Kota E.
Negara Bagian Timur, Emton.
2009.
Empat peti mati ditempatkan di Aula besar kediaman penerus Kito, Perkebunan Teh Utara, di Kota E, Emton.
Empat peti mati itu bertuliskan nama masing-masing pemiliknya. Peti paling kanan terdapat foto seorang lelaki matang yang tampan, Rokawa Kito, Wakil walikota yang tengah berjabat, berada di puncak karirnya dan digadang-gadang akan menjadi walikota Kota E selanjutnya. Juga lelaki yang sudah di kukuhkan menjadi pewaris keluarga Kito, salah satu dari Empat Keluarga Bangsawan Kuno bekas Kemaharajaan Emton.
Di peti mati sebelahnya terdapat foto wanita cantik berusia empat puluhan, Avery Kashiro Kito, istri Wakil Walikota Kito.
Lalu peti selanjutnya, seorang gadis cantik, kombinasi terbaik pasangan Kito, Mikasa Kito, putri pertama mereka.
Dan peti mati paling Kiri, terdapat foto seorang gadis remaja dengan rambut merah jahe, dan dibawah foto terdapat nama Katharine Acley, seorang gadis tak di kenal.
Empat kematian yang sangat misterius, dan tidak ada seorang yang tahu bagaimana keempat orang itu mati, kecuali putri mereka Yui Kito, tapi dia juga memiliki mulut yang rapat.
"Bibi turut berduka cita atas meninggalnya orang tua dan saudaramu. Jangan bersedih nak, orang-orang yang kita cintai tidak pernah pergi, mereka hidup di dalam hati kita. Semoga kamu dan keluarga diberi ketabahan dari peristiwa ini," ucap seorang bibi kenalan.
"Terima kasih," jawab Yui Kito dengan suara yang rendah.
"Jika kau membutuhkan bantuan, datanglah kepada Bibi."
Yui Kito, putri kedua pasangan Kito, seorang gadis remaja kurus tinggi, wajah lembutnya pucat seperti tidak berdarah, tangan dan kakinya kurus dan panjang yang tampak mudah di patahkan, secara keseluruhan dia nampak lemah seperti bakal goyah di tiup angin, seorang gadis lembut dari tulang yang dijaga dengan hati-hati, terbukti dengan sangat sedikitnya orang-orang dikalangan bangsawan Emton yang pernah berinteraksi langsung dengannya.
"Saya sedih mendengar Ayah Anda meninggal, begitu tiba-tiba. Sungguh takdir tuhan tidak dapat diprediksi," kata seorang teman kerja ayahnya. "Tabahlah, Nak. Mungkin Tuhan lebih menyayangi keluargamu sehingga memanggilnya lebih awal."
"Baru beberapa hari yang lalu ibumu meminta keluar untuk bermain, tidak disangka dia pergi untuk selamanya."
"Sungguh menyenangkan bekerja dengan ayahmu selama bertahun-tahun. Dia akan sangat dirindukan, dan rakyat Kota E ikut berbelasungkawa atas kepergian ayahmu."
"Saya sangat terkejut dan sedih mendengar tentang kematian anggota keluargamu, nak. Beristirahatlah dan jiwa anggota keluargamu ada di Surga, dan kau juga akan melihat mereka lagi suatu hari nanti. Paman berdoa agar Tuhan mengirimkan malaikatnya untuk memberimu cinta dan kenyamanan selama ini."
"Terima kasih." bisik gadis itu berdiri sendiri, mengunakan pakaian putih berkabung, wajah mungilnya yang belum dewasa nampak berdiri tetap teguh dan tenang, meski ia mendengar berbagai macam bisik-bisik pelayat yang ngeri, simpatik, atau pura-pura simpatik atas kematian keluarganya.
Ia tetap tenang, meski matanya memerah ketika dia memperhatikan kerabat dan kenalan keluarga, satu demi persatu menempatkan bunga dan memberi penghormatan terakhir.
Ada yang menilai ia tabah, dan ada yang menilainya tidak berperasaan, Karena disepanjang prosesi pemakaman ia tak pernah sekalipun menitikkan air mata, wajahnya mudanya masih nampak tenang, meski kematian tiga anggota keluarganya mendadak dan...
mengenaskan.
Tapi orang-orang yang berhati lembut dan simpati, melihatnya layaknya seorang gadis remaja yang kebingungan, berdiri seperti patung, kaku dan tak tahu arah.
Yui Kito sendiri tak merasa bersedih.
Tapi tidak ada yang tahu, alasan ketiadaan kesedihan itu.
Dia hanya merasa kosong, kekosongan yang menyiksa, merasa hilang arah dan tersesat dalam satu gelembung neraka penyiksaan diri.
Mikasa Kito yang selalu menjadi acuannya telah tiada, ayah dan ibu yang sering memarahi dan memukulinya juga telah tiada. Mereka pergi untuk selamanya dan tidak akan pernah kembali. Tidak akan pernah melihat dan merasakan keberadaan mereka lagi.
Mikasa meninggal karena melahirkan.
Orang tuanya meninggal di moncong pistol kesayangan ibunya.
Dan kematian-kematian itu tepat di depan matanya. Darah yang membasahi lantai, bau karat darah yang bercampur di udara, tangisan bayi yang memilukan, tembakan yang meletus di depan matanya, peluru yang menembus d**a ayahnya, lalu menembus otak ibunya, Yui Kito terperangkap dalam ingatan menyesakkan itu dan tidak bisa keluar.
"Paman, bukan kami tidak simpatik, hanya saja kami sudah punya tiga anak dan mereka masih kecil-kecil. Apalagi Gabi, dia sangat rewel dan tidak suka orang asing. Bagaimana kalau kakak kedua saja, kakak kedua hanya punya satu anak."
"Maaf Paman, sepertinya aku juga tidak bisa. Aku takut mereka tidak bisa bergaul dengan baik, Yui agak penyendiri dan sulit bergaul."
"Ayah, kau tahu betapa sibuknya aku dan istriku beberapa tahun belakangan. Kami sering keluar kota dan jarang di rumah, aku takut dia hanya akan makin kesepian di rumah kami."
"Ayah, masalah ini sebaiknya kita diskusikan dengan Dia. Bagaimanapun masalah bisnis di tangan mendiang kakak sebelumnya lebih mendesak. Bagaimanapun Yui masih muda dan tidak mungkin mengurus semuanya..."
"Benar Ayah, kami tidak akan mempersoalkan lagi saudara yang telah menjual Perkebunan Teh Utara, lagipula tanah di selatan sangat bagus dikembangkan, jika menguntungkan kita mungkin bisa membeli kembali tanah yang telah dijual saudara... "
"Toko-toko perhiasan saudara ipar sebelumnya bukankah harus menjadi milik Kita, Avery kan yatim piatu, dimana dia punya banyak uang untuk membeli banyak toko, pasti uang dari keluarga kita...."
"Tapi masih ada Yui..." kata seseorang bibi yang simpatik.
"Dia kan bagian dari keluarga Kito, apa salahnya berkontribusi untuk keluarga, lagipula keluarga besar juga yang akan memberikannya uang untuk sekolah," balas pengusul tadi yang tidak senang di sanggah dan suara menajam tidak senang.
Yui kito yang tidak sengaja berjalan melewati ruangan itu melambat langkahnya dan mencibir. Mata cokelat menatap menerawang, ada kebingungan di matanya.
Dia tahu sebenarnya toko-toko perhiasan milik ibunya tidaklah dibuka menggunakan uang milik keluarga Kito. Mereka ingin mengambil miliknya dan dia sangat ingin menerobos masuk dan bertengkar dengan sekelompok vampir penghisap darah itu, mengambil yang seharusnya menjadi miliknya, tapi dia masih berdiri kaku di sana tanpa bergerak.
Yui Kito tahu dia sendirian tanpa pendukung, Dia tidak bisa berbuat apa-apa tentang harta keluarga yang seharusnya menjadi miliknya.Pada akhirnya dia benar-benar sendirian. Tidak akan ada yang mau menerimanya, tapi mereka saling memperebutkan harta peninggalan ayahnya.
Yui Kito benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ia tidak punya keluarga untuk bergantung, tidak punya kerabat yang mau mendukung, dan tidak ada teman untuk berbagi keluh kesah.
Air mata yang sedari tadi ia coba tahan, perlahan mengembun mengaburkan pandangannya.
Tangan kecilnya yang putih lembut, perlahan terkepal, dan kuku-kuku menancap kulit bahkan tanpa ia sadari.
Dia sendirian, berdiri sendiri, sepi dan sunyi dengan kekosongan yang menyiksa, sendirian terperangkap dalam ingatan menyesakkan, kesendirian menggerogoti jiwanya sedikit demi sedikit dengan kepedihan dan kenyataan kejam.
Dia merana dan sangat tersiksa.
Tersiksa dengan kesakitan aneh. Kosong dan kosong. Ia mencoba mengurangi kesakitan akibat kekosongan itu, berusaha keras menemukan semacam obat penawar.
Sehingga kekosongan itu mulai terisi dengan hal yang disebut dendam!
Tidak akan terlambat baginya untuk membalas semua penghinaan yang ia terima hari ini, dan tidak terlambat baginya untuk membalas orang-orang yang telah membuat keluarga menjadi berantakan.
Dia pasti akan mencari tahu lelaki yang menghamili Mikasa, meninggalnya sendiri, sehingga Mikasa harus hidup di kontrakan yang kumuh dan bau, hingga berjuang sendirian melahirkan, hingga membayar dengan nyawanya.
Dan dia pasti akan membalas penyusup, wanita pihak ketiga yang menghancurkan pernikahan orang tuanya, dan sehingga orang tuanya bertengkar hingga mati oleh peluru pistol kesayangan ibunya.