Pernikahan Palsu

1735 Kata
“Bin ...”   “Bin ...”   “Bin!!!”  teriakku langsung terjaga, duduk  termangu di kasur. Aku melihat Bin tadi tapi ...  Bola mataku bergulir mengelilingi sudut ruangan. Entah mengapa aku sudah berada di dalam kamar. Apa ini hanya mimpi? Kuhela nafas panjang melap keringat dingin pada dahi.   Cuutt!   “Awch!!!” teriakku melihat tangan besar mencubit lenganku.   “Ibu! Kenapa mencubitku? Sejak kapan Ibu di sini?” tanyaku sambil mengusap kulit yang terasa pedas.   “Sejak kemarin!” Ibu membelakan mata, “kau ini sungguh memalukan sekali!” kini Ibu menarik telingaku keras-keras. Menggoyangkannya.   “Sa-sakit!!!”   “Kenapa sejak kemarin kau mengigau,  memanggil nama lelaki lain di depan suamimu?!” Tanyanya yang akhirnya melepaskan telingaku.   “Mana aku tahu, aku kan tidur.” Lagi pula mana bisa memilih siapa yang akan hadir di dalam mimpiku. Ish,  aku rasa telingaku pasti berwarna merah. Pedas sekali jewerannya.   “Kau pingsan bukan tidur! Berhentilah mengharapkan Bin!” kini ibu mencengkam ke dua bahuku, menautkan ke dua alisnya.   “Aku mencintainya bagaimana aku bisa berhenti mengharapkannya?!”   “Apa sih yang kau pikirkan? Kau ini sudah menikah!  Dan dia sudah tinggal di luar negri, jadi Jangan coba-coba bertemu lagi dengannya! Kalau tidak!” ibu mengangkat telunjuknya,  memperingatiku.   “Kalau tidak apa?!”   “Ibu tidak akan menganggapmu sebagai anak!”   “Mengerikan sekali.” Kukerucutkan mulut. Memang bisa ibu setega itu padaku? Paling hanya gertakkan saja.   “Ini, minum dan makan dulu!” betulkan dia hanya menggertak,  buktinya Ibu masih peduli,  menyuapi dan merawatku.  Kupeluk ibu yang sedang memegang mangkuk bubur. “Heh, kenapa? Apa badanmu sakit? Atau jangan-jangan kepalamu masih sakit?”   “Aku rindu pulang ke rumah dan makan masakan Ibu.” Kueratkan pelukanku.   “Moon ibu tahu ini sulit bagimu untuk membiasakan diri menjadi Moon  dewasa. Bersabarlah, pelan-pelan kau pasti bisa mengingat dan beradaptasi menerima keadaan ini dengan baik.” Ibu mengusap punggungku,  membuat diriku sedikit tenang.   ***   “Kenapa Ibu cepat sekali pulang?” Kuperhatikan Ibu yang sedang mengambil tas dan mengenakan sweternya.   “Ibu sudah menginap di sini sejak kemarin,  kasihan Ayahmu jika Ibu lama-lama di sini.  Lagi pula, kau kan sudah siuman.”   CKLEK   Tan membuka pintu,  ia membungkukkan badan melihat Ibu masih di dalam kamar. “Tan dengar, Moon sudah siuman.” Ucapnya.   “Oh Iya,  masuk  Tan.  Kau pasti mencemaskan keadaan Moon ya?!” Ibu membuka pintu lebar.  Lalu Tan mulai beracting mencemaskanku. Actingnya buruk sekali,  lihat saja bagai mana orang bisa merasa cemas dengan ekspresi datar seperti itu.  “Untung saja kemarin Tan datang menjemputmu,  kalau tidak! bayangkan apa yang terjadi padamu Moon, pingsan di tengah hujan besar. Siapa yang mau menolongmu?!” Ibu kembali mengomel membuat bibirnya mengerucut. “Beruntung sekali Ibu mempunyai menantu tampan dan baik hati seperti Tan.” lanjut ibu menepuk dad*, mengembangkan senyuman ketika menatap Tan.   Cih, makin besar kepala saja pria berwajah kanebo itu. Tapi jika kemarin yang menolongku adalah Tan,  terus apa Bin yang kulihat dari kejauhan itu hanya halusinasi? Benarkah dia tidak datang?   “Permisi Tuan, mobil untuk mengantar Ibu Eva sudah siap.” Ujar pak His, sedang berdiri di depan pintu.   “Moon Ibu pulang dulu ya?” Ibu mengelus kepalaku,  mengecup dahiku lalu memberikan pelukan. “Sudah kalian tidak usah antar,  istirahat lah.” Ibu memberi isyarat dengan jentikkan jemarinya  agar kami tak perlu mengantar  ke depan rumah. Ibu pun meninggalkan kami dalam kamar dengan pintu tertutup.   Aku terus berpikir kenapa Bin mengacuhkanku,  pasti dia sangat sakit hati sampai tidak ingin lagi melihat wajahku. Bahkan untuk sekedar memberi alasan saja tidak mau. Apa dia begitu membenciku?   “Apa kemarin kamu melihat seseorang selain aku?” tanyaku pada Tan.   “Enggak,  siapa?”   “Maksudku,  saat  aku menunggu seseorang,  aku pikir aku melihatnya kemarin membawa payung hitam.  Tapi ketika mau menghampirinya aku,  aku tidak ingat apa-apa lagi.”   Tan duduk di sebelahku,  suaranya terdengar pelan bertanya ,  “Apa kamu berencana membuat skandal dengan menemui selingkuhanmu?”   “Dia bukan selingkuhan! Maksudnya aku hanya pernah mempunyai hubungan spesial dengannya.” Jawabku sambil membuang wajah.   “Mantan kekasih? Yang akan bertemu kembali?” Tan mengangkat sebelah simpul bibirnya sambil menggeleng pelan.   “Kenapa memangnya? Kau juga tidak pernah mencintai istrimu kan?! Lagi pula Pernikahan ini juga ... Terlihat palsu.” rutukku membuat Tan menatapku tajam.   “Jadi kamu ingin pernikahan ini terlihat asli?!” tanyanya seraya mengerutkan dahi. “Baiklah.” Ia berdiri dan membuka kancing kemejanya. Memegang kedua pundakku hingga tubuhku terhempas ke kasur.   “He-eh mau apa kau!”   kuhalangi tubuhnya mendekat dengan kaki yang mengimpit menekuk tubuh. Mendorongnya hingga terjatuh. Namun lelaki itu menarik lenganku, sampai kami sama-sama terjatuh. GUBRAKKK “Kyaaa!”   Begitu tersadar tubuhku menindihnya,  segera kutopang dengan sebelah tangan. Memandang  wajahnya begitu dekat,  membuat mata kami saling beradu tanpa berkedip.   Kreak   Pintu terbuka,  terdengar suara ibu dari depan “Moon, ponsel Ibu tertingg-al.” Ibu membelak melihatku menindih Tan di lantai. “Oh,  Astaga! Maaf,  harusnya Ibu mengetuk pintu dulu.” Ibu membalik arah tubuhnya membelakangi kami.   Sontak Tan bangun, bergegas mengancingi pakaiannya kembali. Sementara aku  mengambil ponsel Ibu di atas meja, mengembalikannya.   “kerja yang bagus Moon,  segera berikan Ibu cucu.”  Ibu terkikik berjalan mundur memberikan semangat,  menepuk kan kedua tangannya.   Hih! Memang dengan begini saja sudah bisa menghasilkan cucu? Kutepuk ke dua telapak tangan.  Bulu kudukku jadi merinding membayangkan kejadian tadi,  ke dua bahuku terangkat, bergidik ngeri.  Apalagi ketika melirik Tan yang juga balik menatapku, wajahku langsung memanas.   “Apa?!”   “Apa? Kamu yang menghalangi jalanku. Minggir!” ia berjalan melewatiku,  lalu berhenti, kembali menoleh, “Satu lagi,  jangan pernah berbuat sesuatu yang bisa merusak reputasiku!” ancamnya.   “Kalau aku melakukannya kenapa?!” tanyaku balas menantang.   Ia memutar tubuhnya berjalan mendekat hingga aku berjalan mundur membentur dinding,  mendekatkan wajahnya lagi, memandangi bibir. Bagus sekali,  dia berhasil membuatku salah tingkah sekarang. “Bersihkan namaku dengan membuat pernikahan ini terasa seperti pernikahan asli. Tidur di kasur yang sama,  mandi bersama,  menghabiskan malam bersama. Bisa?” Bisiknya di telinga.   Kugelengkan kepala cepat, masih terdiam mematung. Sampai berapa menit kemudian ia tertawa melepaskanku. Berjalan kembali ke kamarnya.   Ish, sudah kuduga pernikahan ini hanya setingan, mana pernah dia mencemaskanku,  pasti semua yang di lakukannya hanya karena reputasi. Dasar manusia kanebo berotak m***m! Mengesalkan sekali!   ***   Kubuka kalender mini yang tertera di balik cover buku,  rupanya sekarang sudah tanggal 25, berarti besok malam reuni akbar akan diselenggarakan. Hah! Aku belum menyiapkan apa-apa. Pakaian apa yang harus aku kenakan? Apa mereka masih mengenaliku? Atau akan mengacuhkanku?   “Ahhh!” Kepalaku sakit sekali.  Kutaruh kepalaku di atas meja sambil mengacak-acak rambut.   “Moon?” Gawat, Bu Nelisa memanggilku.   “I-ya”  Kuangkat kembali kepala,  menegakkan punggung.    “Sepertinya kamu tahu jawabannya?”   “Hii.. Jawaban ap-a?” tanyaku pelan sambil mengernyih. Para siswa menertawakanku kini.   “Jadi kamu  tidak mendengarkan pertanyaannya dari tadi?!” Matilah aku!   Candy menggeser bukunya agar bisa k****a,  dia menunjuk bagian mana yang harus k****a. “Seorang pemilik toko ingin mengisi tokonya dengan sepatu laki-laki paling sedikit 100 pasang dan sepatu wanita 150 pasang. Toko tersebut hanya dapat menampung 400 pasang sepatu. Keuntungan setiap pasang sepatu laki-laki adalah Rp15.000,00 dan keuntungan sepatu wanita adalah Rp10.000,00. Jika banyak sepatu laki-laki tidak boleh melebihi 150 pasang dan sepatu wanita tidak boleh melebihi 250 pasang, maka keuntungan terbesar yang diperoleh oleh pemilik toko adalah....”   Kugaruk kepala dan leherku yang tidak gatal sambil menelan ludah.   “Jadi apa jawabanmu Moon?” Bu guru menghampiri,  memberikan spidol padaku.   Aku maju menuju papan tulis, “Karena maksimum sepatu laki-laki 150 pasang dan maksimum sepatu wanita 250 pasang, maka dapat diperoleh pertidaksamaan, jadi nilai objektifnya adalah ... ” tanganku bergerak cepat menulis di papan.  Menghitungnya dengan saksama.   15.000 x + 10.000 y = 15.000 (150) + 10.000 (250)   = 2.250.000 + 2.500.000   = 4.750.000   Ku tutup spidol sambil mengernyih. Semoga saja jawabanku benar.   “Bagus Moon! Benar sekali jawabannya!” pekik Bu guru, tidak percaya aku bisa menjawab pertanyaannya.   Terdengar suara ramai para murid di belakang. Untung saja aku masih mengingatnya. Ternyata bagi seseorang yang mengidap amnesia, keadaan seperti ini menguntungkan juga.  Ingatanku pada masa lalu begitu tajam dari pada masa depan yang tidak bisa kuingat sama sekali.   Aku kembali ke kursi. Mengamati Candy yang menatapku dengan takjub. ”Wah, bagaimana tante bisa tahu jawabannya? Padahal Bu guru belum menjelaskan materi pertidaksamaan?”   “Tentu saja karena aku pintar!” padahal ingatan terakhirku mundur pada saat persiapan ujian ke lulusan. Saat itu aku sedang giat-giatnya belajar agar bisa lulus tes beasiswa ke luar negri seperti Bin. Rasanya Seperti baru saja mempelajarinya kemarin. Hihi.   Kring!!!   Bel istirahat berbunyi. Kurapikan buku, memasukkannya ke laci meja. Membuntuti Candy yang  tak sabar menuju kantin.  Semangat sekali anak itu,  tidak seperti aku yang masih lesu membayangkan acara Reuni besok.  Eh,  kakiku sulit  bergerak ada sesuatu yang menghalanginya.  Kutarik kaki,  tapi tubuhku seperti tergelincir sampai tak dapat lagi kuatur  keseimbangannya.   “Wa-waa!”   ini pasti ulah Sisaka dan teman-temannya,  terdengar kikikan mereka saat  melihat aku hampir terjatuh.   Srekkkk!   “Ketangkap!” tubuhku di dekap seseorang begitu cepat. Dia berhasil menyelamatkanku dari hantaman lantai yang licin. Seketika mata Siska membesar melihatku berada di pelukan Riu. Mulut mereka seolah terbungkam sesuatu.   “Maaf!” aku kembali berdiri,  membukukan tubuh untuk berterima kasih pada Riu San.   “Sepertinya ada yang kamu lupa.” Riu memberikan senyuman paling manis siang ini.   “Apa?”   “Membayar hutang bakso waktu itu.”   “Oh iya betul,  kenapa aku bisa lupa.” Gumamku.   “Ayo kita ke kantin.” Riu membuka telapak tangannya,  agar bisa kuraih.   “Ayo!” kudekap lengan Riu,  sambil menoleh ke belakang. Menjulurkan lidah,  meledek Siska. “Wlee!” membuatnya jengkel karena iri.     ***   “Dekorasinya cepat sekali,  padahal tadi pagi masih kosong.” Ujarku melihat langit-langit kantin yang sudah di lapisi kain.   “Kamu tahu besok ada reuni akbar?” tanya Riu sambil mengunyah bakso.   “He hem,  aku mau ke sana.” Ups ya ampun aku lupa,  untuk apa bilang-bilang padanya.   “Benarkah? Aku juga.”   “Untuk apa?! Maksudku,  memang ada yang kamu kenal di sana?”   “Aku jadi petugas kebersihan bersama teman-teman yang lain. lumayan bukan, kerja paruh waktu untuk tambah uang saku? Kamu juga?”   Heduh,  harus kujawab apa? Masa iya aku bilang,  aku yang jadi tamu di sana.  Penyamaranku jadi anak SMU bisa gagal karnanya.   “Aku? He-he, iya sama.”   Aaahhh!!!  Ini menjadi tidak benar! Bagaimana aku bisa pergi ke sana coba, kalau bertemu Riu dan teman-temannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN