Love 23

1115 Kata
Tae masih berada di rumah Soogi. Ia telah mengungkap apa yang ia inginkan. Namun, Soogi masih tak mengerti mengerti mengapa Tae bisa berpikir sejauh itu. Bahkan berniat untuk bertanggung jawab. Meski dalam hati kagum juga bahwa masih ada pria seperti si pemilik senyum kotak, yang bahkan ingin bertanggung jawab meski belum tentu ia mengandung. "Tujuan kamu itu aja?" "Aku serius Noona, aku nggak mau anak itu lahir tanpa ayah nanti," jawab Tae yakin. Ia yakin sekali jika perempuan di hadapannya akan mengandung benih cinta mereka. "Aku nggak hamil," ucap Soogi yang sebenarnya tak tahu juga apa yang ia katakan itu benar. Karena ini baru seminggu sejak mereka berhubungan. Hamil atau tidaknya ia belum bisa memastikan. "Coba cek," tantang Taehyung. "Yaudah, tunggu." Soogi berjalan ke kamarnya. Soogi masih memiliki tes pack di kamarnya. Ia memang sengaja membeli untuk mengecek tapi bukan sekarang. Ia menunggu beberapa Minggu lagi. *** Sementara Jijji kini berada di rumah Reya, ia bersama Jimmy dan Reya menonton televisi. Kartun kesukaan anak itu. Reya sesekali mengusap rambut panjang Jijji. "Jijji gimana sekolahnya?"tanya Reya. "Baik imo, Jijji kemarin dapat beasiswa tapi ... Ibu larang untuk ikut," jawab Jijji sedikit merasa sedih kembali mengingat. "Tapi, enggak apa-apa sih, Jijji juga mau sama ibu aja di sini," lanjutan Jijji diiringi senyum berusaha menerima. "Jijji pinter, nurut sama Ibu," puji Jimmy sambil mengangkat kedua ibu jarinya.. Jijji memerhatikan Jimmy dan Reya bergantian. "Imo Reya, Jijji kira pacarannya sama om putih salju," ujar Jijji ia teringat ucapan duoB beberapa waktu lalu. "Hehehe," Reya hanya terkekeh ia tak tau juga bagaimana harus menjawab pertanyaan Jijji. Pun ia tak enak pada Jimmy. "Imo sama Om putih salju cuma sahabat. Calon suami imo ya om Chimin." Jimmy menatap Jijji sambil tersenyum, kemudian mengacak rambut gadis kecil yang saat ini duduk di antara ia dan Reya itu. Jijji mengangguk seolah mengerti. Ia kemudian terdiam, berpikir mengingat sesuatu di otaknya. "Tapi, kata Bonbon, imo sayang sama om putih salju." Ujar Jijji dengan wajah serius, mengingat ucapan Bonbon yang pernah ia dengar. Jimmy menatap Jijji, "Kenapa Bonbon unni ngomong begitu?" tanya Jimmy penasaran kenapa Bonbon begitu yakin dengan ucapannya, juga bisa menyimpulkan seperti itu. "Mmm, Jijji nggak boleh ngomong. Tapi, Bonbon unni nggak mungkin bohong." Jimmy menatap Reya sekilas. Reya menatap Jimmy, menggendik, Mempoutkan bibirnya. Jimmy mengusap kepala Reya. Seolah mengatakan bahwa ia tak masalah dengan itu. Setelah film Tangled habis, Reya mengganti pakaian Jijji.dan mengajaknya untuk yidur ke kamar bersama dengannya. "Jijji tidur sini ya." Ucap Reya berjalan menuju tempat tidur. Jijji naik ke tempat tidur, "Imo tidur mana?" "Di kamar tamu." "Sama om Chimin?" Reya hanya terdiam sambil membenahi selimut Jijji. "Kasur di kamar tamu kecil kan imo. Emangnya muat?" tanya Jijji polos. "Nanti om Chimin tidur di depan sayang," Jijji mengangguk. Reya kemudian mematikan lampu di kamarnya setelah memastikan posisi tidur anak itu nyaman. Ia melangkahkan kakinya keluar. "Nite Jijji." "Iya imo, nite-," Reya menghampiri Jimmy yang masih duduk sambil menonton televisi. Ia kemudian duduk di samping Jimmy dan menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih. Ia sejujurnya merasa tak enak akibat pembicaraan dengan Jijji tadi. "Maaf, Jim—" "Untuk?" "Aku belum cerita kalau aku pernah pacaran sama Yunki." Cup Jimmy mengecup kening Reya kemudian mengusap kepala Reya. "Ceritain semua kalau kamu udah siap ya." Reya mengangguk, ia juga belum bisa menceritakan semuanya sekarang. Namun, ia akan menceritakan semua saat sudah merasa lebih siap, bukan sekarang. *** Namjun turun dari mobilnya ia memerhatikan Seojin dan Minji yang masih duduk di kursi tunggu sambil membaca naskah. Ia lalu berdiri bersandar di mobilnya. Tak lama giliran Minji dan Seojin untuk pengambilan gambar. Namjun menatap dengan antusias. Melihat kekasihnya melakukan akting. Minji terlihat begitu profesional, ia bisa berlakon dan mengucapkan naskah dengan intonasi baik. Disana jin berdiri seolah marah pada Minji. Buat wanita itu meronta coba melepaskan genggaman tangan Seojin. Kemudian berjalan cepat meninggalkan Jin. Setelahnya, pria itu berlari mengejar Minji, menarik tangan dan dengan cepat mencium Minji Deg! Ia tau ini hanya akting tapi, ia merasa cemburu dan sedikit terluka. "Aah, seharusnya aku nggak liat ini," ucap Namjun kemudian berjalan cepat ke mobilnya dan segera meninggalkan tempat itu. *** Ruang latihan, masih terdengar dentuman musik. Bongbong menemani Heosok di sana Ia memperhatikan gerakan tari Heosok dengan teliti. Squinoid itu memerhatikan hingga mulutnya terbuka. Tiap gerakan tari yang ia lihat di rekam baik dalam otaknya. Sebenarnya, tadi ada Minmin dan Jeon-gu tapi, mereka sekarang entah ke mana. Biasa mereka ingin menghabiskan waktu untuk berkencan sepertinya. Musik terhenti, Heosok menghampiri Bongbong. Mengambil handuknya, dan menyeka keringatnya. Ia lalu engusap kepala Bongbong layaknya adik sendiri. "Om, aku bisa nari kaya Om," ucap Bongbong. "Heh bener?" tanya Heosok penasaran. Bongbong mengangguk, ia kemudian berdiri dan pria itu kembali menyalakan musik. Musik dimulai dan Bongbong mulai melakukan gerakan yang tadi ia lihat. Tiap detail gerakan bahkan di lakukan di ritme yang tepat. Heosok menatap nmdengan terkejut. Karena baru kali ini Bongbong melihat tariannya, dan ia bisa menghafalkan semua detailnya. *** Setelah hasil tes pack keluar. Soogi berjalan keluar dari toilet dan berjalan kembali ke luar menuju ruang tamu menghampiri Tae. Ia menunjukan hasil negatif pada pria yang merasa berhasil membuatnya hamil itu. Tae menatap hasil yang diberikan Soogi. Ia terdiam entah apa yang ada dipikirannya. Ia hanya fokus pada satu strip garis di hadapannya. Ia menatap tepat di garis itu. Tertunduk dan fokus. Soogi menatap pria di jadapannya, berharap bahwa Tae mengerti dan mundur dari keputusannya. Bukan ia tak senang karena Tae bersedia bertanggung jawab. Namun, ia merasa Tae belum siap untuk itu. Tae kemudian menatap Soogi dengan tatapan bingung. "Ngerti kan sekarang?" "Noon, ini artinya apa?" Jedeerrr Soogi memegangi kepalanya yang pusing mendadak. Ia pikir Tae mengerti, ternyata? "Aku kira kamu diam, kamu ngerti." "Aku diam mikir ini artinya apa? Kalo garis merah artinya positif kan nun? Garis biru negatif? Kaya magnet?" Taak! Soogi dengan sukses menyentil kening Tae. "Aakhh!" Pekik Tae. "Ini tes pack bukan magnet! Kalau garis satu namanya negatif, garis dua positif," Tae mengangguk, "yaudah kita tetep nikah noon," "Loh?" Taemenatap serius. "Aku suka kamu." Deg! *** Nami masih berada di gedung apartemen yang menjadi dorm BTL saat ini. Karena ia melihat semua member sepertinya ke luar tadi. Ia mengendap berjalan agar bisa masuk ke sana. Sampai di lantai tiga ia berusaha bersikap biasa. Seolah akan membersihkan ruangan. Berjalan menuju apartemen BTL. Langkahnya terhenti tepat didepan pintu. Ia kemudian mengambil sebuah alat yang diberikan Samsoel padanya. Yang bisa digunakan untuk mengacak kode pintu agar bisa terbuka tanpa mengetahui kode pintu. Ia menempelkan alat di atas alat. Kemudian menekan tombol on pada alat itu. Setelahnya, ia menekan tombol oke pada alat yang ada di pintu. Dan— Triingg Pintu apartemen terbuka, Nami terdiam sesaat. Ia kemudian melangkah masuk. "Siapa kamu?" Tanya seseorang mengagetkan langkahnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN