“Obati tanganku! Sekarang!”
Indah masih mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dengan tatapan tidak percaya. Dan kembali pada tangan Nathan yang terluka.
“Kenapa kamu diam saja? Kamu budek ya?” omel Nathan.
Emosi membuatnya apa saja yang ada di dekatnya. Termasuk meremas vas bunga hingga benda itu remuk di tangannya.
Indah berlari ke sudut ruangan. Tadi sambil memindai semua kekacauan di ruangan ini, ia mendapati bila di salah satu dinding ruangan Bossnya itu terdapat kotak P3K.
Indah mengambil tangan Nathan, memandang lelaki itu dengan tatapan khawatir.
“Kenapa bisa kayak gini sih? Emang tadi di sini sempat terjadi gempa bumi lokal ya? Getarannya cuma di ruangan ini aja?”
Sarkas yang diucapkan Indah membuat Nathan makin kesal. “Ck. Gak usah bawel. Cepat obati!”
“Iya, Pak Boss,” sahunya sambil mencebik. “Kemejanya saya gulung ya?”
“Hmm.”
Indah menggulung ujung lengan kemeja Nathan. Ia meringis ketika melihat beberapa pecahan kaca yang masih tertancap di telapak tangan Nathan. Tak habis pikir apa yang terjadi sejak tadi ia meninggalkan ruangan itu.
“Pelan-pelan! Sakit tahu!” protes Nathan lalu menarik paksa tangannya.
“Iya, Pak Boss. Jangan cengeng!" ucap pindah lirih.
"Saya bisa denger kamu ngomong apa," tukas Nathan.
Indah memilih menutup mulut, tapi dalam hati ia melanjutkan, ‘Kalau sakit, kenapa berbuat seperti ini? Nyari gara-gara sendiri, tapi aku lagi yang disalahin!’
Indah menarik tangan Nathan lagi, mulai mencabut beberapa beling di telapak tangan yang lebar dan besar itu dengan menggunakan pinset kecil. Tiba-tiba ia ingat ketika dulu untuk pertama kalinya Nathan menggenggam tangannya, sambil berjalan di koridor kampus.
Hari itu adalah hari kedua setelah Nathan memutuskan bila mereka ada sepasang kekasih. Yah, Nathan yang memutuskan hal itu karena tidak pernah bertanya satu kali pun bagaimana pendapat Indah.
Waktu itu Nathan menjemputnya ke kelas. Katanya ia tidak suka bila ada orang yang selalu membarengi Indah ketika keluar kelas. Karena yang berjalan di samping Indah selalu saja lelaki, membuat Nathan cemburu.
Iya, Nathan selalu mengatakan rasa cemburunya dengan lantang, beda dengan orang lain yang rata-rata cukup malu untuk memberi tahu perasaannya.
Tangan Nathan terasa sangat hangat, bahkan lebih hangat dari tangan Ayah Indah. Dan karena besarnya dua kali lipat dari tangannya, membuat Indah selalu merasa nyaman dan terlindungi.
“Kenapa?” tanya Nathan karena tangan Indah juga berhenti mengobati Nathan.
Indah menggeleng. Melanjutkan kegiatannya, membersihkan luka dengan alkohol, lalu membubuhkan betadine. Terakhir ia melilitkan perban ke tangan Nathan.
Pengalaman sebagai anggota palang merah, membuatnya tahu harus berbuat apa. Nathan pun tahu, makanya ia meminta Indah yang mengobati.
Padahal harusnya, kalau Nathan memang sangat membenci Indah, dia tidak akan mau diobati oleh perempuan yang merupakan pengkhianat baginya. Entahlah, alam bawah sadar Nathan menggerakkan hatinya, tanpa sadar.
“Pak Boss harus minum obat, biar gak infeksi," ujar Indah sembari menyodorkan sebutir obat yang ia temukan juga di dalam kotak P3K.
“Aaa.”
Indah mengerutkan kening, ia tidak mengerti kenapa Nathan harus menganga.
“Kamu suapin saya obat itu. Kamu gak liat tangan saya baru selesai kamu perban?”
Lagi, Indah menghela nafasnya. “Tapi kan tangan yang luka cuma sebelah, Pak Boss.”
“Tangan yang kiri juga sakit, rasanya ngilu. Kayaknya tadi keseleo waktu saya membanting kursi.”
“Makanya kursi jangan dibanting, Pak Boss. Didudukin dong.” Indah lalu beranjak cepat dari depan Nathan.
“Mau ke mana kamu? Kerjaan kamu kan belum selesai?!”
“Mau ambil minum dulu. Emang Pak Boss bisa minum obat pakai ludah?”
Nathan diam dan melihat Indah mengambilkan air untuknya. Alisnya terangkat ketika ia melihat Indah mencampur air minumnya. Setengah air dengan suhu biasa, dan setengah lagi dengan air panas.
‘Dia masih ingat itu,’ monolognya.
“Nih, cobain dulu. Udah pas belum hangatnya.”
“Suapin!”
“Tapi …”
“Tangan saya dua-duanya masih sakit Indah. Ini perintah, dan kamu harus melaksanakannya! Kamu udah baca kan, di kontrak itu juga ada penalty untuk kamu kalau kamu tidak menuruti perintahku.”
“Udah, tapi saya lupa.”
Nathan akan mengomel lagi tapi Indah langsung memasukkan obat yang tadi sudah ia siapkan ke mulut Nathan. Membuat ia tak bisa berkata apa-apa.
“Nah udah selesai. Saya beresin kekacauan ini dulu yah, Pak Boss.”
Indah langsung berdiri. Ia akan mulai merapikan tempat ini. Mulai dari mengembalikan beberapa barang besar ke posisinya.
Setelahnya, Indah mulai memunguti beling-beling yang berserakan di lantai. Ia ingin menyapunya tapi tak Indah lihat benda itu.
Dengan hati-hati Indah mulai memunguti beling-beling itu. Satu persatu mulai dari ukuran yang paling besar.
Nathan duduk di kursi kerjanya, menatap Indah yang sedang membereskan kekacauan yang ia buat. Ia melihat Indah yang kepayahan, tapi ia tak memiliki sedikit pun niat untuk membantu Asprinya itu.
"Duh." Suara Indah terdengar.
"Aww." Kembali suara Indah terdengar.
'Biarin, Nat. Paling dia cuma nyoba cari perhatian,' tegas Nathan pada dirinya sendiri.
Nathan mencoba untuk tetap abai tapi hingga suara mengaduh Indah untuk ke lima kalinya terdengar, ia menyerah lalu bangkit dari duduknya.
"Kenapa kamu sih aduh-aduh terus ..."
Nathan berhenti mengomel ketika melihat beberapa titik darah di ujung jari Indah.
"Maaf, Pak Boss. Ternyata banyak banget beling kecilnya." Indah menunduk, dan ingin melanjutkan tugasnya untuk beberes.
Tapi Nathan langsung menarik tangannya. "Stop! Pakai otak kamu, jangan pakai tangan untuk membersihkan pecahan seperti itu!"
"Tapi di sini gak ada sapu sama pengki," ujar Indah membela dirinya.
Nathan mendudukkan Indah ke kursinya. "Duduk di sini! Jangan ke mana-mana."
Nathan menekan interkom di mejanya. "Rio, suruh cleaning servis membersihkan ruangan saya. Sekarang!"
"Itu tugas saya. Tadi kan Pak Boss merintah saya, bukan Mas Rio."
Nathan mendelik kesal. Entah memang kesal seperti biasanya ia pada Indah atau karena sebutan Mas yang Indah sematkan pada asistennya itu.
"Kamu diam! Luka kamu harus diobati. Nanti infeksi."
Nathan meraih kotak P3K yang masih ada di atas mejanya.
"Saya bisa mengobati lukanya sendiri."
"Bisa diam gak?!"
Lama-lama sepertinya Indah bisa terbiasa dengan omongan kasar dan juga bentakan Nathan. Buktinya sekarang ia diam dan tidak melawan ketika Nathan memegang tangannya.
"Kalau lukanya tidak dibersihkan secepatnya, kamu bisa infeksi. Saya gak mau kamu sakit."
"Kenapa?"
Nathan diam sebentar, memilah jawaban yang pas dan seharusnya.
"Kalau kamu sakit nanti kamu klaim masalah pengobatan. Asal kamu tahu asuransi di perusahaan ini bukan yang tipe murah. Sekali klaim bisa berjuta-juta. Saya tentu gak mau rugi karena keteledoran kamu sendiri."
Indah memutar bola matanya. Ia pikir Nathan mengobatinya karena mungkin setidaknya lelaki itu kasihan padanya.
Ternyata tidak.
"Emangnya Pak Boss tahu caranya memberikan pertolongan pertama?" tanya Indah memecah kesunyian di antara mereka.
"Kamu pikir saya bodoh? Tadi saya sudah melihat kamu mengobati tangan saya, jadi saya pasti bisa menirunya. Kamu lupa kalau IQ saya di atas rata-rata? Satu kali melihat dan membaca saya sudah bisa langsung hapal."
Indah mencebik, 'Iya saya lupa kalau saya berhadapan sama kamu, si jenius yang pintar dan sombongnya minta ampun.'
Tok Tok
Pintu Nathan diketuk, itu adalah Rio dan seorang OB muncul dari balik pintu.
Ekspresi Rio dan OB itu tidak jauh beda dengan ekspresi Indah ketika masuk. Ruangan Nathan memang kedap suara, jadi suara segaduh apapun tidak akan kedengaran sampai keluar.
"Bersihkan sekarang!"
"Baik, Boss."
Rio dan OB itu melakukan tugasnya, sedangkan Nathan menyelesaikan tugasnya mengobati Indah.
Beberapa menit kemudian Indah mengamati tangan kirinya yang sudah dipenuhi perban. Nathan benar-benar melakukan hal yang sama persis dengan yang Indah lakukan tadi.
"Pak Boss, tangan saya yang luka kan cuma ujung jarinya, kenapa diperban sampai ke pergelangan tangan?" tanyanya heran.
"Kan saya bilang saya akan meniru persis seperti yang kamu lakukan ke saya."
"Tapi kan luka kita beda. Luka Pak Boss memang di telapak tangan."
"Siapa yang bilang kamu bisa bawel kayak gitu?!"
Indah diam, lalu bangkit dari kursi Nathan. "Terima kasih, Pak Boss."
"Mau ke mana kamu?"
"Mau bantu beberes." Indah langsung mendekati Rio. "Mas Rio, sini aku bantu."
'Mas?!' Nathan memandangi Rio dan Indah dengan tatapan yang sangat tajam, setajam silet.
Indah dan Rio tidak melihat Nathan. Rio tersenyum, "Tangan kamu kan luka, kamu istirahat aja."
Indah menggeleng. "Aku gak mungkin ngebiarin Mas Rio kerja sendirian dong."
"Nggak sendiri kok. Kan sama Mang Udin."
"Tapi ..."
Nathan maju lebih dekat kepada dua orang yang sedang berebut sapu. Matanya menyalang, seakan ingin menelan keduanya.
"Udah gak usah. Kamu kerjain yang lain aja!" titahnya langsung merebut sapu tersebut.
"Sapunya buat Mang Udin. Rio, kamu pesankan saya makan siang! Saya tunggu di ruang meeting. Gak pakai lama!" tambah Nathan lagi.
Rio pun langsung mengangguk.
"Dan kamu." Nathan menunjuk Indah dengan matanya. "Ikut saya! Kamu punya tugas yang lebih penting dari pada rebutan sapu kayak tadi."
Nathan tidak memberi Indah kesempatan untuk melawan, ia menggenggam tangan Indah dan membawa perempuan itu keluar dari ruangannya.
Dalam hati Indah berujar, 'Hangat. Tangannya masih sehangat dulu. Seperti dulu.'