01 Pertemuan Yang Tak Diinginkan
“Bang, aku bisa jelasin ini semua. Ini tuh gak seperti …”
Air mata mengalir deras di pipinya. Kondisinya yang saat ini hanya berbalut selimut tipis semakin mengikis kemampuannya untuk bergerak.
“Jelasin apa lagi? Jelasin kalau kamu sudah menjual diri kamu cuma karena uang? Kenapa? Aku bisa kasih kamu berapapun yang kamu butuh tanpa kamu harus menjual diri seperti ini! Kamu menjijikkan!”
Indah menatap lelaki yang menjadi pacarnya itu dengan tatapan tak percaya. Ia tidak heran bila seluruh dunia mencemoohnya tapi kenapa orang yang ia cintai malah menganggapnya sebagai penjajah tubuh?
Indah menangis sambil menggeleng. “Kak, aku …”
Entah apa yang terjadi, ia pun tak tahu. Ia tak tahu kenapa dirinya bisa berada dalam kamar hotel dan satu ranjang dengan lelaki yang lagi-lagi ta kia kenali. Semua kondisi ini membuatnya tak bisa berpikir.
“Simpan air mata kamu. Aku gak nyangka kalau kamu ternyata cuma perempuan murahan!”
PLAK
Tak hanya menangis, kini tangannya bergetar akibat gerakan yang tak ia kira. Mungki sakit hati yang menggerakkannya.
“Aku yang gak nyangka kalau kamu bisa menganggap aku seperti itu. Padahal kamu tahu sendiri, hanya kepada siapa aku jadi murahan?!”
Mata lelaki itu terbelalak, pipinya merah karena barusan terkena cap lima jari dari Indah. “Kamu!”
“Kita putus. Jangan pacaran lagi sama aku yang murahan dan menjijikkan ini!”
Ingatan akan kejadian lima tahun lampau membuat Indah terpaku menatap sebuah bangunan yang merupakan pabrik dari salah perusahaan besar di negerinya.
Indah menggelengkan kepala. "Gak mungkin. Gak mungkin dia nemuin aku di sini," bisiknya lalu melanjutkan langkah.
Ini adalah hari pertama dirinya menjadi pegawai kontrak di pabrik tersebut. Meski sebenarnya bila ada pilihan lain, ia tak ingin bekerja di sana.
Akan tetapi kondisinya yang sulit di segi ekonomi membuat ia tak punya banyak pilihan.
"Demi Ibu dan Indra, aku harus lebih berani," ucapnya pada diri sendiri.
Indah melakukan prosesi seperti pegawai lainnya. Absen, berganti seragam lengkap termasuk masker dan topi sesuai SOP.
Baru saja akan memulai pekerjaan, seorang lelaki paruh baya yang Indah kenali sebagai supervisor berbicara.
"Hari ini lakukan semuanya dengan sempurna. CEO dari Jakarta akan melakukan kunjungan, jadi semuanya harus bekerja sesuai peraturan yang berlaku. Terutama untuk anak-anak baru. Jangan sampai ada kesalahan sedikit pun. Mengerti?"
Semua orang, termasuk Indah yang merupakan pegawai baru menganggukkan kepalanya.
"Semuanya harus sempurna, seratus persen jangan sampai ada kesalahan. CEO yang ini, galaknya minta ampun deh," ujar supervisor lagi.
"Galaknya minta ampun, tapi cakepnya juga sama. Sama-sama minta ampuuunn dijeh," bisik pegawai lain.
“Iya, bener. Gak tahu deh Ibunya waktu mengandung makan apa, bisa punya anak secakep itu,” tambah yang lainnya lagi.
“Pengen dong dihamilin cowok kayak gitu, supaya bisa memperbaiki garis keturunan gue.”
“Yah tapi mana mau dia sama kamu, yang ada kamu yang merusak garis keturunan si Boss.”
Semuanya lalu tertawa sambil menyoraki orang tadi.
Indah hanya tersenyum kecil. Ia pernah mengenal satu laki-laki tampan, malah sangat amat tampan, tapi lelaki itu malah membuat luka yang sangat dalam di hatinya. Membuat trauma mendalam hingga dirinya malas terlibat dalam hubungan serupa lagi.
Sebuah tepukan di bahu menyadarkan Indah yang lagi-lagi terjebak dalam kenangan masa lalu.
"Eh, lo anak baru kan?"
Dengan kikuk Indah pun menjawab. "Iya, Kak."
"Lo udah training kan?"
"Iya, Kak."
"Kalau gitu lo duduknya paling ujung. Tuh yang di depan sana."
Indah menoleh, untuk melihat arah yang ditunjuk senior tadi. Ia menelan ludahnya, itu adalah tempat yang paling dekat dengan pintu. Itu artinya kalau rombongan dari kantor pusat itu datang, ia akan jadi orang yang paling pertama terlihat.
"Tapi, Kak …"
"Udah, anak baru jangan banyak membantah deh. Ikutin aja perintah gue!"
Indah sudah akan membantah tapi salah seorang temannya yang juga anak baru seperti dirinya, menarik tangannya. Ia dan Sari sudah saling mengenal dari awal mula pendaftaran hingga mereka dua-duanya di terima di pabrik ini.
“Udah nurut aja, Jangan membantah. Dia itu jagoan di sini,” bisik Sari.
Indah melirik sekilas ke senior tadi yang sudah mengangkat dagunya dengan tinggi hingga nyaris lepas dari leher.
“Aku gak peduli siapa dia, Ri.”
“Kamu gak peduli, tapi aku peduli sama kamu. Udah diam aja. Duduk sana,” ujar Sari lagi.
Indah membuang nafasnya dengan kasar, tapi ia menuruti keinginan temannya itu. Membuat senior tadi tersenyum penuh kemenangan.
Rasanya belum lama Indah memulai pekerjaannya, masuklah segerombolan orang dengan jas yang licin, juga rambut yang mengkilap. Dan telinganya menangkap satu suara yang terdengar familiar.
“Pak Widodo mana?”
DEG
Mata Indah berkelana, mencoba menolak akan hal yang sedang disampaikan otaknya.
“Untuk produksi bagaimana? Bapak tahu saya mau semuanya seratus persen sempurna. Saya tidak ingin ada kesalahan sekecil apapun!”
Suara tegas itu terdengar lagi. Makin lama makin jelas. Suara yang masih terus menghiasi asanya, meski sudah lama tak berjumpa.
‘Gak mungkin ….’ monolog Indah.
“Indah!” teriak senior yang menyebalkan tadi.
Membuat Indah sadar dari lamunannya. Ternyata barang yang akan dicek kelayakan itu sudah bertumpuk di hadapannya. Dengan cepat ia berusaha menguasai dirinya.
Hatinya senantiasa berdoa, semoga suara tadi hanya mirip dengan orang yang tak pernah ingin ia temui lagi di sisa hidupnya. Namun, ternyata takdir tak sejalan dengan keinginan.
Ada sebuah tangan yang menepuk bahunya. Membuat Indah sontak berbalik.
‘Dia ….’
Butuh sekitar lima detik untuk Indah sadar kemudian mengangguk hormat pada lelaki dengan setelan jas hitam di depannya. Setelah itu, ia secepat kilat berbalik lagi.
“Dia mungkin gak ngenalin aku, kan aku pakai masker dan penutup kepala,’ batin Indah lagi.
Ia kembali melanjutkan pekerjaan, sedangkan orang tadi yang benar bernama Nathan masih bertahan di belakangnya.
Hanya sesaat, kemudian melangkah pergi, bersama rombongannya. Membuat Indah mampu menghembuskan nafas yang sedari ia tahan. Anehnya, ada rasa perih di hati, ketika ia melihat Nathan pergi.
‘Dia tambah keren dan sudah sukses banget sekarang, itu artinya dia baik-baik saja selama ini.’
Indah kembali membangun konsentrasinya untuk bekerja, ia mendapatkan pekerjaan ini dengan susah payah. Ia tidak boleh kehilangan pekerjaan ini di hari pertamanya.
Pekerjaan ini akan jadi satu-satunya penopang dalam hidupnya juga keluarganya.
Indah tak tahu, bila orang yang ia hindari sedang merancang sesuatu tak jauh darinya.
“Rio, cari tahu tentang perempuan yang namanya Indah Purnama Sari. Saya mau infonya dalam satu jam. Dan re-schedule kepulangan saya hari ini. Saya akan menginap di Surabaya sampai urusan saya selesai.”
Rio, asisten Nathan Mahajana Putra Rezyawan, yang merupakan atasannya sejak empat tahun yang lalu, hanya bisa menganga mendengar perintah atasannya.
Bukan hanya permintaan untuk mencari informasi seseorang yang hanya ia ketahui namanya, tapi juga keinginan Nathan untuk mengubah jadwal kerjanya.
Nathan yang merupakan pewaris utama dari Sentosa Grup, yang memegang lebih dari lima puluh persen perusahaan keluarga yang telah berakar kemana-mana.
Tapi Rio tahu bila perintah Nathan seperti takdir baginya. Tidak boleh ada kata tidak.
Rio melirik arloji yang melingkat di pergelangan tangan kirinya, ia telah menghabiskan waktu lima menit untuk memikirkan hal yang tidak seharusnya. Bergegas untuk menjalankan tugasnya yang paling urgent dulu, sembari Nathan sedang meeting internal di pabrik yang mereka kunjungi ini.
***
Beberapa jam kemudian, di saat jam makan siang, Indah baru saja akan memakan bekal yang ia bawa dari rumah.
“Maaf yah, ganggu kalian makan. Tapi yang namanya Indah Purnama Sari mana?”
Indah yang merasa nama lengkapnya disebutkan langsung mengangkat tangan. “Saya, Pak.”
“Oh, kamu. Kamu ikut saya ke atas. Sekarang!”
Indah melongo lalu bertukar pandangan dengan Sari. “Kenapa ya, Ri?” bisiknya takut-takut. Ia jadi mengingat semua hal yang ia kerjakan hari ini, kalau-kalau ia melakukan kesalahan, baik yang disengaja ataupun tidak disengaja.
“Udah, ke sana dulu. Biar tahu kenapa dipanggil Boss,” sahut Sari ketika melihat supervisornya sudah akan membuka mulut untuk memanggil Indah lagi.
Indah menutup tempat bekalnya, lalu ia titipkan kepada Sari dan membuntuti supervisornya itu. Ia naik ke lantai tiga, dan tiba di depan kantor manager produksi.
“Masuk aja ke dalam. Kamu sudah ditungguin, Boss.”
“Tapi, Pak. Kesalahan saya apa?”
Indah bukan wanita yang cengeng tapi membayangkan ia kemungkinan akan dipecat hari ini, membuatnya gusar. Akan makan apa Ibu dan adiknya kalau sampai ia kehilangan pekerjaan ini?
“Yah saya mana tahu. Udah masuk dulu aja, biar jelas,” titah supervisornya lagi.
Dengan berat hati Indah memutar gagang pintu dan mendorongnya.
Jantungnya hampir copot ketika melihat lelaki berjas hitam dengan dilapisi kemeja putih, tapi tidak bisa menyembunyikan otot d**a lelaki itu sama sekali.
Lelaki tampan itu menatapnya dengan sangat tajam, tatapan yang dulu membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama kepada lelaki itu.
”Akhirnya kita bertemu lagi, Indah.”