Noid 32

1513 Kata
Hari ini Soogi siang ini berada di pengadilan setelah selesai menjalani sidang perebutan hak asuh di hari pertama. Sedikit membuat ia kesal dan takut karena ia harus menjalani sidang lanjutan. Ia berjalan ke luar bersama pengacaranya yang terus mengatakan untuk tenang karena Soogi jelas lebih layak mengasuh Jijji. "Saya meminta anda untuk lebih tenang dan yakin. kemungkinan sangat besar kalau anda yang akan mendapatkan hak asuh Jijji. Selama ini Anda yang berjuang sendirian dan mengasuh buah hati anda. Percaya saja, saya akan mengurus semua dengan baik." Tuan Yun sang pengacara mencoba meyakinkan agar Soogi tak terlalu cemas dan tetap percaya pada dirinya sendiri. "Iya, saya percaya kalau pengacara Yun pasti bisa menangani semua dnegan baik. Saya minta tolong sekali bantuannya, karena saya enggak akan bisa hidup tanpa Jiijji." Soogi memohon. "Baik,serahkan saja semua pada kami," tutur Tuan Yun, ia kemudian menatap jam di tangannya. "Maaf, sepertinya saya harus pergi lebih dulu. Maaf, Nyonya Shin, saya harus menemui janji temu yanng mendadak. Baru tadi pagi saya dihubungi." "Baik, Tuan Yun terima kasih." Soogi mengucapkan itu ia tau sang pengacara pasti sibuk sekali. Tuan Yun mengulurkan tangannya, Soogi menjabat tangan Tuan Yun yang setelahnya segera berjalan meninggalkan Soogi. Tuan Yun pengacara yang cukup terkenal dan memiliki reputasi yang sangat baik, Tae yang meminta langsung pada sang pengacara agar ia mau membantu Soogi. BHome juga sering memakai jasa Tuan Yun setiap kali ada kasus yang harus di tangani. Salah satunya adalah untuk beberapa dikenakan yang tidak menyenangkan yang sering kali menimpa artis yang berada di bawah naungan Bhome. Soogi menyetujui saran tae setelah ia mencari tahu tentang kredibilitas sang pengacara. Ia akan melakukan semua yang terbaik yang ia bisa agar ia dapat mempertahan kan hak asuh Jijji , anak perempuan yang begitu ia sayangi. langkah Soogi melambat setelah sang pengacara harus terlebih dulu meninggalkan dirinya karena memiliki janji temu mendadak. Ia berjalan di lorong menuju pintu ke luar. Di sana ada mantan ibu mertuanya yang duduk bersama James mantan suaminya. Kedua orang itu memilih tak mengacuhkan Soogi. Tentu saja Soogi juga tak mau ambil pusing dengan itu. Ia terus melangkah keluar untuk segera pulang dan bertemu dengan Jijji. Pikirannya tak pernah tenang sejak James mengajukan tuntutan hak asuh. Ia begitu takut kehilangan Jijji dan banyak ketakutan lain yang ia rasakan apalagi saat ini ia tengah mengandung. Hormon yang berantakan membuat moodnya juga tak baik. Sampai di parkiran, seseorang berdiri di sana berdiri bersandar di pintu belakang mobil. Sosok itu jelas orang yang soogi kenal berdiri mengenakan topi dan masker, kini tersenyum menunjukan senyum kotak khas sambil melambai ke arahnya. Melihat Tae kini berdiri di hadapannya membuat merasa sedikit lebih tenang. Perasaan Soogi sedikit menghangat karena ada seseorang yang begitu perhatian terhadapnya. Melihat Tae membuat ia melangkahkan kakinya lebih cepat, sudut-sudut bibirnya kini sedikit tertarik menyunggingkan senyuman yang manis. Entah mengapa senyuman mendadak tersungging di bibir Soogi. Ia berjalan dengan cepat menghampiri Tae. Seolah ingin melepas beban yang ia rasakan beberapa hari sejak sebelum sidang. Melihat Soogi membuat Taetae juga melangkah mendekat. "Kok, kamu ada di sin-" ucapan Soogi terputus karena dengan tiba-tiba Tae memeluk dirinya erat. tentu saja itu membuat Soogi terkejut. Tae memeluk seraya mengusap-usap kepala Soogi. "Kamu udah melakukan yang tebaik Nun. Kamu udah melakukan yang terbaik buat Jijji. kerja bagus Ibu Jijji. terima kasih karena kamu sudah melakukan yang tebaik dan bertahan sampai sejauh ini." Tae kemudian melepaskan pelukannya ia memegangi wajah Soogi dnegan kedua tangannya. Tentu saja apa yang dilakukan pria itu membuat jantung soogi berdebar lebih cepat untuk pertama kalinya. Tae hadir sebagai sahabat dan juga penolong. Ia mampu mengerti dan memahami Soogi. Kali ini ada rasa yang berbeda dari sebelumnya. Tae semakin dalam masuk ke dalam hati dan pikiran Soogi. Terlepas dari kejadian ranjang binal malam itu yang telah menghasilkan janin di dalam kandungan Soogi, tapi sosok Tae memiliki arti lebih dari itu. "Ekhm, kamu di sini?" tanya Soogi ia sedikit menjauhkan diri menghindari kecanggungan di antara keduanya. Tae anggukan kepala, "iya aku cemas sama kamu Nun, tau meskipun kamu terlihat baik-baik aja, tapi kamu pasti mikirin masalah ini sepanjang hari. Aku yakin Jijji akan tetap bersama ibunya." "Makasih banyak Tae." Soogi berucap tulus. Ia benar-benar berterima kasih karena semua bantuan dan dukungan yang diberikan oleh Tae. "Sama-sama Nun, ayo kita pulang dan jemput Jijji," Ajak Tae seraya mengulurkan meminta kunci mobil, Soogi segera mengambil kunci mobil dan menyerahkan pada Tae. *** Sementara saat ini di dorm Yunki masih rebah. Ia sudah lebih baik. Hanya saja memang masih menjalani masa pemulihan dan diharuskan banyak beristirahat. Dan saat ini si pucat itu tengah sibuk dengan ponsel di tangannya. Ia malas sekali beranjak dari tempat tidur, maka ia memutuskan untuk bermain ponsel dan membaca artikel. Setelah merasa bosan ia memutuskan untuk ke luar kamar dan menonton televisi. Jam seperti ini juga biasanya duoB sedang menonton atau bermain di ruang tengah. Ia berjalan ke ruang tengah melewati kamar Tae, kemudian suara Reya menarik atensinya. 'Jim, aku serius kalau seandainya aku hamil gimana?' Pertanyaan yang terlonytyar dari mulut gadis itu membuat Yunki berjalan sedikit mendekati pintu yang sedikit terbuka. Yunki tak bisa melihat keduanya hanya saja ia bisa mendnegar suara keduanya dengan jelas. Dalam hatinya kini ia mera kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Jimmy dan dan juga Reya. Tentang hubungan keduanya yang sudah terlalu jauh. Apalagi jika benar apa yang ditanyakan tadi kalau Reya benar-benar hamil. Meski demikian tentu saja ia tak berhak berkomentar karena mereka berdua yang menjalani hubungan itu. Tapi, aku kan selalu pakai pengaman. Aku rasa nggak mungkin kamu hamil sayang, hmm? Tenang Jangan khawatir. Seandainya aku hamil? Aku nanya itu Jim. Kamu terlalu cemas. Jauh di dalam hati Yunki merasa kalau pertanyaan Reya adalah sebuah pemberitahuan kalau ia kini tengah mengandung. Hanya saja Jimmy tak memahami maksudnya. Sejujurnya, ini membuat ia merasa kesal dan marah. Apalagi dengan jawaban yang diberikan Jimmy yang terkesan menyepelekan. Namun, bukankan ia telah berjanji akan menerima keputusan Reya karena lebih memilih Jimmy dibandingkan dirinya? Yunki kemudian memilih untuk kembali melangkahkan kakinya menuju ruang tengah. Di sana ia tak menemukan duob. Yunki lalu menuju kamar lain dan menemukan si kembar yang tengah tertidur. Yunki kemudian kembali ke ruang tengah ia duduk di sofa dan mulai menyalakan televisi. Saat itu Reya berjalan ke luar dari kamar Jimmy. Yunki hanya melirik sekilas, jelas gadis yang ia cintai itu cemas. Reya berjalan mendekati Yunki, lalu duduk di samping Yunki. Sesekali ia memainkan jemari tangannya dan yunki juga menangkap kegelisahan Reya. Dan lagi-lagi ia memilih untuk diam. "Kamu udah bangun?" tanya Reya. 'Iya, aku tadi baca artikel dan ngebosenin. Kamu kapan datang?" tanya Yunki menatap Reya dan tersenyum. Andai ia bisa memeluk reya saat ini, mungkin itu akan ia lakukan untuk membuat gadis itu agar lebih tenang. Hanya saja ia harus sadar bahwa Reya bukan miliknya. "Belum lama, Jimmy mau ke studio sebentar lagi. aku mau nemenin kamu dan si kembar. O iya kamu mau makan sesuatu?" Yunki menggeleng ia sepertinya juga jadi malas makan siang ini karena moodnya yang buruk. "Oke, kalau gitu kau tanya si kembar, siapa tau mereka mau sesuatu." Reya berucap, ia baru saja akan bangkit dari duduknya sebelum Yunki menahan tangan gadis itu. "Si kembar tidur. Kalau aku minta buatin bubur kamu bisa?" Yunki bertanya. Reya tersenyum dan mengangguk. "Bisa, tunggu di sini ya." Yunki anggukan kepala. Reya masih sama ia harus melakukan sesuatu untuk membuat ia merasa lebih baik dan lebih tenang. Maka ia meminta gadis itu untuk membuat bubur.. Yunki berharap perasaan Reya akan lebih baik jika ia melakukan sesuatu. *** Sang leader siang ini berada di studio rekaman di kantor Bhome. Apa yang terjadi pada Minji juga menjadi beban pikirannya. Tentu saja, dalam hati ia merasa telah menghancurkan karier Minji yang baru saja di bangun. Bukan hannya Minji, karena ia menggunakan mobil yang biasa digunakan seojin, itu membuat member tertua BTL itu tekena skandal bersama kekasihnya. Hal itu membuat Namjun banyak berpikir tentang apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan sang kekasih, Seojin dan BTL dengan satu keputusan. Dan ia telah menemukan cara untuk mengatasi masalah ini. Si pemilik lesung pipi itu duduk seraya sesekali menggerakkan jemari tangannya ke atas meja, ia menunggu seseorang. Saat itu pintu di ketuk, tak lama terbuka menunjukkan sosok Minji yang berjalan masuk. Minji mengenakan hoodie, masker dan topi. Gadis itu menutupi wajahnya karena ia takut jika terlihat orang dan akan menimbulkan desas-desis baru. Minji membuka kaca mata yang ia kenakan setelah masuk dan mengunci pintu. Namjun segera berdiri ia menghampiri kekasihnya itu dan mengajak Minji untuk duduk bersama di sofa. Sejujurnya Minji terlihat baik-baik saja dan tak terlalu terpengaruh oleh berita yang beredar. Karena gadis itu memilih untuk tak membaca berita apapun tentang dirinya. "Kemarin kamu ditanya apa?" tanya Namjun. "Tentang kebenaran hubungan aku sama Seojin oppa," jawab Minji. "terus?" Namjun bertanya penasaran. "Aku bilang enggak ada. Atasan juga tanya siapa yang ada di mobil. Aku enggak jawab, gilanya lagi aku dan Seojin oppa malah diminta pura-pura pacaran, tapi Seojin oppa bilang kalau dia enggak mau." Namjun mengangguk mengerti, "Kamu tenang aja, aku udah mikirin ini dan aku sudah punya keputusan," ucap namjun. "Keputusan apa?" tanya Minji penasaran. "Keputusan yang akan membuat rumor ini selesai."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN