Jimmy dan Reya berjalan di depan Yunki, yang terus memerhatikan gerak-gerik mereka dari belakang. Jimmy masuk ke dorm, menuju ruang tengah bersama Reya. Selama itu tangan pria dengan tatapan sendu itu selalu menggandeng tangan gadisnya. Meski dalam hati Yunki cemburu ia jelas tak bisa mengungkapkan itu.
Di dalam dorm, terlihat Bongbong yang terus menangis sambil memeluk erat Tae. Sekali lagi 'memeluk erat Tae'.
Reya menghampiri Bongbong dan menyamakan tubuhnya. "Kenapa?" tanyanya.
"Bonbon hix hix," Bongbong terlihat terlalu sedih dan panik sehingga ia tak bisa mengatakan apapun.
Reya berjalan masuk segera ke kamar Yunki, tempat di mana Bonbon tidur. Reya ingat Bonbon juga seperti ini saat ia berada di rumahnya waktu ditinggal oleh Yunki.
Jimmy berjalan mendekati Bonbon. Ia bergerak mendekati tangannya untuk mengecek suhu tubuh Bonbon.
"Jang—" belum sempat Reya selesai melarang, Jimmy telah menyentuh kening Bonbon.
"Ya ampun!" Jimmy memekik merasakan panas yang sangat tinngi. Hingga terasa perih di kulit tangannya.
Panasnya memang terlalu tinggi dan tidak normal. Reya berjalan mendekati Jimmy, lalu memegang tangan pria itu yang baru saja memegang Bonbon.
"Kau baik-baik saja Jim?" tanya Reya.
"Panas sekali," keluh Jimmy sambil mengerucutkan bibirnya. "Tapi, nggak apa-apa," Jimmy kemudian tersenyum.
"Ekhm," Yunki berdeham lalu mendekat, setelah cukup lama berdiri di depan pintu, kemudian ia duduk di tepi tempat tidur.
Jimmy jelas bisa merasakan kecemburuan Yunki. Maka ia segera menggandeng tangan Reya, mengajak gadis itu keluar dari sana.
"Ibu," panggil Bonbon lirih sambil mengarahkan tangannya ke Reya.
Reya memalingkan wajahnya, ia menatap Jimmy meminta izin agar bisa menemani Bonbon. Jimin mengangguk sambil menyetujui tak ingin menjadi egois. Jimmy berjalan keluar meninggalkan Reya dan Yunki.
Di luar, Tae masih dipeluk Bongbong yang terus menangis.
"Jangan nangis lagi," kata Jeon-gu sambil menepuk-nepuk bahu Bongbong.
Bongbong memerhatikan member termuda BTL lekat, terus saja memerhatikan. Sementara si pemilik gigi kelinci tersenyum karena terus ditatap Bongbong. Meski ia bingung juga mengapa terus ditatap seperti itu.
Cup!
Bongbong dengan cepat mencium Jeon-gu. Membuat semua memekik dan terkejut.
Tae, menarik Bongbong agar tautan bibir di antara keduanya terlepas. Raut wajah Bongbong terlihat biasa saja. Ia sama sekali tak merasakan sensasi berdebar atau semacamnya.
Berbeda dengan Jeon-gu yang saat ini wajahnya merah padam dan jantungnya seperti berlari kencang.
"Siapa yang mengajarkan seperti itu?" Tanya Tae.
"Minmin, eonni dari sana—" Bongbong menunjuk televisi di hadapan mereka.
Heosok terkejut, ada sedikit rasa marah pada adik sepupunya itu. "Minmin bilang apa?"
"Di sana, ada paman sama bibi tempel-tempel bibir. Aku tanya mereka ngapain. Kata Minmin itu buat orang pacaran dan pacaran itu orang ganteng kaya Jeon-gu samchon." Jawab gadis squinoid itu polos. Kemudian dengan tanpa dosa berjalan ke belakang mengambil s**u pisang kesukaannya.
***
Sementara itu dia sebuah gudang seorang gadis di sekap. Ia duduk dan diikat di sebuah kursi.
"Ayo bilang di mana boneka itu sekarang?" anya laki-laki dengan tubuh besar.
"Saya tak tau—" jawabnya lemah.
"Kamu keliatan di CCTV yang bawa squinoid itu keluar bandara."
Gadis itu hanya terdiam, ia telah memberikan telur itu ke member BTL saat mengikuti jumpa fans. Bagaimana ia bisa mengakuinya?
***
Soogi berada di rumah kini duduk di ruang tengah bersama Jijji. Mereka memasang tenda di sana seolah mereka sedang berkemah.
"Jijji suka? Kita mainan bersama seperti ini gini?"
Jijji mengangguk, tentu sangat menyenangkan untuknya. Apalagi bermain bersama sang ibu.
"Jijji kesayangan Ibu, jangan nangis lagi ya Nak," pinta Soogi lalu memeluk Jijji.
