bab 13 POV Keenandra Pratama

1324 Kata
kepala ku rasa nya pusing, aku mencoba membuka mata pelan pelan. samar samar aku melihat seorang suster, bauk khas obat obatan juga sangat menyengat hidung. di mana aku sebenarnya, aku mencoba membuka mata ku seutuh nya. "mbak Keenan sudah sadar"tanya suster itu pada ku. "saya di mana"aku melihat sekeliling, dinding di ruangan ini yang di cat warna biru pastel dan motif batik di tengah nya, seakan tempat ini tidak asing untuk ku. "mbak Keenandra sekarang ada di rumah sakit, tadi mbak Keenan pingsan dan di bawa kesini"jadi tadi aku pingsan. "boleh saya minta tolong untuk hidupkan handphone saya, saya harus menghubungi keluarga saya, pasti mereka sedang mencari saya sekarang"aku melihat suster itu tersenyum, aneh banget. "mbak keenandra gak usah khawatir, abg mbak Keenandra ada di sini, mungkin sekarang beliau lagi menebus obat di apotik"abg siapa yang di maksud suster ini, apa kak vano sudah pulang. "maksud suster abg saya yang seorang ten-tara"aku hanya ingin memastikan apa kah kak vano sudah pulang. "kek nya bukan mbak, soal nya mas mas yang tadi pakek jas, kemungkinan dia kerja kantoran"aku jadi penasaran siapa yang suster ini maksud. "kek nya bukan deh sus, itu bukan abg saya, abg saya lagi bertugas sekarang dan dia seorang tentara angkatan laut"seumur hidup aku gak pernah liat kak vano pakek jas, jadi siapa sebenarnya yang suster ini maksud. "tapi kek nya iya mbak, soal nya wajah mas itu mirip banget sama mbak Keenandra seperti pinang di belah dua, beda nya cuma mbak perempuan dan mas nya laki laki"apa jangan jangan yang di maksud suster ini kakak nya kak Andra, tapi kenapa wajah nya begitu mirip dengan aku. tiba tiba pintu kamar di buka, aku melihat seorang laki laki masuk. orang nya tinggi, badan nya sepertinya sixpech tapi gak begitu keliatan karna terbalut dengan switer hitam dan jas abu abu. kulit nya kuning langsat, lumayan ganteng sih orang nya. dia berlahan mendekati aku. "sore mbak"sapa pria itu dengan ramah. "sore"jawab ku singkat. "gimana keadaan mbak Keenandra"dari mana dia tau nama aku. "saya baik, dari mana anda tau nama saya"aku melihat dia tersenyum. "dari kartu indetitas mbak yang saya temukan di dalam tas"tadinya aku sempat suuzon sama dia, aku kira dia siapa. "mbak Keenan gak usah khawatir saya juga sudah urus administrasi mbak Keenan"untung dia mau bayar kalau gak bisa mati aku. "terimakasih, nanti kalau ada uang saya ganti"cowok itu tersenyum, lalu duduk di atas kursi yang ada di sebelah tempat tidur ku. "o,iya saya rafael, saya asisten pribadi di perusahan Alexander sanjaya"aku tidak bisa menyembunyikan ekspresi kaget ku saat mendengar nama perusahan itu. "saya minta maaf kalau saya lancang membuka tas mbak Keenandra, tadi saya butuh indetitas mbak, dan saat saya lihat nama orang tua mbak ternyata mbak anak dari almarhum pak arvan klayen kami"jadi dia kenal sama papi. aku hanya tersenyum ke arah nya, gak tau mau jawab apa. "mbak keenan gak usah sungkan sama saya, kita ini sudah seperti keluarga, jadi kalau mbak butuh apa apa mbak bisa bilang sama saya"aku jadi teringat kata kata suster tadi, kata nya ada seorang cowok yang nungguin aku dari tadi, apa yang di maksud suster tadi orang ini. "eum mas dari sejak kapan di sini"aku melihat dia tidak membawa obat atau apapun, padahal kata suster tadi orang yang tungguin aku pergi buat tebus obat, seharusnya dia balik bawa obat dong, aku mau pastikan dia atau bukan yang di Maksud suster tadi. "sudah dari tadi saat mbak Keenan pertama kali di bawa kesini"aku melihat dia ragu dengan jawaban nya sendiri. "mas tadi dari mana, saya kira mas tadi pergi ke apotik buat tebus obat"mendengar pertanyaan aku, dia keliatan gugup. "yak ampun mbak obat nya ketinggalan di mobil, tadi soal nya ada obat yang harus saya belik di luar"dia menepuk jidat nya sendiri, kata nya dia lupa. aku lihat dia bukan tipekal cowok yang suka menipu, jadi dia berbohong sedikit langsung gugup. dia keluar dari kamar untuk mengambil obat, hampir 15 menitan dia baru balik. "maaf ya saya lama"setelah meletakan obat di atas meja, dan dia kembali duduk di atas sofa yang tidak jauh dari tempat tidurku. aku jadi semakin penasaran dengan lelaki ini, aku merasa ada yang menganjal di sini. "o,iya mbak tadi saya mencoba menghubungi buk Andra tapi nomor nya tidak bisa di hubungi"dia pasti menghubungi kak Andra buat jagain aku. "iya mas gak papa, kalau mas gak keberatan tolong hidup kan hp saya, saya harus menghubungi orang rumah"lalu dia bangun dan menghampiri aku, mencoba menyalahkan handphone milik ku. dia mengarahkan layar handphone ke arah ku, batre nya merah, dan sekarang mati total lagi, aku lupa ngecas lagi tadi malam gara gara sibuk nangis. setelah handphone ku di cas, dia mengambil handphone milik nya di saku dalam jas. "berapa nomor nya mbak biar saya telpon"aku tersenyum, mana aku tau nomor pak jono berapa. "gak papa mas nanti aja"aku mendengar suara azan, aku melihat ke arah cowok itu yang duduk di kursi di sebelah ku. dia tersenyum. "azan magrib mbak, ya udah saya sholat dulu ya"aku hanya mengiyakan saja. sudan magrib, jadi aku pingsan selama apa. aku mendengar suara perut aku berbunyi, aku sangat laper sekali dari kemarin siang aku belum makan. aku melihat pintu kamar terbuka, masuk seorang suster membawa makanan, dan di belakang nya di ikuti cowok tadi. sini sus makanan nya biar saya yang suapin"lelaki itu mengambil alih nasi dari tangan suster itu dan pindah ke tangan nya. kruuuuk,,,,kruuk spontan suster dan laki laki itu melihat ke arah ku. suster itu tersenyum lalu pamit keluar. cowok itu duduk di kursi di sebelah tempat tidur. "kata dokter perut kamu kosong banget, tadi pagi kamu gak sarapan ya"aku hanya menggeleng, jangan kan tadi pagi kemaren siang aja gua gak makan. dia mulai menyuapkan nasi yang di sirami sayur sup di atas nya ke dalam mulutku. seperti orang yang gak pernah makan bertahun tahun, aku ngunyah pun udah sedikit sulit sangking laper nya, tiga kali gunyah langsung aku telan. aku melihat ekspresi heran dari wajah cowok itu. terserah dia kali ini mau mikir apa, aku laper banget rasanya seluruh badan aku gemeteran, dari kemaren kemaren itu aku cuma makan seadanya apa lagi pas kamaren dari siang aku gak makan apa apa. setelah suapan terakhir pun rasanya perut aku masih terasa laper. "kamu masih laper"pertanyaan dari cowok ini benar benar bikin aku kaget, tau dari mana dia kalau aku masih laper. aduuuh jawab apa nih, kalau jawab iya malu banget, tapi kalau jawab enggak rasanya perut masih butuh dukungan makanan. aku lihat cowok itu tersenyum. "kamu mau makan apa, biar saya belik di kanti"aku hanya senyum canggung. "gak usah sungkan, anggap saya ini keluarga sendiri"ya udah deh dari pada dia maksa. "terserah apa aja boleh"aku liat dia seperti orang yang sedang berfikir. "seperti nya di kanti rumah sakit ini gak ada deh makanan nama nya terserah"aku tersenyum, emang nih orang yaaa lama lama gemesin. "belik saja apa yang ada di kantin, saya suka semua makanan" "oke saya akan membelikan semua makanan yang ada di kanti buat kamu"lalu dia berdiri dan keluar dari ruangan aku, dasar orang aneh. cuma sekitaran 30 menit dia udah balik. "lama ya, tadi saya cari makan di luar"dia mengeluarkan dua kebab turki, dan green tee. "saya gak tau selara kamu apa jadi saya hanya belik ini"dia menunjukan makanan yang baru saja dia belik. "iya, saya suka kebab"dia membantu aku makan kebab dan juga minum green tee. Setelah makan dia juga membantu aku minum obat. "mendingan sekarang kamu istirahat, saya akan tungguin kamu di sini"trus kalau aku pengen ke kamar mandi gimana dong. "kalau kamu pengen ke kamar mandi nanti saya minta tolong suster untuk anterin kamu"aku kaget dia ngomong gitu, tau dari mana dia isi hati aku, lama lama nih orang kek dukun deh. "iya, emang nya mas gak papa nungguin saya di sini, besok kan mas kerja" "gak, besok kan sabtu"aku tersenyum, iya juga sih besok kan weekend, begok banget sih lo nan. "ya udah kalau gitu saya tidur ya mas, selamat malam"setelah itu aku berbalik membelakangi dia dan memejamkan mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN