Love 59

1892 Kata
Jimmy terbangun kemudian segera duduk untuk menyadarkan diri. Semalam ia pulang larut setelah melakukan rekaman untuk album solo miliknya. Kini pria dengan tatapan mata sayu itu tinggal sendiri di apartemen sama seperti member lain yang kini telah kembali dengan kegiatan solo dan juga dengan kehidupan neraka masing-masing. Empat tahun belakangan sulit sekali untuk menyatukan mereka bertujuh karena sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Sementara hal itu yang menjadi kegelisahan para penggemar adalah selain boy grup kesukaan mereka tak lagi membuat album bersama, tahun ini adalah tahun terakhir dari kontrak BTL dan akan menjadi keputusan apa ketujuh pria itu akan melanjutkan atau selesai dengan karir mereka sebagai member BTL. Jimmy kemudian berjalan ke toilet untuk segera membersihkan wajah dan juga menyikat giginya. Ia masih kelihatan tampan meski dengan rambut hitam yang sengaja ia biarkan sedikit panjang. Setelah selesai, ia mengambil ponsel yang ia letakan di atas meja, ada dua panggilan tak terjawab dari kekasihnya, Leona. "Nde chagi?" sapa Jimmy dengan suara serak karena baru saja bangun dari tidurnya. "Kamu baru bangun?" "Hmm, aku baru bangun. Semalam rekaman sampai malam ada beberapa bagian yang aku rasa kurang pas. Jadi, aku minta ulang lagi." Jimmy menjawab sambil berjalan menuju ruang makan. "Kamu mau aku kirim sesuatu ke sana. Kamu mau makan sesuatu?" tanya Leona. "Kayaknya enggak. Aku masih ada bulgogi buatan eomma. Kamu udah sarapan?" tanya Jimmy sambil mengambil air mineral kemudian segera meneguknya. "Aku sudah sarapan dan udah mau mulai latihan ada beberapa gerakan yang susah banget untuk aku pelajarin." Leona mengeluh ia mengakui bahwa gerakan dalam comeback album girl groupnya kali ini sedikit lebih sulit daripada biasanya. "Aku yakin kalau kamu serius dan sungguh-sungguh kamu pasti bisa, karena kamu kan pacar aku." Jimmy mengatakan itu dengan malu malu. Mendengar apa yang dikatakan kekasihnya itu membuat Leona terkekeh kecil. Laki-laki itu bisa mendengar suara kekasihnya yang kini menahan tawa akibat rasa malu yang ia rasakan karena Jimin mengucapkan hal itu. " Kenapa kamu ngomong kayak gitu? Kamu kangen aku Oppa?" tanya Leona manja. Jimmy terkekeh lalu tersenyum membayangkan betapa menggemaskannya Leona saat mengatakan itu padanya. "Hmm, enggak," sahut Jimmy sengaja menggoda kekasihnya agar merasa kesal. "Aish, bener enggak kangen?" tanya gadis itu kecewa. "Tentu aja aku kangen sama kamu. Tapi, kamu sekarang fokus dulu ya sama yang lain dan selesaikan comeback dengan baik. Oke?" ujar Jimmy mengingatkan. Tentu saja ia bukannya tak rindu pada Leona. hanya saja saat ini mereka sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Jimmy sibuk dengan single terbarunya dan Leona akan membuat album comeback bersama para member girl grup nya Purple girl. Tentu saja hal itu yang menyebabkan keduanya tak bisa bertemu sebulan belakangan. Hanya saja mereka tetap saling mendukung satu sama lain. Lalu bagaimana perasaan Jimmy pada reya? Hanya ia sendiri yang mengerti. Kedekatan Jimmy dan Leona terjadi karena kerja sama mereka empat tahun lalu saat acara pemilihan idol. Setelah itu keduanya semakin dekat, saling mendukung satu sama lain, juga memberikan perhatian. Hingga dua tahun lalu Jimmy memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya. Leona jelas menaruh rasa sejak awal. Apalagi Jimmy adalah idolanya saat itu. Tentu saja ini layaknya mimpi yang jadi kenyataan dimana penggemar menjadi kekasih idolanya. Hubungan mereka segera terendus oleh media setahun yang lalu dan kini semua telah mengetahui tentang hubungan keduanya. Tentu saja menjadi hal yang menghebohkan. Apalagi purple girl saat itu tengah menjadi salah satu girlband yang tengah naik daun. Namun, hubungan yang terjadi di antara keduanya tidak menurunkan dukungan bagi grup keduanya. Para penggemar kebanyakan tetap mendukung Jimmy dan Leona dibandingkan mereka yang tak setuju dengan hubungan itu. "Aku akan cari waktu supaya kita bisa ketemu. Aku akan ke apartemen kamu Oppa,' ucap Leona. "Hmm, aku akan tunggu kamu. Sekarang latihan sana. Semangat," ucap Jimmy memberikan semangat. "Gomawoyo Oppa, aku matiin panggilannya ya." Leona berpamitan lalu mematikan panggilan. Jimmy kembali melakukan kegiatan sarapannya. Ia tersenyum senang juga rasanya mendapatkan perhatian setiap harinya. Rasanya pria itu telah lupa tentang wanita lain yang dulu ia sakiti dan kini telah menemukan cinta barunya yang kini membuat ia lebih bersemangat selama dua tahun ini. Saat itu ponselnya berdering, panggilan dari Namjun. Jimmy segera menerima panggilan dari sang leader. "Jim, nanti kamu kirimin aku ukuran baju kamu ya," kata pria pemilik lesung pipi itu setelah panggilan diterima. "Oke hyung, kamu mau bikin seragam?' 'Iya, biar sekalian sama yang lain oke?" "Oke hyung, aku akan kirimin nanti." "Hmm, gimana single kamu lancar?" tanya Namjun yang agaknya penasaran dan ingin tau tentang perkembangan album terbaru Jimmy. "Semua lancar hyung, aku denger kamu mau ada kerjasama dengan salah satu rapper Amrik?" tanya jimmy bertanya tentang desas desus yang tersebar. "Hmm, aku belum yakin sih karena sekarang aku mau fokus ke pernikahan aku sama Minji. Kamu tau sendiri kan Jim kalau susah banget buat yakinin Minji untuk ke jenjang pernikahan. Dan aku enggak mau sia-siakan ini." Jimmy menganggukan kepalanya meski Namjun tak melihatnya. "iya aku tau hyung, aku juga berharap kalian akan langgeng sampai maut memisahkan." "Aku juga berharap hal yang sama. yaudah, jangan lupa apa yang aku minta tadi." Namjun mengingatkan. "Tenang hyung setelah ini aku akan kirimkan ke kamu." "oke, aku matiin panggilannya ya. bye.' Namjun kemudian mematikan panggilannya. Jimmy segera mengetik ukuran pakaiannya. dan degan cepa mengirimkan pesan pada Namjun aa yang diminta oleh Namjun tadi. *** Saat ini kedua squinoid kembar itu tengah sibuk memasak sarapan, hal ini masih menjadi kebiasaan keduanya. Saat ini mereka sudah benar-benar terlihat lebih dewasa. Bonbon kini mewarnai rambutnya dengan cat berwarna hitam sementara Bongbong mewarnai rambutnya dengan warna Coklat muda. Setelah selesai memasak, Bonbon memisahkan lauk buatannya ke dalam dua kotak makan yang telah disiapkan Bongbong tadi. Bonbon akan membawakan makanan untuk Seojin saat ini. Karena siang nanti Seojin ingin mengajaknya untuk menonton. Belakangan keduanya semakin sering melakukan kegiatan bersama. Keduanya suka menonton dan saling membicarakan hal-hal seputar perkembangan film. Bongbong juga membantu Seojin dalam menyempurnakan aktingnya. Bersama Seojin membuat Bonbon selayaknya pengamat film profesional. Bukan hanya Bonbon yang memiliki kegiatan bersama. Bongbong juga sering berlatih tari bersama Heosok. Gerakan tarinya semakin baik dan luar biasa. Rasanya jika Bongbong bukan squinoid, ia bisa mengikuti ajang pemilihan idola, karena bongbong juga bisa bernyanyi dengan cukup baik meskipun ia punya suara lucu dan menggemaskan rasanya itu akan menjadi point plus untuk Bongbong. Setelah masakan siap di atas meja, bongbong segera menghampiri sang ayah yang masih berada di laboratorium untuk segera sarapan. Sampai di depan pintu, Bongbong mengetuk pintu. "Ya?" sahut dari dalam. "Appa makan," jawab Bongbong meminta sang ayah untuk sarapan. "Oke tunggu sebentar, kamu duluan aja Bong." "Pokoknya kita tunggu Appa buat sarapan bareng ya," sahutnya dari luar kemudian ia berjalan kembali menuju meja makan. Di meja makan sudah ada Bonbon yang kini duduk dengan rapi sambil memainkan ponselnya. Biasanya setiap pagi dia sibuk berkirim pesan di grup yang berisi para member BTL, Minmin, Bongbong, Minji dan Soogi. Semuanya masih saling memberi kabar dan juga sering sekali bercanda gurau di grup yang mereka buat. Sebenarnya Minji juga mengatakan bahwa lebih baik mereka mengajak Leona untuk bergabung bersama di grup. hanya saja menurut sang leader Leona tidak mengetahui tentang keberadaan squinoid. Sehingga akan merepotkan untuk menjelaskan adanya dari awal tentang squinoid. Lagi pula lebih baik jika Leona tidak dimasukkan ke dalam grup bersama karena akan menjaga kerahasiaan keberadaan Bonbon dan Bongbong. "Kamu nanti jadi pergi sama si Seojin oppa?" Tanya bongbong pada Bonbon. Bonbon menganggukkan kepalanya, kemudian mengatakan ponselnya. "Jadi nanti siang aku mau ke bioskop sama Seojin oppa. Appa belum mau sarapan?" Sombong menggelengkan kepalanya. "Kita suruh duluan tapi tadi aku bilang kita akan makan kalau sama-sama." Saat itu terlihat Professor Go yang berjalan keluar beliau