BAB XI ~ Kecewa ~

1122 Kata
“Tapi benar juga sih yang di katakan oleh Kyai tadi, umur tidak menjadi hambatan bagi orang-orang yang ingin menikah. Itu pun di ajarkan oleh Rasulullah dan setiap perilaku yang Rasulullah lakukan maka harus di teladani oleh umat nya.” guman ku Setelah pengajian selesai, aku pulang kerumah dan sudah di sambut dengan telpon video call dari Raditya. “Dek, gimana ngaji nya? tadi ceramah nya tentang apa?” tanya Raditya “Bab nikah mas. Hehehe..” jawab ku sedikit malu “Beliau cerita bagaimana?” “Menikah adalah sunah rasul yang harus di jalani oleh umatnya, dan menikah juga tidak memandang umur meski umurnya jauh lebih tua perempuan daripada laki-laki.” “Wahh… kamu ke sindir dong dek!” pungkas Raditya “Bener deh mas, tadi aku senyum-senyum tau waktu kyai sedang menjelaskan.” ucapku jujur “jangan buru-buru nikah lo dek..” tuturnya “enggak mas. Aku masih kecil wkwk.” Aku dan Raditya melanjutkan perbincangan manis kami di telepon. Tak terasa sudah satu jam kami mengobrol, sudah saatnya Raditya Kembali mengaji dan aku pun melanjutkan aktivitas ku yaitu tidur. Sebelum tidur aku selalu berbicara dengan diriku dan hatiku. “Baiklah, mas aku tidak akan mengingkari janji yang kamu buat untuk ku. aku tidak akan pergi jika bukan kamu yang menyuruhku untuk pergi. Aku pun tidak akan mempermasalahkan umur kita yang lebih tua satu tahun dengan ku. siti Khodijah menikah dengan Rasulullah berjarak 15 tahun lebih tua dari beliau.” Sejenak aku tersenyum Ketika mengingat mas dengan wajah polos dan senyumnya yang manis. “Mas.. aku sudah terlanjur mencintai mu dengan dalam aku harap kamu tidak pernah meninggalkan ku ya? Aku percaya kamu bisa menjaga ucapan manis mu itu. yaa Allah jaga mas disana titipkan rinduku padanya yang Rabb.. aku sungguh mencintai dan menyanyanginya yaa Rabb.. mas aku tidur dulu yaa sampai jumpa di alam mimpi.” gumamku setelah menyampaikan dan bertukar pikiran pada malam hari akhirnya aku berdoa dan mengistirahatkan tubuhku. *~*~* Hari-hari berlalu dengan cepat ketika aku bersama dengan Mas Raditya, hari ku terasa lebih berwarna namun aku tidak ingin seperti Pelangi yang berwarna namun hanya sekejap, namun yang ku inginkan adalah warna dalam hidup ku bersama mas Raditya akan selalu ada dan tidak akan pernah hilang. Bulan Desember pun tiba, akhirnya Mas Raditya akan pulang ke rumah. Aku sangat tidak sabar untuk bertemu dengan nya, sudah banyak rindu yang ku pendam di d**a kini semua rindu akan menghilang ketika aku bertemu dengan nya. namun saat itu sang waktu belum mengizinkannya. hari itu, Freya dan keluarga bersiap untuk menghadiri acara pernikahan pamannya yang kedua. di pernikahan pertama bukan karena bercerai namun menurut orang jawa setempat mereka pernah mempunyai kesalahan sehingga setiap kali tantenya melahirkan pasti anaknya akan meninggal, dan ini sudah ketiga kalinya. karena takut terjadi hal yang sama akhirnya mereka memutuskan untuk menikah kembali. "Jangan lupa pergi bersama calon menantu ku ya fre.." ucap bapak tiba-tiba membuat Freya terkejut, bukan karena tidak ingin pergi bersama Radit namun hari ini ia akan pergi ke rumah Abah. bahkan mungkin sudah di sampai di rumahnya. "Radit nggak di rumah pak, ia sedang pergi kerumah Abah." jawab ku sedikit pelan karena takut bapaknya akan marah. dan benar dugaannya, sorot mata milik bapaknya sudah menampakkan emosi yang sudah di tahan Freya yang mengetahuinya perlahan menundukkan pandangannya. "Aduh.. bahaya ini. Radit sudah berangkat belum yaa!! semoga saja radit belum. aku harus menelponnya sekarang." ucap Freya sedikit memelankan suaranya karena tidak ingin di dengar oleh orang tuanya terutama bapaknya. "Mas dimana?" tanya ku "Di rumah Abah dek, baru saja sampai." jawab Radit dengan suaranya yang lembut “Mas sebenarnya tuh, kamu di ajak ke rumah nenek soalnya ada acara." ucapku penuh sesal “Kok baru ngomong dek? kalau tau gini kan aku berangkat nanti juga bisa, sekarang kalau mau pulang lagi pasti terlambat datang aku nya.” pungkas Radit sedikit sesal “aku pikir Bapak bercanda mas, eh ternyata beneran. disini aku yang salah mas.maaf ya mas?" ujar ku penuh sesal “IJadi gimana dek? bapak marah nggak?” tanya Radit “Enggak mas, kamu tenang saja. mas fokus ngaji aja yaa yang di rumah biar aku saja yang handle." ujar ku meyakinkan meski pada akhirnya ia harus menerima kemarahan dari Bapaknya karena gagal mengajak Radit ikut bersamanya. dan ini pun bukan kesalahan radit namun akibat keteledorannya. “Aduhh, malu dong sayang.” Pungkas Raditya “ya aku juga berfikir gitu mas, tapi sama bapak aku suruh ajak mas.” “kamu bilang sama bapak kalau aku orangnya pemalu.” “sudah mas..” jawab Freya jujur. meski ia sudah bilang jika Radit pemalu namun Bapaknya yang keras kepala tetap saja kokoh untuk tetap mengajaknya dengan alasan agar lebih mengenal keluarga besarku disana. “Jadi gimana Fre? Radit ikut nggak?” suara Bapak membuyarkan lamunan Freya. Ia terkejut bukan main karena pasalnya Radit sekarang sudah di rumah Abah dan pulang pun tidak memungkinkan. “nggak ikut pak, dia sudah di rumah Abah." jawab ku sedikit gemetar karena ia melihat sorot mata bapaknya menunjukkan emosi yang tertahan. "Kok malah ke rumah abah? apa kamu nggak ngajak Radit?" tanya Bapak penuh selidik "Enggak pak. aku kira bapak hanya bercanda kemarin untuk mengajaknya namun ternyata..." belum sempat ia menyelesaikan ucapannya kini sudah terpotong oleh suara besar khas milik bapaknya. "Siapa yang bercanda? kan mau ngajak radit juga tujuannya agar ia mengenal keluarga besar kita juga. atau jangan-jangan kamu yang nggak bolehin ya? atau malah Radit yang nggak mau datang?" ujar bapak penuh selidik "Bukan gitu juga pak, waktunya saat ini tidak sesuai dengannya. jika saja ia tidak ke rumah Abah pasti ia akan ikut." ujar Freya membela "Meski ia akan malu nantinya." tambah freya namun hanya di simpan dalam hatinya "Udah cukup nggak ada alasan. kan mau di kenalin sama keluarga besar malah nggak datang. apa nggak bisa ninggalin urusannya sebenatar saja." ujar bapak penuh emosi "Bisa pak..tapi aku..?" "Apa nggak bisa meluangkan waktu satu hari saja sama keluarga kita?" bapak memotong pembicaraan Freya yang belum selesai Freya hanya menarik nafas dalam karena melihat ucapan bapaknya yang menusuk hati. namun ia pun tidak bisa berbuat apa-apa karena Radit pun sudah di lokasi dan tidak memungkin untuknya kembali lagi. freya disana menahan tangis karena melihat perubahan sikap bapak padanya seolah sedang memojokkannya disana. namun itu pun kesalahan dari Freya, jika saja ia bicara lebih awal pada Radit pasti hal ini tidak terjadi. “Kenapa saat aku ingin mengajak mas mengenal keluargaku selalu saja ada alasan yang tidak bisa dia tinggalkan. Kini bapak kecewa dengan nya dan meragukan keseriusan mas Raditya pula, tapi aku juga bingung harus bagaimana? Status kita masih pacaran tapi bapak ku selalu menanyakan keseriusan nya dan takutnya nanti Mas akan jenuh dengan pembahasan ini terus. Mas aku mohon kamu sabar ya…” ucap dalam hati
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN