maafkan aku... Rose... aku tidak punya pilihan...” Keringat dingin membasahi kemeja sutranya. Ia mengigau hebat, kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Nama Rose terus keluar dari bibirnya, terkadang berupa bisikan, terkadang berupa rintihan ketakutan. Di ambang pintu ruang kerja yang terbuka sedikit, sesosok bayangan berdiri mematung. Noa, yang berhasil menyelinap keluar dari paviliun menggunakan kunci cadangan yang ia curi dari saku pelayan, berdiri dan tidak sengaja mengamati Jace. Di tangan Noa, berkilat sebilah pisau buah yang diambilnya dari meja pantry. Cahaya kilat dari jendela sesekali menyinari logam tajam itu. Noa melangkah masuk tanpa suara, sol sepatunya tidak meninggalkan jejak di atas karpet. Ia berhenti tepat di samping sofa tempat Jace terbaring. Ia menatap wajah pria yang dulu ia cintai dengan segenap nyawanya. Pria yang sekarang tampak begitu kecil dan rapuh dalam igauan dosanya. Noa perlahan mengangkat pisau itu. Ujungnya hanya berjarak beberapa milimeter dari jakun Jace yang bergerak-gerak mengikuti napasnya yang tidak teratur. Ujung pisau itu dingin, kontras dengan kulit leher Jace yang panas karena demam rasa bersalah. Noa berdiri mematung, menatap pria yang dulu adalah dunianya. Di bawah cahaya kilat yang menyambar dari jendela besar, wajah Jace tampak hancur oleh igauan. Pria tangguh yang memimpin dinasti St. John itu kini hanya sesosok pendosa yang merintih dalam kegelapan. “Rose... maafkan aku... bensin itu... aku tidak ingin...” gumam Jace parau, nyaris seperti isak tangis yang tertahan di tenggorokan. Tangan Noa yang memegang pisau bergetar hebat. Amarahnya mendidih. Kalimat Jace adalah konfirmasi paling jujur yang pernah ia dengar. Bukan kecelakaan, bukan pula sabotase pihak luar—tapi Jace. Suaminya sendiri yang merestui api itu melumat kulitnya. Noa menekan ujung pisau itu sedikit lebih dalam, cukup untuk membuat goresan tipis yang mulai mengeluarkan setetes darah merah di leher Jace. Satu tekanan lagi, dan pengkhianatan ini akan berakhir. Namun, di tengah dendam yang membara, Noa teringat pada wajah Eleanor. Ia teringat pada dokumen pencucian uang di ponselnya. Membunuh Jace sekarang adalah cara yang terlalu mudah bagi pria ini. Mati dalam tidur adalah kemewahan yang tidak pantas didapatkan oleh seorang monster. Jace harus melihat kerajaannya runtuh, ia harus melihat wanita yang ia puja sebagai Nyonya St. John mengkhianatinya, dan ia harus membusuk di penjara sambil meratapi wajah Rose setiap hari. Noa perlahan menarik pisaunya kembali. Ia hendak berbalik dan pergi, membiarkan Jace tenggelam dalam neraka mimpinya sendiri. Namun, tepat saat Noa mundur satu langkah, sebuah tangan yang kuat dan berkeringat dingin tiba-tiba melesat dari sofa dan mencengkeram pergelangan tangannya. “Rose?!” Jace tersentak bangun. Matanya merah, pupilnya melebar karena adrenalin dan sisa alkohol. Ia tidak melihat Noa sebagai perawat bermasker. Dalam keremangan ruangan yang hanya diterangi lampu taman dari luar, Jace hanya melihat siluet wanita dengan tinggi yang sama, dengan aroma Mitsouko yang masih samar menempel di seragamnya. Jace menarik tangan Noa dengan kasar hingga wanita itu jatuh menindih tubuhnya di sofa. Pisau di tangan Noa terlepas, jatuh berdenting di atas lantai kayu. “Kau kembali?” Jace berbisik, suaranya dipenuhi ketakutan sekaligus harapan yang gila. Ia mencengkeram kedua bahu Noa, menatap lurus ke dalam matanya. “Aku tahu kau tidak mati. Aku tahu api itu tidak bisa membunuhmu. Kau datang untuk menjemputku, Rose? Kau datang untuk membawaku ke gudang itu?” Noa mencoba meronta, namun tenaga Jace yang sedang dalam kondisi tidak stabil sangat besar. Jace menelusupkan jemarinya ke balik rambut Noa, mencoba meraih tali masker hitam itu. “Jangan sembunyi dariku,” racu Jace. “Biarkan aku melihat wajahmu. Biarkan aku melihat apa yang kulakukan padamu!” Noa memejamkan mata, berusaha keras menahan tangan Jace agar tidak merobek maskernya. Jika Jace melihat wajahnya dalam kondisi mabuk seperti ini, segalanya bisa meledak menjadi kekacauan yang tidak terkendali. “Tuan Jace, lepaskan! Saya Noa!” Noa berteriak, mencoba mengembalikan kesadaran Jace. Jace berhenti sejenak. Ia terdiam, napasnya memburu di depan wajah Noa. Pengenalan itu mulai merayap kembali ke logikanya, namun ia tetap tidak melepaskan cengkeramannya. Ia menatap mata Noa dengan sangat dekat, mencoba mencari kejujuran di balik bola mata yang bergetar itu. “Noa...” gumam Jace. “Kenapa kau punya mata yang sama dengannya? Kenapa caramu menatapku membuatku merasa seperti sedang diadili?” Tepat saat Jace hendak bicara lebih lanjut, pintu ruang kerja terbuka dengan dentuman keras. Lampu ruangan dinyalakan secara serentak, menyilaukan mata siapa pun yang ada di dalamnya. Rose berdiri di ambang pintu. Ia masih mengenakan jubah sutranya, wajahnya kaku dengan ekspresi yang sulit dibaca antara terkejut, marah, dan jijik. Di belakangnya, Sloan berdiri dengan wajah yang dingin, tangannya memegang ponsel yang tampak sedang merekam sesuatu. Rose menatap suaminya yang sedang mendekap perawat bermasker itu di atas sofa. Matanya tertuju pada pisau yang tergeletak di lantai, lalu beralih ke goresan darah di leher Jace. “Jace?” ujar Rose tenang, namun ketenangannya justru terasa lebih mematikan daripada teriakan. “Apa yang sedang kau lakukan dengan perawat ini di kegelapan? Dan kenapa ada pisau di lantai?” Jace segera melepaskan Noa dan berdiri dengan canggung, mencoba merapikan kemejanya yang berantakan. Ia mengusap darah di lehernya, menatap telapak tangannya sendiri dengan bingung. Noa berdiri dengan cepat, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tidak bicara. Ia membiarkan situasi ini terlihat seperti skandal atau upaya penyerangan—sesuai dengan peran yang ingin dimainkan Jace. “Dia mencoba membunuhku, Rose,” ucap Jace tiba-tiba. Suaranya kembali dingin, topeng manipulasinya telah terpasang kembali dengan sempurna. Ia menunjuk ke arah Noa. “Aku terbangun dan menemukannya sedang menempelkan pisau ini di leherku. Dia penyusup.” Rose melangkah masuk ke dalam ruangan. Ia tidak menghampiri Jace untuk memeriksa lukanya. Ia justru berjalan lurus ke arah Noa. Ia menatap perawat itu dengan kemenangan yang berkilat di matanya. “Aku sudah bilang padamu, Jace. Dia berbahaya,” Rose berbalik ke arah Sloan. “Sloan, hubungi polisi sekarang. Berikan rekaman CCTV koridor yang menunjukkan dia menyelinap keluar dari paviliun. Kita punya cukup bukti untuk melenyapkannya malam ini.” Sloan mengangkat ponselnya, siap melakukan panggilan. Noa mendongak. Ia menatap Rose, lalu beralih ke Jace. Ia menyadari bahwa Jace baru saja mengkhianatinya lagi untuk menutupi ketakutannya sendiri. Jace memilih untuk menuduhnya sebagai pembunuh daripada mengakui bahwa ia baru saja meracau tentang dosa masa lalunya di depan perawat itu. “Tunggu!” ucap Noa tenang, membuat Sloan berhenti menekan tombol panggil. Noa merogoh saku seragamnya dengan perlahan. Rose mundur selangkah, takut Noa membawa senjata lain. Namun, yang dikeluarkan Noa adalah sebuah benda kecil—sebuah alat perekam digital yang bentuknya menyerupai pena medis. “Jika Nyonya ingin melibatkan polisi,” ucap Noa sambil menatap mata Rose dengan tajam, “Maka biarkan mereka mendengar apa yang dikatakan Tuan Jace dalam tidurnya tadi. Tentang bensin, tentang gudang, dan tentang siapa sebenarnya yang membakar pewaris St. John sebenarbya setahun yang lalu.” Wajah Jace mendadak pucat pasi. Sloan menurunkan ponselnya perlahan. Keheningan yang sangat pekat menyelimuti ruangan itu. Tiba-tiba, suara sirene polisi terdengar sayup-sayup dari kejauhan, mendekat ke arah gerbang mansion St. John. Namun, sirene itu bukan dipanggil oleh Sloan. Ponsel di meja kerja Jace bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor Eleanor di rumah sakit: Polisi sudah membawa bukti dari brankas paviliun. Jangan coba-coba lari, Jace. Jace menatap Rose, Sloan, dan Noa secara bergantian. Ia menyadari bahwa pintu keluar sudah tertutup. Namun, di tengah kepungan itu, Rose tiba-tiba melangkah maju dan merampas perekam digital dari tangan Noa, lalu membantingnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Rose menoleh ke arah suaminya dengan senyum yang sangat mengerikan. “Perekamnya sudah hancur, Jace. Sekarang, hanya ada satu cara agar kita semua selamat. Perawat ini tidak boleh meninggalkan ruangan ini dalam keadaan bernapas.” Sloan segera mengunci pintu ruang kerja dan mengeluarkan sepucuk senjata api dari balik jasnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN