Setiap harinya Nami harus terus merasa ketakutan karena kedua utusan Prof Sam yang menginginkan telur squinoid yang telah diciptakan oleh Prof Go. Bahkan disaat ia tengah melakukan pekerjaan di dorm BTL, kedua pria itu Samsoel dan Taejo terus saja mengejar dan mengawasi. Hidup yang ia jalani tak tenang, setiap hari terus saja merasa ketakutan. Namun dalam hati ia juga sadar kalau seharunya sejak awal ia tak memberikan sesuatu yang jelas bukan miliknya pada orang lain.
Setelah sampai ia segera berjalan cepat di lorong menuju pantry di lantai atas. Seharusnya ia masuk ke pantry di lantai tiga, tapi ia memilih untuk melangkah masuk ke sebuah gudang yang tepat berada di sam[ing dorm BTL. Ia masuk k sana untuk menghindari dua pria yang terus saja mengejarnya. Ruangan itu sempit karena banyak sekali barang-barang yang berada di sana. Lebih tepatnya ia ingin bertahan hidup. Mungkin kedua orang itu tak membunuhnya, tapi rasanya ia bisa saja bunuh diri karena merasa tertekan.
ia bersandar di belakang pintu dengan memegangi mulutnya karena takut napasnya terdengar dari luar. Langkah kaki semakin dekat, semakin jelas dan ia bisa mendengar itu.
"Di mana gadis itu?" suara serak Taejo terdengar.
"Cepat sekali menghilang," timpal samsoel.
Nami menatap ke belakang, melirik dann mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menyelamatkan dirinya. Ia melihat sebuah tongkat pemukul bisbol plastik di sana. Nami dengan cepat mengambil itu, rasanya dengan ukuran yang cukup besar akan memberikan efek yang cukup menyakitkan untuk dijadikan alat pemukul.
Hening setelah beberapa saat, Nami coba meyakinkan diri kalau kedua orang itu tak mengejarnya lagi. Ia melangkah lebih dekat pada pintu, mendekatkan telinganya ke pintu agar bisa lebih jelas mendengar apa yang terjadi di luar. Kemudian ia mendengar sebuah langkah. Bukannya menjauh gadis itu malah kini berdiri di balik pintu seraya memegang kuat-kuat tongkat plastik.
langkah cepat semakin mendekat, kemudian pntu terbuka,
"Aa ...!" Pekik Nami dan orang yang membuka pintu bersama.
Nami dengan cepat memukul ke arah depan tanpa melihat siapa yang berada di hadapannya. iia mengarahkan tongkatnya ke bawah sambil memejamkan matanya. Ia begitu merasa cemas dan ketakutan itu membuat dirinya merasa panik dan tak peduli dengan siapa yang ia pukuli saat ini
"AAa! Sakit, sakit, sakit!"
Nami membuka matanya, ia juga menghentikan pukulannya, lalu menatap sosok yang ada di hadapannya. Ia terkejut matanya membulat karena menatap orang yang kini berada di hadapannya.
"Ah, sakit sekali." itu adalah Heosok yang kini tengaj sibuk mengusap-usap kakinya yang kesakitan krena Nami yang memukuli dengan bertubi-tubi.
Putri cemas, ia kemudian berjalan mendekat. Dan meminta maaf pada Heosok. "maaf, maaf, maaf banget." Nami merasa bersalah ia bahkan membungkuk beberapa kali.
"Ah, maaf aku juga ngagetin. Aku cari sesuatu di sini. Staf bilang mereka taruh di sini.
"Aah, maaf aku ngagetin." Ucap Hoseok. "Aku kemari mau nyari besi untuk pegangan tembok studio. staf kami bilang mereka simpan di sini." Heosok menjelaskan, sebenarnya ia juga merasa bersalah karena masuk begitu saja ke gudang yang juga menjadi tempat menyimpan peralatan. Karena ia juga tau kalau masih ada pekerja yang sering kali masuk ke ruangan itu.
"Aku juga minta maaf karena terlalu terkejut lalu memukulmu. Ah, silahkan." Nami mempersilahkan Heosok untuk mencari barang yang ia cari. Sementara Nami sibuk meletakkan kembali tongkat plastik yang ia gunakan untuk memukul Heosok tadi.
Heosok sibuk mencari alat pemasang lampu yang akan ia gunakan untuk mengganti lampu di kamarnya. Sementara Nami masih menatap pria itu dengan ragu-ragu. Ia kini dalam keadaan tak baik. Hatinya bersorak senang karena ia bisa berinteraksi langsung dengan salah satu member dengan jarak yang sangat dekat. Namun, di sisi lain ia masih merasa cemas dan bingung apakah mungkin jika ia bertanya pada Heosok mengenai telur itu?
Heosok berniat berjalan ke luar dari gudang setelah menemukan apa yang ia cari.
"Maaf, Heosok-ssi,' panggil Nami sopan.
Langkah pria itu terhenti kemudian menatap pada Nami. "ya?"
"Apa mungkin Anda dan member lain masih mengingat? Beberapa bulan lalu ada yang memberikan hadiah dua buah telur? Berwarna abu-abu dan merah muda?"
"telur?" tanya Heosok berusaha mengingat.
Nami menganggukkan kepala. "Iya, telur yang berwarna dan di dalamnya ada boneka squizy berbentuk wanita? Apa mungkin ia berubah menjadi sesuatu?" tanya Nami ragu, ia menatap pria di hadapannya yang tengah berpikir.
Heosok terdiam sejenak. "Aaahh, Bongbon! Tunggu bagaimana kamu tau?" Tanya Heosok karena selama ini tak ada yang mengetahui itu selain member BTL, Reya, Soogi dan Minji. Sementara ia juga yakin kalau para gadis yang mengetahui rahasia ini tak mungkin mengungkapkan rahasia itu kepada siapapun
Nami menundukkan kepalanya, kemudian menjawab dengan ragu. "Karena—"
***
Malam ini Yunki masih menciptakan lagu. Tak banyak yang bisa ia lakukan, ia merekam nada melalui ponsel miliknya. Perasaan yang penat, sedih, amarah dan kecewa sering kali membuat siri lebih kreatif. Goresan lirik tercoret di buku miliknya. Yang ia lakukan sejak tadi hanyalah menggubah lagu. Perasaannya tak keruan setelah mendengar percakapan Reya dan Jimmy siang tadi. Saat itu pintu diketuk membuat ia menoleh.
"Siapa?" tanya Yunki.
"Ini aku, aku bawa makan malam buat kamu." Suara Reya terdengar.
"Masuk Rey," sahut Yunki seraya merapikan pena dan buku yang sedikit berantakan.
Pintu terbuka menunjukan sosok Reya yang berjalan masuk sambil membawakan baki berisi makan malam yang ia buat. Reya membiarkan pintu terbuka ia lalu berjalan mendekat pada Yunki. Reya meletakan baki makanan d tempat tidur tepat di depan Yunki.
"Kamu lagi buat lagu?" tanya Reya setelah melihat buku dan pena yang berada di dekat Yunki.
Yuni mengangguk, sambil menatap santap malam yang dibuat Reya. Ada sup ayam, nasi, kimchi dan telur. "Kamu enggak capek dari pagi ada di sini"
Reya menggeleng. "aku seneng kalau main sama Bonbon dan Bongbong."
"Senang main sama Bonbon atau karena ketemu sama Jimmy?" tanya Yunki sambil mulai menyantap sup ayam miliknya.
Reya tersenyum malu. "Dua-duanya."
Yunki mengangguk, meski ada sedikit rasa kecewa; ada juga rasa syukur yang ia rasakan karena ia bisa lebih sering bertemu dengan Reya.
"Enak enggak?" tanya Reya.
"Enak, masakan kamu kan sellau enak. Terima kasih udah mau repot-repot rawat aku."
"Kamu kan teman terbaik aku. Jangan bilang terima kasih," ucap Reya.
Yunki menatap gadis itu, Reya memainkan tangannya seraya menatap ke depan tanpa arah tatap jelas. "Kamu hamil?" Yunki bertanya to the points.
Reya menatap dengan terkejut, ia kehilangan kata-kata. Bagaimana Yunki bisa mengetahui tentang kehamilannya? Itu yang ada dalam pikirannya saat ini.
Yunki hela napas, ia masih sibuk dengan santapannya. Memilih tak menatap ke arah reya yanng juga pasti akan membuat ia merasa terluka.
"Kamu mungkin penasaran kenapa aku bisa tau tentang masalah itu? Aku dengar pembicaraan kalian. Buat aku jelas kamu kasih tau keadaan kamu, kalau kami hamil. Kamu sengaja bertanya untu lihat reaksi Jimmy 'kan? Dan tadi apa yang lihat engga sesuai harapan kamu? Terus apa yang akan kamu lakukan sekarang?" Yunki meletakan sendok yang ia pegang kemudian menatap pada gadis di hadapannya yang tengah sibuk memainkan jemarinya.
"Yunkki-yaa," jujur Reya saat ini tak bisa menjawab apapun. Ia kecewa dengan reaksi yang Jimmy berikan dalam hatinya juga menyesal karena terlena dan berbuat terlalu jauh.
"Jangan ngelakuin hal yang aneh. Langsung bilang ke Jimmy kalau kamu mengandung anak kalian. Nggak semua orang bisa mengerti kamu sebaik aku," saran Yunki. Ucapannya terdengar penuh percaya diri, tapi apa yang ia katakan adalah sebuah kebenaran yang tak bisa dielak bahkan oleh Reya. Ia benar-benar bisa memahami gadis itu.
"Iya aku bilang semua nanti," jawab Reya sebisanya.
"Sekarang, kalau nanti mau nanti kapan? Sampai kamu gugurin anak itu? Atau Kamu mau pergi lagi? Kenapa harus menghindar setiap ada masalah?" Tanya Yunki yang menyayangkan sikap Reya. Dulu gadis itu juga memilih pergi karena melindungi Yunki.
"Iya, udah kamu makan dulu. Aku buat sup ini dan omelet ini khusu buat kamu," ucap Reya mengalihkan pembicaraan di antara keduanya.
Reya kemudian memilih berjalan ke luar kamar setelah Yunki kembali melanjutkan makan siangnya. Ia memikirkan kata-kata yang Yunki lontarkan. Tapi, entahlah rasanya sulit untuk saat ini. Apalagi BTL yang akan comeback sebentar lagi. Bagaimana kalau konsentrasi Jimmy terganggu? Bagaimana kalau skandal mereka terendus media dan akan merusak karier BTL ke depannya?