Bab 9. King Seven

1422 Kata
Ruangan kotak yang dikepung dinding kaca di lantai tujuh itu tampak lenggang. Isaac berdiri menghadap ke luar sambil menatap gedung pencakar langit yang ada di sekelilingnya. Dia masih belum menemukan bukti jelas dari penyelewengan uang bisnisnya hingga detik ini. Entah, sampai kapan si ular pengkhinat itu akan menampilkan diri, rasanya sudah tidak sabar untuk merampungkan semua. Mengisap cerutu kecil havana nomor lima, Isaac tak menoleh sedikit pun saat seseorang menyeruak masuk ke dalam. “Pagi, Bos.” Ada jeda beberapa detik, sebelum Isaac menyahut. “Pagi. Ada kabar terbaru?” Pria berjas rapi tersebut mengambil kartu undangan kecil dengan pita bernuansa emas dari kantong, lalu meletakkan di meja. “Benda itu dibawa ke pelelangan malam ini.” Isaac akhirnya menoleh, melangkah dua ayunan untuk membaca undangan yang ditujukan untuk kaum terbatas. “Siapkan uang tiga belas miliar, cash. Pastikan aku pemenangnya.” “Siap, Bos. Aku udah ngomong juga sama Linda.” Pemimpin dunia hitam yang saat ini paling ditakuti itu tampak mengeraskan rahang. Ponsel di saku bawahannya berdering. Lelaki muda itu menjauh dari Isac untuk menerima panggilan. Dua menit kemudian, kembali mendekat. “Linda barusan konfirmasi, kita jalan jam delapan malam.” Begitu anak buahnya pamit, Isaac terdiam dalam hening. Dia tidak menyukai dibodohi oleh siapa pun. Berjuang sejak masih kecil agar bisa diakui oleh dunia, Isaac tak pernah membiarkan dirinya diremehkan. Sikap dan tindakan Isaac memang kadang keji dan tak kenal ampun, tapi beberapa bulan ini dia mulai melunak terhadap seseorang. Lana Bastin …. Gadis itu telah menjadi bagian dari hidup Isaac, dalam ketidak sengajaan dan mengubah sekelumit kecil dunia kerasnya. Benak Isaac tak bisa menghentikan kenangan silam yang baru beberapa bulan lalu terjadi …. [-] Perempuan muda tersebut tampak ringkih dan pucat. Isaac menikahinya sehari lalu dan memboyong ke rumah. Lana Bastin adalah nama perempuan muda yang baru menginjak usia sembilan belas tahun saat menjadi istrinya, pria terkaya di kota tersebut. “Ini kamarmu, semoga kamu nyaman dan betah.” Menggigil dengan wajah penuh tekanan, Lana menahan tangis sekuat tenaga. “Kenapa? Aku nggak akan menyakitimu, Lana.” Isaac mencoba meyakinkan, jika dia tak akan melakukan hal buruk padanya. Lana tetap duduk dengan tubuh gemetar, melirik Isaac penuh gentar. “Ayahmu, Johan, adalah pria yang kukenal. Kami bertemu semasa muda dulu, terpisah oleh takdir berbeda. Aku turut berduka, karena dia pergi begitu cepat.” Lana yang semula takut, akhirnya mulai memberikan kepercayaan penuh setelah tahu jika Isaac adalah lelaki yang mengenal baik ayahnya. Ia memperlakukan gadis itu dengan baik, tak pernah membentak atau mengasarinya. Lana juga tidak pernah tahu, perusahaannya berjalan di bidang apa. Isaac selama ini menyimpan rapat-rapat akan status Lana sebagai istrinya dari publik. Persaingan bisnis yang ketat membuat resiko keselamatan keluarga mereka sering terancam. Isaac memutuskan untuk terus menyembunyikan keberadaan Lana dari siapa pun. Sejak awal dia hanya ingin menjauhkan Lana dari bahaya. Lambat laun ... sama sekali tidak pernah dia pikirkan sebelumnya, jika Lana memberikan dia sebuah perlakuan paling manusiawi dalam hidup Isaac. Di mata gadis muda itu, Isaac adalah pelindung dan bukan mafia kejam yang disebut sebagai King Seven. Cara Lana berbicara dan mengikuti segala perintahnya bukan disebabkan karena takut. Isaac bisa merasakan ketulusan itu. Satu-satunya hal yang membuat Isaac belum menyentuh Lana adalah rasa sungkan. Dia jauh lebih muda dari anaknya Pascal, Lana mungkin tidak pantas untuk dia jadikan sebagai istri. Meski semua kaum hawa mengatakan jika Isaac adalah lelaki tampan matang yang mengairahkan, tapi dia sendiri tidak pernah merasa demikian. Hidupnya penuh dengan hal serius, bersenang-senang bukan prioritas Isaac. Berusaha menepis rasa untuk Lana, Isaac tak lagi sanggup menampung. Lambat laun, ada sesuatu yang berkembang dalam dirinya dan Isaac tak bisa menghentikan. Bagaimana dia akan mengubah janji itu kepada Lana, sedangkan Isaac terlanjur mengatakan untuk tidak pernah menyentuhnya? [-] Berjalan memasuki ruang pertemuan, kursi yang ditata dua baris–kanan dan kiri, itu tampak sebagian terisi. Isaac berjalan terus dengan topeng menutupi wajahnya, menaiki lantai dua dan duduk di kursi khusus yang tersedia untuk dia. Memantau pergerakan yang berlangsung di bawah, manusia-manusia yang menyembunyikan muka dengan topeng seperti dirinya itu terlihat begitu tak sabar menanti pelelangan. Suara tiga palu diketuk terdengar. Juru lelang naik ke podium dan mulai meminta perhatian semuanya. “Malam ini, kami akan mempersembahkan sebuah mahakarya yang telah diincar para kolektor dunia.” Seiring juru lelang menoleh ke kiri, selubung beludru hitam itu diangkat asistennya dan kotak kaca seukuran 1 x 1 meter terlihat jelas. Sebilah belati bergagang emas tertahtakan berlian terdapat di dalam, di atas bantal berwarna merah tua. Semua mata tertuju ke sana, ekspresi mereka tampak begitu ambisius untuk memilikinya. Meski hanya terlihat seperti belati mewah, tapi ada kisah mitos yang santer beredar. Belati yang bernama Dagger of Midas itu dipercaya bisa menunjukkan mereka pada lokasi harta karun peninggalan raja Midas yang melegenda sebagai penguasa tamak. Dulu, raja yang akhirnya musnah oleh ambisinya sendiri itu bisa mengubah segala sesuatu menjadi emas hanya melalui sentuhan belaka. Berharap bisa seberuntung Midas, mereka yang datang ke tempat ini mencoba keberuntungan untuk memiliki Dagger of Midas tersebut. Juru lelang memulai acara pelelangan dengan membuka harga awal. Satu persatu tongkat dengan bagian atas terdapat kertas bulat nomor masing-masing, mengangkat untuk mulai menawar. Persaingan berjalan sengit. Salah satu dari mereka adalah seseorang yang Isaac incar. Dia tak berminat sama sekali, terhadap belati itu. Isaac lebih tertarik untuk meringkus pria yang akan memberikan informasi mengenai pengkhianatnya. Tiba pada angka yang mendekati sepuluh miliar, tiba-tiba Isaac mengangkat tongkatnya. “2,8 miliar, untuk belati itu!” Juru lelang menatap ke atas, tersenyum lebar. “Dagger of Midas di harga 2,8 miliar, tawaran terakhir, satu, dua, tiga … terjual kepada penawar nomor tujuh!” Palu itu mengakhiri pelelangan hari ini. Isac tampak puas, mengangguk penuh kebanggaan. Semua yang ada di bawah menengok ke arah Isaac berada. Beberapa menggerutu, mencibir kesal, sebab penawar terakhir berhasil mendapatkan keberuntungan tersebut. Lelaki itu tak ingin mengikuti pelelangan selanjutnya, Isaac berbalik pergi. Belum sampai tiga langkah berjalan, tiba-tiba seseorang dengan topeng hitam beraksesoris bulu gagak di ujung kiri, menghentikan. “King Seven!” Isaac urung mengayun langkah ketiga. Ia tak menoleh, tetap berdiri dengan sikap angkuh membelakangi. Meski begitu, pancingannya berhasil. Pria yang dia inginkan kini menghampiri. “Aku membutuhkan belati itu!” Orang yang mungkin seumurannya itu berjalan mendekat, memutari tubuh Isaac lalu berdiri di depan. “Jika harus membayar harga tadi, aku siap. Tapi, kumohon, berikan Dagger of Midas padaku.” Wajah Isaac tampak dingin, tak menunjukkan perubahan apa pun. “Aku sudah memenangkannya, itu berarti belati tersebut milikku,” balasnya dengan suara datar. “Belati itu bukan hanya sekedar perhiasan belaka, King Seven. Ibuku mewarisinya sepuluh tahun lalu dan seseorang mencuri dari dia. Aku hanya ingin mendapatkan kembali, sebagai hadiah untuk beliau sebelum masuk ke peti jenazah.” Isaac melekatkan pandangan itu pada pria di hadapan. “Maaf, aku tidak berminat melakukan aksi sosial hari ini. Lupakan keinginanmu untuk memilikinya.” Ia siap berlalu, tapi pria itu menghadangnya. “Tolonglah, aku siap memberikan apa pun padamu ….” Dalam hati Isaac bersorak gembira. Ternyata tak begitu sulit mendapatkan target agar masuk ke umpannya. Namun, Isaac adalah pria yang memiliki strategi luar biasa supaya dia tak mengesankan sedang membutuhkan sesuatu. “Huft ….” Pura-pura sedang menimbang, Isaac tak segera mengiyakan. “Aku butuh waktu berpikir, karena belati itu bisa memberiku keuntungan besar.” Lelaki yang tampak putus asa tersebut melangkah satu ayunan lebih dekat, hingga jarak mereka tak lagi ada. “Aku bersiap menjadi rekan dan temanmu, King Seven. Kita berdua bisa menjalin bisnis saling menguntungkan, aku benar-benar menginginkan belati itu. Bukan untuk mencari harta karun bullshit, tapi demi ibuku. Kamu dan aku memang b******n, tapi mengenai keluarga, mereka haruslah nomor satu bukan?” Kalimat yang terucap dengan sungguh-sungguh itu memang sangat menggugah, tapi Isaac bukan pria lemah. Dia tak akan termakan alasan melankolis apa pun. “Telepon aku dua hari lagi.” Isaac memberikan kartu namanya. “Mungkin aku sudah memiliki keputusan untuk permintaanmu tadi.” Tersenyum lega, pria yang dikenal sebagai bankir terkemuka di kota mereka mengangguk. “Thanks.” Isaac menaikkan dagu, lalu kembali melanjutkan langkah seiring pria tadi bergeser untuk memberikan jalan untuknya. Menargetkan bankir yang bernama Rudolf Pasean, Isaac berharap lelaki itu bisa memberikan sedikit informasi tentang aliran uang di kota ini. Dia harus melacak kemana raibnya uang yang tercuri dalam operasional kasino. Jika saja terdapat mutasi bank, akan lebih mudah menyelidiki. Namun, si maling ini terlalu licik dan cerdas. Uang yang diambil adalah dari cash, sebelum laporan keuangan masuk. Sekian lama diam, Isaac mulai membuat gerakan. ‘Tujuh tahun berjalan dan aku sudah muak … kalian mencari masalah dengan King Seven, bersiaplah mati.’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN