bc

Janji Manis Berbisa

book_age18+
3
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
BE
family
friends to lovers
arrogant
kickass heroine
boss
stepfather
heir/heiress
drama
tragedy
bxg
city
secrets
affair
like
intro-logo
Uraian

"Tolong donorkan salah satu ginjalmu untuk kak Gina. Hanya kamu satu-satunya harapan kami, Laras," pinta Mas Haris memohon padaku. Padahal, baru setahun yang lalu aku mendonorkan sumsum tulang belakangku untuknya. Namun, demi cinta, aku kembali mempertaruhkan nyawa demi kakak angkat suamiku itu.

​Mas Haris pernah berjanji akan membahagiakanku saat mengucapkan janji suci pernikahan. Namun, janji itu kini berubah menjadi janji manis yang berbisa. Aku tersadar bahwa baginya, aku bukanlah seorang istri, melainkan "apotek hidup" bagi Gina, wanita yang diam-diam ia cintai di belakangku.

​Ketidakadilan itu semakin nyata saat Mas Haris dengan bangga memberikan sebuah mobil Mini Cooper untuk ibunya dan tas mewah seharga 150 juta untuk Gina. Sementara aku? Aku hanya diberikan tas murah berwarna abu-abu yang bahkan tidak aku sukai.

​Di tengah rasa sakit perut pasca-operasi yang masih menganga dan pengabaian yang terus kuterima, akankah aku tetap bertahan karena cinta yang bodoh, atau akhirnya memilih untuk pergi dan menyelamatkan diriku sendiri?

chap-preview
Pratinjau gratis
Apotek Hidup
Pov Laras Bagi mas Haris, aku bukanlah seorang istri melainkan apotek hidup agar Gina, kakak angkatnya tetap bisa bernafas. Aku baru saja mendonorkan salah satu ginjalku karena hanya ginjalku yang cocok dengan kak Gina. Padahal setahun yang lalu aku sudah mendonorkan sumsum tulang belakangku untuknya. Aku tidak bisa menolak saat mas Haris terus memohon padaku untuk menyelamatkannya. "Tolong donorkan salah satu ginjalmu untuk kak Gina. Hanya kamu satu-satunya harapan kami, Laras," pinta mas Haris beberapa jam yang lalu sebelum akhirnya aku setuju untuk mendonorkan salah satu ginjalku agar kak Gina dapat bertahan hidup. Sejak kecil, kak Gina memiliki tubuh yang lemah dan sering bolak-balik masuk ke Rumah Sakit. Seluruh keluarga besar mas Haris sangat menyayangi Gina dan lebih memperhatikannya. Awalnya aku tidak terlalu merasa terganggu, tapi kak Gina dan Haris terlihat sangat dekat sekali melebihi hubungan antara kakak dan adik pada umumnya. Hampir setiap malam, Gina meminta Haris untuk menemaninya di kamar sampai di benar-benar tertidur pulas. Dulu, saat baru pertama kali menginjakkan kaki di rumahnya Haris, aku benar-benar kaget melihat kebiasaan aneh mereka. Tapi aku tidak berani bertanya karena seluruh anggota keluarga di rumah ini juga sudah mengetahuinya. Makanya aku tidak terlalu khawatir dan tetap berpikir positif, tidak mungkin mereka melakukan hal macam-macam di belakangku. Namun, lama-kelamaan aku merasa kasih sayang dan perhatian mas Haris padaku kini mulai terbagi menjadi dua. Mas Haris lebih mementingkan kak Gina dan keluarganya dibandingkan aku. Aku mengerti kalau kak Gina membutuhkan banyak perhatian lebih, tapi apakah aku salah jika meminta sedikit saja perhatian terlebih lagi aku adalah istri sahnya mas Haris. Terkadang aku merasa lelah terus mengemis waktu dan perhatian darinya. Aku sangat lelah untuk terus mengerti keadaan kak Gina dan terus mengalah darinya. CEKLEK Mas Haris membuka pintu ruangan dan masuk ke dalam menghampiriku yang sedang terbaring lemah di atas bangsal sambil membawa buah tangan yang ada di tangannya. Wajah mas Haris terlihat sumringah dengan garis senyum melengkung seperti pelangi yang hadir setelah hujan mereda. Mas Haris menggenggam tanganku dan berkata, " Laras, terima kasih karena kamu sudah menyelamatkan kak Gina. Jika bukan karena kamu, kak Gina mungkin tidak akan bisa bertahan hidup. Kami berhutang nyawa padamu Laras. " Aku memaksakan senyum di wajahku dan membalas genggamannya. " Sudah seharusnya aku membantu kak Gina. Dia adalah kakakku juga. Syukurlah operasi tadi berjalan dengan lancar. " "Iya semua ini berkat kamu Laras. Kamu adalah malaikat penjaga kak Gina. Aku sangat beruntung memiliki istri sebaik kamu sayang. Katakan apa yang kamu inginkan? aku akan mengabulkan apapun yang kamu mau, " tanya mas Haris. "Aku tidak memerlukan apapun selain waktu dan perhatianmu mas. Itu sudah cukup untukku, " jawabku menyampaikan keinginanku. Aku tidak membutuhkan apapun selain waktu dan perhatian lebih dari mas Haris karena itu jauh lebih berharga dari apapun yang ada di dunia ini. Mas Haris membelai rambutku dengan penuh cinta dan kasih sayang. Tatapan pria itu membuat hatiku meleleh seperti mentega yang dipanaskan di dalam wajan. "Tidak bisa begitu, ayo buat satu permintaan. Kamu pantas mendapatkannya. " Aku memang menginginkan sesuatu namun harganya cukup mahal. Aku harus menabung terlebih dahulu agar bisa membelinya. Sebetulnya aku bisa saja langsung minta pada mas Haris, hanya saja aku merasa sungkan jika harganya terlalu mahal. Aku sudah terbiasa membeli barang-barang kebutuhanku sendiri. Uang bulanan yang mas Haris berikan, aku alokasikan untuk kebutuhan rumah tangga dan keperluan dapur. Sisanya aku tabung setiap bulannya. Aku memiliki penghasilanku sendiri, selama ini aku kerja freelance sebagai remote. Berbagai pekerjaan freelance aku lakoni dengan gaji yang bervariatif namun cukup untuk diriku sendiri. "Sebenarnya aku menginginkan sebuah tas mas. Tapi harganya cukup mahal, aku merasa nggak enak jika memintanya padamu. " "Harusnya kamu bilang saja kalau kamu menginginkan sesuatu dariku sayang. Uangku adalah uangmu juga. Tas apa yang kamu inginkan, katakan saja. " "Aku menginginkan Tas Channel Classic Flap Navy, mas. Harganya cukup mahal sekitar 150 juta. " "Oke, tidak masalah. Nanti mas aku akan menghadiahkan tas itu untukmu di hari ulang tahunmu bulan depan. Bagaimana keadaanmu sekarang? apa ada yang sakit? apa kamu menginginkan sesuatu?" "Ehmm aku haus banget mas. Boleh aku minta tolong ambilkan air saja?" "Baiklah." Baru saja mas Haris ingin memberikan aku minum, tiba-tiba saja terdengar suara kak Gina yang memanggil nama Mas Haris di bilik sebelah. "Haris, apa kamu sudah datang? bisa bantu kakak sebentar untuk mengambilkan minum? " tanya kak Gina dengan suara parau. "Baik kak, aku akan ambilkan minuman untuk kakak, "sahut Mas Haris. Mas Haris menatapku dan memintaku untuk menunggunya. " Tunggu sebentar, aku ingin membantu kak Gina untuk minum dulu. Aku akan kemari lagi nanti. " "Tapi Mas... " belum sempat aku bicara, Mas Haris sudah lebih dulu meninggalkan aku di dalam ruangan ini sendirian. Lagi-lagi untuk ke sekian kalinya Mas Haris meninggalkan aku saat kak Gina membutuhkannya. Bahkan Mas Haris tidak sempat memberikan aku seteguk minuman untuk meredakan rasa kering di tenggorokanku ini. Tes tes tes Aku tidak bisa menahan air mataku, rasa sesak di dalam hatiku ini sudah tidak bisa aku bendung sendirian. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Mas Haris sedang memberikan kak Gina minum dan memberikan perhatian yang lebih untuknya. Sedangkan disini aku hanya bisa menahan rasa nyeri di bagian perutku karena efek bius obatnya sudah habis. "Aku juga sangat membutuhkanmu Mas... " lirihku dalam keheningan. *** Hari yang seharusnya spesial untukku, tidaklah sesuai dengan ekspetasi dan harapanku. Kak Gina juga berulang tahun pada bulan Desember. Hanya beda beberapa hari dariku. Mas Haris bilang ulang tahunnya dirayakan secara bersamaan saja dengan kak Gina. Aku sebenarnya ingin menolak tapi tidak enak untuk menyampaikannya, maka dari itu aku terpaksa mengikuti keinginan suamiku. Aku dan kak Gina berdiri berdampingan di depan kue ulang tahun. Sebenarnya keadaanku belum benar-benar pulih. Wajahku masih terlihat pucat pasi,untuk menyamarkannya aku memakai lipstik dan bedak agar terlihat tetap fresh. Rasa sakit di bagian perutku juga masih terasa sampai saat ini apalagi jika aku banyak melakukan aktivitas. Namun hari ini aku memaksakan diri untuk berdiri lebih lama di hari spesialku ini. Aku tak ingin mengecewakan Mas Haris dan keluarganya yang sudah memberikan kejutan pesta ulang tahun untukku hari ini. Hanya ada satu kue di atas meja. Kue itu juga bukan kue yang aku minta sebelumnya pada mas Haris. Padahal aku sudah minta cheesecake sebagai kue ulang tahunku hari ini tapi kuenya malah menjadi kue Brownies kesukaan kak Gina. Aku hanya bisa tersenyum getir melihat kue itu. Apa sulit bagi mas Haris membelikan dua kue sekaligus untuk kami berdua, namun aku tidak terlalu membesar-besarkannya karena ini hanyalah sebuah kue. Semua anggota keluarga menyanyikan lagu ulang tahun sambil bertepuk tangan di depan kami. Setelah lagu selesai dinyanyikan, aku dan kak Gina meniup lilinnya secara bersamaan. Saat sesi potong kue, aku sudah bersiap ingin memberikan potongan kue pertamaku untuk Mas Haris, tapi Mas Haris lebih dulu memakan kue yang disodorkan dari kak Gina. Aku lagi-lagi harus mengalah dan meletakkan kembali kue yang sudah aku potong sebelumnya. Mas Haris juga sama sekali tidak memakan kue yang sudah aku potong untuknya. "Haris, yang mana kado untukku? " tanya kak Gina saat melihat dua kotak kado besar yang ada di atas meja. "Kado untuk kak Gina yang kotak warna pink, kalau kadonya Laras yang kotak warna cokelat. Dan spesial untuk Mama sebagai kado hari Ibu, Haris sudah mempersiapkan ini," Mas Haris mengeluarkan sebuah kunci mobil Mini Cooper yang diberikan pita warna merah di tengahnya. Dia memberikan kunci mobil itu secara langsung kepada Mamanya di hadapan kami semua. Mama Niken menerima kunci mobil itu dengan perasaan gembira luar biasa. "Ya ampun Haris! Mama gak menyangka kamu bakal ngasih mama Mobil Mini Cooper! kamu memang anak mama yang paling berbakti dan sayang sama orang tua. Terima kasih ya sayang atas kadonya. Mama do'akan semoga rejekimu semakin lancar ya. " Mama Niken memeluk Haris lalu memberikan ciuman di pipi kanan dan kirinya sebentar. "Iya Ma, Aminn, " sahut Haris. "Sekarang giliran Gina ya yang buka kado dari Haris, " Gina sudah tidak sabar ingin membuka kotak kadonya. Saat kotak kado itu terbuka, kak Gina mengeluarkan sebuah tas yang selama ini aku inginkan. Ya, tas itu adalah tas yang aku minta pada mas Haris bulan lalu. Tas Channel berwarna biru keluaran terbaru. Aku masih berpikir positif, mungkin saja mas Haris membeli dua buah tas yang sama. Aku juga membuka kotak kado milikku sendiri untuk memastikannya. Namun, saat kotak kado itu sudah aku buka, senyum di wajahku perlahan mulai luntur. Disana aku tidak mendapatkan tas yang aku inginkan. Hanya ada tas warna abu-abu, warna yang sama sekali tidak aku suka dan harganya juga jauh lebih murah dari tas dan mobil yang Mas Haris berikan untuk Mama dan Kak Gina. "Wah!! makasih banyak ya Haris! ini adalah tas yang kakak inginkan selama ini! kamu tau banget sih apa yang kakak suka! " Kak Gina langsung memeluk Mas Haris tepat di depan mataku. Sejak tadi Mas Haris dan keluarganya mengabaikan aku seolah aku tak pernah ada di rumah ini. Tanpa sengaja aku malah menjatuhkan gelas hingga pecah berantakan di bawah lantai karena kehilangan fokus. Pecahan gelas itu malah jatuh mengenai kakinya kak Gina. PRANKK "Ahkk sakit!! " teriak kak Gina kesakitan. "Laras!! apa yang kamu lakukan?! apa kamu gak bisa hati-hati?! lihat kaki kak Gina sampai terluka olehmu!" bentak Mas Haris dengan mata nyalang menatapku. "Maafkan aku Mas, aku tidak sengaja sungguh. Aku... " belum selesai aku bicara, Mas Haris sudah lebih dulu menggendong kak Gina dan membawanya pergi dari sini. Sedangkan anggota keluarga yang lain menatapku sinis, satu-persatu dari mereka pergi meninggalkan tempat ini. "Bereskan kekacauan yang sudah kamu buat Laras, " ucap Mama Niken terdengar dingin di telingaku. "Baik Ma, " aku segera membungkuk seraya menahan rasa nyeri di bagian perutku untuk membersihkan pecahan gelas yang ada di bawah lantai. Karena tidak hati-hati, pecahan gelas itu malah mengenai jariku sendiri. Tes tes tes Tetesan darah segar mengalir dari jari telunjukku yang terluka bersamaan dengan air mata yang luruh membasahi pipiku. Aku sudah tidak sanggup lagi menerima perlakuan Mas Haris dan keluarganya di rumah ini. Tapi, hanya mereka satu-satunya keluarga yang aku miliki.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
315.8K
bc

Too Late for Regret

read
326.8K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.7M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
145.8K
bc

The Lost Pack

read
445.2K
bc

Revenge, served in a black dress

read
155.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook