Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari. Aku menulis Ketika video call dengan Freya ku matikan, setelah aku menulis aku bermain game kesukaan ku sebentar.
Tak begitu lama Aku menelpon kekasihku yang sudah ku pastikan masih tidur. Aku menelpon nya karena sebentar lagi adzan subuh berkumandang.
Drt..Drt..Drt…
suara dering ponsel Freya berbunyi, dan ternyata ada panggilan dari kekasihnya Raditya.
Segera Freya mengangkat panggilan dari kekasihnya meski ia belum sadar sepenuhnya. Mata nya yang masih ingin sekali melanjutkan tidurnya akan tetapi ada suara yang melarangnya.
“Dek, jangan tidur lagi. Sebentar lagi adzan subuh loo.” Tutur Raditya
“Lima menit lagi boleh mas? Sebentar aja tidurnya.” Ucap Freya dengan suara serak khas miliknya
“Iyaudah, lima menit lo yaa.”
Freya hanya mengangguk, ia melanjutkan tidurnya. Tak terasa sudah lewat lima menit Freya tertidur, Raditya berusaha membangunkan nya namun itu sia-sia. Raditya menahan emosi nya karena Freya tak kunjung bangun juga, Raditya sedikit marah lalu mematikan video call nya.
Saat tidur Freya tiba-tiba terbangun dan melihat video call nya dengan Raditya sudah di matikan. Freya Kembali menghubungi Raditya dan ia pun mengangkat.
“Hehehe, maaf mas tidurnya terlalu nyenyak.” Ujar Freya sembari senyum-senyum
“Sekarang kamu duduk dek, nanti kalau masih tiduran terus nanti tidur lagi.” Pinta Raditya
“enggak-enggak mas. Baring aja boleh yaa?” pinta Freya Kembali
“Enggak. Kamu harus duduk. Kalau nggak mau telpon nya ku matikan. Aku hitung nih..” ancam Raditya
“satu..”
“iihh menyebalkan.” Batin Freya
“dua..”
Freya masih berbaring dan menatap tajam Raditya begitupun sebaliknya.
“ti….”
Freya dengan sigap lansung duduk. Dari layar ponsel nya Raditya tertawa puas karena berhasil mengancam kekasih tercinta nya itu.
“Mas jahat.” Ujar Freya
“Kok jahat? Kan mas pengen kamu belajar bangun pagi, nanti kalau sudah nikah kamu akan di omelin lho sama ibu dan bapak ku. aku nggak sholat subuh aja di cambuk pake sabuk kok. Kamu mau?” jelas Raditya
“Hah? Kejam sekali..” Lirih Freya
Adzan subuh pun berkumandang.
“Iyaudah dek, jangan tidur lagi. Cepet bangun dan ambil wudhu setelah itu sholat. Setelah sholat kamu tidur lagi nggak papa.” Ujar Raditya
“Iya iya.” Jawab ku
“Anak pintar. Aku matikan dulu yaa.. Daa sayang.”
“Daa..” jawab Freya dengan wajah cemberut nya
Telpon pun di matikan. Freya ingin Kembali tidur lagi akan tetapi ia teringat perkataan Raditya untuk sholat.
Akhirnya ia urungkan niatnya untuk Kembali tidur. Ia berjalan menuju kamar mandi dan berwudhu lalu menjalankan kewajiban nya. Setelah selesai sholat subuh, Freya Kembali tidur.
POV NARATOR
Freya melakukan aktivitas nya seperti biasa. Selepas selesai kelas ia merebahkan tubuhnya sambil bermain ponsel miliknya hingga ia tertidur.
Adzan Ashar pun sudah terdengar, Freya terbangun dari tidurnya lalu bergegas mandi dan berangkat mengaji. Saat mengaji Freya pun belajar cara mendidik murid atau menjadi guru disana dengan terus di pantau oleh ustad nya. Sudah 12 tahun Freya mengajar di tempat ngaji nya tersebut.
SKIP
Pagi ini Freya melaksanakan kelas online nya di rumah. Setelah kelas nya selesai ia pergi ke rumah Nenek nya karena sedang ada acara masak-masak untuk 100 harian kakeknya.
Sesampainya disana, Freya membantu di dapur sebentar lalu ia mengambil piring di toko depan. Disana Freya melihat para ustad sudah selesai mengkhatamkan Al-Qur’an 30 juz dalam waktu setengah hari saja. Sebenarnya Freya pun ingin sekali ikut khataman, sayangnya keadaan tidak mengizinkan.
“Freya..”
Terdengar suara berat seseorang memanggil nama ku. aku menoleh kea rah nya dan ku lihat ternyata Bapak memanggilku.
“Iya pak, ada apa?” jawab ku sembari bertanya
“Kamu kesini..” pinta Bapak
Aku hanya menuruti apa yang di katakana Bapak ku. aku berjalan mendekati beliau beserta para Uztad disana.
Hatiku sedikit gugup karena melihat disana juga ada guru ngaji ku. aku berjalan perlahan dengan batin yang penuh dengan pertanyaan. Sebenarnya apa yang akan di katakana hinggan harus ada aku disana.
Sesampainya di tempat, aku duduk di dekat bapak ku. Lalu bertanya, “Ada apa pak?”
“Silahkan bicara dengan orang nya.” Ujar Bapak ku menatap Uztad Pri
“Baik, gini nak Freya… Uztad minta kamu mau ikut mengajar ngaji di masjid tengah karena terkadang saya harus menghadiri undangan atau tahlilan jadi anak-anak tidak ada yang mengajar. Jadi nak Freya mau nggak ikut mengajar juga?”
Aku terkejut mendengar penjelasan dari Uztad. Bagaimana bisa aku akan menjadi seorang guru ngaji lagi di masjid yang berbeda. Aku memang mangajar di Masjid Al-Ikhlas pertama tempatku mengaji namun Ustad Pri meminta ku mengajar di masjid tengah yaitu Masjid Al-Huda.
Aku bimbang harus menjawab apa. Aku pun bertanya,
“Mengaji nya jam berapa Uztad?”
“Setelah Sholat Magrib Fre, jadi Ustad harap kamu bisa yaa.. “
“Saya sih mau mau saja Ustad, tapi saya tanya dulu dengan Bapak saya.” Jelas ku
“Iya silahkan.”
“Pak saya boleh mengajar ngaji nggak?”
“Terserah kamu Fre, kalau kamu mampu ya nggak papa. Bapak dukung-dukung aja.” Jelas Bapak
“Tapi Ustad saya mampu apa tidak ya?” tanya ku sedikit Ragu
“Mampu Fre, kan sudah bertahun-tahun mengajar di Masjid Al-Ikhlas kok. Pasti kamu bisa.” Sahut Ustad Safi’.
“Baiklah Ustad Pri. Tapi saya Izin Ustad Yon terlebih dahulu yaa karena beliau lah saya bisa mendapatkan ilmu ini.” Jawabku
“Iya. Jadi kamu nanti mulai mengajar ngaji hari Jum’at yaa.” Jelas Ustad Pri
“Baik Ustad.”
Setelah pembicaraan kami selesai, aku membersihkan piring sisa makanan dari Ustad – Ustad lalu meletakkannya di cucian yang kotor.
Fikiran ku masih tentang permintaan Ustad Pri yang menyuruhku untuk mengajar Ngaji anak-anak di Masjid Al-Huda.
Akankah Ustad Yon mengizinkan? Dan bagaimana caranya aku bicara dengan beliau sedangkan aku sedang ada tamu bulanan yang mencegah ku untuk tidak datang di masjid. Jika pun kerumah nya sama saja karena jalannya harus melewati Masjid.
“Freya ayo pulang, sekalian ajak adikmu.” Ucap Ibu membuyarkan lamunan ku
“Iya bu.”
Akhirnya Aku, Adik ku dan Ibuku pulang kerumah karena hari sudah sore dan membuat hidangan nanti malam pun sudah siap semua. Di perjalanan aku bercerita kepada ibuku jika aku diminta mengajar ngaji di Masjid Al-Huda. Dan ibu ku memperbolehkan nya.
Namun aku masih belum lega karena belum izin kepada guru yang Sudah memberiku ilmu selama dua belas tahun ini. Akhirnya aku putuskan besok akan kerumah Ustad Yon. Karena besok pun aku sudah sesuci.
Sesampainya di rumah ibu dan adik ku mandi terlebih dulu dan aku menunggu mereka. Selama aku menunggu, ku buka ponsel yang tergeletak di kamar milik ku. ku buka whatshap dan menelpon Raditya sekaligus memberi tau jika aku di minta untuk mengajar ngaji di Masjid Tengah.
“Mas aku di minta untuk mengajar ngaji di Masjid tengah. tadi waktu aku di rumah Nenek Ustad meminta ku untuk membantunya mengajar ngaji. Menurut Mas gimana?”
“Alhamdulillah dek. Tapi alangkah baiknya kamu izin dulu ke Ustad Yon yaa!!! Biar Bagaimanapun juga beliau lah yang sudah mengajari mu hingga bisa sampai sekarang.” Tutur Raditya
“iya mas, besok aku akan ke rumah Ustad Yon dan meminta izin kepadanya.”
“Iya dek bagus.”
“Mas aku mandi dulu ya.” Ujar ku
“oh pantesan aku dari tadi cium bau kecut, ternyata kamu belum mandi yaa..” ledek Raditya
“Yuk Mas, ngledek terus. Mas benar-benar menyebalkan.”
“Nggak papa yang penting kamu sayang, wekkk.” Jawab Raditya dengan suara khas miliknya.
“Awas kamu Mas, nanti kalau Mas pulang terus duduk di sebelahku aku nggak akan mandi. Biar Mas tau rasa.” Jelas ku
“nggak boleh gitu dong cintaku..” ujar Raditya dengan suara nya yang super manja
“Udah ah, aku mau mandi.” Ucap Freya
“eh bentar dek, aku ikut mandi boleh nggak?hahaha” canda Raditya
“boleh mas, kalau sudah SAH yaa.” Jawab Freya dengan tawa khas miliknya
“Iyaudah gih, mandi.”
“iya Mas.”