Langkah Zara sudah sampai di depan pagar ketika dia menoleh dan mendapati Demian masih ada di belakangnya. Dia tidak habis pikir apa maunya Demian hingga mengikutinya sampai ke rumah. “Kenapa kamu mengikutiku, mas?” tanya Zara sembari membuka pintu pagar. “Memangnya tidak boleh? Ini rumahku lho,” jawab Demian santai. “Ini bukan rumah mas. Ini rumah orangtua mas.” “Sama saja tho. Rumah orangtua ya rumah anak.” Zara menipiskan bibir. Bicara dengan Demian memang susah. Demian terlalu egois. Zara pun memutuskan untuk tidak perduli. Dia melangkah menyeberangi halaman dan masuk ke dalam rumah. “Assalamu’alaikum ….!” Serunya. “Wa’alaikumsalam. Eh, sudah pulang, Zar?” sambut Puspa ramah. “Iya, bu.” Zara menyalami ibu mertuanya itu. “Tapi ….” Zara melirik ke belakang sebagai cara untuk membe