"Jijji mau sama Ibu di sini. Jijji enggak mau ikut sama Tante Andrea."
"Iya, hari ini kita ada janji sama Om Tae mau nonton drama musikal 'kan? Jijji mau ikut pergi atau kita batalin aja?" tanya Soogi seraya membelai lembut anak perempuannya.
Jijji terdiam sejenak, Kemudian mengangguk. "Kita pergi aja . aku kangen juga sama Bongbong eonni."
"Yaudah, tapi, sekarang Jijji makan dulu. Tadi enggak jadi sarapan karena Jijji nangis terus."
Anak itu mengangguk, lalu berdiri dan berjalan ke ruang makan.
***
Yunki duduk di samping Bonbon. Hanya itu yang dilakukannya agar panas Bonbon turun. Sesekali Reya mengusap kening Bonbon dengan handuk basah.
Si pucat menatap Reya.
"ada sesuatu denganmu dan Jimmy?"
Reya terdiam kemudian menatap Yunki. "Aku dan Jimmy ...."
"Ah, aku mengerti. kau tak mengatakan kalau aku lebih dulu yang menyatakan perasaanku?"
"Tapi aku tak menerima mu," jawab Reya.
"Tapi, kau membalas ciumanku. Karena itu, aku pikir kau menerimaku," ucap Yunki kesal.
"Itu berbeda Yunki yaa, jawaban dan apa yang aku lakukan itu beda ...."
Yunki hanya terdiam dan menghela nafasnya. "Selamat untuk kalian,"
"Terima kasih."
"Tapi, aku harap kita tak perlu lagi saling tegur sapa. Aku bisa kalau hanya menghadapi Jimmy tapi, tak akan bisa kalau aku harus ketemu kamu."
"Kenapa?"
Yunki menatap Reya lekat. "Kenapa? Kamu pikir perasaan aku masih baik-baik aja setelah tau hal ini?"
***
Minji baru saja selesai shooting. Ia saat ini kembali ke kantor. Bagaimana pun ia masih senang menjadi staf di sana.
Semua karena Namjun Tentu saja. Ia berjalan ke ruangannya. Dan bertemu salah seorang temannya.
"Apa member BTL ada di studio?" tanyanya penasaran.
"Ada, tadi ada Yunki sama Namjun. Tapi, Yunki sepertinya sudah pergi see ak tadi."
"Oke makasih ya."
Minji segera berjalan keluar, ia lelah sebenarnya. Namun, ia benar-benar rindu dengan kekasihnya itu. Gadis itu berjalan menuju mesin kopi dan membeli kopi panas. Segera bergegas melangkah memasuki studio.
Di sana ia melihat Namjun yang tertidur, Minji berjalan mendekati Namjun
Sebelumnya ia meletakan di kopi di meja dan setelahnya ia mendekat, merapikan rambut Namjundan membelai wajah sang kekasih.
"Dia pasti capek,"
Minji memutuskan untuk ke luar. Lebih baik jika Namjun sendirian. Belum sempat menjauh pria itu menggenggam tangan Minji membuat ia menoleh.
"Joonie-ya, aku kira kamu tidur."
Namjun mengangguk. "Aku bangun waktu kau masuk."
Minji membelai kepala Namjun, posisinya lebih tinggi karena Namjun yang sedang duduk.
Pria dengan lesung pipi itu, memutar kursin dan memposisikan Minnji agar duduk di pangkuannya. Namjun lalu bersandar di tubuh Minji.
"Aku sangat merindukanmu," ungkap Namjun.
"Aku juga, karena itu aku langsung kemari setelah selesai shooting."
Namjoon menatap Minji lekat. Ia teringat pesan dari Yunki. Ia memegang wajah Minji dengan tangannya. Minji terdiam, Namjun mendekatkan wajahnya. Pertama ia mengecup ujung bibir Minji, dan terus berjalan ke tengah bibir.
Ia mencoba menerobos ke dalam bibir Minji. Ia berhasil melakukannya. Minji mulai meletakkan kedua tangannya ke leher prianya. Sambil saling bertaut Namjun menggerakkan kursinya ke arah pintu dan menguncinya. Malam itu semakin ganas dan panas.
"Joon-nie ya,"
Namjun tak memperdulikanya setelahnya ia menatap Minji, Minji tersenyum malu. Baru kali ini Namjun melakukan hal inipadanya.
"Bolehkan?" tanya Namjun.
"Hmm?" tanya Minji bingung.
"Tahap selanjutnya?"
"Tapi—"
"ah tak masalah kalau kau belum siap," dengan lembut Namjun membelai rambut Minji.
Sebenarnya ia sudah sangat ingin melakukannya. Tapi kali ini ia harus bisa menahan gejolak dalam dirinya. Ia tak akan memaksa Minji saat ini. Ia akan menunggu sampai Minji benar-benar siap.
***