Wajah bengap Lukman tampak menyedihkan, ternaring di ranjang pasien dengan beberapa plester di muka dan lengan. Mona menatap suaminya sementara melakukan panggilan ke pengacara.
“Aku mau menuntut Pascal Maximus, Ren! Kamu tuh tuli atau apa?! Kok dari tadi nanya Pascal siapa sih!” Suaranya mulai meradang, Mona berjalan menuju dinding kaca ruang opname.
[Astaga, Mbak! Serius mau nuntut dia? Masalahnya apa?]
“Dia udah nonjokin Lukman tanpa sebab! Cuman gara-gara salah paham, si anjing Lana, bininya kakakku, ngaku-ngaku kalo mau diperkosa sama Lukman! Otaknya udah gila atau gimana? Tampang pembantu aja ngarep bisa menarik suamiku!”
Lukman tersenyum dengan seringai licik. Betapa mudah memanipulasi Mona, yang terlalu memujanya dalam segala hal.
[Duh, tunggu dulu deh! Aku liat jadwal, ntar kukabarin secepatnya]
“A-apa? Jadwal apa lagi? Aku butuh pengacara sekarang, bukan …. halo! Halo! Rendi! Sial!”
Panggilannya sudah dimatikan dan Mona memekik kesal. Sudah empat pengacara yang dia hubungi, tapi tak ada satu pun yang menanggapi. Mona kian geram, menganggap semua mengabaikan dirinya yang notabene adik dari Isaac Morino.
“Sayang, udahlah. Nanti aja nyari pengacaranya, aku pusing denger kamu marah-marah,” keluh Lukman. Padahal, dia sangat cemas jika Mona benar-benar mendapatkan pengacara untuk menuntut Pascal.
Ulahnya pasti akan terbongkar, nasib Lukman bakal tamat di tangan Isaac sendiri. Dia tidak siap mati atau terlempar ke jalanan seperti dulu. Ia berhasil menikahi Mona yang diperdaya dengan aksi ranjangnya, adik Isaac itu berakhir tergila-gila sampai sekarang, walau Lukman adalah pengangguran dan tak pernah bekerja.
“Iya, kamu kesakitan gini aku jadi nggak tega,” balas Mona, menghampiri suaminya dan mengelus pipi Lukman yang bengkak.
“Mendingan kamu desak Lana aja, buat minta Pascal minta maaf ke aku. Itu perempuan sial pasti nggak bakal berani nolak.”
Dengan akal bulus yang tak pernah habis Lukman pikirkan, dia selalu mempunyai ide untuk keluar dari kecerobohannya.
“Iya, deh. Aku temuin si anjing itu. Biar kamu dapat harga dirimu lagi.” Mona tersenyum, mengecup tangan Lukman yang juga menarik sudut bibir miring.
‘Mona … oh … Mona, perempuan paling naif dan bloon. Tapi, aku butuh kamu untuk hidup nyaman.’
[-]
Pria bertubuh tambun dan perut buncit itu duduk di kursi direktur. Dia menatap Mirah dan Indra bergantian. Mata sipitnya mengernyit, meninggalkan lengkung segaris. Taksiran usianya mungkin sekitar lima puluhan. Meski tubuhnya gempal, tapi postur tinggi itu mengesankan wibawa.
Jari-jarinya mengetuk meja. Cincin emas dengan jejeran berlian tiga karat melingkar di jari tengah, pria yang kerap dipanggil Koh Lim tersebut. Mata Mirah sesekali melirik pada perhiasan itu, berharap suatu saat ia beruntung mengenakan di salah satu jemari lentiknya.
“Utang duit kagak kira-kira loe berdua. Semiliar tanpa jaminan, emangnya loe sanggup balikin?”
“Bisa, Koh. Bisnis kita sebulan dapet lebih dari itu. Tapi, berhubung kemaren itu sempet ada sidak patroli, makanya kita sering tutup. Ditambah lagi pandemik kan, makin terjungkal deh kita.” Indra memang pandai bersilat lidah.
“Nah, kalo sepi, gimana mau balikin sama bunganya?” cibir koh Lim sinis, seketika pesimis.
“Yakin banget bisa, Koh. Minggu ini rame. Kita dapet untung seminggu tiga ratus juta, tapi udah dibayar buat tuntutan sialan itu. Tolonglah, Koh. Kita ‘kan udah kenal baek lama.” Bujukan Indra tidak membuat koh Lim luluh.
“Masak bisa sih. Nggak percaya gua.” Koh Lim menggelengkan kepala ragu. “Kita ngomongin semiliar, bukan seratus dua ratus juta, Ndra!”
Mirah akhirnya mulai beraksi. “Koh, cuman sekali ini kok. Lagian, kalo memang ada syaratnya, kita berdua sanggup buat menuhin.”
Pilihan pakaian yang Mirah kenakan hari ini menunjukkan belahan d**a montoknya. Saat dia menyilangkan kaki, gaun pendek itu memperlihatkan lembahnya yang tidak memakai dalaman.
“Pikir dulu deh, Koh.” Indra tahu, jika mata koh Lim mulai fokus pada kemolekan tubuh Mirah. Berpura-pura ada panggilan, lelaki itu permisi dan keluar ruangan.
Kini tinggal berdua saja, Mirah menggunakan kesempatan tersebut untuk beraksi.
“Kalo nggak kepepet, mana mungkin dateng ke sini sih, Koh. Aku ini janda, kalo nggak dibantuin Indra, mungkin udah jadi gembel.”
Memasang wajah sedih, Mirah menunduk dalam-dalam. Sikap itu benar-benar tampak menggemaskan di mata koh Lim. Dia membasahi bibir saat melihat gundukan di d**a menyembul kian keluar. Aerola cokelat itu bahkan mulai mengintip. Tubuh putih mulus Mirah membuat jakunnya turun naik.
“Loe beneran janda?” tanyanya dengan napas cepat.
“Iya, Koh. Kan pas itu Koh Lim udah pernah nanya juga.” Mirah memandang dengan mata sayu.
Pria tersebut memberi isyarat agar wanita itu berdiri dan mendekat. Berakting takut-takut, Mirah melangkah untuk memutari meja.
Tangan itu mengelus kaki jenjang milik Mirah dengan usapan pelan, sementara mata koh Lim menatapnya.
“Nggak pernah ngalamin enak dong? Atau, jangan-jangan … sama Indra udah digarap?”
Mirah mendelik. “Eh, Koh, mau ngapain? Aduh, masak tega nuduh aku kayak gitu?”
Berusaha menghindar dengan melangkah mundur, koh Lim semakin gemas dan penasaran dibuatnya.
“Sini, jangan pergi. Mau dienakin juga.” Tangannya menarik pinggul Mirah dan mengunci dalam dekapan.
Wanita yang bersorak kegirangan dalam hati itu akhirnya pasrah. Tangan koh Lim membuka kancing depan gaunnya tidak sabar. Dua benda kenyal yang masih tampak ranum dan padat itu segera dia kulum bergantian. Mirah meronta, mendorong bahu lelaki tersebut tanpa tenaga.
“Oooh, ja-jangan, Koh. Oooh, aaah … ja-jangan ….”
Mirah mengakui, jika pria oriental tua itu sangat pandai memainkan lidahnya. Kulumannya begitu lembut dan menggairahkan. Selama ini hanya menikmati kehangatan bersama Indra, mungkin sesekali mencoba yang lain tidak ada salahnya.
“Ooh, aaah, Koooh.” Mirah mulai mendesah manja.
Pria itu tampak senang, sebab mangsanya menikmati sentuhan tersebut. “Tenang, pasti dijamin enak.”
“Nanti ke-ketahuan … ooh, aaah, ssss, hmph ….” Mulut itu terus mengeluarkan desahan yang membuat lelaki tersebut terangsang.
Koh Lim berdiri, lalu menaikkan tubuh Mirah ke meja.
“Mau ngapain, Koh? Jangan … aduuhh ….”
Kedua kaki itu dia buka paksa, seiring mata si lelaki terbeliak. Jari besarnya mengusap lembah yang sudah basah dan menguak lipatan rapat.
“Kemaluan loe bagus, masih merah kayak perawan.” Pujian tersebut membuat Mirah mulai bernafsu.
Saat koh Lim menggarap k*********a, Mirah terpejam dan racauan itu kian menjadi. Dalam hati, Mirah memuji kelihaian lelaki itu memainkan lidah dan jarinya.
Lima menit diperlakukan demikian, Mirah mengejang hebat dan menjerit keras. Dia menjambak rambut pria itu, sambil menaikkan pinggulnya. Koh Lim tampak senang, sukses membuat wanita tersebut puas.
Dia mengusap mulut, lalu menurunkan resleting celananya. Begitu melihat benda tumpul yang ternyata menggiurkan, Mirah merasa beruntung hari ini!
Lelaki itu mendekatkan kejantanan di liang inti Mirah yang spontan menggelengkan kepala.
“Cukup, Koh. Jangan diteruskan,” pintanya, pura-pura memohon.
“Loe bakal ketagihan, rasain dulu.” Dengan gerakan kasar, pria tersebut menekan dalam-dalam.
‘Gilaaa! Lebih gempal dari punya Indra!’ batin Mirah memekik.
Mengayun tubuh cepat, koh Lim membuat lawan mainnya kelabakan. Mata Mirah merem melek, menikmati hempasan tubuh yang membawanya ke langit. Kini tak ada lagi penolakan, Mirah lama-lama menikmati juga.
Dia bahkan meminta untuk tidak berhenti, hingga lelaki yang menggarapnya semakin ganas menyerang tubuh tersebut. Berbagai gaya mereka lakukan, stamina pria tua itu ternyata lumayan bagus.
Empat puluh menit berlalu, Mirah sudah merasakan puncak berkali-kali. Saat gelombang klimaks berikutnya akan datang, koh Lim juga berteriak dan meledakkan lahar dengan seruan keras.
Keduanya tampak loyo dan lemas. Pria itu menarik diri dan mengenakan kembali celananya. Mirah meraih tisu, membersihkan sisa-sisa dari kenikmatan mereka.
“Gimana? Enak?”
Dengan senyum lebar, Mirah mengangguk.
“Besok-besok kalo pengen, kemari aja. Gua layani loe sampe lemes.”
Mirah mengangguk dengan wajah penuh bahagia.
“Duit udah gua kirim tuh. Jangan lupa, besok dateng lagi.” Koh Lim tersenyum, begitu juga Mirah.
Hari ini sepertinya dia ketiban rezeki nomplok!