SKIP
Keesokan harinya, Freya masih ada kelas online. Setelah kelas ia akan pergi ke rumah Ustad Yon. Kelas online Freya pun selesai, ia bergegas pergi kerumah Ustad Yon sebelum beliau berangkat untuk sholat Jum’at.
Sesampainya di rumah Ustad Yon, ternyata tidak ada orang di rumah nya. Disana hanya ada Mak Jah yang duduk sambil memotong bawang merah.
“Mak, kok sepi? Ustad sama Bu Sofi dimana?” Tanya ku
“Keluar Fe, baru saja.” Jawab Mak Jah
“aku datangnya telat dong Mak?” tanya ku lagi melemas
“iya. memangnya ada apa?” tanya Mak Jah
“Nggak ada papa Mak, nanti kira-kira beliau pulangnya jam berapa Mak?”
“Nanti sebelum sholat Jum'atan beliau sudah datang, jadi kamu bisa datang lagi setelah Sholat Jum’at saja, tapi jangan lama-lama juga yaa nanti takutnya keluar lagi.” Tutur Mak Jah
“Iyaudah kalau gitu Mak, aku tunggu di rumahnya Nabila saja ya Mak.”
“iya Fe.. kamu nanti datangnya jangan terlambat lo yaa..” jelas Mak Jah
“Iya Mak siap. Aku pergi dulu ya Mak.” Pamit ku pada Mak Jah
“Iya fe.” Ujar Mak Jah
Freya melajukan motor Scoopy miliknya dengan kecepatan sedang menuju ke rumah Nabila.
sesampainya di rumah Nabila, aku dan dia sibuk ngobrol banyak hal. hingga tak terasa sudah satu jam mereka curhat dan Bercerita.
Setelah sholat Jum’at selesai, Freya pamit pulang ke Nabila.
Sebenarnya Nabila menyuruhku untuk pulang nanti saja akan tetapi aku menolaknya dengan halus dan memberi tau Nabila jika ia masih sedang ada urusan. Dan Nabila pun memahaminya.
Freya melajukan motor Scoopy nya menuju kerumah Ustad Yon.
Sesampainya disana ternyata Rumah sudah sepi Kembali. Terlihat Mak Jah duduk di teras Rumah sembari memakan camilan.
“Mak Jah, Ustad Yon dimana? Lalu Bu Sofi juga dimana?” tanya Freya
“Kamu terlambat lagi Fe, mereka baru saja keluar.” Jelas Mak Jah
“Ya Allah Mak.. gimana dong?” keluh Freya
“emang ada hal penting apa?” tanya Mak Jah
Belum sempat Freya menjawab terdengar suara motor khas milik Bu Sofi. terlihat dari kejauhan bu Sofi mengendari sepeda motornya.
Freya senang melihat kedatangan Bu Sofi, Ketika bu Sofi turun dari sepeda Freya mendekat lalu mencium tangan Bu Sofi dan ia pun langsung berbicara maksud dan tujuan nya datang kerumah.
“Bu, aku mau tanya sekaligus mau izin.”
“Izin apa Fre? Kamu mau nikah?”
canda Bu Sofi
“bukan bu, saya masih kecil belum mau nikah. Hehehe.” Pungkas ku
“Jadi mau izin apa nih?” tanya Bu Sofi
“aku di suruh membantu mengajar di Masjid tengah bu, apa di izinkan? Secara saya masih resmi santri Ibu sama Ustad Yon.” Jelas ku
Aku sedikit gugup dan takut untuk berbicara, namun jika aku tidak melawan ketakutan ku bagaimana tanggapan guru ku padaku, apakah beliau mengizinkan ku untuk mengajar atau tidak.
Jantungku terasa tidak stabil menunggu jawaban dari Bu Sovi. terasa waktu pun berputar sangat lambat. aku masih menunggu beliau menjawab, dan akhirnya beliau pun mulai berbicara.
“iya nggak papa Fre, sekalian buat nambah pengalaman buat kamu.” jawab Bu Sofi
“Beneran nih bu nggak papa?” tanya Freya
“Iya benar.” Jawab Bu Sofi menyakinkan.
“Baiklah bu saya paham.”
“Iyaudah saya pergi lagi ya, mau ada acara.” Tutur Bu Sofi
“Iya bu.”
Bu Sofi melajukan motor miliknya yang semakin menjauh. Freya melihat kepergian Bu Sofi dengan hati yang senang dan tenang.
“Alhamdulillah Mak, dapat izin.” Ujar ku
“Iya, sekarang sudah lega?” tanya Mak Jah
“Iya sudah mak. Kalau begitu saya izin pulang ya Mak.”
“Iya hati-hati.”
Aku menyalami Mak Jah lalu pulang dengan di akhiri salam.
Malam pun tiba, setelah adzan magrib Freya datang ke Masjid Al-Huda untuk membantu mengajar. Freya sedikit tegang karena baru pertama ini dia ke masjid tengah.
Freya pun di arahkan oleh Ustad Pri untuk mengajar anak-anak disana. Setelah mengajar Freya menunggu adzan Isya’. Setelah itu ia akan pulang.
Sesampainya di rumah ia membuka ponsel miliknya ternyata sudah ada pesan masuk dari kekasihnya, Raditya. Freya pun membalas pesan tersebut. Lalu ada pesan masuk dari Kika.
“Mbak, mau ya ngajar ngaji lagi di Mushola. Aku dan teman-teman pernah mengaji di Masjid tengah tapi kami tidak merasa nyaman. Mau ya mbak?”pinta Kika
“memang ada muridnya kik?”
“Ada mbak.”
“Iyaudah aku izin dulu ke guru ku ya, nanti aku konfirmasi lagi.” Jelas ku
“Iya Mbak.”
Aku pun berfikir, ada apa sebenarnya. Mengapa ia di minta juga mengajar ngaji di Mushola. Sebenarnya Rencana Tuhan untuk ku itu apa? Banyak pertanyaan di hati Freya tentang semua ini. Ia mendapat sebuah Amanah yang besar. Sanggupkah aku menjalani ini semua?
*~*~*~
Setelah melewati satu hari mengajar di masjid tengah kemarin, Freya ingin segera menceritakannya kepada Raditya karena kemarin malam ia ketiduran di saat menunggu Raditya.
Freya sudah terbiasa menceritakan semua yang dialami nya pada Raditya, jika ada yang belum dia ceritakan pasti hatinya tidak tenang.
Setelah Freya mengajar ngaji di Masjid Al-Ikhlas ia memainkan Ponsel milkknya, dan tiba-tiba ada panggilan masuk,
Drt..Drt..Drt.. Freya menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilannya.
“Hallo dek,” sapa Raditya melalui video call
“Hai mas.” Jawab ku
“Oh ya mas, aku mau cerita.” Tambah ku
“iya, cerita saja dek.”
“Mas, ‘kan aku sudah di izinkan mengajar di Masjid tengah, tapi tiba-tiba santri yang di Mushola juga minta aku mengajar ngaji lagi disana mas. Menurut mas gimana?”
“untuk waktunya nanti gimana dek? ” tanya Raditya
“Setelah Ashar di Masjid Al-Ikhlas, setelah Magrib di Masjid Tengah, lalu setelah Isya’ di Mushola. Tapi aku belum izin ke Ustad yon untuk mengajar di Mushola itu.”
“Kalau Ibu sama Bapak gimana? Sudah izin belum? dan di izinkan atau tidak? ” tanya Raditya
“Sudah mas, dan Mereka mengizinkan.” Jawabku
“Iyaudah kamu nanti izin Ustad Yon, kalau di perbolehkan kamu harus ngajar.” Tuturnya
“Baik mas. Aku paham.” Jawab ku
Adzan Magrib berkumandang, aku dan kekasihku, Raditya mematikan video call kami. karena aku harus mengajar dan dia pun harus mengaji. Karena dia masih berada di pondok pesantren.
Setelah aku mengajar di Masjid tengah, aku pergi ke rumah Ustad Yon. Sesampainya di rumah aku mulai berbicara kepada nya.
“Ustad, saya mau minta izin untuk mengajar di Mushola. Kemarin mengajar di Masjid tengah saya sudah minta izin sama Bu Sofi dan beliau mengizinkan. Soalnya kemarin saya kesini Ustad tidak di rumah. Dan setelah beberapa hari saya mengajar di sana ternyata anak-anak dari Mushola juga minta saya mengajar mereka seperti satu tahun yang lalu ustad. Jadi menurut Ustad bagaimana?” jelas Freya
“Nggak papa Fre bagus itu. Sekalian kamu belajar dan menambah pengalaman. Tapi kalau bisa kamu lebih memfokuskan kepada Mushola yaa, karena di Masjid Tengah sudah ada Ustad Pri dan Ustad Safi’. Sedangkan di Mushola hanya kang Ri saja.”
“Jadi saya di izinkan Ustad?” tanya Freya meyakinkan
“Iya fre.” Jawab Ustad
“Baik Ustad, terima kasih.”
Setelah berbincang-bincang, sudah tiba waktunya Sholat Isya’. Adzan pun sudah di kumandangkan indah oleh santri putra. aku pun berpamitan untuk pergi ke Masjid.
Setelah sholat isya’ selesai, aku bergegas untuk pulang. Sesampainya dirumah aku membuka ponsel abu-abu milikku. Ku lihat ada pesan masuk dari beberapa orang, dan tentu ada pesan masuk juga dari Raditya, kekasihku.
“Jadi gimana dek? Di izinkan nggak?” tanya Raditya
“Alhamdulillah di Izinkan mas. Nanti kalau mas pulang harus bantu aku mengajar juga lo yaa.” Pinta ku
“Insya Allah.”
Setelah membalas pesan dari Raditya dan menjelaskan semuanya padanya, aku menghubungi Kika dan memberi tau jika ngaji malam di Mushola akan segera aktif.