kemudian menghampiri kedua anak kembarnya dan duduk diantara kedua anak gadisnya itu. "Belum makan?" Tanya Professor Go. "Kan aku udah bilang kita akan makan kalau appa juga makan." Bongbong menjawab kemudian mengambilkan piring dan mengisinya dengan nasi lalu menyerahkannya kepada sang ayah Selama bersama dengan si kembar profesor merasa bahagia karena mendapatkan perhatian dari keduanya layaknya anak sendiri. Dalam hatinya ia bersyukur selain ia bisa melihat kembali buah hatinya yang seolah kembali dihidupkan. Dua kembar itu juga bersikap layaknya Zana yang telah tiada. Sampai saat ini penelitian tentang sekunoid masih dilakukan masih banyak hal yang perlu dipelajari untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Dalam hati sebenarnya ia merasa tak tega, apalagi pada Bonbon yang terlihat lebih lemah. Profesor membuat keduanya dengan campuran DNA yang sama namun memberikan beberapa tambahan zat yang berbeda seperti DNA yang ia ambil dari anak yang memiliki kemampuan khusus dan juga DNA yang diambil dari dari sampel yang lain. Berapa DNA itu digabungkan dengan campuran DNA utama Zana d******i sehingga fisik keduanya benar-benar mirip dengan mendiang anak profesor Go. "Padahal kalau kalian mau makan makan duluan," profesor Gus raya mengambil telur omelet dengan sumpitnya. "Kita maunya makan sama apa, soalnya kalau udah di ruang laboratorium apa suka susah keluar dan pasti malas makan," kata Bonbon penuh perhatian. "Ya udah kalau gitu selamat makan." Ajak profesor. Seperti itulah hari-hari dilalui oleh dua kembar itu. Mereka bertiga hidup layaknya keluarga yang sesungguhnya jika berada di Seoul. Selalu berubah menjadi profesor dan benda ciptaannya ketika mereka berada di Jepang. Memang sedikit miris tapi itulah kenyataan yang terjadi. *** Kini raya berada di ruang kerjanya ia mengecek beberapa laporan yang tadi diberikan Ahreum. Baru saja beberapa menit yang lalu ia tiba dan tak menyia-nyiakan waktu segera mengecek laporan yang telah dibuat oleh kedua orang kepercayaannya itu. Saat itu Ahreum jalan masuk ke dalam ia membawakan minuman untuk atasannya kemudian Reya melirik pada gadis yang kini tengah meletakkan gelas di meja meminta Ahreum untuk duduk di hadapannya. "Kamu tahu nggak Di mana kira-kira aku bisa dapat apartemen yang lumayan bagus dan letaknya agak jauh dari cafe?" Tanya Reya. "Kamu mau pindah lagi ke sini sebentar lagi?" Tanya Ahreum terkejut. Reya menganggukan kepala sebagai jawaban, "Aku mau pindah ke sini supaya Hyunjin dapat pendidikan yang lebih baik. Bukannya aku menilai bahwa pendidikan di Busan itu jelek, tapi memang sesuai rencana cepat atau lambat Hyunjin akan kembali ke Seoul." Ahreum jelas merasa senang karena selama ini Reya lama sekali tidak berkunjung ke cafenya sejak Ia memutuskan pindah ke Busan 4 tahun yang lalu. Ini adalah kali kedua Reya dan memeriksa secara langsung. Saja Ahreum dan Yuna itu adalah kemajuan besar. Jujur selama ini keduanya takut diberikan tanggung jawab yang begitu besar untuk memegang cafe. Walaupun Reya percaya sepenuhnya kepada kemampuan mereka berdua tetap saja mereka merasa bahwa sang atasan perlu melihat kerja duanya secara langsung. "Baguslah kalau begitu aku senang kalau kamu ada di sini lagi. Dan bisa bener-bener ngelihat perkembangan cafe dan kemajuannya." Reya tersenyum memang beberapa kali gadis di hadapannya itu mengatakan kegelisahannya mengenai kemampuan kerja dirinya. Ahreum kadang merasa bahwa apa yang dikerjakannya itu belum terlalu baik padahal menurut Reya, kan oleh Ahreum adalah hal yang terbaik yang bisa Ia berikan. Lagi selama ini Gadis itu harus repot mengerjakan laporan yang kemudian Ia kirim ke email dan juga mengerjakan beberapa perbaikan. Reya emang agak rewel mengenai susunan laporan dan segalanya mungkin itu juga yang membuat Ahreum jadi ragu. "Aku minta maaf kalau selama di Busan jadi terlalu teliti sama laporan." Reya merasa bersalah. "Sebenarnya nggak masalah karena memang itu kan sudah menjadi hak kamu sebagai pemilik cafe. Rasanya cuman beda aja ketika kerja dan dengan diawasi dan nggak diawasi." Ahreum menatap Reya kemudian menatap jam di tangannya. "Biasanya jam segini orang itu datang," Ahreum beritahu Reya. "Siapa?" Tanya Reya. "Yunki," jawab Ahreum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN