Ganteng Tapi Rese!
"Heh, Pak! Bapak gimana sih. Jalan itu ya pake mata dong pak ...."
"Ngarang, harusnya kamu yang jalannya itu pakai kaki. Terus, mata kamu ini buat ngelihat. Orang jelas-jelas, yang nabrak siapa kok yang disalahin siapa. Lagian saya kan dari tadi udah di sini, main nabrak aja sih."
"Loh, ya nggak bisa gitu dong Pak ... Ini jidat saya sakit loh Pak gara-gara ketabrak bapak!" ujar wanita itu sembari mengelus-elus keningnya.
"Lah, Kok lagi-lagi saya sih yang disalahkan. Kalau kamu ketabrak ya bukan salah satu lh, itu mah karena kamu nya yang kependekan!"
"Loh loh loh, kok jadi body shaming ya anda?!"
Dafin tampak memutarkan matanya jengah menyadari perkataan itu. "Siapa yang bilang? Itu emang kenyataannya gitu."
"Ya bapak lah yang bilang, itu tadi apa? Bapak bilang saya kependekan kan? Berarti bapak body shaming dong sama saya karena saya pendek. Mentang-mentang bapak tinggi, terus saya yang kena body shaming. Huh!"
Wanita itu dengan segala kesibukannya terlihat membenarkan kerudung yang ia kenakan karena sedikit goyah akibat tabrakan beberapa detik lalu. Semua aksinya tidak luput dari pandangan Dafin yang tampak menghela nafas panjang.
"Udah belum? Ini kamu menghalangi jalan. Saya mau lewat."
Nayla terdongak, "Lah? Emangnya udah apanya. Lagian bapak kalau misalkan mau lewat ya tinggal lewat aja. Kan ini jalannya juga lebar nggak harus ngusir saya gitu dong Pak."
Kedua tangan wanita itu tampak mempersilahkan sosok itu dengan begitu greget, "Tuh! Monggo kalau mau lewat. Segala pakai ngusir lagi."
"Ya gimana, soalnya kan badan kamu sedikit lebar."
"APA?!"
Kicep di tempatnya, Dafin sadar ucapannya sedikit salah. Namun dengan segala wajah ketenangannya itu, laki-laki tadi masih berusaha sok cool di tempatnya meski dia dapati amukan penuh dari Mahasiswi bandel di hadapannya.
"Tuh kan tuh kan tuh kan ... Bapak tuh ya bener-bener."
"Udah dari tadi itu body shaming mulu, iya tahu Pak saya tuh pendek. Saya juga tahu pak kalau misalkan saya itu agak lebar, cuma ya nggak usah ditebelin juga kali pak omongannya itu. Lagian ini jalan nya masih lumayan lebar loh, koridornya ini juga kan nggak mungkin cuma gara-gara aku langsung penuh. Huah, emang ngajak ribut ini orang!"
"Tenang, tenang ... Kamu ini kalau saya lihat-lihat emosian terus kalau misalkan udah ketemu sama saya."
"Ya gimana nggak emosi, bapak itu kalau ngomong ya mulutnya itu melebihi cewek-cewek yang lemes banget gitu. Tau nggak?!"
"Enggak, memangnya saya peduli?"
Damn it, menyadarinya Nayla mengepal penuh. Sampai badannya sedikit tergeser karena aksi Dafin. "Udah mending kamu minggir, saya keburu ada urusan."
"Heh, woy, gila ... Gila .... Bukannya minta maaf atau apa kek udah nabrak ngapain lagi. Ini main kabur-kaburan gitu aja, aku sumpahin ya nggak dapat jodoh tau rasa lo. Sok ganteng banget sih, heran aku!"
"Mendingan kalau ganteng beneran, lah itu gantengnya aja kaleng-kaleng gitu sok-sokan body shaming sama anak orang. Merasa paling sempurna ya gitu tuh. Mana kayak gitu juga pakai segala pada dikagumi lagi sama anak-anak, emang rada stress tuh mereka. Matanya ketutup debu kali ya!"
---------
Suaranya nyaring sebuah mangkuk jatuh ke lantai sana menimbulkan bunyi yang begitu menggema, memecahkan keheningan di sudut ruangan kantin yang kini sudah mulai sepi karena waktu yang lumayan sore.
"Allahu Akbar, siapa sih ah! Mangkuk nya jatuh kan ...."
"Kamu lagi yang salah!"
Nayla terdongak, matanya terbelalak penuh. Wajahnya mulai memerah padam. Dirinya yang sebelum itu terlihat gercep membersihkan kaca yang berhamburan di bawah sana, bangkit seketika dengan raut wajah kesalnya.
"Lo lagi, lo lagi. Heran ya aku, bisa-bisanya ketemu lo terus!"
"Sstt, sabar sabar ... Ingat Nayla dia itu dosen di sini. Jangan ngacung-ngacungin gitu ah. Nggak baik tahu, nanti kalau misalkan Dosen lain tahu gimana coba?!"
"Biarin aja kenapa sih, ini orang cari gara-gara mulu loh sama aku. Harus dikasih pelajaran tau nggak?!" kesal sosok tadi yang ia lampiaskan ke sahabatnya.
Di tempatnya Annisa tampak bingung sendiri saat ini, nentranya mendapati sosok Dafin berdiri sembari menggaruk-garuk ujung alis bagian kanannya sana dengan helaan nafas panjang.
"Yang harusnya dikasih pelajaran tuh kamu Nay ... Heran deh, kalau udah ketemu Pak Dafin tuh emosinya nggak bisa dikontrol sama sekali. Padahal orangnya juga nggak salah loh jelas-jelas ini mah yang salah juga dia megang mangkuk jalannya nunduk. Yang dilihat bukan jalannya tapi malah mangkuknya, heran heran ....' batin Annisa menggerutu sendiri.
"Ya sudah terserah kamu, mau kamu menyalahkan saya ataupun Kamu mau ngapain itu terserah kamu sudah. Saya tidak peduli, yang terpenting saya sekarang mau lewat kamu tolong minggir lagi."
"Ih ... Kebiasaan loh, bapak tuh kalau misalkan salah itu minta maaf dulu kek bukannya malah kabur mulu kerjaannya. Bapak tuh nggak diajarin sopan santun ya?!"
"Eh Nay, nggak boleh gitu!" sahut Annisa tak habis pikir. Tangannya mencubit penuh perut Nayla membuat sang empunya mengaduh penuh namun terlihat tidak peduli sama sekali.
"Lah, tapi emang bener loh. Ya okelah tahu dia dosen aku cuma mahasiswi, mungkin status kita juga beda dan kalau misalkan dilihat dari status sih mungkin harusnya aku yang minta maaf. Tapi kan di sini kan yang dilihat tuh siapa yang salah siapa yang benar Nis, lah ini kan kesalahan Pak Dafin!"
*Hrg, udahlah Nay. Kita cabut aja yuk, maaf ya Pak kami permisi."
"Loh Nis, gimana sih. Harga diri kita ini, masa kita yang minta maaf sih. Gimana sih? Heh, ya Allah ish ... Somplak emang, nggak usah narik-narik Bambang!"
Di tempatnya Dafin terdiam mematung, tatapannya menatap ke arah dua wanita yang kini benar-benar pergi meninggalkan keberadaannya. Berjalan ke arah ibu kantin sana, membuat dirinya tampak mengerjitkan keningnya bingung.
"Sama-sama rempong!"
------
"Nay, kira-kira nanti pas mata kuliahnya Pak Bayu dia datang nggak ya buat gantiin?!" tanya Anisa pada sosok sahabatnya itu.
Nayla menolehkan pandangannya.
"Lah emangnya kenapa? Kok nanya nya gitu sih ...." ujarnya penuh keheranan di samping Anisa sana. Tangannya kembali merapikan beberapa buku yang tepat berada di atas meja depan keberadaan mereka.
"Yah nggak kayak gimana-gimana sih Nay, ya cuma siapa tahu kan Pak Bayu masih libur gitu atau cuti. Kan minggu lalu mata kuliahnya dia kosong tuh di kita, itu juga kan karena beliau yang lagi ada kegiatan di luar kota gitu kan katanya."
Mendengar kalimat itu aksi Nayla tampak terhenti sejenak, seolah berpikir sesuatu hal yang membuatnya terdiam. Di detik setelahnya tatapan mata itu kembali ke arah dimana keberadaan Anisa. "Kalau misalkan kosong berarti kita sia-sia dong tadi berangkat ke kampusnya sampai buru-buru gitu?"
"Heem," sahut Anisa singkat sembari menganggukkan kepalanya pertanda iya atas pernyataan yang terlontar dari mulut Nayla.
"Terus kalau misalnya kita lagi apes, dan itu dosen aslinya nggak ikhlas kalau kita free berarti Pak Bayu diganti sama dosen gila dong?!"
"Ya bisa jadi sih Nay, eh ... Tapi wait ... Dosen gila yang kamu maksud itu Pak Daf-"
"Ash stop! Nggak usah dipertebal lagi kalimatnya apalagi sampai nyebut itu merk orangnya, paham?"
Dengan sedikit keterpaksaan Anisa mengangguk menyetujui perintah sang sahabat, sedangkan sosoknya itu kini kembali merapikan beberapa buku yang ada di hadapannya tadi dengan sedikit kesal.
"Kalau kayak gitu ceritanya mendingan aku bolos aja mata kuliahnya Pak Bayu, ya nggak?"
Heran, kaget, tak menyangka, dirasakan Anisa menyadari ucapan yang dilontarkan Nayla beberapa detik yang lalu itu. Sampai sebuah jitakkan dilayangkan olehnya ke arah wanita itu. "Nggak usah gila kamu Nay, ingat woy kita tuh udah hampir mau lulus nggak usah buat gara-gara deh."
"Ya lagian yang buat gara-gara kan aku, toh juga aku nggak bakal ngajakin kamu kok."
"Enteng banget itu mulut ngomongnya, nggak nggak nggak! Pokoknya nggak akan aku biarin kamu bolos ya mata kuliah kali ini."
"Lah emangnya kenapa sih orang belum pernah bolos juga, lagian kan lulus juga masih agak lama kitanya mah. Tenang aja kali Nis, sekali doang udahlah ya ...."
"Sekali-sekali pala lu botak, nggak ada sekali-sekali. Sekali aja nggak bakal aku bolehin lagi sekarang, apalagi sampai sekali-sekali. Gila kali kamu ya, kamu tuh ya boleh benci sama orangnya tapi jangan benci sama mata kuliahnya. Masa cuma gara-gara dosennya aja sampai segitunya, padahal kan mata kuliahnya Pak Bayu tuh mata kuliah paling kamu senangin kan," sahut Anisa panjang kali lebar yang hanya dibalas cibiran oleh Nayla saat ini.
"Ini anak dibilangin malah gitu nyebelin banget, sumpah anaknya siapa sih hah?"
"Nyenyenye, udahlah Nis aku tuh nggak bakal bolos lagi setelah ini. Cuma emang bener-bener aku tuh lagi nggak mood buat ketemu sama itu dosen gila untuk sekarang. Karena apa? Ya karena nggak di mata pelajarannya, eh maksudnya nggak di mata kuliahnya kan sekarang. Lagian dia kan cuma dosen pengganti, dia suka gantiin Pak Bayu kan di kelas manapun itu. Kalau misalkan Pak Bayu lagi sibuk ataupun apa terlalu sering dia tuh gantiin Pak Bayu, kali ini aku bener-bener males banget ketemu dia Nis. Toh juga eneg tau nggak, udah capek buat ketemu itu dosen. Tau sendiri kan? Karena bawaannya aku tuh cuma pengen emosi sama emosi terus. Nggak sekali dua kali aja loh, tapi ketemu di jalannya itu loh yang nyebelin banget, sombong banget gitu, sama pengen banget aku pukul itu kepalanya sakit jengkelnya sama orang-"
"Lagian aku tuh heran deh sama kamu Nay, orang se cakep itu juga bisa-bisanya cuma kamu loh yang paling benci sama Pak Dafin tuh. Aneh kamu ini emang."
"Bodo amat mau dibilang aneh juga mau gimana pun juga udahlah, aku pusing aku pergi dulu ya bye ...."
Benar saja, setelah mengucapkan kalimat itu Nayla tampak bergegas menjauh dari hadapan Anisa. Sosok yang kini tampak berdecak tak percaya, bahkan beberapa kali memanggil sosoknya namun tak dihiraukan sama sekali.
"Heh, gila! Nayla ... Woi jangan gila abis ini tuh mata kuliahnya Pak Bayu dimulai. Woi Nayla, jangan bolos atuh Nay. Ini juga kan kita belum tahu Pak Bayu nya ada apa nggak, kalau misalkan tadi aku ngomongnya salah gimana coba?!"
Bagai diingatkan dalam sekejap, langkah Nayla terhenti. Pandangan itu berbalik kembali menatap ke arah dimana keberadaan Anisa yang berdiri di tengah-tengah taman dimana keduanya tadi berada. Sedangkan Nayla ini sudah berada di tepi taman, sedikit berdekatan dengan sebuah kelas sama seperti bidang studi yang diminatinya namun sedikit berbeda tingkatannya.
"Nah kan, makanya mending tuh kita ke kelas dulu aja. Lagian kamu tuh ngapain sih, pakai ada acara segala bolos kayak gitu. Udahlah Nay, yuk ke kelas aja."
"Nggaklah, nggak mau aku ke kelas. Udahlah udah nggak apa-apa. Aku bolos satu kali ini aja, kamu nanti kalau misalkan emang yang ngajar itu dosen killer ya kamu bilangin aja aku tuh lagi sakit gitu izinin ya, jangan dibuat bolos. Jangan jahat-jahat sama teman. Oke?!"
"Gila kamu Nay," sarkas nya penuh sembari kakinya melangkah dengan cepat mendekati Nayla yang kini tampak menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nggak gila aku, yang ada aku tambah gila kalau misalnya ketemu itu dosen. Udah ya, ingatlah hey ... awas ya pokoknya kalau misalkan emang dia yang ngajar. Kamu izinin aku, tapi kalau misalkan Pak Bayu yang datang. Ya udah, kamu tinggal telepon aku aja biar aku ke kelas bilang aja aku telat sedikit gitu. Izinin telat."
"Alah Nayla udah deh ya jangan gila kamu tuh jadi orang, kamu nggak ingat hah perjalanan kita ke sampai ke kampus hari ini tuh bener-bener gila banget. Ya kali kamu tadi udah berkorban kita berdua udah berkorban sampai hampir aja masuk ke got cuma gara-gara takut telat. Tapi kitanya sampai kampus malah yang kepagian, lagian mending kita tuh sama-sama ke kelas dulu deh Nay kayaknha. Nah, itu kalau memang kelihatan nggak ada tanda-tanda Pak Bayu datang ya udah kamu mau bolos kek ataupun, mau mati kek terserahlah. Aku udah pusing, intinya ayuk kelas dulu."
"Nggak! Lagian udah ada tanda-tanda sih tuh lihat aja hp-mu, ada w******p atau pesan masuk di grup kelas kan. Katanya Pak Bayu cuti lagi. Udahlah, bye ... Aku pergi."
Nayla benar-benar pergi dari hadapan Anisa yang termenung di tempatnya setelah mengecek layar ponselnya sana yang menampilkan pesan chat seperti apa yang diucapkan Nayla sebelum menghilang dari hadapannya saat ini.
"Pantesan itu anak kekeh banget gak mau ikut kelas, ternyata eh ternyata ...."
Dengan kepalanya yang masih menggeleng-geleng penuh, pandangannya menatap ke arah keberadaan Nayla yang semakin menghilang dari pandangannya. Di titik setelah itu pula Anisa tampak menghelakan nafasnya panjang, ditatapnya ke arah sebuah ruangan di samping sana tak jauh dari tempat dirinya berpijak saat ini dengan sedikit malas. "Yeh asem, kalau Nayla bolos terus aku sendirian lagi dong. Alah gila emang itu anak. Aaaaa ya ampun, nantilah pasti aku juga yang kena sasaran ini kalau kayak gini ceritanya."