Bertemu ayahnya

1010 Kata
"Kamu dengarkan." Revan melihat Tasya yang sibuk dengan laptopnya dia curiga ada apa dengan laptopnya apakah tugasnya belum selesai. "Iya pak." "Kamu masih marah." Tasya tidak menghiraukan ucapannya dia tetap menatap layar laptopnya. "Tas.” "Jangan diamkan saya seperti ini dong." "Kamu mau apa biar saya belikan sebagai permintaan maaf saya." "Saya bukan cewek matre yang bisanya minta apa-apa walaupun saya miskin tapi saya gak pernah morotin orang lain." jelas Tasya dengan tatapan tajam. "Maksud saya bukan begitu tas." "Sudah lah jangan ganggu saya, bapak gak liat saya sedang sibuk." datar Tanya. "Yasudah maaf mengganggu." Revan pun masuk ke ruangannya kebetulan meja kerja Tasya berada di samping pintu ruangannya. Revan Revan yang sudah duduk di kursi kebesarannya tiba saja ada panggilan telepon dari ponselnya yang berada di atas meja kerjanya kemudian dia pun mengangkat teleponnya. "Halo sayang kamu dimana." tanya perempuan yang menelponnya. "Saya lagi dikantor ada apa memangnya!" Revan berbicara datar kepada perempuan yang berada disana. "Anak kamu katanya pengen jalan-jalan sama kamu." dengan berbicara lembut. "Kapan?" "Kata Risa maunya sekarang." ucap perempuan itu. "Kamu bisa kan urus anak kamu sendiri ajak dia jalan-jalan saja sama kamu." dengan nada marah Revan. "Tapi sayang dia gak mau sama Mamahnya dia maunya bertiga sama ayahnya juga." rayu perempuan yang sedang menelponnya agar Revan mau diajak olehnya. "Ok habis meeting nanti saya ke sana." "Tapi mas dia maunya sekarang." bujuk perempuan yang masih berada disana. "Seterah mau habis meeting atau gak jadi sekalian." Revan langsung mematikan telponnya agar dia tidak marah lebih besar lagi. Siang hari ini kami akan meeting, sebelumnya Tasya memberitahukan kepada bossnya untuk meeting siang hari ini langsung saja masuk ke ruangannya. Tok - Tok Suara ketukan terdengar dari dalam kantor membuat bossnya menjadi terganggu. "Masuk." Tasya pun masuk ke ruangannya untuk memberitahukan kalo siang ini ada meeting. "Maaf pak siang ini ada meeting pak." ujar Tasya yang melihat arah tatapan mata Revan yang fokus dengan laptopnya dan memasang wajah datarnya. "Saya sudah bilang tadi pagi siapkan saja meeting hari ini." dingin Revan. "Saya sudah menyiapkan meeting hari ini bapak tinggal berangkat saja untuk menemui pak Andi nanti.” tiba saja wajah Revan menjadi datar sebelumnya tadi pagi wajahnya biasa saja tapi kenapa siang ini berubah jadi datar Aneh!! "Silahkan keluar nanti saya nyusul." "Maaf mengganggu pak." kemudian Tasya keluar dari ruangan bossnya dia jadi takut dengan bossnya yang tiba-tiba saja berubah jadi ganas. "Sabar-sabar kenapa sih tuh orang tiba-tiba marah aja apa karena tadi pagi yah" gumam Tasya yang memegangi dadanya Karena takut dengan bossnya"Terima kasih pak sudah bekerja sama dengan saya." Revan mengakhiri meeting hari ini untuk bekerja sama dengan rekan kerjanya lalu berjalan ke luar ruangan meetingnya lalu bertemu anak dan mantan istrinya yang datang ke kantor untuk menemui Revan. "Ayah." panggil seorang anak kecil yang bernama Risa berlari memeluk ayahnya sedangkan Tasya hanya berdiam berdiri melihat seorang anak kecil memeluk Revan anak kecil itu pasti anaknya Revan pikir Tasya. "Hey kenapa kamu ada disini." tanya Ayahnya yang heran kenapa mantan istrinya mengajak anaknya ke kantor ini padahal dia sudah bilang jika sehabis meeting nanti Revan akan menemuinya tapi kenapa malah mantan istrinya yang datang ke kantor dengan membawa anaknya yaitu Risa. "Aku mau makan bareng ayah." rengek Risa sembari mengalungkan tangannya dileher ayahnya dengan erat. "Ayah kan sudah bilang nanti ayah nyusul kamu setelah meeting kenapa kamu datang ke kantor ayah pasti mamahmu yah yang menyuruhmu ke sini." tebak Revan. "Gak ayah aku yang mau soalnya Ayah lama sih datangnya mangkanya aku datang ke kantor ayah aja deh ayah gak suka yah aku datang ke kantor ayah." Tasya hanya terdiam melihat keakraban mereka berdua dan dia melihat mantan istrinya yang sudah menatap sinisnya. "Ayah suka kok kamu datang." ayahnya mencium pipi gembul anaknya lalu menggendongnya banyak tatapan karyawan yang melihat bossnya menggendong anak kecil setahu mereka bossnya itu masih single belum punya anak sekalipun kenyataannya Revan memang sudah memiliki anak dari mantan suaminya. "Kamu ngapain bawa Risa ke kantor saya sudah bilang biar nanti saya ke sana saja." Tasya seperti menonton drama Korea saja yang melihat bossnya ribut dengan mantan istrinya Tasya hanya terdiam tapi bisa berkutik apa-apa lagi. "Maaf mas dia yang memintanya." "Ayah jangan marahin mamah, mamah gak salah aku yang salah yah." ucap anak kecil itu yang tidka kau jika mamahnya dimarahi oleh ayahnya, Revannya tidak mau cari masalah lagi dengan mantan istrinya takutnya anaknya mendengar keributan orang tuanya. "Tante cantik siapa nya ayah." tanya anak kecil yang menatap Tasya penuh tanya. "Hay Risa kenalin aku Tasya sekretaris ayahmu." sapa Tasya dengan melambaikan tangannya tapi Risa menghiraukannya dia tidka mau jika ada perempuan lain mendekati ayahnya selain mamahnya. "Tante cantik jangan dekat-dekat sama ayah lagi." membuat Tasya bingung kenapa gadis kecil ini memintanya untuk menjauhi ayahnya padahal mereka hanya sekedar antara boss dengan sekretaris saja. "Loh Kenapa memangnya." "Aku gak mau ayah didekati cewek cantik selain mamah ku." "Sudah tas jangan dengarkan omongan Risa dia hanya anak kecil saja." ujar Revan takutnya anaknya ngomong aneh-aneh lagi dengan sekretarisnya. "Sekarang kita ke ruangan ayah saja yah." Revan berjalan menuju ruangannya tapi Risa masih merengek meminta untuk berbicara lagi dengan Tante cantiknya. "aku belum selesai ngomong ayah." rengek Risa yang memukul ayahnya untuk diminta turunin. "Anak kecil gak boleh tau urusan orang tua yah." Revan menurunkan Risa yang sudah diduduki kursi depan meja kerjanya. "Saya bilangin jangan dekat-dekat dengan suami saya lagi." peringatan Dita kepada Tasya. "Mantan suami kali mbak udah jadi mantan kok masih ngarep aja." ejek Tasya yang tertawa mendengar ucapan Dita. "Liat saja sebentar lagi Revan akan jadi suamiku lagi.” "Mimpi mba bangun deh jauh-jauh pikiran kosongmu itu." "Kamu berani yah melawan saya awas saja saya bakal bikin kamu pecat dari kantor ini." "Saya tidak takut dengan siapapun termasuk mba.” "Jangan panggil saya mba saya masih muda." "Yakin masih muda biar saya tebak yah pasti umurnya 30 atau 29 tahun Iyah." goda Tasya yang membuat mantan istri bossnya marah dengan tatapan penuh benci. "Kamu berani sama saya." "Bisa jadi." Tasya mengedipkan bahunya yang tak acuh perkataan mantan istri bossnya. "Awas liat saja nanti." ancam Dita kemudian meninggalkan Tasya sendirian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN