aku membuka mata ku, aku tidak menemukan cowok yang tadi malam, kemana dia.
gak lama setelah itu cowok itu masuk membawa sesuatu sepertinya makanan, dia melangkah menghampiri aku.
"pagi mbak, maaf ya tadi saya tinggal pulang soal nya saya harus mandi"eum pantesan dia sudah lebih ganteng, dia pakek baju kaos lengan pendek berwarna hitam yang di padu dengan celana berbahan katun Stretch berwarna krim tua.
entah kenapa mata ku tak ingin berpaling dari melihat dia.
apaan sih Keenan sadar, lo gak boleh malu maluin.
"iya mas gak papa"cowok itu membuka makanan bawaan nya, dia bawa bubur ayam dan segelas teh hangat.
"saya suapin yaaa"aku tersenyum mendengar pertanyaan nya, kenapa dia bertanya seperti itu.
dia mulai menyuapkan bubur ke dalam mulut ku, rasa nya enak banget.
"enak gak, bubur ini saya masak sendiri"aku kaget bubur seenak ini dia masak sendiri.
"enak, ternyata mas pinter masak yaaa"dia tersenyum.
"iya, sedikit"lama lama dekat dengan lelaki ini membuat kesedihan aku sedikit berkurang.
gak butuh waktu lama bubur ayam itu habis juga aku makan, kali ini bukan karna laper yaaa tapi memang karna rasanya yang bikin nagih.
"terimakasih untuk bubur nya"dia tersenyum dan menggangguk.
"iya santai saja, sudah seharusnya saya lakukan ini"apa maksud nya sudah seharusnya.
"kenapa"dia tersenyum, aku lama lama heran deh apa dia gak capek apa ke banyakan senyum.
"ya kan mbak anak dari almarhum pak arvan, saya kenal baik dengan keluarga mbak jadi gak mungkin saya gak perduli dengan mbak"apaan sih kamu Keenan, entah kenapa aku berharap dia menjawab lebih.
pintu kamar terbuka masuk seorang dokter di temani seorang suster.
"permisi, saya izin periksa dulu ya mbak"dokter cantik itu mulai menempelkan stetoskop di d**a ku, setelah itu pindah ke bagian perut, lalu dokter itu memeriksa perut ku di bagian kiri atas menggunakan ujung jarinya dengan cara sedikit di tekan, katanya asam lambung aku sudah mulai normal.
"nanti sore mbak Keenan sudah bisa pulang, tapi jangan lupa makan tepat waktu, tidur teratur dan jangan banyak pikiran.
"terimakasih ya dok"dokter itu tersenyum ke arah rafael setelah itu keluar dari kamar rawat ku.
"mbak mau makan pir biar saya potongkan"aku hanya mengangguk.
"mas, panggil nya Keenan aja ya karna kek nya mas seumuran dengan abg saya jadi saya kurang nyaman aja dengar mas panggil saya mbak"cowok itu tersenyum.
"o,iya pak adipati"aku menggangguk.
"saya belum pernah bertemu langsung dengan pak adipati, selama ini saya hanya mendengar nama nya saja"aku tersenyum.
"iya kak vano jarang di sini, kalau pun dia ada di sini dia jarang kekantor"aku lihat dia merasa heran saat aku menyebut nama vano.
"saya memanggil nya kak vano"cowok itu hanya mengangguk kan kepala nya.
"Keenan di rumah tinggal sama siapa"aku merasa kaget dengan pertanyaan nya, aku jangan sampek salah jawab, orang luar jangan sampek tau permasalahan keluarga aku.
"dengan adk saya vianka"aku hanya menjawab asal karna aku yakin dia gak kenal via.
driiiing,,,,,driiiing
tiba tiba handphone nya berdering.
"saya angkat telpon sebentar ya kee"aku hanya mengangguk.
lama banget yaaa, bosan juga sendirian disini, melirik jam di dinding sudah hampir jam 11.
mendingan aku tidur aja deeeh.
*****
saat aku membuka mata, aku melihat seorang suster sedang menyuntikkan cairan kuning kedalam infus ku.
"siang mbak"suster itu menyapa ku.
"udah siang ya sus"tanya ku padanya
"iya nih mbak udah jam satu, cowok yang nungguin mbak Keenan lagi sholat kayak nya"aku hanya mengangguk, kek nya suster ini sadar kalau aku lagi nyariin keberadaan rafael.
gak lama setelah suster itu keluar rafael masuk membawa stik kentang.
"kamu udah bangun"aku mengangguk, lalu berusaha untuk duduk. dia mendekat untuk membantu aku duduk.
"gimana kepala nya masih terasa pusing"
"udah gak terlalu"dia mengangguk lalu membuka nasi yang di bawakan suster tadi dan duduk di sebelah ku.
"kita makan nasi aja dulu ya, abis itu kamu minum obat"entah kenapa mendapatkan perlakuan manis dari rafael membuat hati ku merasa hangat.
dia mulai menyuapkan nasi pakek kuah soto dan ayam goreng, aku menikmati setiap suapan nasi kedalam mulut ku, aku gak tau kapan lagi aku bisa makan nasi setelah hari ini.
setelah minum obat aku menikmati stik kentang yang baru saja dia belikan untuk ku.
selama ini aku tidak pernah dekat dengan cowok mana pun selain kak vano, kakak ku sendiri.
jadi aku gak tau perasaan apa ini, aku merasa ada yang lain dengan hati ku saat aku dekat dengan rafael.
aku merasa rafael sedang memperhatikan wajah ku dengan detil, di tatap seperti ini aku jadi salah tingkah.
"kenapa, apa aku terlihat aneh"rafael terlihat kaget, dan dia juga terlihat salah tingkah.
"gak, saya melihat kamu seperti nya sangat menikmati apapun yang kamu makan"andai dia tau bulan ini hidup aku sangat apa ada nya, jangan kan makanan enak seperti ini, cabe di goreng pun akan terasa manis di mulut ku untuk saat ini.
"iya, karna tidak semua orang bisa makan dan seberuntung aku saat ini"entah lah omongan ku barusan seperti mendustai diriku sendiri.
"iya juga sih, kamu bosan gak, mau nonton atau mau keluar kita ke taman rumah sakit"ini kesempatan aku menghirup udara segar, udah selama ini di rumah aja dan sekarang malah bobok cantik di rumah sakit.
"ke taman kek nya enak"
"ya udah saya ambil kursi roda dulu yaaa"aku hanya mengangguk.
gak lama rafael balik membawa kursi roda.
setelah dia membantu aku pindah ke kursi roda, dia mendorong kursi roda ku keluar.
suasana rumah sakit yang terlihat rame membuat rasa kesepian ku selama ini terasa terobati.
rafael duduk di kursi panjang taman berwarna putih, udara di sini benar benar segar banget.
"kamu betah gak di sini"aku melihat ke arah rafael, aku merasa dia memang tipekal cowok yang sangat peka.
"iya, enak di sini udara nya segar"
"nanti sore kamu sudah bisa pulang, gimana kalau kita besok keluar jalan jalan"aku kaget mendengar ajakan rafael, gak nyangka dia akan berlebihan seperti ini.
"udah tenang saja, saya gak ada maksud lain kok, saya hanya berniat untuk menghibur kamu saja, saya lihat sepertinya kamu banyak beban, seperti banyak yang kamu pikirin"aku hanya tersenyum, aku bingung harus jawab apa.
"enggak, mungkin aku masih belum bisa menerima kenyataan kalau umi sama sama papi udah gak ada, jujur ini sulit buat aku"dia mengelus lembut rambut coklat milik ku yang mulai terlihat panjang.
"saya ngerti, saya juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan, karena sekarang saya juga sudah tidak punya orang tua lagi"aku melirik sekilas ke arah rafael.
"ayah saya meninggal saat umur saya 10 tahun karna kecelakaan, sedangkan bunda saya meninggal saat melahirkan saya"aku melihat mata rafael seperti berembun, aku bisa merasakan apa yang rafael rasa kan.
"jadi selama ini kamu tinggal sama siapa"sebenarnya aku tidak enak hati menanyakan ini pada rafael tapi entah kenapa aku merasa sangat penasaran.
"keluarga ku bekerja di keluarga sanjaya, jadi setelah ayah meninggal saya tinggal bersama mereka, saya banyak hutang budi pada keluarga sanjaya"aku tersenyum ke arah rafael, aku gak nyangka di balik senyuman rafael selama ini ada luka yang dia coba tutup rapat rapat.
"tapi kamu orang yang sangat kuat, aku yakin gak mudah untuk kamu melewati itu semua, tapi hari ini kamu bisa membuktikan kalau kamu bisa"entah kenapa air mata ku mengalir begitu saja.
"maaf kan saya, kalau kata kata saya mengingat kan kamu pada buk hanna dan pak arvan"aku menggeleng, aku hanya tidak bisa membayangkan apa kah aku siap dengan kemungkinan tentang fakta orang tua kandung ku.
"gak, saya hanya tidak menyangka kalau kita akan bertemu, dan cerita mas tadi bisa bikin saya yakin kalau saya juga bisa melewati ini semua"
untuk kedua kali nya dia mengeluh rambut ku.
"saya yakin kamu pasti bisa, saya yakin kamu wanita yang kuat"aku tersenyum ke arah rafael, entah kenapa setiap kata kata yang keluar dari mulut dia seperti vitamin penguat buat aku.
"kita balik aja ya, udah jam setengah empat, siapa tau kamu sudah bisa pulang"aku hanya mengangguk, aku sangat menikmati kebersamaan ku dengan rafael.
aku kembali pindah ke tempat tidur atas bantuan rafael pasti nya.
"o,iya skateboard kamu ketinggalan di makam, pas saya balik udah gak ada jadi besok saya ganti yang baru"aku malahan gak ingat lagi soal skateboard kalau dia gak ngasih tau.
"gak usah mas, gak papa saya pesan sendiri saja nanti, mas sudah sangat baik sama saya jadi saya gak mau ngerepotin mas lagi"
"gak, pokok nya kali ini kamu gak boleh nolak"
tiba tiba seorang suster masuk membuat obrolan kami terputus.
"selamat sore, mbak Keenan sudah bisa pulang"aku senang banget rasa nya akhirnya aku pulang ke rumah.
"sus, tolong bantu adk saya ganti baju saya urus administrasi nya dulu"adk, kenapa harus adk coba.
"baik pak"setelah itu Rafael keluar.
gak lama setelah itu rafael masuk dan mengendong aku melewati koridor rumah sakit, meskipun semua mata melihat ke arah kita tapi aku melihat rafael tidak terlihat risih dengan beberapa orang juga berbisik bisik di belakang kami.
saat memasuki mobil sport milik rafael, aku melirik ke arah nya sebentar.
"apa kamu gak risih dengan tatapan mereka"rafael tersenyum mendengar pertanyaan ku, dan memegang kedua pundak ku.
"kee, kalau kamu mau melihat kehidupan yang sesungguh nya kamu harus belajar tutup mata dan telinga kamu dari hal yang tidak bisa kamu kontrol, seperti hal nya tatapan mereka, apa yang mereka fikirkan tentang kita itu tidak penting yang terpenting apa yang kamu fikirkan tentang diri kamu sendiri"setelah itu rafael melajukan mobil nya, sudah lama aku tidak menikmati kota bandung di sore hari.
gak terasa mobil rafael sudah tiba di depan pagar rumah ku, setelah di klakson dua kali oleh rafael, aku melihat pak jono keluar dari pos.
"selamat sore pak"sapa rafael.
"sore pak, ada yang bisa saya bantu pak"aku melihat pak jono tidak berani membuka kan pintu karna memang di rumah tidak ada siapa siapa.
"saya rafael pak, saya mau mengantar Keenandra pulang"mendengar nama ku di sebut pak jono langsung membukakan pintu, dan keluar menghampiri mobil.
"non, bapak khawatir sekali sama non Keenan, non gak papa"aku tersenyum dan sangat merasa bersalah karna tidak menghubungi pak jono kemarin.
"kemaren saya pingsan dan mas ini yang tolongin saya, dan saya semalam nginap dirumah sakit"
"tapi non gak papa"
"gak papa kok pak, bapak gak perlu khawatir, oya pak tolong bukain pintu gerbang nya yaaa"
"baik non"pak jono membukakan pintu gerbang agar mobil rafael bisa masuk.
mobil di parkir pas di depan pintu rumah, setelah rafael membuka pintu rumah lalu dia kembali ke mobil untuk mengendong aku masuk kedalam.
"kamar kamu di mana"aku tunjukin kamar kak vano gak yaaa, tapi kasian juga kalau dia harus ngantar aku ke atas.
"di kamar yang kedua itu aja mas"perasaan kemaren pintu nya kebuka deh.
dia membaringkan tubuh ku di atas kasur kak vano, apa aku salah liat ya kok bisa kamar kak vano sudah sebersih ini, perasaan kemaren pas aku tinggal gak kek gini deh.
aku melihat rafael merasa aneh dengan foto yang terpajang di dinding kamar kak vano, cuma ada satu foto aku, yang lain semuanya foto kak vano.
"ini kamar kak vano, tapi selama dia gak di rumah aku yang menepati kamar ini"dia mengganggu mengerti.
"ya udah aku pulang yaaa, nanti malam aku kirim kamu makanan" aku kaget mendengar dia akan mengirim kan aku makanan, dia perduli atau kasian yaaa sama aku.
"gak usah mas makasih, saya gak mau nyusahin mas lagi"
"gak kok, aku senang bisa bantuin kamu"
"aku jalan ya"setelah rafael keluar aku mencoba memejamkan mata, rasanya badan lemes banget, gak terasa badan malah terlelap.