Saat ini yunki tengah disibukkan oleh project dengan salah satu seorang penyanyi senior. Pria itu dipercaya sebagai produser yang memproduseri album terbarunya. Di sana Yunki juga membuat 3 lagu yang salah satunya dijadikan single utama. Tentu saja hal ini menjadi kebanggaannya sejak dulu Yunki sebenarnya ingin menjadi seorang produser. Hanya saja yang dijebak oleh direktur kemudian dijadikan salah satu member boyband group yaitu BTL.
Dalam kegiatan solonya hari ini ia tak banyak berkolaborasi. Pria itu lebih memilih untuk menjadi orang di belakang layar yang sibuk dengan mengaransemen dan menciptakan lagu. Setiap lagu gua tanya selalu memasuki top chart dunia, karya terbarunya juga ditunggu oleh para penggemar dan juga fans garis kerasnya mereka yang menyebut dirinya sebagai sekte Yunki nikahi aku.
Pria itu kemudian menatap jam di tangannya, setelahnya ia segera bangkit kemudian berpamitan kepada rekannya untuk makan siang. Tentu saja ya harus tetap menjaga kesehatannya meskipun di tengah kesibukan Yunki selalu menyempatkan diri untuk makan siang. Dan disaat liburannya Yunki selalu menyempatkan diri untuk ke Busan. Itu adalah kegiatan rutin yang ia lakukan hampir setiap seminggu sekali. Jika ia benar-benar sibuk paling tidak sebulan sekali pria itu berdiri dari jalan dan menatap wanita yang dicintainya yang biasanya tengah sibuk dengan buah hatinya atau sedang menjadi penjaga di rumah penitipan anak.
Meski tahun telah berganti tapi artinya sama sekali tak pernah berpaling. Reya tetap menjadi hal yang ia impikan dan inginkan. Mungkin jika ada perlombaan menunggu dengan sabar, Yunki bisa menjadi salah satu nominasinya. Tentu saja karena mencintai dalam diam dan dari jauh itu adalah hal yang sulit, tapi pria berkulit pucat itu berhasil menjalaninya dengan baik. Bukan berarti pria itu tak suka melirik kepada perempuan cantik. Hanya saja hanya ada satu nama di dalam hatinya dan itu yang membuat perempuan cantik yang lain sulit untuk menggantikan posisi wanita itu.
Yunki melajukan mobilnya menuju kafe, menghampiri Ahreum setiap siang dan bertanya mengenai keadaan Reya jadi kebiasaan yang sulit untuk ia tinggalkan. Perjalanan dari studio ke cafe memakan waktu tak terlalu lama. Iya tiba dan seperti biasanya memesan americano dingin dan juga kue pastry berisi tuna dan juga jagung yang diaduk bersama mayones khas dari cafe tersebut.
"Ahreum di mana?" Pria itu bertanya ketika berpapasan dengan Yuna yang sedang merapikan wadah di dekat etalase kopi.
Yuna jelas terkejut apalagi saat ini di sana ada Reya. "A-nu oppa," jawabnya terbata
Melihat dan mendengar jawaban yang diberikan oleh Yoona membuat Yunki merasa heran. Karena tak biasanya Gadis itu bersikap yang seperti ini.
"Apa ada sesuatu?" tanya Yunki.
Belum sempat Gadis itu menjawab pertanyaan Yunki, sang kakak berjalan keluar ia sedikit terkejut ketika melihat pria yang baru saja ia bicarakan kini ada di hadapannya. Namun, Ahreum berusaha bersikap tenang ia berjalan menghampiri pria berkulit pucat itu seperti biasanya lalu tersenyum.
"Udah pesan oppa?" tanya Ahreum.
"Nde, apa ada sesuatu di sini?" Tanya Yunki lagi ia penasaran.
Ahreum menggerakkan tangannya kemudian mengajak Yunki berjalan memasuki ruang kerja Reya. Tentu saja hal ini membuat pria itu merasa heran mengapa ia diajak ke dalam ruangan. Dan apa yang dilakukan oleh Ahreum semua dengan persetujuan Reya. Di dalam pikirannya Yunki juga ia sudah memikirkan bahwa di dalam ruangan itu ada wanita yang ia sayang. Hanya saja ia juga menepis pikiran itu ia tak ingin terlalu berharap banyak.
Sampai kemudian Ahreum membuka pintu dan mempersilahkannya masuk. Tentu saja saat ini dia begitu senang dan bahagia melihat Reya yang tengah duduk di kursinya pria itu berjalan dengan cepat menghampiri.
"Kejutan," seru Reya seraya tersenyum.
Yunki tak bisa banyak berkata-kata sungguh seperti seperti bunga-bunga mekar di dalam hatinya. Pria itu segera memeluk Reya rasa bahagia dan rindu yang bercampur menjadi satu. Apalagi kini ia bisa berinteraksi dan mendengar sendiri suara Reya.
Yunki melepaskan pelukannya kemudian ia mengatakan wanita berambut pendek itu yang sangat penting seolah sedang mengerjainya.
"Kamu kapan datang?"
"Aku baru aja datang Jadi yang kedua kalinya aku ke Seoul. " Reya menjawab kemudian mempersilahkan Yunki duduk di kursi yang berada hadapannya dengan menggerakkan tangan.
Yunki segera duduk. Sebenarnya ia ingin memeluk Reya lebih lama lagi. Hanya saja ia benar-benar mencoba menahan diri ingin membuat situasi yang baik. Seperti ini saja mungkin sulit maka ia tak ingin banyak bertingkah untuk menjaga situasi agar tetap kondusif.
" Apa ada sesuatu sampai kamu kemari?"
Reya mengangguk. "Selain Karena aku udah siap untuk kembali kesini aku mau cari sekolah untuk Hyunjin dan juga mau cari tempat tinggal untuk aku nggak terlalu jauh dari kafe."
"Mau tinggal di rumah apa apartemen? Mau berapa kamar? Mau sekolah yang seperti apa?" Yunki mengajukan pertanyaan tanpa jeda seolah mencecar wanita dihadapannya.
Tentu saja pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh si pucat itu membuat rea terkekeh. Iya dihujani dengan pertanyaan-pertanyaan tanpa jeda. Tentu saja Reya paham betul Apa yang dilakukan oleh Yunki adalah karena ia terlalu antusias.
"Aku mau apartemen yang letaknya nggak terlalu jauh ada tiga kamar. Kamar untuk aku satu kamar untuk hyunjin dan kamar lain untuk tamu. Siapa tahu Bonbon atau Bongbong mau menginap di sana." Reya menjawab detail. "Untuk sekolah Hyunjin aku udah banyak cari tahu dari eonni Soogi."
"Kamu komunikasi sama Soogi?"
Reya mengangguk, bisa melihat raut wajah kecewa Yunki kemudian berusaha membuat rasanya lebih baik pria itu kemudian tersenyum pada Reya. "Maaf, aku yang minta itu dirahasiakan," ucap Reya merasa bersalah.
"Nggak apa-apa aku malah senang kalau kamu ada teman yang bisa diajak untuk bercerita banyak hal. Jujur selama ini aku takut kamu benar-benar sendiri dan menjauhkan diri dari kita semua. Meskipun aku sedikit kesal sih, karena Tae nggak ngasih tahu kalau ternyata istrinya komunikasi sama kamu." Ucap Yunki.
"Kamu nggak boleh marah sama dia ya?" Pinta Reya kemudian merapikan tasnya.
Yunki mengangguk. "Kamu mau ke mana lagi?"
"Aku harus pulang karena Hyunjin di sana sama bibi Ma." Reya menjawab seraya berdiri dari kursinya. "Ayo," ajak wanita itu.
Yunki mengikuti ia berjalan sedikit di belakang sehingga ia bisa melihat punggung mereka yang berjalan di depannya.
"Maaf hari ini aku harus buru-buru, tapi aku akan balik lagi ke di acara pernikahan Namjun dan Minji."
"Itu masih lama." Yunki ucapkan itu karena ia merasa kecewa dan mungkin interaksi yang ia dapatkan hari ini akan berlangsung lagi dalam jangka waktu yang lama.
Reya menghentikan langkahnya kemudian menatap laki-laki yang ada di belakangnya. Reya tersenyum kemudian berkata. "Sebentar lagi, tiga minggu itu bukan waktu yang lama."
Yunki tersenyum kemudian mengangguk. Itu saja waktu dua minggu itu bukan waktu yang lama dibandingkan waktu yang ia habiskan untuk menunggu selama lebih dari 4 tahun.
"Oke lalu soal apartemen itu gimana?" Tanya Yunki.
"Kita bisa bicarakan lagi setelah acara pernikahannya Namjun oke? Aku harus pulang dulu kasihan kalau Hyunjin nunggu aku terlalu lama.".
"Oke, hati-hati," ucap Yunki.
Sang pemilik kafe kemudian segera berjalan keluar. Tentu saja yang bisa dilakukan pria itu hanyalah menatap punggung wanita yang ia sayangi perlahan menghilang dan menjauh. Meski dalam hatinya ada rasa senang juga ketika mengetahui bahwa Reya akan kembali dan tentu saja itu akan mempermudah dirinya untuk lebih sering bertemu dengan Reya.
***
Sementara itu saat ini calon pengantin yang tengah dibicarakan tadi sedang sibuk memilih gaun pengantin. Sejak tadi siang Minji dan namjoon sibuk mencari pakaian yang akan ia kenakan untuk acara pernikahan. Minji ingin gaunnya sederhana dan manis, ia sudah menentukan berapa pilihan dan sudah mencobanya satu persatu. Sejak tadi Namjun dibuat terpesona oleh Minji mengenakan gaun pengantin pilihannya. Bagi Namjun semua yang dikenakan Minji begitu cocok ditubuhnya. sehingga Ia juga sulit untuk menentukan gaun mana yang terbaik karena semua membuat calon istrinya terlihat begitu cantik.
Saat ini Minji berada di ruang belakang bersama pemilik butik. Dia telah memilih gaun dengan potongan mermaid berwarna putih tulang sebagai gaun yang akan ya karena akan di hari pernikahannya. Minji juga meminta agar gaunnya ditambahkan sedikit hiasan kristal di bagian lengan tentu saja hal itu bukanlah hal yang sulit jadi pemilik butik menyetujuinya.
Udah selesai ya berjalan menghampiri sang calon pengantin laki-laki yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Ngapain kamu?" Tanya Minji.
"Aku habis chat Seojin Hyung, katanya sekarang dia lagi nonton sama Bonbon. Kok rasanya mereka belakangan jadi semakin dekat ya?" tanya Namjun.
Minji kemudian duduk di samping kekasihnya itu. "Kalau mereka makin dekat bukannya bagus jadi seo jin young punya pacar dan punya seseorang yang bisa diajak untuk bicara dan berbagi. Lagi aku lihat mereka berdua cocok banget kalau lagi ngebahas masalah film."
"Iya aku juga setuju masalah itu cuman kan bon Bondan bonbong itu bukan manusia seperti kita maksud aku ya kamu ngerti lah gimana." Ucap Namjun.
Tentu saja Minji mengerti apa yang dibicarakan calon suaminya itu apalagi yang masih ingat pertama kali kedua telur itu menetas menjadi dua gadis yang keluar dari dalam telur squishy tanpa mengenakan sehelai benang pun.
"Tapi kan memang mereka manusia kita jangan ngebedain gitu dong." Protes Minji yang tak setuju dengan apa yang dikatakan calon suaminya itu.
Meskipun berasal dari squishy, Minji melihat sendiri bagaimana kedu kembar itu begitu perhatian kepada para member. Misalnya contoh yang paling terlihat jelas adalah mereka yang selalu membuatkan sarapan pagi, makan siang jika para member berkumpul uga makan malam. Si kembar juga ikut menyemangati para member yang sakit, memberi hiburan di dorm yang sudah semakin sepi.
Namjun anggukkan kepala, agaknya tadi ia sedikit lupa dengan apa yang terjadi dan ia alami dengan si kembar dan interaksi yang mereka lakukan.
"Maafin aku ya, aku memang seharusnya nggak ngomong kaya gitu. Bonbon sama Bongbong pasti akan kecewa banget dengar apa yang aku bilang tadi kalau mereka dengar." Namjun mengatakan itu merasa bersalah.
Minji anggukan kepala. "Gimana kalau kita pulang? Sebelumnya kita akan siang dulu? aku lapar," ajak Minji yang segera dijawab anggukkan oleh calon suaminya itu.
Di lokasi yang berbeda kini Seojin dan bongbong tengah sibuk menonton. Mereka menonton di apartemen Seojin. Hari ini ia memutuskan untuk tak datang ke bioskop karena Seojin yang sedikit merasa pusing. Seminggu yang lalu ia memulai untuk shooting reality show yang diadakan di pulau Jeju. Agaknya perubahan cuaca menuju musim semi membuat ia kurang enak badan. Seojin rebnah di sofa smenetara Sonbon duudk di sampingnya. Mereka menyaksikan film lama korea Miracle in Cell no 7.
kisah yang menceritakan seorang anak perempuan yang dirawat oleh sang ayah yang menderita autis. Lalu, sang ayah dituduh melakukan pembunuhan terhadap buah hatinya. Kemudian saat buah hatinya dewasa, ia berusaha untuk mengangkat kembali kasus sang yah dan berharap nama baik ayahnya dipulihkan.
Keduanya menyaksikan dengan serius. Bahkan Seojin yang telah menyaksikan ini untuk yang ketiga kalinya tetap merasakan terharu. Adegan belum sampai pada puncak, tapi Bonbon sudah meneteskan air matanya. Seojin menatap gadis di sampingnya itu. Ia lalu memberikan tisu yang berada di nakas yang berada di samping kirinya dan memberikan pada Bonbon.
"Sedih banget Oppa, dia masih kecil tapi terpaksa jauh dari ayahnya," lirih Bonbon,
"Iya, karena kan ayahnya jadi tersangka."Seojin menjawab.
"tapi kan bukan dia pelakunya," sahut Bonbon lagi ia tak terima karena sang ayah mendapat tuduhan yang tak ia lakukan.
"Iya memang, sayang ada saksi yang melihat gelagat kalau sang ayah mau melakukan hal yang nggak baik. Dan itu yang memberatkan, dan di sana enggak ada CCTV," jelas Seojin lagi masih sambil menonton film.
Bonbon kembali menyaksikan, semua ia saksikan dengan baik dan teliti sebelum nanti akan dibicarakan bersama Seojin. Film yang berlangsung selama kurang lebih dua jam itu berakhir dengan apik. Setelah film selesai lampu dinyalakan. Seojin melihat bonbon yang menyembunyikan wajahnya di bantal. Seojin segera berjalan mendekat sebelumnya ia menampilkan sebotol air mineral yang tergeletak di samping Bonbon. Seojin lalu duduk di samping Bonbon. Ia menepuk-nepuk bahu Bonbon.
"Jangan nangis dong gimana kita masuk diskusi?" tanya Seojin yang segera dijawab gelengan kepala oleh Bonbon.
Gadis itu menoleh menunjukan matanya yang merah dan sembab. "Sedih banget samchon," katanya kemudian menangis lagi.
Seojin mendekatkan tubuhnya kemudian memeluk Bonbon. Bonbon memeluk erat Seojin dan malah menangis semakin kencang akibat film yang ia tonton menguras perasaan. Film itu begitu menyentuh dan menyedihkan menurutnya
"Jangan nangis ya," ucap Seojin coba menenangkan.
"Kok bisa sih ada orang jahat gitu? Maksa maksa orang enggak salah?" tanya Bonbon.
"ya, di dunia ini ada orang kaya gitu Bon ada yang memaksakan keinginan mereka untuk hal yang menurut mereka benar."
Bonbon menggelengkan kepalanya. "Kalau gitu kan jadi banyak orang yang tersiksa Oppa."
"Iya, tapi ini dunia Bon, enggak semua orang baik. lagian itu kan cuma film. udah ya, kita makan yuk." Seojin menjelaskan dengan lembut agar Bobon tak menangis.
Bonbon melepaskan pelukannya, hanya saja saat itu anting yang ia kenakan tersangkut di baju yang dikenakan Seojin. ia berusaha menariknya hanya saja membuat telinganya sakit.
"Oppa, ini nyangkut," kata Bonbon sambil berusaha menariknya.
"Jangan di tarik," pinta Seojin.
Seojin menoleh untuk berusaha membuka anting milik Bonbon. Saat itu ia bisa melihat dengan jelas wajah Bonbon, bulu mata lentik, tatapan mata yang bersinar, bibir tipis yang ia poles dengan lipgloss, juga aroma segar leci dan vanila menusuk indra penciumannya. Saat itu tatapan keduanya beradu, Seojin dan Bonbon saling tatap, sebelum kemudian pria itu memilih kembali fokus untuk melepaskan anting milik Bonbon.
Seojin berhasil melepaskan anting milik Bonbon. "Nah udah nih," katanya lega.
"terima kasih oppa. Oppa, aku inget adegan ini ada di drama kamu sama Minji terus kamu cium bibir dia." Bonbon mengatakan itu mengingat drama Seojin dan Minji hampir lima tahun yang lalu.
Seojin tertawa canggung, sungguh kali ini dadanya berdebar karena Bonbon barusan. "Bon, kamu mau cobain pacaran enggak?"
"Pacaran? sama siapa?"
"Sama aku."