bc

Pernikahan Rahasia Sang Dosen Killer

book_age18+
220
IKUTI
1.1K
BACA
HE
forced
stepfather
sweet
bxg
professor
stubborn
like
intro-logo
Uraian

"Apa? Menikah?" tanya Viona pada Kenzo saat Dosen muda itu melamarnya.

Akan tetapi, alih alih kebahagiaan yang Kenzo dapat, Viona malah menampilkan wajah terkejutnya. Awalnya Kenzo tak mengerti dengan pesan yang tersirat dari wajah kaget kekasihnya itu, hingga Viona pun kembali berkata ...

"Kamu tau kan kalo aku bercita cita menjadi seorang penari balet?" tanya balik Viona.

"Tentu, aku sangat mendukungmu akan hal itu!"

"Tapi kalo kita menikah, maka itu akan mempersempit ruang gerak ku, Ken. Dan aku belum siap!" jelas Viona.

***

Lamaran Kenzo ditolak!!

Itulah yang Kenzo dapat dari lamaran tak resminya. Viona, sang kekasih, menolaknya.

Bagai jatuh tertimpa tangga pula, peribahasa itu sangatlah cocok untuk Kenzo saat itu.

Bagaimana tidak, ketika ia sedang terpuruk saat ini, ia kembali dibuat kaget ketika Bunda datang dengan membawa berita bahwa dirinya akan segera menikah dengan seorang anak dari kenalan kedua orang tuanya.

Apakah ini bisa disebut perjodohan? Jelas.

Lalu aakah Kenzo akan menerima perjodohan itu saat tahu ternyata dia adalah mahasiswi di kampusnya?

Serta, apakah Kenzo akan bisa melupakan kekasih hatinya?

Yuk, simak kisahnya hanya di sini!

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Kenzo dan Akhir Bulan
"Apa? Menikah?" tanya Viona pada Kenzo. Viona sungguh tak bisa menutupi rasa kagetnya. "Iya, kita nikah! Toh kita sudah dewasa .. dan aku juga sudah menjadi seorang Dosen." jawab Kenzo, riang. Tapi sayangnya tidak dengan Viona. Ia terlihat begitu berpikir keras, sampai harus memijit keningnya sendiri. Kenzo dan Viona sudah sangat lama menjalin asmara. Sudah semenjak SMA mereka menjalin sebuah ikatan pacaran. Pacaran mereka pun bisa dikatakan normal dan sehat. Tak ada acara menyelundupkan sesuatu pada isi rok atau dalaman kaos. Tak ada. Real sehat. Terkecuali ciuman tentunya. Mengenai itu ... Kenzo sangat lah lihai dalam masalah ciuman, katakanlah begitu. Tapi selebihnya, tak ada. Kenzo benar benar menghormati seorang wanita. Baginya, seorang wanita bagaikan sebuah kertas kosong nan putih. Dan menurut Kenzo, kertas kosong itu adalah cerminan bagaimana ia mengisinya. Jika ia hanya menjadikannya sebagai kertas biasa saja, maka itu hanyalah kertas biasa. Tapi jika kita mengisinya dengan sesuatu yang menarik dan bermanfaat, maka kertas itu akan menjadi sesuatu yang sangat berharga. Ilmu misal. Satu hal lagi, jika kita hanya menganggap kertas kosong putih bersih itu hanya sebagai sampah, kita pasti tak segan untuk merobeknya, mencoretnya dengan seenaknya, dan tentunya ... Ketika semua itu terjadi, kita tentunya tak bisa untuk mengembalikannya lagi kewujud seperti semula. Karena itulah, Kenzo memperlakukan wanita sebagai makhluk yang sangat berharga di muka bumi ini. Sama berharganya seperti halnya seorang sahabat, seorang murid, seorang Adik, dan juga seorang Ibu. "Kamu tau kan kalo aku bercita cita menjadi seorang penari balet?" tanya balik Viona, alih alih menjawab apa yang Kenzo katakan tadi. "Tentu, aku sangat mendukungmu akan hal itu!" seringai Kenzo, mengangguk angguk. Wajah cerianya sungguh tak bisa ia kontrol. "Tapi kalo kita menikah, maka itu akan mempersempit ruang gerakku, Ken. Dan aku belum siap mengenai itu!" jelas Viona. Mendengar itu, Kenzo tentu saja hanya menatap heran Viona, kekasihnya. Wajah cerahnya tadi sontak saja langsung lenyap, bibir yang sedari tadi menyeringai pun kini berubah. Ia hanya menggigit bibirnya, lalu menatap lekat Viona kembali. Tangannya meraih tangan Viona yang saat ini keberadaannya tengah berdiri tepat di hadapannya. Sementara Kenzo sendiri, ia masih dengan posisi awalnya, yaitu terduduk disebuah hammock. "Tapi aku tak akan melarangmu, Viona ... Kita berdua tau jika aku sangat mencintaimu, dan aku tak akan mungkin mengikis ruang gerakmu!" ucap Kenzo, meyakinkan. Akan tetapi, lagi ... Kenzo dibuat tercengang saat Viona melepas genggaman tangan itu dengan sedikit kasar. Kenzo masih tak mengerti dengan perubahan sikap Viona saat ini, sampai Viona mengatakan sesuatu yang tak pernah Kenzo pikirkan sama sekali dalam hidupnya. Apa itu ? "Kita putus saja Ken. Aku sudah tak tahan dengan dirimu yang terus saja memaksakan kehendak terhadapku!" ujar Viona, memalingkan wajahnya. Tapi walau Kenzo kembali dibuat bingung oleh sikap Viona, gelak tawa pun tak lepas Kenzo perdengarkan. Bahkan, beberapa kali Kenzo mengusap ujung matanya yang berair akibat tawa yang tak kunjung reda. "Honey, kamu bercanda 'kan?" tanya Kenzo, yang masih tergelak. Tapi yang ditanya masih saja terdiam. Tak ada suara, hanya mematung membelakangi Kenzo yang masih saja tertawa. Melihat reaksi kekasihnya itu, tawa Kenzo langsung meredup. "Tunggu, you're serious?" tanya Kenzo lagi, tak percaya. "Aku sudah memberi taumu, Ken. Dan jangan sampai aku ulangi lagi kata kata itu!" kali ini Viona menjawab pertanyaan itu dengan nada yang sangat dingin. Walau posisinya yang masih membelakangi Kenzo saat ini, tetapi masih dapat terlihat jika posisi tangannya saat ini tengah Viona lipat di d**a. Dan itu menambah kesan .... Entahlah, bagi Kenzo itu sangatlah menyakitkan dan menakutkan. "Tapi kenapa? Aku salah apa, hem?" tanya Kenzo yang kini mulai beranjak bangun dari hammock itu dan mulai berdiri di hadapan Viona. Ia usap wajah cantik kekasihnya itu, lalu beralih menarik Viona dalam dekapannya. "Aku salah apa? Biar aku perbaiki hem!" ulang Kenzo. Takut. "Kamu gak salah, Ken. Hanya saja, aku masih muda dan aku ingin terbang bebas. Jika aku masih terikat hubungan denganmu, aku tak akan pernah merasa tenang!" jawab Viona, dingin. Lalu melepas pelukan itu, dan mundur satu langkah dari tempat berdirinya tadi. Kenzo yang mendengar itu hanya menghela napas kasar. Tiba tiba saja kepalanya pusing, badannya lemas. Ia bahkan beberapa kali mengusap wajahnya dengan kasar. "Tapi aku mencintaimu, Viona. Dan kita sudah sepakat akan hal itu. Apa aku kurang jelas mengatakannya, bahwa aku tak akan pernah mengekang ... " "Keputusanku sudah bulat, Ken. Mari kita jalani hidup kita masing masing mulai sekarang!" sela Viona, Lalu Viona pergi dari sana. Membiarkan Kenzo yang masih terpaku dengan mata yang sudah berkaca kaca. Viona benar benar tak memberikan kesempatan sedetik pun untuk Kenzo mengerti semuanya. ***** Kenzo pulang dari taman kampus itu dengan badan yang sakit. hatinya sakit, jantungnya apalagi. Rasanya semua yang berada dalam tubuhnya, merasakan sakit secara bersamaan. Ia masih tak percaya jika hubungannya dengan Viona akan sedramatis itu. Untuk kesekian kalinya, Kenzo tak pernah berpikir akan menyudahi hubungannya dengan Viona. Bagi Kenzo, Viona adalah segalanya. Selain paras yang cantik, Viona adalah cinta pertama bagi Kenzo. "Aaaarrgghhh ... ini pasti tak nyata kan?" teriak Kenzo dengan tangan meremas rambutnya, lalu beberapa detik kemudian ia pun mengangguk mantap. "Benar .. Ini bulan april dan pasti ini hanya jebakan semata, bukan? Tak lebih dari april mop." tutur Kenzo lagi, berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Aish .. Viona memang senang sekali menjahiliku!" kekehnya. Akan tetapi, baru saja Kenzo mencoba menenagkan hatinya dengan berpikir positif, tiba tiba saja sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. "Viona??" senyum Kenzo, "sudah kuduga!" Dan ketika Kezo membuka isi pesan itu, .. ~~ My lovely, Viona. Aku sudah mengirim semua barang pemberianmu lewat pengiriman kilat, Ken. Terimakasih karena selalu ada untukku, aku sungguh mencintaimu .. Tapi aku lebih mencintai balet! Maaf jika pesanku ini akan menyakiti hatimu, tapi inilah aku. Aku tak bisa terus terusan berbohong dengan hati ini. Aku hanya ingin mengejar cita citaku untuk saat ini, dan yang lainnya tak penting. Termasuk dirimu. Tapi satu hal yang jelas bagiku, Ken. Setiap hari yang ku lalui bersamamu selama ini, adalah hal yang paling indah dalam hidupku setelah balet. Ku harap kamu akan bisa menerima keputusanku. Terimakasih ... ~~ PRAK .. Ponsel yang Kenzo genggam tiba tiba saja jatuh, sama seperti hatinya yang ikut terjatuh. Kenzo hanya bisa menjatuhkan dirinya di lantai dengan kedua tangan yang ia tangkupkan di wajahnya. Kenzo menangis dalam diam. Kini, angannya untuk memiliki sebuah keluarga dengan Viona pupus sudah. Tetes demi tetes air mata kian jatuh tanpa henti. Kenzo meringkuk di pojokan kamarnya dengan hati yang hancur berpeking keping. ..... Malam pun tiba, Dan ketika Kenzo sedang termenung dalam pikirannya yang berisik, tiba tiba saja pintu apartmennya diketuk dari luar. Kenzo sungguh ingin mengabaikan ketukan pintu itu, ia bahkan belum mandi setelah kejadian tadi pagi di taman. Ia sungguh ingin sendirian saat ini. Tapi apalah daya, ketukan pintu itu pun tak kunjung pergi. Malah semakin berisik. Entah siapa yang ada di luar sana, tapi Kenzo sungguh merutuki orang itu. "Bentar!" ucap Kenzo, mendekati pintu dengan langkah yang lunglai. "Ada perlu ap .. Bunda??" seru Kenzo, kaget. Matanya membelalak. "Iya Bunda, menurutmu siapa?" sewot Bunda yang merangsak masuk ke dalam apartmen yang hanya diisi oleh seorang bujang itu. "Astaga ... Kapan kamu mau bebenah Rumah ini Ken?" cerocos Bunda yang mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Ditanya begitu, Kenzo malah menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sudah menjadi kebiasaan memang, bahwa Bunda akan datang setiap akhir minggu untuk memeriksakan keadaan anak bungsunya yang tepat satu tahun lalu memutuskan untuk hidup mandiri. "Apa Bunda harus mengirimkan Asisten Rumah Tangga ke Rumah ini, Ken?" tanya Bunda, membalikan tubuhnya. Menatap wajah anaknya yang kusut. "Ga usah, Kenzo bisa ko.. " "Bisa apa? Ini berantakan banget." potong Bunda, lalu menatap anaknya itu dengan seksama. "Kamu juga!" tunjuk Bunda tepat di hidung macung Kenzo. Jika sudah begini, Kenzo tahu kalo apapun yang ia katakan tetap salah di mata Bundanya itu. Dengan langkah yang gontai, senyum tipis yang terlampir di bibirnya, Kenzo pun akhirnya hanya bisa memeluk Bundanya itu dari belakang. "Kangen banget deh sama masakan Bunda!" rayu Kenzo. Mnecoba mengalihkan pembicaraan. Dan di situasi seperti ini, Bunda tentu saja tersenyum bahagia lalu menepuk nepuk lengan anaknya yang kini melingkar di leher. "Kamu itu kangen masakan Bunda tapi ko malah mau bunuh Bunda sih!" cubit Bunda pada lengan itu. Merasakan cubitan itu, Kenzo langsung meringis. Tapi hanya sebentar, selebihnya gelak tawa pun ia perdengarkan. "Aish, masih saja tuh tangan nakal, ya Nyonya!" sindir Kenzo yang masih terkekeh. Begitu pun Bunda. Bunda ikut terkekeh saat mendengar ucapan menggemaskan anak bungsunya itu. "Oh iya Ken.. Bunda ke sini tak hanya mau nengok kamu. Ada sesuatu juga yang akan Bunda sampaikan!" ucap Bunda lagi, mendudukan dirinya di sofa yang berada di ruangan televisi, setelah berhasil lepas dari lilitan tangan kekar anaknya itu. "Apa?" tanya Ken, mengikuti langkah kemana Bunda pergi. "Kamu akan menikah akhir bulan ini!!" jawab Bunda enteng. Lalu menatap Kenzo dengan sangat serius. Bunda sangat ingin melihat reaksi apa yang akan anaknya itu perlihatkan. "Ooh itu ... “ angguk Kenzo, lalu tak lama dari itu ia pun mengatupkan mulutnya, dan menodong Bunda dengan biji matanya sendiri. “N-nikah .. Apa?"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
19.9K
bc

Kali kedua

read
219.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.8K
bc

TERNODA

read
200.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.3K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.6K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
79.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook