BAB 2 : Kesepian

1088 Kata
Beberapa perempuan yang berjalan melewatinya langsung buru-buru melangkah; tidak menoleh sama sekali, apalagi menyapa. Senyuman lucu tergambar di wajah Galen. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, apakah mukanya seburuk itu? Padahal, dia hanya duduk sambil menunggu pemilik bengkel selesai menambal ban motor gurunya itu. Dia tidak mengganggu orang-orang yang lewat, tidak pernah bahkan. Tetapi terkadang persepsi memang mengalahkan segalanya. Galen seringkali heran dengan orang yang memberikannya label buruk. Memangnya, mereka tahu apa sih tentangnya? Sayangnya, Galen tidak bisa menjelaskannya. Sebelum dia sempat menjelaskan, mereka pasti sudah kabur terbirit-b***t. Padahal, Galen tidak akan pernah mengganggu mereka. Dia hanya ingin mempunyai teman, jika boleh. Teman duduk pun tidak masalah. Masalahnya, tak ada yang mau duduk berdampingan dengannya. Dia bahkan hanya seorang anak SMA yang berumur 16 tahun, mempunyai mimpi yang sama dengan anak lain. Mimpi sederhana tentang memiliki seorang teman yang menerimanya apa adanya. Namun, pertemanan semacam itu hanya ada di dalam cerita-cerita atau film. Di dunia nyata, tidak ada hubungan yang murni dan tulus. Pasti ada sebutan udang dibalik batu. Jangankan pertemanan, cinta orang tua kepada anak pun kadang masih bersyarat. Tidak percaya? Menurut Galen, orang tua terkadang tidak sadar bahwa anak bukanlah aset masa tuanya. Anak adalah satu kesatuan utuh yang disebut sebagai manusia. Manusia yang bebas dan bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Anak bukan ajang pamer keberhasilan apalagi diharapkan sebagai penunjang kehidupan di masa depan. Orang tua terkadang salah mengartikan tentang sebutan anak. Walaupun orang tua yang telah melahirkan dan mengurus anak, itu semua bukan semata-mata untuk meminta balasan di kemudian hari. Lalu apa bedanya orang tua dengan debt collector? Memberikan bantuan di awal lalu menagihnya di kemudian hari dengan bunga yang kadangkala melebihi bantuan yang diberikan. Walaupun kasih sayang orang tua tidak bisa di-uangkan. Namun apa pantas jika menjadikan anak sebagai THT (Tunjangan Hari Tua)? Galen selalu menertawakan setiap kali orang-orang membahas tentang balasan kepada orang tua. Apakah dia juga perlu membahas kebaikan orang tuanya? Kebaikan yang sama sekali tidak pernah dia rasakan di mana kata baik itu berasal. Galen hanya menatap sendu ke arah seorang Ibu yang sedang mencubit anaknya dari lapangan bola. Galen tersenyum getir ketika melihat pemandangan pukul enam sore seperti ini, waktunya para Ibu-ibu beraksi dengan sapu atau tongkat di tangannya. Mencoba menggiring anaknya yang tidak pulang dari bermain. "M-mas," panggil pemilik bengkel dengan hati-hati. Galen menoleh ke arah pemilik bengkel yang menatapnya dengan tatapan takut, "sudah, Bang?" "Sudah, Mas." Jawab pemilik bengkel itu dengan kikuk. Galen mengambil dompetnya dari dalam saku celana sekolahnya dan mengeluarkan dua lembar uang dua puluh ribuan, "berapa, Bang?" "Lima belas ribu, Mas." Jawab pemilik bengkel itu takut-takut. Galen mengangguk dan memberikan uang yang ada di tangannya kepada pemilik bengkel, "ambil aja uang kembaliannya, Bang. Makasih, ya!" "Eh ... makasih, Mas." Jawab pemilik bengkel dengan cukup kaget karena mendapatkan bonus dari Galen. Galen bergegas untuk pulang ke rumahnya. Walaupun rumahnya tidak nyaman sama sekali, namun setidaknya dia punya rumah untuk pulang. Menikmati waktunya untuk tidur lebih baik daripada menikmati waktunya bersama dengan manusia bumi yang berusaha keras untuk menghindari setengah mati. Apa dirinya semacam virus berbahaya sehingga perlu dihindari? Ah, bukan dirinya yang bermasalah. Namun, otak orang-orang itu. Terkadang, orang yang waras bisa bertindak seperti orang gila. Orang waras diberikan otak untuk berpikir namun tidak pernah digunakan dan akhirnya bertindak layaknya orang gila yang ketakutan kepada manusia lain tanpa sebab. Ah, tetapi terkadang orang gila bisa menyerang orang lain tanpa sebab juga? Jadi pada intinya adalah; orang waras suka bertindak sebagai orang sakit jiwa. Terlalu banyak orang gila yang berkeliaran dengan kedok orang waras. "Huft, selamat datang di rumah! Rumahmu, penjaramu!" Ucap Galen kepada dirinya sendiri yang baru saja sampai di depan gerbang rumahnya. "Hidup gue tidak ubahnya cerita dongeng yang menyeramkan. Tinggal di sebuah kastil menyeramkan yang penuh dengan penyihir." Tandas Galen dengan membuka pagar rumahnya. "Sayangnya, gue bukan Rapunzel yang bakalan dijemput pangeran. Karena apa? Gue enggak punya rambut emas yang bisa panjang dengan sendirinya. Gue benar-benar akan masuk rumah sakit jiwa kalau begini." Sambungnya sambil tersenyum. Setelah memasukkan motor milik gurunya ke halaman rumahnya, Galen bergegas untuk masuk ke kamarnya. Cowok itu melepaskan sepatunya asal dan merebahkan dirinya di atas ranjang tanpa berniat untuk mandi dan mengganti seragam sekolahnya dengan kaos longgar. Galen hanya melonggarkan dasinya dan memejamkan matanya sejenak. Sesekali dia akan menghela napas panjang dan mengembuskannya dengan kasar. "Gue pengen ayunan lagi," gumam Galen dengan tersenyum tipis. Dia membayangkan tentang ayunan di taman yang bergerak ketika seorang anak duduk di sana dengan dorongan pelan dari orang tuanya. Mereka berdua tersenyum dan tertawa dengan riang. Pemandangan yang indah. Tiba-tiba air mata jatuh dari pelupuk matanya. Membuatnya buru-buru merubah posisinya menjadi duduk kembali. Dia tidak suka air matanya mengenai kasurnya, karena akan merepotkan. Menurutnya, air mata yang jatuh di tempat tidur itu tidak baik; memberikan pertanda bahwa orang itu akan sering menangis ketika berada di kasurnya. Galen tidak mau bernasib seperti itu. Menangis tanpa sebab ternyata menyesakkan juga. "Kenapa gue diciptakan menjadi manusia cengeng?" Tanya Galen, lagi-lagi berbicara dengan dirinya sendiri. "Gue juga mau punya teman yang selalu ada disamping gue." Sambungnya dengan penuh penekanan. Setelah mengatakan itu semua, hatinya terasa lebih lega. Galen bisa menghentikan air matanya agar tidak terjatuh lagi. Dia berusaha keras untuk tenang. Dia berusaha agar emosinya tidak meledak-ledak karena perasaan sedihnya. "Ingat ... Lo boleh marah, boleh kesel, boleh kecewa, tapi Lo enggak boleh nyakitin orang lain." Ucap Galen dengan lantang. Galen sudah berjanji kepada Ibunya, apapun yang terjadi dia tidak boleh menyakiti orang lain, merugikan orang lain. Jadi, jalan satu-satunya untuk melampiaskan kesalnya adalah dengan menyakiti diri sendiri. Galen menyiksa dirinya dengan banyak hal. Dengan napas yang terengah-engah, Galen menghidupkan laptopnya dan mencari salah satu folder yang cukup rahasia, namun rahasia itu sudah menjadi konsumsi publik. Membuat namanya menjadi jelek, membuat orang-orang berasumsi tidak baik tentangnya, membuat orang-orang menjauhinya dan takut padanya. Obat. Begitulah Galen memberikan nama folder yang dicarinya. Dengan serius, Galen memilih 'film' yang akan ditontonnya. Walaupun kepalanya akan berakhir dengan rasa pusing yang hebat, namun itu lebih baik daripada mencari jalan untuk mengusir rasa sedihnya. Bahkan Galen tidak tahu mengapa hatinya begitu merasakan kepedihan. Tetapi itulah kenyataannya. Terkadang apa yang dilihat tidak sesuai dengan apa yang dirasakan orang tersebut. Terdengar suara-suara yang tidak asing di pendengarannya. Galen sudah terbiasa dengan setiap adegan yang ditontonnya. Dia bahkan bisa bersikap biasa saja karena memang tontonan seperti ini sudah menjadi konsumsinya setiap hari. Selama beberapa jam, dia akan menikmati waktunya untuk menonton hal yang tidak pantas untuk ditonton. Lalu setelah film itu selesai, Galen akan mulai merasakan pusing dan mual. Dia benar-benar menjijikkan! "Gue baik-baik aja, 'kan?" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN