Prolog
Pukul 19:00 WIB.
“Aku lelah! Aku ingin pergi!!!” terdengar suara pekikan sorang wanita.
Ia menangis tersedu-sedu. Selang berapa detik kemudian si pria memeluknya begitu erat, meskipun wanita tadi memukuli punggungnya. Lelaki itu masih tidak melepaskan dekapannya.
“Tetaplah di sisiku,” pinta sang lelaki. Berusaha menghalau wanita itu pergi.
“Kenapa aku harus bertahan?!” wanita berambut panjang itu kembali meradang. Namun si pria tidak menjawab.
“Katakan kenapa aku harus berada di sisimu?!!!” perempuan tadi semakin deras menitikan air mata.
“Karena aku mencintaimu.” Suara teduh lelaki itu, mampu membuat wanita tadi bergeming. Sekaligus... mencabik perasaanku...
Tak terasa bulir jernih membasahi kedua pipiku, menetes membasahi lantai. ku tahan dengan sekuat tenaga, tapi tidak bisa.
Aku memundurkan langkah, tak kuasa melihat pemandangan yang begitu menyakiti perasaan. Kuhapus air mata lalu berlari begitu kencang. Rasanya dadaku begitu sesak, nafasku tersengal-sengal. Kemana lagi aku harus berlari? Hatiku remuk. Sangat sakit seperti sayatan luka, luka yang terkoyak tertancap duri pada dagingnya. Aku tak tahan dengan perasaan ini. Seperti daun yang jatuh dari pohonnya, aku tidak tahu kemana arah untuk kembali.
Lampu-lampu jalan membuat mataku berkunang-kunang. Kubungkukkan badan. Memegangi kedua lutut. Hingga datang cahaya tajam menyilaukan kedua mata, semakin lama semakin dekat. Kututipi pandangan yang silau dengan kedua punggung tangan.
Beep!!!
Beep!!!
“Aaaaa!!!”
BRRUUGG!!!
Tubuhku terhantam keras suatu benda, hingga terpental. Rasanya begitu sakit, ada cairan pekat yang mengalir dari pelipis menutupi mata. Rasa sakitnya tak tertahankan, seperti terbakar sesaat kemudian menjadi mati rasa. Mulutku bergerak berupaya berbicara, tapi tak satu pun orang yang datang. Hingga hawa dingin menguasi tubuhku. Kurasa, rohku terlepas dari raga. Mengambang terbang, lalu menghilang.
***
KRING
KRING
KRING
“Hoam…!” bunyi waker membangunkanku dari mimpi, mimpi yang terasa begitu nyata. Kumatikan waker segera dan melihat jarum jam yang berdetak ke angka enam.
“Hwaaaa! aku kesiangan!”
Gawat ini! Kubuka selimut, biar lah tempat tidur berantakan. Bereskannya nanti saja setelah pulang sekolah. Aku turun dari tempat tidur bergegas ke kamar mandi. Mandi kilat dan menyikat gigi. Setelah memakai handuk aku berlari untuk membuka lemari pakaian.
“Hah? Kok gak ada? Ini pasti masih di jemuran. Hahh, gawat! Bisa tambah kesiangan!”
Benar saja saat kutengok balkon. Seragamku masih tergantung di tiang jemuran. Mm, tapi sudah kering sih … ah, gak di setrika juga gak apa, sekali-sekali dari pada telat.
Aku cari tas di lemari tapi tidak juga ketemu. Ini pastri karena keteledoranku yang suka menaruh barang sembarangan. Benar saja, setelah mencari ke seluruh ruangan ternyata tasku berada di kamar Candy. Bagaimana tas ini bisa berpindah di kamar bayi? Rasa-rasanya ada yang berubah dari kamar Candy. Ah, sudah lah …
Kuturuni tangga, mendengar suara berisik dari bawah. Sepertinya ada seseorang di kamar mandi, mungkin saja Ibu.
Wah, ada roti dan nasi goreng di meja makan!
Kruk
Kruk
“Hah, perutku lapar sekali!” kuambil roti saja lah, biar praktis. Biar bisa di makan saat perjalanan.
“Ibu?!” Aku berteriak memastikan yang di kamar mandi memanglah Ibu.
“Hem,” deham khas Ibu.
“Moon berangkat sekolah dulu ya?!” tanyaku sambil memakai sepatu yang terlihat baru.
“Hem,” dehamnya. Aku segera keluar dari pintu.
“Eh, Moon!” Ibu berteriak sementara aku sudah sangat terlambat.
“Nanti saja bu, Moon sudah terlambat!”
Aku berlari sekuat tenaga untuk sampai ke halte bus yang tak jauh dari rumah. Cukup sekali menaiki bus sekolah yang melintas dan langsung sampai. Kutunggu beberapa menit sambil memantau lalu lalang orang yang menatapku aneh. Ini pasti karena aku tidak menyetrika pakaianku dulu. Hih, sial! Malah jadi tontonan.
Bus sekolah pun datang. Aku sedikit berlari mengejar bus yang ternyata tidak berhenti tepat di depan halte. Orang-orang berkerumun masuk ke dalam bus, berdesakkan. Untung saja masih ada sisa kursi yang kosong. Aku duduk di sebelah tante berseragam kantor. Kulihat ia mengepalkan tangan ke mulut, menahan tawa. Apanya yang lucu memang?
“Mau ke mana?” menyadari tatapanku, si tante bertanya sambil tersenyum-senyum.
“Ya mau sekolah, masa mau ke mall pake seragam.” runtukku sambil cemberut.
“Oh, aku kira mau ke Pesta Halloween.” Dia masih menahan tawa. Cih, benar-benar orang aneh. Jangan-jangan dia orang gila. Sebaiknya Aku mulai menjaga jarak.
Kulihat di jendela, sudah sampai toko kue. Berarti sebentar lagi aku sampai ke sekolah. Kunaikan tas ke pundak. Berjalan perlahan, menunggu di depan pintu bus. Lalu menekan tombol merah agar supir menghentikan bus.
"Stop!" mobil berhenti berjalan, pintu terbuka.
Aku turun dari bus, berjalan kaki kira-kira hampir 100 meter. Sesekali mengecek jam tangan, sambil memepercepat langkah. Semakin cepat sampai berlari. Hingga terlihat gerbang berwarna hijau dengan pohon mangga besar yang berada di baliknya.
Akhirnya aku sampai juga ke sekolah dengan seragam yang kusut. Rambut tidak di sisir. Kaus kaki pun berbeda panjang kiri dan kanan. Hihh, semrawut sudah penampilanku pagi ini.
Dari kejauhan terlihat Pak security hendak menutup gerbang.
“Eh, Pak … tunggu dulu!” Aku berlari semakin kencang agar bisa memasuki gerbang sekolah.
Sepertinya ada yang aneh. Aku baru lihat bapak sekuriti ini, mungkin karyawan baru kali ya? Lihat saja dia hanya melongo tak berkata apa-apa, tidak seperti Pak Muk yang selalu berteriak menyambut siswa yang terlambat.
“Wah, sejak kapan cat sekolah di ganti?” takjubku ketika memasuki lapangan sekolah.
Laboratorium juga beralih fungsi jadi perpustakaan. Hem ... Perasaan baru kemarin weekend sudah berubah se derastis ini. Hebat sekali!
Aku berjalan menyelusuri tangga. Melewati kaca transparan yang terpantul bayanganku sendiri. Mengecek rok dan seragam. Menyisir kembali rambut dengan jari. Sebentar, kuperhatikan rambutku yang berubah panjang dan berwarna coklat. Sejak kapan aku mengecatnya?
“Haahhhh!!!” kupegang ke dua sisi wajahku. Mengapa …
Kukucek mataku yang mungkin rabun efek kesiangan bangun tidur. Ternyata benar! Wajahku berubah! Tulang pipi menjadi tegas, kelopak mataku menjadi lebar. Kulitku tidak sehalus dan sekencang biasanya.
“AAaaa!!!” ada kantung mata serta kerutan di pinggirnya. Ada apa ini?!!!
Bagaimana jika teman-temanku mengetahuinya?! Ah, bagai mana jika lelaki yang kusukai melihatku sepeti ini?!. Ini bencana!!! Bahkan aku tidak berani melihat bayanganku sendiri. Apakah aku harus ke kelas dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa? Atau aku pulang saja dari pada malu di sekolah?
Ya Tuhan tolong aku! Apa yang sesungguhnya terjadi dalam hidupku?!
***
Namaku Moon light, orang memanggilku dengan sebutan Moon. Usiaku 17 tahun. Anak ke dua dari dua bersaudara. Aku berasal dari keluarga yang biasa saja, banyak yang bertanya kenapa aku bisa bersekolah di GEN School sekolah Internasional terkenal di Jakarta. Tentu saja karena aku siswi berprestasi di sekolah, padahal sih sebetulnya karena harga diskon, gara-gara ayahku mengajar di sana. Sssttt ... Rahasia ya?!
Banyak siswi yang iri karena aku di gandrungi banyak lelaki di sekolah. Mereka, beberapa anak lelaki itu memintaku untuk menjadi pacarnya. Salah satunya termasuk siswa populer di sekolah ini. Ya, itu karena aku cantik. Kalau tidak percaya, tanya saja pada mereka.
Namun kini kecantikanku telah berubah, aku tak tahu mengapa bisa berubah setua ini. Bagai mana bisa? Sejak Kapan? Memangnya sekarang tahun berapa? Apakah aku tersesat ke dimensi yang lain? Apa aku menaiki mesin waktu?
Huft, Banyak pertanyaan dalam benakku yang harus kucari tahu jawabannya.