Bab 11. Nanti Malam

1252 Kata
Lebih nyaman mana sama semalam? Lebih nyaman mana sama semalam? Lebih nyaman mana sama semalam? Kalimat itu terus saja terngiang di telinga Adena, hingga Adena pun tak bisa fokus dalam belajar, khususnya pada kelas yang Kenzo ajar saat ini. Atau mungkin ... bisa dikatakan, hanya Adena lah yang merasa begitu. Buktinya, Kenzo masih sangat konsisten dengan apa yang sedang ia ajar. "Dena!" seru seseorang di sampingnya. "Hem .." jawab Adena, menatap orang tersebut yang tak lain adalah Rio. Rio sempat menyipitkan matanya, lalu mengusap lembut pipi Adena. "Pipi kamu kenapa?" tanya Rio, panik. Ya, panik. Adena bisa melihat dengan jelas bagaimana reaksi itu tampil di wajah tampan Rio. "Aaa, ini ..." jawab Adena, ragu. Tangannya mengelus pipinya sendiri, berpikir jawaban apa yang akan ia katakan pada Rio. "Ibu tiri kamu lagi, hem?" tebak Rio yang sangat akurat. Mendengar kalimat itu, Adena lantas memalingkan wajahnya sebentar. Ia kaget dan tentunya Adena juga harus mengatur perasaannya lagi. Adena tak mau menangis di kelas yang sedang diajar oleh Kenzo. Berabe. "Ga ko. Ini yang kemarin di kampus!" kilah Adena, berusaha untuk memperlihatkan senyumannya yang manis. Rio pun menghela napasnya, lalu mengangguk. "Sudah ke dokter?" tanya nya lagi. Adena pun mengangguk, "Sudah!" jawabnya sambil lalu begitu saja. Ia kembali menatap ke depan dimana Kenzo sedang menjelaskan materinya. Adena sendiri bingung, kalau dulu ia dengan sangat suka rela akan terus menatap Rio dan mempersembahkan semua waktunya demi mengobrol dengan Rio, kali ini berbeda. Adena merasa apa yang ada di hadapannya saat ini, lebih terlihat menggiurkan. Kenzo, bagi Adena ... ia masih ingat dengan jelas bagaimana wajah Kenzo saat terbangun tadi pagi. Bagaimana ia merengut pada Bunda, bagaimana ia merajuk, dan bagaimana lelaki yang terkenal dingin itu tertawa dengan jenakanya bersama Bunda, adalah hal yang paling menakjubkan selama ia hidup sendiri di bumi ini. "kenapa gw baru sadar sih kalo dia ganteng?!" gumam Adena tanpa sadar. "Hah?" tanya Rio tiba tiba. Karena meski Adena hanya mengeluarkan sebuah gumaman kecil, tapi Rio yang kini berada tepat di sampingnya, tentu saja bisa mendengar kalimat itu dengan sangat jelas dan kontras. "E-eh .. ngga ko!" kilah Adena, melengoskan wajahnya. Malu. 'Bisa bisanya gw bayangin Pak Kenzo disaat begini!' batin Adena, mengusap dadanya lembut. Melihat reaksi itu, Rio kembali menghela napasnya panjang. Ia seperti merasakan sesuatu yang sangat aneh dari sikap Adena hari itu. Namun, untuk bertanya ... rasa rasanya Rio sangatlah gengsi. Ia tak ingin terlihat mengejar ngejar Adena, 'mau disimpan dimana wajah gw?' begitulah yang Rio pikirkan. Rio memang sudah menyukai Adena ketika mereka pertama kali bertemu. Tapi, ada satu pantangan yang ada di kamus hidupnya. Dan itu adalah pantang untuk mengutarakan isi hatinya terlebih dahulu pada seorang wanita. Secara, dia ganteng dan tajir. Di sekolahnya dulu ketika SMA, Rio bahkan jadi rebutan para wanita. Karena itulah, jika dirinya mengutarakan perasaannya dahulu, maka kepopularitasannya dahulu akan sirna dalam sekejap. 'Bisa bisa gw diolok olok sama temen gw lagi nanti!' batinnya lagi, sambil terus menatap Adena yang mulai terlihat bertingkah aneh. Dan sikap anehnya itu semakin terlihat ketika Kenzo sedang menerangkan materinya dengan cara mengitari setiap meja. Tak terkecuali meja tempat Adena berada saat ini. ***** Kelas pun usai dengan sangat lancar. Bagi Adena, ini adalah hari terbaiknya sepanjang masa. Bukan apa apa, kelas hari ini untungnya tak ada sesi tanya jawab, atau harus ke depan kelas. Bisa gawat baginya jika ketahuan tak mendengarkan sedikitpun materi yang Kenzo terangkan selama kelas berlangsung. Dan ketika Rio meraih tangan Adena untuk mengajaknya ke kantin, tiba tiba saja ... "Mmm, Adena!" seru Kenzo sedikit keras. Adena dan Rio yang saat itu tinggal selangkah lagi menuju pintu, dengan terpaksa harus membalikan tubuhnya lagi dan menatap kemana arah sumber suara tadi terdengar. "Y-ya?" jawab Adena, ragu. Merasa panggilannya itu dijawab, tidak tau kenapa Kenzo yang saat itu tengah membereskan buku bukunya pun sedikit bersorak dalam hati, merasa dirinya itu telah menang. Entah menang dari apa padahal. Lalu dengan wajah yang sengaja dibuat sedatar mungkin, Kenzo pun menatap Adena. "Soal nilaimu, mari kita bahas lagi hari ini!" ...'aduh.' lanjutnya lagi dalam hati. Itu ... Ya, hanya itu yang ke luar dari mulut Kenzo. Padahal, niatnya tadi memanggil Adena adalah untuk menanyakan kondisi pipinya yang selama pelajaran tadi, Kenzo perhatikan malah semakin membengkak. 'Mampush, kenapa gw malah bahas lagi soal nilai sih?' rutuk Kenzo dalam hati. Di sisi lain, mau itu Adena atau pun Rio ... mereka berdua sempat saling tatap, lalu beralih menatap Kenzo yang memang seperti amat serius. Lalu, tanpa pikir panjang lagi ... Adena kembali menghadap Rio, "Rio, kamu duluan aja ke kantin. Nanti aku nyusul!" ucap Adena, melepaskan tangannya yang sedari tadi tak lepas dari genggaman Rio. Dan barulah, ketika adegan Adena melepaskan tangannya dari Rio, tanpa sadar tangan Kenzo sendiri sudah mengepal di bawah sana. Rahangnya bahkan mengeras dengan tiba tiba. Menyadari ada sesuatu yang tak beres dengan dirinya, Kenzo akhirnya memutuskan untuk melangkah maju dan menghadap Adena yang masih bertatap muka dengan Rio. "Saya tunggu di ruangan saya!" ucap Kenzo, sinis. Lalu pergi begitu saja tanpa permisi. Melihat sikap Kenzo yang terlihat sangat tak suka dan sinis itu, entah kenapa membuat hati Adena tak nyaman. "Rio, maaf ya!" seru Adena, menepuk pelan lengan Rio. Lalu ia pergi meninggalkan Rio dengan segudang pertanyaan yang berada di benaknya. Rio sendiri, ia hanya terdiam melihat tingkah Adena yang benar benar sangat janggal. Rio juga sedikit menaruh curiga pada Kenzo. Begini, seumur ia mengambil kelas Kenzo, tak pernah ada satu pun murid yang Kenzo panggil ke ruangannya hanya karena sebuah nilai yang anjloknya pun tak begitu parah. Kenzo selalu menemukan cara agar anak didiknya itu bisa mendapatkan nilai terbaik. Dan salah satu cara itu adalah Kenzo pasti langsung memanggil mahasiswa mahasiswi itu ke depan kelas agar menghadapnya di meja dan ditonton langsung oleh mahasiswa mahasiswi lain saat itu juga. Kenzo sangat handal dalam mempermalukan mahasiswa mahasiswinya. Dan itu bukan tanpa sebab, karena memang itulah cara Kenzo untuk menaikan nilai nilai anak didiknya agar semakin bertekad dan berlomba lomba untuk mendapatkan nilai yang baik, karena mereka tak akan pernah mau dipermalukan lagi oleh Kenzo. Tapi, Adena beda. Kenzo malah menyuruhnya untuk pergi ke ruangannya, dan tak hanya sekali. Ya. Ini adalah kali kedua Rio tau bahwa Adena menghadap Kenzo di ruangannya. . . . "P-pak!" tegur Adena ketika ia berhasil menyusul Kenzo. "Ya!" jawab Kenzo dingin. Adena yang saat itu berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Kenzo pun sontak menelan salivanya. Gimana ya, emm ... Adena merasa bahwa Kenzo tengah marah padanya saat ini. Tapi, marah karena apa? Meski Kenzo memang selalu bersikap dingin pada semua orang, namun setelah ia melihat bagaimana interaksi dang Dosen dengan Ibunya, Adena jadi bisa membedakan mana sikapnya yang 'dingin, dan mana yang sedang 'merajuk. "Soal nilai ..." ucap Adena menggantung tepat di ambang pintu ruangan Kenzo. Ya. Mereka baru saja sampai di depan ruangan yang mereka tuju. Lalu kenapa ucapan Adena menggantung? Karena Adena kaget sekaget kagetnya, katika Kenzo dengan tanpa aba aba membalikan tubuhnya dan menatap Adena dengan tatapan yang kurang bersahabat. "P-ak .." "Bersiaplah nanti malam!" sela Kenzo, menampilkan wajahnya yang sangat plat. "N-nanti .. malam?" ulang Adena, gugup. Hey, ada apa ini? Pikir Adena. Berusaha mengingat apa yang telah ia lupakan. "Memang, ada apa Pak nanti malam?" tanya Adena yang tak berhasil mengingat sesuatu. Mendengar itu, Kenzo menghela napasnya. Tangannya yang sedari tadi masih mengepal di bawah sana, akhirnya bisa lemas juga. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap arah, seperti tak ada satu orang pun yang boleh mendengar apa yang akan mereka bahas. Setelah yakin tak ada orang di sekitar mereka, Kenzo pun menatap kembali Adena. "Kita akan menikah nanti malam!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN