Langkah Indah terseok-seok mengikuti tarikan tangan Nathan. Kaki Nathan yang panjang membuat Indah kesulitan mengimbanginya.
“Pak Boss, tu-tunggu. Pelan-pelan."
Tapi Nathan seolah menulikan telinga. Ia tetap menarik tangan Indah hingga masuk ke ruang meeting yang luas, yang letaknya berlawanan arah dengan ruangan Nathan tadi.
Pintu ruang meeting itu Nathan banting dengan keras hingga kembali menutup. Matanya menatap nyalang dengan bara api yang langsung membuat ruang meeting itu menjadi panas.
Nathan menggenggam tangan Indah dengan erat, mendorongnya hingga berimpitan dengan dinding. Indah mulai ketakutan melihat ekspresi Nathan yang baru dua kali ia lihat sepanjang perkenalan mereka.
“Sejak kapan kamu kenal sama Rio?!”
Indah berkedip dua kali. “Mas Rio?”
“Jawab pertanyaanku. Bukannya nanya lagi!” Nathan meninju dinding di samping kepala Indah.
Indah menjerit dan memalingkan wajahnya karena ia pikir Nathan akan mendaratkan tinju ke wajahnya. Tapi ternyata tidak.
Indah terbelalak melihat perban di tangan Nathan mulai berwarna merah, mungkin akibat dari gebrakan barusan.
“Kenapa belum jawab juga? Apa Rio akan jadi mangsa kamu yang berikutnya? Apa kamu tidak bisa mencari laki-laki yang lebih tebal dompetnya ketimbang dia? Apa gaji yang aku kasih belum juga cukup untuk kamu? Apa memang kamu yang selalu kegatalan seperti itu? Tidak bisa tahan melihat laki-laki dan maunya ditiduri saja?! Murahan!”
Dada Nathan turun naik. Emosinya memuncak hingga ke ubun-ubun.
“AKH!”
Nathan mengasuh keras saat sakit di kakinya mendera. Baru saja Indah menginjak kakinya dengan segenap kekuatan yang wanita itu miliki.
“Kamu! Kamu gila ya?!”
Nathan mundur beberapa langkah hingga ia jatuh dan mendaratkan di lantai.
Indah mengangkat wajahnya. “Iya, aku gila! Gila karena memutuskan untuk tetap mengambil pekerjaan ini. Cukup! Aku gak tahan. Aku mundur. Mau menuntut? Tuntut aja! Aku gak takut. Palingan aku cuma akan masuk penjara. Indra sudah besar, dan mungkin belum rejekinya bisa langsung kuliah tahun depan. Biar saja dia mencari pekerjaan untuk menghidupi dirinya sendiri. Dan Ibu ... biar aja. Kalau ada apa-apa sama Ibuku, setelah aku keluar dari penjara, aku akan mencari dan membunuhmu! Gak peduli kalau aku bakalan masuk penjara lagi setelah menghabisi kamu. Sampai matipun aku akan tetap balas dendam sama kamu!”
Tubuh Indah luruh ke lantai, berhadapan dengan Nathan yang kini menatapnya.
Indah menjeritkan tangisnya sekencang mungkin. Ia tidak menahan suara ataupun tangisnya. Dikeluarkan semua tanpa ada yang bersisa. Dalam hati ia mengutuk pertemuan mereka.
Nathan menatap Indah dengan tatapan sendu. Hatinya teriris mendengar tangisan itu. Tangannya terangkat ke udara, ingin mengelus juga menenangkan Indah. Tapi sebuah ingatan menyapa memorinya.
FLASHBACK ON
“Di mana sih?”
Nathan berada di depan kelas Indah. Sore ini mereka sudah janjian untuk bertemu. Tapi Indah tidak ada di kelas, ponselnya pun tidak bisa ia hubungi.
“Hai, Nat,” sapa seorang wanita. Namanya Sandra, teman setingkat Nathan.
Nathan membalas sapaan Sandra dengan gumaman.
Nathan tipe laki-laki yang pendiam, tidak suka banyak bicara, apalagi terhadap orang yang ia anggap tidak penting.
“Cari siapa, Nat?” tanya Sandra lagi.
“Indah.”
“Tadi kayaknya aku liat dia jalan bareng Kiano deh.”
Sandra berhasil mendapatkan perhatian dari Nathan.
“Kiano?”
Nathan tidak suka mendengar nama laki-laki itu. Lelaki itu selalu menatap pacarnya dengan tatapan lapar. Bukan lapar dalam arti harfiah, tapi untuk memangsa tubuh Indah.
Sandra mengangguk. “Coba deh, lo telfon aja.”
Nathan tidak menjawab, langsung pergi begitu saja. Sandra menatap kepergian Nathan sambil tersenyum.
Ia mengendarai mobilnya dengan cepat, masih terus menghubungi Indah, tapi tetap tak dijawab.
Nathan menuju kos Indah. Ia masuk dan bertanya kepada salah satu perempuan yang ia kenal sebagai teman kos Indah.
“Eh, Kak Nathan.”
“Liat Indah gak?”
Perempuan menggeleng. “Kayaknya Indah belum pulang deh. Tadi pagi sih terakhir ngeliat pas mau berangkat ke kampus.”
Lagi-lagi Nathan langsung beranjak pergi. “Kamu di mana sih, Yang?”
Ia berkeliling mencari Indah ke tempat yang pernah mereka kunjungi. Tapi nihil.
Dan pilihan terakhir adalah Nathan menghubungi anak buah Papinya.
“Halo. Iya Boss Abang.”
Budi, pengawal sekaligus tangan kanan Papinya Nathan, menjawab telfon setelah dua kali dering.
“Om Budi. Aku minta tolong cari tahu lokasi seseorang!”
“Siapa?”
“Aku chat namanya. Dan aku butuh secepatnya. Gak pake lama!”
“Siap, Boss Abang.”
Nathan mengirim identitas Indah dan juga Kiano. Setengah jam kemudian Budi menghubunginya.
“Halo, Om Budi.”
“Boss Abang. Lokasi orang yang Boss Abang cari ada di satu tempat.”
“Di mana?”
“Di hotel, Sxxxx. Lokasinya tidak berubah dari tiga jam yang lalu.”
Nathan memutuskan sambungan telfon. Kembali mengemudi dengan cepat, lebih cepat dari sebelumnya.
Ia menggeleng, berusaha mengenyahkan berbagai pikiran buruk yang menghuni kepalanya. Tapi teringat dengan pesan-pesan tanpa nama yang diterimanya selama satu bulan terakhir.
Pesan yang berisi dengan foto yang memperlihatkan beberapa moment Indah berduaan dengan Kiano.
Hal ini sudah beberapa kali menjadi pertengkaran antara Nathan dan Indah, tapi Indah mengatakan bila kebersamaannya dengan Kiano adalah untuk kepentingan tugas kampus.
‘Nggak mungkin kamu kayak gitu kan, Yang?’
Sampai di hotel ia langsung menuju lift. Informasi mengenai nomor kamar sudah ia dapatkan dari Budi.
Kamar 212, itu tujuannya. Ketika akan mengetuk, gagang pintu itu terbuka. Ia memilih bersembunyi di salah satu sudut, kebelutan di samping kamar itu ada lorong yang gelap.
Nathan melihat lelaki yang keluar, tapi bukan Kiano. Masih memilih diam, terutama ketika lelaki itu terlihat melakukan panggilan telfon.
“Halo. Iya ini gue baru selesai. Gila servisnya nomor satu. Lain kali gue mau lagi lah. Gak percuma gue bayar mahal. Yah walaupun bukan peraw*n sih, tapi masih lumayan sempit lah. Apalagi goyangannya, mantap punya, Bro. Lain kali kalau dia mau jualan lagi, jangan lupa hubungin gue yah.”
Nathan keluar dari tempat persembunyiannya, langsung meraih kerah baju laki-laki itu.
“Siapa perempuan yang lo maksud?”
“Apa-apaan ini?! Siapa lo?!” Lelaki itu berusaha menyingkirkan tangan Nathan, tapi tidak semudah itu.
“Jawab, Brengs*k!”
“Maksud lo si bisp*k itu? Dia ada di kamar. Lo gak boleh marah, gue bayar mahal. Lo kalau mau pake juga, telfon germ*nya aja.”
BUGH BUGH BUGH
Berulang kali Nathan memukuli lelaki itu dengan membabi buta. Hingga nyaris pingsan. Kemudian melangkahkan ke kamar yang pintunya tidak tertutup rapat itu.
Air mata lolos ketika di dalam kamar, ia melihat Indah sedang tertidur pulas. Bahunya polos, bagian bawahnya tertutup selimut tipis dan menerawang, yang membuat Nathan bisa melihat bila pacarnya tidak mengenakan apapun di baliknya.
Nathan menuangkan air di atas wajah Indah, membuat Indah terbangun dengan kaget.
“Bang, kok Abang bisa di sini? Aku? Apa yang terjadi sama aku?”
“Gak usah pura-pura bodoh! Aku gak nyangka kamu sekotor ini.”
Indah menggeleng. Berdiri sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia ingin meraih Nathan dan menjelaskan sebisanya, karena ia sendiri pun bingung.
Tapi Nathan memundurkan langkah, menatap Indah dengan tatapan yang tak dapat terbaca.
“Bang, aku bisa jelasin ini semua. Ini tuh gak seperti …”
“Jelasin apa lagi? Jelasin kalau kamu ternyata penjaja tubuh? Padahal aku bisa kamu berapapun yang kamu butuh tanpa kamu harus menjual diri seperti ini! Kamu menjijikkan!”
Indah menatap pacarnya itu dengan tatapan tak percaya.
“Bang, aku …” Indah menangis sambil menggeleng.
“Simpan air mata kamu. Aku gak nyangka kalau kamu ternyata cuma perempuan murahan!”
PLAK
“Aku yang gak nyangka kalau kamu bisa menganggap aku seperti itu. Padahal kamu tahu sendiri, hanya kepada siapa aku jadi murahan?!”
Mata Nathan terbelalak, pipinya merah karena barusan terkena cap lima jari dari Indah. “Kamu!”
“Harusnya aku yang bilang menyesal sudah kenal sama kamu. Kamu setega itu merendahkan aku. Kita putus!”
FLASHBACK OFF
Nathan bangkit, Ia memilih untuk meninggalkan Indah, sedangkan Indah sedang memutuskan untuk menyudahi semuanya sebelum ia makin terluka.
Indah mengambil waktu untuk dirinya sendiri dan menangis. Berharap setelah menangis ia akan menjadi lebih kuat lagi.
Setelahnya, ia bergegas ke arah ruangan Rio. “Mas, maaf. Tapi aku mau resign.”