Noid 24

1253 Kata
"Siapa kamu?" tanya Bonbon mendapati Nami berada di depan pintu. Langkah Nami terhenti. Nafasnya menjadi lebih cepat, ia takut tentu saja. Jika tertangkap ini akan membahayakan dirinya. "A—a." "Aa— Kamu tukang pizza?" tanya Bonbon lagi belum sempat mendengar jawaban Nami. "Maaf?" fanya Putri bingung. "Mana pizza aku?" Tanya Bonbon sambil mengangkat tangannya. Saat itu. Pizza Nami terselamatkan dengan kedatangan pengantar pizza sebenarnya. Bonbon melirik ke luar sesaat ia menatap dengan curiga. Tapi kemudian ia memberikan uang pada putri. "Terima kasih eonni," ucapnya sooan diiringi anggukan. "A-ah iya sama sama," sahut gadis itu gugup. Nami menoleh ke arah pengantar pizza, ia lalu menyerahkan uang yang diberikan Bonbon dan memberikan pizza pada squinoid itu. Setelahnya dengan cepat berjalan cepat, mengikuti langkah si tukang pizza di depannya. Agar segera lepas dari situasi yang menyudutkannya. Bonbon berjalan masuk, dan menonton televisi. Ia menatap ke arah kamar Yunki. Tadi saat ia meminta uang pada Yunki, pria itu hanya pasrah biasanya ia akan marah terlebih dahulu. Sambil memakan pizza-nya ia berjalan kembali dan mengintip. Melihat, tubuh Yunki yang semakin lemas ia tidur meringkuk. "Ayah," panggilnya pelan, sambil menatap dengan takut-takut. Yunki tak menyahut. Pria itu rebah dengan tubuh yang terlihat lemas. "Ayah,"" panggil Bonbon dan saat ini lebih keras. Lagi-lagi Yunki tak menyahut. Bonbon berlari mendekati Yunki, yang saat ini pingsan. Ia memegang kening sang ayah yang demam dan berkeringat. Bonbon bingung, ditambah lagi saat ini di sana tak ada siapapun. Bonbon mengambil ponsel Yunki yang tergeletak di sebelah bantal si pucat. Baru, saja ia akan melakukan panggilan. Bonbon mendengar suara inti terbuka, ia segera berlari. Di depan kamar ia melihat Namjun yang saat ini menatap bonbon dengan bingung. "Om-om itu-itu itu om," ucapnya dengan terbata tak bisa ia ungkap. Jelas ini tak dimengerti Namjun, apalagi Bonbon saat ini masih berusaha mengunyah makanannya. "Telen dulu," pinta sang leader. Bonbon berusaha mengunyah dengan cepat dan menelan pizza di mulutnya. Setelah itu ia berbicara pada sang paman . "Ayah, aku panggil nggak jawab dan enggak gerak Om." Panik Bonbon. Namjun tak kalah panik ia segera berlari ke kamar dan melihat Yunki yang terbaring lemah sat ini tubuhnya bersimbah keringat. "Hyung," Namun coba memanggil. Tapi sama sekali tak ada reaksi dari Yunki. "Dari tadi dia pingsan?" Tanya Namjun. Bonbon berpikir sejenak, "tadi sembilan menit dua puluh tiga detik yang lalu masih sadar. Kasih aku uang untuk bayar pizza." Namjun, menghela nafasnya. Akurat sih, tapi entah jawaban polos Bonbon malah membuatnya bingung saat ini. Akhirnya, pria berlesung pipi itu bergerak membopong Yunki. Bonbon mengikuti dari belakang. Namun, ia kembali sebentar ke ruang tengah mengambil dua potong pizza dan kembali mengejar sang paman, sambil menumpuk pizza dan memakannya. *** Reya masih terpejam, bersama Jimmy dalam satu selimut. Tak perlu di tanya lagi apa yang mereka lakukan semalam. Pasti saling menghangatkan diri seperti biasanya. Kkliik kliik Mendengar suara pintu yang akan terbuka Reya reflek menendang Jimmy yang buat pria itu jatuh ke bawah. Dalam keadaan polos tubuh Jimmy berhadapan langsung dengan lantai yang dingin. Jimmy coba dapati kesadarannya ia menggaruk kepalanya dan coba membuka mata. Lantai dingin buat ia berusaha tutupi tubuh dengan tangan apalagi, dari semalam hujan. Reya kemudian dengan cepat melempar salah satu selimutnya. Tepat saat itu pintu terbuka memperlihatkan sosok Jijji yang berjalan masuk. . "Imoo," Jijji terbangun, masih sambil mengusap matanya belum sadar sepenuhnya kini ia berjalan menghampiri Reya. Beruntung Reya sempat berpakaian semalam jadi tak buat dia bingung menghadapi Jijji pagi ini. "Kenapa Jijji?" "Jijji masih ngantuk, Jijji tidur sini ya?" tanya Jijji kemudian berjalan menghampiri Reya dan tidur di sebelah Reya. "Om Nchim nggak ada imo? Kemana Om Jimmy?" "Hmm? Aah, mungkin om lagi di toilet?" Reya coba menjawab. Jijji mengangguk, ia percaya saja. Gadis kecil itu tak mungkin berpikir jika Jimmy saat ini tengah meringkuk di lantai tanpa pakaian, dan hanya mengenakan selimut sebagai penutup tubuh. Sementara Jimmy hampir menggigil karena kedinginan ditambah ia tak sempat berpakaian semalam. Ia sempat menyesal karena terlalu lelah buat ia malas bergerak. Kulit-kulit di tubuhnya berhadapan langsung dengan lantai yang dingin. Reya menutup semua tubuhnya dan Jijji dengan selimut. Sementara kakinya ke bawah menyenggol Jimmy dan memberi kode untuk pria itu agar segera keluar. "Kenapa ditutup imo?" Tanya Jijji. "Jijji bilang takut hujan kan? Jadi kita sembunyi disini. Anggap aja kemah," ucap Reya berusaha senatural mungkin agar anak itu tak curiga. Sementara Jimmy segera berjalan ke luar dengan terburu-buru. Ia menyelimuti tubuh dengan selimut pemberian Reya. Lalu membuka pintu dengan perlahan namun apa yang ia lakukan saat membuka pintu buat suara. Ia sedikit kesal Lalu dengan cepat ke luar dan kembali menutup pintu. Saat itu Jijji membuka selimut tepat saat pintu tertutup. "Kaya ada suara pintunya imo?" Tanya Jijji curiga. Ia takut jika ada penjahat yang masuk ke dalam rumah. "Aah, mungkin om Jimmy ngecek kita?" Gadis kecil itu coba berpikir positif. Siapa tau sang Om mengintip keadaan ia dan Tante Reya begitu yang ada dalam pikirannya polosnya. "Jijji mau tidur lagi kan?" tanya Reya. "Iya, biasanya kalau hujan Jijji tidur lagi sama Ibu." Anak itu coba jelaskan. Tiap hujan datang gadis cantik itu selalu merasa takut. Apalagi jika ada petir yang menyambar, iitu buat ia begitu takut dan memilih meringkuk di dalam selimut bersama Soogi. Dan jtu masih berlangsung sampai saat ini sejak Jijji kecil dulu. Reya mengangguk ia mengerti karena Jijji masih kecil dan pasti punya ketakutan ketakutan yang sering ia rasakan. Termasuk takut terhadap petir baginya itu wajar sekali. "Tante Reya, Jijji boleh nginep sini nggak selama liburan? Nggak lama paling tiga hari." tanya Jijji. "Nanti Ibu kangen?" "Biar Ibu dietnya lebih lama. Mumpung ada om Tae yang bantu ibu. Kalau, di rumah ibu suka bilang kalau ibu gemuk. Padahal kan nggak, ibu enggak gemuk. Buat aku ibu Jijji yang paling cantik. Tapi ibu bilang gemuk, gemuk terus." Reya mengusap kepala Jijji lembut. "Kalau dibolehin sama Ibu Jijji boleh kok tidur di sini." Reya mengijinkan sambil terus mengusap kepala Jijji. Sebelum terlelap Jijji banyak menceritakan tentang kehidupan sekolahnya. Ia ternyata tak punya terlalu banyak teman ia lebih suka menyendiri karena merasa teman-temannya tak menyukainya. Setelah Jijji banyak bercerita, ia tertidur kemudian Reya berjalan ke luar kamar. Saat sampai di ruang tengah ia melihat Jimmy gang baru saja selesai mandi. Mengeringkan rambut mengenakan pakaiannya semalam karena ia tak membawa pakaian saat datang kemari. "Aku mau ke rumah sakit," kata Jimmy. Pria itu berjalan mendekat, tangannya merangkul pinggang sang kekasih dan mengecup kening Reya. "Kenapa? Siapa yang sakit?" "Yunki Hyung sakit," "Sakit? Sakit apa?" Tanya Reya panik. Reya buka tipe orang yang mudah panik. Dan apa yang ia lakukan itu membuat Jimmy sedikit merasa aneh. Buat Jimmy berpikir apa reya sudah benar-benar mengakhiri perasaannya pada Yunki? Cemas gadis itu buat ia merasa cemburu. "Aku kabarin nanti ya," jawab Jimmy lagi. Cup. Jimmy mengecup kening Reya lagi kemudian dengan segera berjalan ke luar rumah Reya. *** Duo squinoid dan member BTL kini ada di sana kecuali Jimmy dan Tae yang masih dalam perjalanan. Jimmy datang tak lama kemudian Tae datang. Mereka tak datang bersamaan namun jarak tiba keduanya begitu dekat. Keduanya mendekati Seojin yang menjelaskan apa yang terjadi. Mereka semua berada di ruang tunggu. Seorang dokternya ke luar setelah sekitar lima belas menit setelah Tae dan Jimmy tiba. "Ada sedikit infeksi saluran pencernaan, tapi tak masalah, hanya butuh obat, istirahat dan makan yang tepat," dokter menatap ke arah duoB kemudian seolah memikirkan sesuatu. "Maaf apa itu teman kalian?" tanya sang dokter. Namjun mengangguk, "dia— sepupu ku." Jawab Namjun. "Aah begitu," ucap dokter. "Kalau begitu saya permisi..kalian bisa menjenguk pasien." Dokter itu kemudian berjalan meninggalkan tempat itu. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN