"Apa ??" sewot Kenzo pada Bunda.
"Ya ampun, bisa ga sih kamu tuh ngomongnya pelan pelan? Telinga Bunda sampai sakit nih!" cerocos Bunda, menepuk nepuk telinganya.
Kenzo yang merasa tak digubris pun akhirnya mendekati Bunda. "Bunda ... please, jangan bercanda kaya gini!" ucap Kenzo lagi, prustasi.
"Loh Bunda ga bercanda ko. Siapa suruh ponselmu mati. Jadi Bunda ga bisa ngabarin kamu sebelumnya!" jawab Bunda, ketus.
Lalu tatapan Bunda kini kembali terarah ke depan.
Sementara Kenzo sendiri, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mengingat sejak kapan ponselnya mati sampai dirinya tak bisa di hubungi ?
Dan dengan langkah yang cepat, Kenzo berdiri dari duduknya, meninggalkan Bunda yang masih ada di sofa itu dan pergi ke kamarnya sesegera mungkin.
Kenzo edarkan pandangannya ke setiap sudut mencari keberadaan sang ponsel.
"Aaaa itu dia sang biang kerok!" tunjuk Kenzo pada pojokan ruangan.
Dan tanpa ba bi bu lagi, Kenzo dengan segera langsung mengecek ponselnya yang ternyata benar, mati.
"Ah rusak, sepertinya karena terjatuh tadi" gumam Kenzo, menunduk.
Tapi sedetik kemudian, ia teringat sesuatu.
Lalu dengan langkah seribunya, ia kembali ke ruangan televisi untuk menemui Bunda.
"Bunda, ponsel aku memang mati. Tapi baru hari ini kan? Itu tandanya walau ponselku hidup, kabar dari Bunda tetap baru hari ini kan?" tanya Kenzo, tanpa jeda.
"Iyyap !" jawab Bunda, acuh.
"Lah sama aja dadakan dong Bunda ... " rajuk Kenzo, misuh misuh.
"Ya engga lah, setidaknya jika kamu bisa dihubungi lewat telpon dulu, kedatangan Bunda ga bikin kamu kaget banget!" kilah Bunda, cuek.
"Ya Tuhan ... !!!" hela Kenzo.
Ia prustasi dan memang akan selalu prustasi jika dihadapkan dengan Bunda.
"Jadi, kapan kamu punya waktu?" tanya Bunda tiba tiba
"Untuk apa?" selidik Kenzo. Ia tak segan memperlihatkan tatapan matanya yang meruncing.
"Ya untuk dikenalin ke calon kamu lah! Hari ini bisa?" tanya Bunda lagi yang kali ini menatap balik Kenzo penuh selidik.
"Aish Bunda ... ini serius beneran nih?" tanya Kenzo, masih ngotot dan tak percaya.
"Kapan Bunda berbohong padamu?" seru Bunda lagi, yang kembali asik menonton televisi.
Lagi, Kenzo harus menghela napasnya panjang. Ini benar benar bulan April yang sangat menjengkelkan baginya.
*****
Sinar mentari menyelusup masuk ke kamar Kenzo lewat gorden yang tidak tertutup rapih, tak membuat Kenzo terbangun dari tidur lelapnya.
Matanya sembab, ada lingkaran hitam di sekitaran sana.
Kenzo, semalaman ia bergadang di balkon apartmennya.
Sudah lama sekali semenjak ia hidup tanpa menggunakan ponsel.
Sebetulnya, ia bisa saja membeli ponsel lagi. Tapi entahlah, rasanya begitu sesak.
Setiap ia melihat ponsel, rasa untuk menghubungi Viona begitu membuncah.
Kenzo sungguh tak bisa hidup tanpa Viona, karena hari harinya selama ini tak pernah luput dari seorang Viona.
Sarapan, makan siang, makan malam, sampai menjelang tidur pun Kenzo selalu menghubungi Viona.
Viona seperti sudah menjadi nyawanya. Jika sedetik saja tak menghubunginya, rasanya seperti ia tak bisa bernapas.
Viona bagaikan udara baginya, Viona bagaikan Oksigen, Viona bagaikan mentari, Viona bagaikan malamnya, dan Viona bagaikan makanan untuknya.
Kenzo benar benar sudah ketergantungan dengan kehadiran Viona.
Seperti tadi malam, Kenzo lagi lagi tak bisa tidur karena tak bisa menghubungi Viona.
Tapi dilain sisi Kenzo juga berpikir, jika ia terus saja menghubungi Viona, maka apa yang di katakan Viona itu benar. Kenzo sudah memaksakan kehendaknya sendiri.
Maka dari itulah, Kenzo tak memiliki niat untuk memperbaiki ponselnya atau membelinya lagi.
Dan itu, entah sampai kapan.
Jadi begitulah, sampai pagi ini pun Kenzo tak berusaha untuk menghubungi Viona.
Hingga Bel pun berbunyi tanpa henti.
"Siapa sih yang mencet bel kaya lagi bangunin orang pas latihan pramuka??" Rutuk Kenzo, menggaruk kepalanya, greget.
Kenzo akhirnya keluar dari kamarnya dengan langkah yang gontai.
Wajahnya kusut, rambutnya apalagi.
Bahkan Kenzo juga merasakan kepalanya terasa sangat pusing sekali.
Dan begitu Kenzo membuka pintu ...
"Loh Bunda?" seru Kenzo kaget .. "duuuh sampai kapan sih Bun ke sini mulu?? Masih pagi juga ah!" rajuk Kenzo diambang pintu.
"Hem pagi?" gumam Bunda.
Kenzo pun mengangguk, benar kan masih pagi ?
"Menurutmu jam 12 siang itu apakah masih bisa disebut pagi, Ken?" tanya Bunda, yang mulai masuk ke dalam Rumah.
"Hah, jam 12?" ulang Kenzo, memutar kepalanya. Mengikuti langkah Bunda.
"Lihat jam di Rumahmu, Ken .. !" tunjuk Bunda. "Ah sudahlah, tidak penting. Kedatangan Bunda ke sini bukan untuk itu." lirik Bunda pada Ken yang masih setengah melamun.
"Apa?" keluh Kenzo, menatap Bunda dengan tatapan yang sinis.
"Kenapa masih tanya, bersiaplah!" ..
"Untuk?" tanya Kenzo heran.
"Astaga, kamu masih tanya." tepuk Bunda pada keningnya sendiri. "ya jelas untuk ketemu calon istrimu lah!"
"Haish ... " desis Kenzo, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "baiklah, tunggu sepuluh menit lagi!" ucap Kenzo akhirnya.
"Tentu .." jawab Bunda, singkat.
Selagi Bunda berkeliling ruangan, Kenzo benar benar mandi.
Di bawah shower, ia banyak merenung. Tak ada salahnya bukan jika ia mencoba untuk move on walau bisa dibilang ini adalah ... move on yang sangat terlalu dini.
Tapi, hanya inilah caranya agar ia bisa melupakan Viona.
Dengan memejamkan matanya, Kenzo mengingat bagaimana manisnya wajah Viona, bagaimana mereka sering menghabiskan waktu bersama. Indah sekali.
Tapi bayangan itu tiba tiba saja musnah sedetik kemudian, karena dengan cepatnya ia kembali teringat juga dengan pembahasannya bersama Bunda tadi malam.
Kenzo baru ingat kalau dirinya telah berjanji pada Bunda akan menemui calon istrinya sebelum pernikahannya nanti.
"Hah .." hela Kenzo, mengusap wajahnya kasar. "Apa karena ini juga Viona tak pernah mau aku kenalkan dengan kedua orang tua ku? Dari awal, ia memang tak pernah mau menikah denganku, ternyata." pikir Kenzo, mengerutkan dahinya.
Aaaarggggh ... Teriak Kenzo. Ia benar benar prustasi.
....
Seperti janjinya, sepuluh menit kemudian Kenzo benar benar keluar dari kamarnya dengan wajah yang sudah jauh lebih segar.
"Nah gini kan ganteng!" Seru Bunda, mendekat.
"Emm .." gumam Kenzo, menatap sekeliling.
"Heran? Bunda yang udah rapihin." ucap Bunda yang seperti sudah mengetahui apa isi kepala Kenzo saat itu.
"Bersih banget, cuma sepuluh menit?" seru Kenzo, kagum.
Matanya berbinar melihat setiap sudut ruangan Rumahnya kini terlihat sangatlah bersih, tak seperti tadi.
"Nanti, istrimu lah yang akan bebenah rumah ini." ujar Bunda, tersenyum.
Ah iya, itu ... ketika mood Kenzo mulai kembali bagus, lagi lagi harus hancur seketika ketika Bunda terus saja menyebut kata 'istri.
Tak bisakah sedetik saja Bunda tak menyebutnya? Rasanya, kepalanya mau pecah ketika mengingat itu.
Tetapi, Kenzo juga tak bisa mengutarakan protesnya itu pada Bunda.
Terlebih, Bunda tak mengetahui masalah apa yang sedang menghadangnya.
"Jadi berangkat ga?" seloroh Kenzo yang sudah berjalan mendekati pintu.
"Jadi lah .. " sahut Bunda, sumringah.
.
.
Sepanjang perjalanan, Kenzo hanya terdiam. Seperti biasa, Kenzo memanglah seorang anak lelaki yang jarang sekali berbicara, alias irit.
Dan Bunda tak masalah akan hal itu, karena Kenzo memanglah seperti itu sejak kecil.
Apa lagi, tadi Kenzo yang mengemudi begitu sangat fokus pada jalanan, sementara Bunda ... Beliau sibuk dengan rencana rencananya.
Jadi, sampai mereka berdua pun tiba di rumah Bunda, tak ada pembahasan sama sekali.
"Selamat siang!!! Kenzo datang Pap .. " teriak Bunda, ketika membuka pintu Rumah.
Melihat itu, Kenzo hanya bisa tersenyum dengan kepala yang terus saja menggeleng.
"Bunda memang tak pernah berubah!" gumamnya.
"Ah, sudah lama sekali kamu tak pulang Nak! Papah sempat berpikir kalo Papah ini tak memiliki anak seperti dirimu." sambut Papah, memeluk anaknya itu dengan kekehan yang terdnegar sangat renyah.
"Iya. Saking kangennya, ini pelukan sampai mau bunuh aku Pap ..!" kekeh Kenzo.
"Ahahha ... Bisa saja kamu!" gelak Papah. "Duduklah!"
Kenzo pun menurutinya. Walau dalam hatinya masih terluka, tapi Kenzo sangat berusaha sekuat tenaga untuk memperlihatkan wajah cerianya seperti biasa.
"Apakah Bunda sudah menceritakannya?" tanya Papah. Menyelidik.
"Tentu. "
"Jadi, apakah kamu setuju?" tanya Papah lagi.
"Entahlah Pah, mungkin iya mungkin juga tidak !" jawab Kenzo, nyengir.
"Loh, Bunda ini gimana ceritanya?" protes Papah, kaget dengan jawaban anaknya itu.
Dan Bunda hanya nyengir. "Sudahlah Pah, Kenzo juga tak memiliki kekasih ini." jawab Bunda, pergi.
Degh.
Rasanya Kenzo sangat ingin menimpali kata kata Bunda itu.
Seperti ... 'aku punya ya, tapi sudah putus!'
Namun tentu saja, itu tak pernah bisa ia utarakan karena Bunda dan Papah memang tak pernah mengetahuinya.
Kenzo awalnya tak menyadari kemana Bunda pergi dan tak ambil pusing juga mengenai itu.
Akan tetapi, selang lima menit kemudian, disaat Kenzo dan Papah bersenda gurau di ruang keluarga, Bunda datang dengan seseorang.
Tentu saja Kenzo mengernyitkan dahinya. Masalahnya di jarak yang cukup jauh itu, ia tak tau siapa yang sedang bersama dengan Bunda saat ini.
Dan belum sempat Kenzo menanyakannya pada Bunda, nyatanya jawaban itu datang sendiri padanya seiring dengan semakin dekatnya jarak Bunda dengan dirinya ...
"Ken, perkenalkan ... Ini Adena, calon istrimu!" ucap Bunda dengan senyuman yang penuh arti ..