Bab 1 Kemesraan Terlarang
Tubuh Lotta gemetaran melihat Kemal, suaminya tengah bercinta di dalam bath tub kamar hotel yang bukan kamar mereka.
Suara kemesraan terdengar di antara percikan air kran bath tub. Sepertinya sengaja dibuka untuk menyarukan suara lenguhan dan menambah kenikmatan bersetubuh dalam air.
“Akh! Enak, Sayang … Enak banget!”
“Pasti, Sayang..Kamu membuatku bergairah..”
Lotta menutup mulutnya yang ingin terisak menangis, karena kedua mata indah dia sudah berlinang-linang.
Mengapa dari kemarin dia tidak percaya sama Billy, rekan sejawatnya di HC Hospital, bahwa melihat jelas Kemal berselingkuh. Tepatnya ketika sang rekan melihat Kemal mengunjungi dokter Wijaya spesialis Ginekolog.
Billy merasa aneh, sebab setahu dia, Kemal tidak pernah mau ke ginekolog jika diajak Lotta, yakin pria itu subur, hanya memang belum waktunya saja membuat Lotta mengandung.
Kemudian, selepas pasangan terlarang itu konsultasi, Billy tidak sengaja lagi melihat Kemal bergumul panas di kabin belakang mobil yang diparkir pada salah satu sudut basement rumah sakit.
Pria itu tadinya tidak tega mengatakan semua yang diketahui, tapi akhirnya terpaksa karena malam ini ternyata Kemal yang menemani Lotta menghadiri lauching HC Hospital cabang Singapura, kepergok dia menemui wanita selingkuhan itu dan langsung ke kamar ini.
“Tahan ya, Sayang!”
Suara baritone Kemal kembali terdengar oleh Lotta.
“Aku akan lebih kencang dan cepat sekarang..”
Terbayang dipelupuk mata Lotta, bagaimana aksi suaminya yang pernah dirasakan dia sendiri, saat mereka bermesraan demi mendapat keturunan. Digeleng-gelengkan kepala sambil memejamkan kedua mata. Air mata terus mengalir deras.
“Akh! Akh!”
Lenguh si wanita selingkuhan terdengar begitu seksi, tersengat kocokan ganas Kemal.
“Kamu luar biasa, Sayang!” bahkan memuji kehebatan pria itu, “Akh! Terus..Terus, Sayang! Lebih kuat lagi! Akh!”
Lotta tidak tahan lagi mendengar drama menjijikan ini, segera membuka kedua mata, dan dengan hati-hati meninggalkan tempat maksiat tersebut. Dia pun keluar dari kamar dan saat itu masih ada Billy yang setia menunggunya.
“Lotta-!”
Billy menegur temannya ini, tampak wajah dia pilu. Dia tahu adegan panas tersebut akan menghancurkan hati dokter cantik ini. Pelan dipeluk Lotta.
“It’s okay, Say.” Ditenangkan hati Lotta, “Loe bisa melalui semuanya. Gue ada bersama loe.”
Lotta tidak bisa menyahut, hatinya teramat sakit. Kemal, suami yang begitu setia mencintainya selama lima tahun pernikahan. Suami yang selalu butuh dukungannya sehingga sekarang bisnis furniture dan kitchen set sang suami melambung di pasar Singapura dan Australia.
Dulu pertama mereka menikah, Kemal baru lulus dari fakultas desain interior di kampus mereka dan hanya diberi modal ala kadar oleh Radja Haryanto sang ayah untuk membangun bisnis furniture dan kitchen set. Karena masih merintis, maka Lotta yang sudah mapan keuangannya dari bekerja di HC Hospital dan dua klinik swasta, menopang dapur mereka.
Bagi Lotta tidak masalah, sebab tugas istri mendukung ketulusan suami membangun bisnis untuk menghidupi mereka nantinya. Kemudian, sang suami sangat menghargai dukungan dia dengan memanjanya. Bahkan selalu mau menemani dia yang seringkali dikirim HC Hospital untuk mengikuti pelatihan atau seminar.
Hanya saying, mereka belum diberi keturunan. Membuat, Rita Haryanto, ibu Kemal menjadi nyinyir.
“Piye toh, Le?” sang ibu memandang Kemal yang membantunya di dapur rumah si ibu, “Kamu sama Lotta belum juga punya momongan.” Keluh perempuan blasteran Jawa dan Cina Singapura. “Mama kepengen cucu, Le!”
Kemal berhenti mengiris bawang merah, diputar pandangan ke sang ibu yang mengeluh sambil memetiki batang-batang kangkung.
Lotta saat itu baru pulang dari praktek, hendak masuk ke dapur, tapi mendengar percakapan tersebut mengurungkan niatnya. Dia hanya menguping dari tepi kusen pintu penghubung dapur ini.
“Sabar, Ma, sabar.” Kemal dengan suara lembut menanggapi keluhan Rita, “Kemal ama Lotta terus berusaha kan? Nanti pasti Mama dapat cucu dari kami.”
Rita mendengus kesal, “Sabar terus, Le! Jangan-jangan istrimu mandul.”
Lotta terkesiap, mengapa mertua bisa-bisanya menghakimi dia mandul? Atas dasar apa? Banyak pasangan subur yang menikah lama tapi belum punya keturunan. Tapi apa mungkin dia mandul? Atau kah Kemal yang mandul.
Tapi dia tidak ambil pusing, selama Kemal tidak nyinyir ingin anak dari pernikahan mereka ini. Lagipula sang suami sangat setia, menolak pernah diusulkan mengambil istri muda biar punya keturunan.
Namun, baru saja Lotta melihat Kemal bergumul mesra dengan wanita lain dalam bath tub kamar hotel, tempat mereka saat ini menginap karena besok mereka akan menghadiri pesta pernikahan Aldo, teman Kemal satu fakultas, yang kebetulan diadakan di hotel ini pula.
Billy perlahan membawa Lotta berjalan, jangan sampai Kemal dan wanita itu tahu kalau ninaninu itu dilihat sahabatnya ini. Bisa ramai urusannya dan membuat berita ke seluruh penjuru hotel.
Nama baik Lotta sebagai dokter spesialis anak bisa rusak dan akan terdengar ke telinga keluarga si nyonya malang ini. Jika sudah begitu, alamat Kemal akan dihajar habis oleh Martin dan Ruben, kedua kakak sang nyonya.
***
Martin mengamati wajah Lotta yang memerah dan kedua mata sembab. Dia dan Ruben selalu bergantian menelpon si bungsu ini agar persaudaraan yang ada tetap terbina baik dan kuat.
Daniel Emilio dan Lastri Arista, orangtua mereka, mendidik mereka sedari kecil sampai sekarang untuk terus bersayang-sayangan. Bahkan menjelang Daniel meninggal, sang ayah menitipkan pesan agar Martin dan Ruben tetap momong Lotta si bungsu. Amanat ini dilaksanakan kedua kakak sang nyonya.
“Dek-“ Martin menegur si adik yang memasang wajah tersenyum ketika menjawab panggilan video dari dia, “Kamu kenapa?” tanyanya ke sang adik yang duduk bersandar punggung ke dinding tempat tidur.
Lotta terkesiap dengan pertanyaan sang kakak sulung, “Kenapa apa, Kak?”
Martin mengacungkan jari telunjuk ke wajah si adik yang tampak dilayar ponsel.
“Wajahmu merah dan kedua matamu sembab.” Ujarnya, “Kamu berantem kah sama Kemal?” dia curiga si adik baru bertengkar sama Kemal.
Pertanyaan yang wajar, sebab dia tahu sang adik terus dinyinyirin mertua yang pengen cucu. Si adik mengajak Kemal ke ginekolog, berakhir mereka bertengkar, karena Kemal tidak mau dipaksa. Kemal tetap yakin subur, meminta Lotta bersabar. Jika sudah begitu, air mata adiknya pasti meleleh.
Lotta punya perasaan yang sangat halus, sehingga jika terkena bentakan atau mengalami pertengkaran, pasti kedua mata meluruhkan krital-kristal bening ke wajah. Beruntungnya, sebelum menikah, Lotta tidak pernah menangis, sebab orangtua dan kedua kakak jika berselisih paham pasti duduk bareng dan dibicarakan baik-baik. Lotta juga tidak pernah dinyinyirin mengenai ini atau itu yang memicu pertengkaran.
Namun, saat menikah, tentu sudah berbeda toh? Kemal bisa saja naik pitam saat mereka berselisih paham.
“Aku,” Lotta memutar otak jeniusnya, “Tadi habis nonton drakor, Kak.” Dia menemukan jawaban mengapa terlihat seperti habis menangis lama, “Drakornya super sedih banget, jadi Lotta terbawa, Kak.”
Martin menyimak penjelasan ini tapi dia yakin si adik menangis lama bukan karena habis menonton drama Korea super sedih. Sebab, sesedih-sedihnya drama itu, tidak akan membuat penonton menangis lama hingga wajah memerah dan mata sembab.
“Oke-“ Martin menghela napas pelan, “Kemal mana, dek?”
Lotta terkesiap, mengapa sang kakak mendadak menanyakan Kemal? Meski pertanyaan yang wajar, karena si kakak tahu acara launching itu sudah selesai dan pasti dia dan suami sudah berdua dalam kamar hotel.
“Dia,” Lotta kembali memutar otaknya, “Kayaknya di kamar mandi, Kak.”
“Kayaknya?” Martin terheran mendengar jawaban ini, “Memang dia di mana sebelumnya?” entah kenapa dia ingin tahu di mana sang ipar saat ini.
Meski dia dan Ruben tidak pernah ikut campur urusan rumahtangga Lotta, tapi jika melihat si bungsu sampai seperti ini, tergerak ingin mencari sang ipar untuk diajak bicara dari hati ke hati, sehingga dia bisa tahu ada apa sama adiknya. Jika masalah sepele, bisa dibujuk adik untuk berdamai dengan suami. Jika berat, dia bawa si adik dan suami untuk duduk bareng.
Lotta hendak memberi jawaban tapi telinga dia mendengar pintu kamar dibuka dari luar dan menit berikut melihat Kemal masuk ke dalam kamar ini.
“Kak!” dia bergegas menegur Martin, “Sorry, besok kita nyambung lagi ya.” Dia memberi isyarat ke si kakak kalau suami sudah datang. “Bye, Kak!” gegas, mengakhiri panggilan video mereka dan meletakan ponsel ke bufet.
Dia pun tergesa mengambil remote televise dari bufet, ditekan tombol power agar mesin bergambar itu menyala, lantas menarik bantal dari balik punggung, diletakan ke permukaan kasur dan baring miring menghadap bufet. Tangannya tetap memegang remote dan dipejamkan kedua mata, seolah sudah tidur karena bosan menonton tayangan televisi. Dia tidak mau bicara apa pun saat ini ke suaminya, karena pasti akan menimbulkan pertengkaran hebat.
Kemal menutup rapat pintu dan menguncinya, lantas memasang wajah kuyu, seolah kelelahan. Tadi saat dia diam-diam menemui wanita tersebut, izin pamit ke Lotta mau menemui temannya yang menelpon bahwa ada calon investor tertarik bisnis furniture dan kitchen set milik dia.
Pria itu meluaskan pandangan, mencari Lotta, lantas perlahan mendekati sang istri. Dia tersenyum lega, ternyata istrinya sudah tidur, dikira kelelahan menanti dia kembali ke kamar. Pelan diambil remote dari tangan si istri, diletakan ke bufet, kemudian mengambil sehelai selimut dari sofa panjang depan tempat tidur ini, dibentangkan menutupi tubuh sintal wanita yang dikhianatinya baru saja.
Bibirnya lantas mencium saying kepala dan kening Lotta, baru bisik mesra.
“I love you, honey.”
Lotta mendengar ini merasa mual, berani sekali sang suami mengatakan cinta, padahal baru saja dilihat tengah ninaninu sama wanita lain dalam bath tub.