Awal jatuh cinta

1008 Kata
"Pak saya mohon jangan." Tasya masih ketakutan dengan apa yang bossnya lakukan bibir Revan pun bertemu dengan bibir Tasya dan memainkannya tiba saja tasya mendorongnya dengan sekuat tenaganya membuat Revan pun jatuh dilantai. "Saya bukan jalang yang bisa bapak permainkan kapanpun." Revan hanya terdiam dia tidak menyangka apa yang mereka berdua lakukan tadi Revan hanya memegangi bibirnya dengan berpikir kalo dia benar-benar gak kendalikan emosinya. "Maaf tadi saya gak berniat." lirih Revan yang menatap tasya sudah marah "Jangan samakan saya dengan perempuan yang sudah bapak permainkan." Tasya pun pergi meninggalkan Revan di ruangannya dengan menutup pintu sangat keras membuat terdengar suaranya. "Apa yang gw lakukan tadi." gumam Revan yang tidak percaya dengan semuanya ini Revan pun keluar dari ruangannya untuk mengejar Tasya, jangan sampai dia salah pahak berjalan cepat menyusulnya untuk meminta maaf atas tindakan yang tadi ia perbuat. Tiba didepan pintu kantor revan menahan lengan Tasya untuk mencegahnya tapi Tasya tetap memberontaknya untuk meminta dilepaskan tangannya yang dicengkeram kuat sampai tangan memerah. "Lepasin." Tasya sekuat tenaga memberontak untuk melepaskan tangan yang dicengkeram kuat oleh Revan. "Tas maafin saya." "Jangan panggil tas Saya bukan barang." "Itu panggilan kesayangan saya untuk kamu." goda Revan. "Saya gak mempan godaan anda." tegas Tasya. "Masa sih." Revan menggoda Tasya dengan mencolek dagunya. "Gak usah sentuh-sentuh saya gak mempan gombalan bapak." Tasya menatap tajam ke arah Revan yang sedari tadi menggodanya. "Harusnya kamu senang karena cuma kamu yang saya godain banyak loh wanita lain yang ingin digoda oleh saya." dengan bangganya Revan berbicara seperti itu emang sih dia banyak yang naksir tapi seenggaknya jangan songong gitu lah. "Saya gak perduli." belum berjalan melangkah tangan Tasya di tarik oleh bossnya alhasil Tasya tidak bisa menyamai keseimbangan antara tubuhnya yang membuat dia hampir jatuh ke lantai untung saja Revan menahan tubuhnya agar tidak jatuh mata Revan bertemu dengan mata indah Tasya membuat jantung Tasya berdebar kencang. Deg-Deg apa ini yang dinamakan jatuh cinta sama sekali pun Tasya tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, bukannya dia gak laku tapi dia gak mau buang-buang waktu hanya cuma menghabiskan waktunya untuk lelaki lain. "Jangan mencari-cari kesempatan dalam kesempitan yah." gerutu Tasya yang sudah melepaskan dirinya dari Revan. "Seharusnya kamu berterima kasih sama saya karena saya sudah membantu kamu, kalo gak saya bantu kamu pasti jatuh kalo kamu masuk ke rumah sakit siapa yang bakal gantikan posisi kamu jadi sekretaris pribadi saya." jelas Revan. "Kan ada pacar bapak tuh." sindir Tasya membuat Revan bingung padahal dia sama sekali belum punya pacar semenjak dia cerai dengan istrinya, jangan sangka umurnya yang kepala tiga tapi wajahnya tetap masih awet muda membuat kaum hawa terpesona dengannya. "Pacar!! Kata siapa saya sudah punya pacar." datar Revan. "Lah kata Dinda bapak pacarnya dia." ujar Tasya. "Saya sama dia hanya sebagai bos dan karyawan saja." balas Revan. "Oh." "Kamu cemburu." "Nggak.” "Masa sih saya liat dari cara pandangnya sepertinya kamu menyukai saya." tebak Revan yang menatap Tasya penuh yakin kalo dirinya menyukainya. "Gak penting." Tasya pun meninggalkan Revan yang masih berdiam berdiri didepan kantornya lalu mengejar Tasya dan menjejerkan tubuhnya disamping Tasya. "Tas kamu masih marah sama saya." tanya Revan yang menjejerkan tubuhnya disamping Tasya. "___" tidak ada sahutan dari Tasya dia hanya terdiam saja dengan wajah kezelnya. "Tas." panggil Revan. "Saya udah bilang jangan panggil saya tas saya itu bukan barang." geram Tasya. "Tapi tas itu panggilan saya ke kamu." ucap Revan. "Bodo saya mau pulang." Tasya berjalan sampai didepan gerbang kantornya dan menunggu angkot datang. "Sampai kapanpun kamu tunggu angkot jam segini gak ada tas.” "Saya mau naik taksi aja." "Mana ada taksi jam segini tas lihat nih udah jam setengah 11 tas mending kamu bareng saya aja.” Revan menunjukkan jam tangannya ke arah wajah Tasya. "Gak mau yang ada bapak melecehkan saya lagi.” sindir Tasya. "Ya enggak lah tas mana mungkin saya melecehkan karyawan sendiri." "Kalo gak lalu tadi di dalam apa.” "Soal tadi saya benar-benar minta maaf sekali lagi." Tasya memalingkan wajahnya dari pandangan Revan. "Tas ayo saya anter.” ajak Revan dengan menyentuh tangan Tasya tapi dia malah menghempaskan tangan darinya. "Jangan sentuh-sentuh saya mau pulang sendiri." "Pulang naik apa emangnya tas." "Saya bisa jalan kaki tanpa perlu bapak mengantarkan saya." Tasya membuat Revan geram bossnya pun langsung menarik tangannya. "Awhh sakit Pak." berontak Tasya bossnya tidak menanggapi perkataan nya lalu memasukkannya ke dalam mobil dia pun berjalan tempat duduk pengemudi lalu menjalankan mobilnya "Maaf gara-gara saya tangan kamu jadi merah begitu." Revan melihat tangan Tasya yang sudah memerah dan agak biru karena cengkeramannya terlalu kencang. "____" Tasya pun tidak menanggapinya tatapan matanya menuju arah jendela mobil tanpa harus melihat bossnya. "Tas " panggil Revan tetap saja Tasya tidka menjawabnya. "____" "Kamu marah sama saya yah." tebak Revan yang melihat Tasya hanya terdiam. "Ok saya ngaku saya salah tolong maafin saya." permintaan maaf Revan yang sudah memberhentikan mobilnya dipinggir jalan. "Luka kamu yang mana yang sakit." tanya Revan yang melihat Tasya masih terdiam. "Saya mau pulang." tanpa revan sadari Tasya meneteskan kedua air matanya mengalir deras di kedua pipinya. "Tas kamu nangis maafin saya, saya gak berniat nangisin kamu." Tasya hanya memalingkan wajahnya menghadap kaca jendela mobil. "Saya bilang mau pulang." Tasya mencoba untuk menahan amarahnya agar tidak memarahi bossnya. "Ok kita pulang tapi saya mohon jangan nangis lagi yah." Revan mendekati Tasya yang mencoba menghapus kedua air mata yang mengalir dipipi Tasya. "Cepat pulang." Tasya kembali menghadap ke arah jendela mobilnya lalu Revan menjalankan mobilnya sampai di depan rumah Tasya ia langsung membuka pintu mobilnya dan berjalan masuk ke dalam kost-an yang ia tempati, Revan merasa bersalah dengan Tasya lebih baik dia pulang dulu agar Tasya bisa menenangkan dirinya kemudian ia pun meninggalkan kost-an milik Tasya. Pagi hari Tasya sudah berangkat ke kantor karena masih banyak yang harus dikerjakan sebagai sekretaris pribadi bossnya hari ini juga bossnya ada meeting jadi dia harus menyiapkan keperluannya tiba di kantor Tasya sudah berkutik dengan laptopnya untuk mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai Tasya pun tak tau jika bossnya sudah berada didepan mejanya dengan tersenyum manis. "Hari ini siapkan keperluan untuk meeting nanti." Tasya hanya mengangguk dan melanjutkan mengetik laptopnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN