bc

PRIA DI BILIK NOMOR TUJUH

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
HE
arranged marriage
single mother
drama
tragedy
sweet
bxg
bold
campus
city
small town
childhood crush
affair
like
intro-logo
Uraian

Tujuh hari sebelum pernikahan Livia, sebuah undangan bertepi emas mendarat di Bilik No 7 Warnet SatriaNet.

Arya masih di tempat yang sama.

Sejak SD di bawah pohon beringin SDN 01 Karangmekar, sejak gerobak es puter Rp 5.000, sejak ia berjanji akan menikahi Livia di depan kelas.

Livia datang bukan untuk bernostalgia.

Ia datang dengan satu permintaan terakhir yang menghancurkan d**a:

"Temani aku tujuh hari sebelum aku jadi milik orang lain."

Tujuh hari.

Satu warnet tua yang bocor kalau hujan.

Satu Gedung Cendrawasih yang sudah memesan pelaminan mewah atas nama Roy.

Di antara pulsa tiga ribu lima ratus yang habis, sepatu merah putih yang masih disimpan, dan gelang karet 500 perak yang melar, Arya harus memilih.

Mampukah ia merebut kembali cinta pertamanya yang menunggu 20 tahun, atau harus merelakan Livia selamanya di pelaminan orang lain?

Cinta pertama tidak pernah hilang. Ia hanya menunggu di Bilik Nomor Tujuh.

#Atas Nama Cinta #Romance Writing Competition #secondchance #cintapertama #gagalmoveon #realisticurban #nostalgia #warnet #pernikahan #Tirtakencana

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1: UNDANGAN BERPITA EMAS
Langkah kaki Arya terhenti tepat di depan pagar rumahnya yang catnya mulai mengelupas dimakan hujan. Udara sore Kota Tirtakencana terasa dingin diselimuti angin kemarau yang berhembus pelan dari arah sawah. Tapi telapak tangannya justru berkeringat dingin sampai licin. Di dalam genggamannya ada sebuah amplop tebal bernuansa putih bersih dengan pita emas yang berkilau terkena sorot lampu jalan yang temaram di ujung gang. Jantung Arya berdegup sangat kencang sampai terasa mau pecah dari dalam rongga rusuknya. Ia sudah tahu isi amplop ini bahkan sebelum membukanya. Desas desus itu sudah sampai seminggu lalu dari grup alumni sekolah yang ramai. Teman temannya sudah membicarakan. Tetangganya sudah membicarakan. Tapi melihat langsung dengan mata kepala sendiri tetap berbeda rasanya. Lebih nyata lebih menyakitkan lebih final. Arya pelan pelan membuka amplop tersebut dengan jemari yang gemetar hebat. Lem di ujung amplop terasa lengket di jarinya dan susah dibuka. Napasnya tertahan. Di lembar bagian dalam tercetak tulisan timbul berwarna emas yang seketika membuat seluruh tubuhnya kaku. Hurufnya sangat indah sangat rapi sangat menyakitkan seperti diukir langsung di hatinya. Turut mengundang dalam Resepsi Pernikahan Livia Rahmadani dan Roy Prasetya di Gedung Cendrawasih Tirtakencana. Roy Prasetya. Nama itu seperti palu besar yang menghantam dadanya tanpa ampun. Bukan Daffa seperti yang ia kira. Roy. Lelaki yang dulu sering mengantar Livia pulang sekolah dengan mobil mengkilap saat SMA. Lelaki yang selalu punya segalanya lebih dulu lebih cepat lebih mudah. Lelaki yang selalu menang bahkan tanpa harus berjuang. Arya menatap layar ponsel jadul di genggaman tangannya yang satu lagi. Layar kecil itu retak di pojok karena pernah jatuh dari meja warnet. Di sana waktu menunjukkan tepat tujuh hari menuju hari H. Tujuh hari. Angka yang sama persis seperti nomor bilik yang dulu selalu ia jaga khusus untuk Livia di warnet milik keluarganya. Bilik nomor tujuh. Belasan tahun rasa cinta ini terkunci rapat di dalam dadanya. Sejak mereka masih mengenakan seragam merah putih di SDN 01 Karangmekar yang halamannya penuh debu. Sejak Livia menangis keras karena pensil warnanya hilang di selokan dan Arya memberikan semua miliknya tanpa sisa. Sejak Livia tertawa lepas di bawah pohon beringin tua dan berkata kalau besar nanti mau nikah sama Arya saja biar bisa main terus seharian tanpa dimarahi guru. Semua kenangan itu masih sangat jelas. Suara Livia yang cempreng saat bernyanyi. Bau rambut Livia yang wangi shampo melati saat duduk sebangku. Cara Livia cemberut kalau PR matematikanya salah. Arya mengingat semuanya. Ia menyimpan semuanya sendirian. Arya selalu menunda. Ia selalu meyakinkan dirinya sendiri bahwa waktu terbaik akan datang saat ia sudah sukses nanti. Saat warnet kecil yang ia rintis bersama bapaknya yang bernama SatriaNet sudah jadi besar dan ramai pengunjung. Saat ia sudah bisa beli rumah yang layak dengan genteng yang tidak bocor. Saat ia sudah bisa beli motor baru yang tidak mogok tiap hujan. Saat ia sudah pantas berdiri di sebelah Livia yang cantik pintar dan bercahaya. Ia berpikir cinta harus menunggu mapan. Cinta harus menunggu siap. Cinta harus menunggu berani. Kini waktu yang ditunggu tak pernah tiba. Justru undangan ini yang mengetuk pintunya lebih dulu. Lebih cepat lebih kejam lebih tidak memberi ampun. Undangan itu seperti berkata Arya kamu terlambat. Kamu sudah kalah bahkan sebelum bertanding. Ibunya memanggil dari dapur dengan suara lembut yang terdengar khawatir. Sudah beberapa menit Arya berdiri mematung di depan pagar seperti patung. "Nak Arya, kenapa berdiri di depan saja. Masuk dulu. Ibu sudah masak sayur asem kesukaan kamu." Arya tidak menjawab. Matanya masih terpaku pada nama Livia Rahmadani yang tercetak emas. Livia. Nama yang ia eja setiap malam selama dua puluh tahun tanpa bosan. Nama yang ia tulis diam diam di bilik nomor tujuh di warnetnya dengan spidol kecil di bawah meja agar tidak ketahuan orang. Nama yang ia bisikkan dalam doa setiap habis isya. Nama yang sebentar lagi akan berganti marga menjadi milik orang lain selamanya. Perlahan ia melipat kembali undangan itu. Lipatannya tidak rapi karena tangannya gemetar. Ia memasukkan ke dalam saku jaketnya. Ia tidak mau ibunya melihat. Ia tidak mau ibunya bertanya. Ia tidak mau menjelaskan luka yang bahkan ia sendiri tidak bisa menjelaskan asalnya. Tiba tiba ponsel jadulnya bergetar keras di tangannya. Getarannya panjang. Satu pesan masuk. Nomor tak dikenal dengan foto profil kosong. Arya hampir mengabaikan. Tapi entah kenapa jantungnya berdegup lebih kencang. Ada firasat aneh yang menjalari punggungnya. Ia buka pesan itu. Isinya hanya satu baris pendek. "Kak Arya, ini Livia. Bisa ke warnet malam ini. Ada yang mau aku titip. Penting sekali. Tolong." Dunia Arya berhenti berputar. Livia. Menghubunginya. Tujuh hari sebelum menikah dengan Roy Prasetya. Malam ini. Ke warnet. Bilik nomor tujuh. Tangan Arya langsung dingin sedingin es. Undangan di sakunya terasa membakar kulit. Pesan di layarnya terasa seperti cahaya kecil di tengah gelap. Kenapa sekarang. Kenapa malam ini. Kenapa di warnet. Apa yang mau dititip Livia. Kenapa harus tujuh hari sebelum akad. Pertanyaan pertanyaan itu berlarian liar di kepalanya seperti kuda lepas. Tapi kakinya sudah bergerak lebih dulu daripada logikanya. Ia sudah berlari ke dalam rumah hanya untuk menyambar kunci motor bebeknya yang tergeletak di atas meja kayu reot. Helm pun tidak ia ambil. Sandal pun hampir terbalik. Ibunya terkejut. "Mau kemana malam malam begini." "Ke warnet Bu. Ada pelanggan. Penting." Itu bohong. Tapi ia tidak peduli. Ia kembali keluar dan menghidupkan mesin motor dengan satu tarikan kasar. Suara raungan mesin tua itu membelah kesunyian malam Kota Tirtakencana yang mulai sepi dan dingin. Asap knalpot mengepul tipis ke udara. Sepanjang jalan angin malam menusuk tulang sampai ke sumsum. Tapi tak dihiraukannya sama sekali. Jaket tipis yang ia pakai berkibar kencang seperti bendera. Bayangan wajah Livia terus berputar di kepala. Livia yang tersenyum. Livia yang menangis. Livia yang tertawa. Livia yang memakai kebaya pengantin untuk lelaki lain. Ia merasa asing dengan kota tempatnya tumbuh besar ini. Seolah setiap sudut jalan hanya berisi kenangan tentang wanita yang sebentar lagi menjadi milik orang lain. Toko buku tempat Livia beli novel. Lapangan tempat Livia jatuh dari sepeda. Warung es tempat Livia selalu pesan es teh manis tanpa gula. Semua tentang Livia. Lampu lalu lintas di perempatan Jalan Pemuda berubah merah. Arya berhenti dengan napas memburu. Di sebelahnya sebuah mobil keluarga melintas pelan dengan stiker pernikahan di kaca belakang. Tulisan Happy Wedding dengan pita emas juga. Sama persis seperti amplop di sakunya. Dadanya kembali sesak seperti diremas. Saat lampu berubah hijau, Arya tidak mengarahkan motornya pulang. Ia mengambil jalur kanan menuju kawasan pertokoan yang masih semarak dengan papan lampu warna warni yang berkedip. Tempat tujuannya malam ini hanya satu. Sebuah bangunan dua lantai yang menjadi saksi bisu anak anak muda Tirtakencana berselancar di dunia maya mencari tugas mencari jodoh mencari masa depan. SatriaNet. Warnet itu masih buka. Lampu neon di depannya berkedip redup. Tulisan Buka 24 Jam sudah mati sebelah karena korsleting. Tapi dari luar terlihat cahaya komputer masih menyala di dalam. Arya memarkir motor sembarangan di depan tanpa kunci stang. Kunci bahkan tidak ia cabut dari lubang. Ia berlari masuk dengan napas tersengal. Di dalam, aroma kopi instan dan karbol lantai menyambut hidung. Hanya ada dua bilik yang terisi malam itu. Bilik nomor tiga ada anak SMP main game dengan headset besar. Bilik nomor tujuh lampunya menyala temaram tapi layarnya gelap tidak menyala. Di sana ada siluet perempuan berambut panjang dengan jaket krem yang sangat ia kenal sampai mati. Punggung itu. Rambut itu yang panjang sebahu dan sedikit bergelombang. Bahkan cara duduknya yang sedikit miring ke kiri karena dulu pernah jatuh dari sepeda di depan sekolah. Livia. Livia Rahmadani. Calon pengantin yang seharusnya sudah fitting kebaya terakhir malam ini di gedung mewah. Malah duduk sendirian di bilik nomor tujuh warnetnya yang pengap dan berdebu. Menunggu. Menunggu dia. Arya berdiri di ambang pintu bilik dengan tubuh gemetar. Suaranya tercekat di tenggorokan. Sudah belasan tahun ia tidak memanggil nama itu secara langsung. "Liv." Perempuan itu menoleh pelan. Matanya sembab bengkak. Ada bekas air mata yang masih basah mengkilap di pipi. Ada lingkaran hitam karena kurang tidur. Tapi senyumnya masih sama persis seperti dua puluh tahun lalu di bawah pohon beringin SDN 01. Senyum yang membuat Arya jatuh cinta pertama kali dan tidak pernah bisa jatuh cinta lagi pada orang lain. "Kak Arya, kamu lama banget. Aku sudah nunggu dari tadi. Bilik ini masih kamu simpan buat aku ya seperti dulu." Arya tidak bisa menjawab. Tenggorokannya kering. Livia lalu membuka tas kain yang ia pangku. Dari dalam tas ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil yang sudah berdebu tebal. Kayunya sudah lapuk dimakan usia. Di atasnya tertulis dengan spidol hitam yang tintanya sudah pudar. Untuk Arya, jika aku tidak berani bilang langsung. Tulisan tangan Livia. Arya hafal tulisan itu. Arya melihat kotak itu dan seluruh dunia seakan berhenti berputar. Detak jam dinding warnet pun seakan hilang. Hanya ada kotak kayu itu dan mata Livia yang berkaca kaca. Apa yang disimpan Livia selama ini di bilik nomor tujuh. Kenapa baru diberikan sekarang tujuh hari sebelum ia menikah dengan Roy Prasetya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Yüzbaşının Cerrahı

read
1.5M
bc

The Silver Wolf

read
591.6K
bc

The Billionaire’s Intern

read
1.1M
bc

Chosen, just to be Rejected

read
899.3K
bc

Inferno Demon Riders MC: My Five Obsessed Bullies

read
1.2M
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.3M
bc

Unscentable

read
2.3M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook