Beberapa saat sebelumnya. Jam pulang tiba. Zara cepat-cepat membereskan mejanya, mematikan lap topnya, dan memasukkan barang-barang berharganya ke dalam tasnya. Jangan sampai Alvano keluar dari ruangannya sementara dia masih di sini. Bukan apa, takutnya Alvano menawarkan diri untuk mengantarkannya pulang. Kenal sudah lama memang iya. Dekat seperti saudara juga boleh. Tapi Zara menghindari sering bersama Alvano. Statusnya yang masih istri orang bisa menjadi fitnah. Dia tidak mau dapat fitnah selingkuh jika tidak merasa melakukannya. “Aku harus cepat-cepat. Aku harus cepat-cepat,” gumam Zara sembari melangkah ke lift. Dia langsung bernafas lega ketika tubuhnya sudah berada di ruang lift tersebut. Sepertinya dia berhasil untuk pulang sendiri. Tak lama kemudian, lift berhenti. Zara keluar

