Zara tercenung sejenak mendengar ucapan Raharja. Meskipun tidak sedang marah, tapi pertanyaan itu menandakan kalau ayah mertuanya itu agak termakan oleh tuduhan Demian kepadanya. “Jadi ayah dan ibu percaya pada omongan Mas Demian tentang hubunganku dengan Pak Alvano?” tanya Zara balik. “Tidak juga. Saat ini ayah pertanyaan ini kepadamu bukan karena percaya, tapi meminta penjelasan. Memang ayah tidak punya hak mengatur hidupmu jika nanti kamu sudah resmi bercerai dari Demian. Akan tetapi, selama statusmu masih menantu kami, kami masih punya kewajiban untuk mengarahkan kamu.” Zara menghela nafas panjang. Dia lalu membenarkan posisi duduknya. “Baik ayah, ibu, akan aku jelaskan meski tadi sore sudah aku jelaskan pada ibu. Sewaktu SMA, aku punya seorang sahabat. Kami sangat dekat. Aku sering

