Gang menuju indekos- nya memang ramai beberapa hari ini. Ada hajatan salah satu penghuni rumah sebelah dan suara musiknya tidak berhenti selama dua puluh empat jam. Waktu tidur Ilyas yang berharga akhirnya terbuang cuma-cuma. Dia baru saja pulang dari sekolah, menjadi guru baru memang susah-susah gampang. Susahnya karena disuruh-suruh oleh guru senior yang bisanya meminta tolong terus padanya—lebih tepatnya lagi sih; memanfaatkan.
Kalau untuk urusan gampang, dia mudah berbaur dengan siswanya karena memang rasanya sepantaran, umur mereka tidak beda jauh lah. Sehingga komunikasi antara guru dengan siswa lebih mudah terjalin dan tidak kaku. Sayangnya, tugas pertamanya adalah mengurusi seorang siswa bermasalah yang tampangnya sudah seram dari sananya. Ilyas seringkali menyebut anak itu ber- aura gelap.
Namanya Galen, Ilyas mengenal siswa itu sebagai remaja pada umumnya. Terlihat tampan andaikata rambut gondrongnya dipotong rapi. Mungkin akan kelihatan berwibawa dan gagah apabila seragamnya tidak semrawut seperti yang seringkali dipakainya. Bahkan kegiatannya hanya seputar berangkat ke sekolah, diam, tidur, bodo amat, lalu pulang. Ah, jangan lupakan tentang satu fakta paten ini; siswa me-sum.
Banyak orang tua yang prihatin dan berharap besar bahwa Galen harus dikeluarkan dari sekolah. Namun, seseorang yang berkuasa mampu menghentikan keputusan besar itu. Galen seperti siswa berprestasi yang perlu dan pantas dipertahankan—sehingga dirinya tidak pernah bisa dikeluarkan atau mendapatkan surat peringatan.
Orang itu berkata bahwa; siswa yang bermasalah harus dibina, bukan dibuang. Namun pada kondisi di lapangan (sekolah), mengurus Galen bukanlah perkara mudah. Anak itu selalu membuat keributan dan terus melakukan apapun yang dia mau. Bahkan tidak segan untuk terus membuka dan menonton situs porno tanpa tahu tempat.
Ilyas yang baru beberapa hari ikut andil dalam penanganan kasus siswa bermasalah pun pernah memergoki Galen yang tengah menikmati tontonan tidak senonoh itu. Sebenarnya Ilyas pun merasa wajar dengan tontonan semacam itu di usia remaja, khususnya lagi para laki-laki. Sayangnya, Galen tidak tahu tempat sama sekali. Cowok itu melakukan apapun sesukanya tanpa peduli dengan sekitarnya.
"Huft, ... capek banget hari ini! Mau makan apa kita?" Tanya Ilyas kepada dirinya sendiri sambil bermonolog dengan riang. "Hm, sepertinya aku harus mulai membaca ulang jurnal yang pernah aku baca selama masa kuliah." Sambungnya setelah memarkirkan motor yang bukan miliknya itu di depan kamar indekosnya.
Laki-laki itu mendudukkan dirinya pada sebuah kursi kayu reyot yang berada di depan kamarnya sambil kipas-kipas dengan tangannya. Dia baru saja sampai rumah dengan keadaan perut kosong, ditambah suara sound system membuatnya semakin tertekan. Tetapi mau bagaimana lagi, 'kan? Dia hanya sekedar nge- kost di sini. Dia bukan pegawai tetap yang bisa mendapat rumah dinas atau nge- kost di tempat yang lebih layak lagi.
Seratus lima puluh ribu, cukup untuk setiap bulannya. Dengan kamar yang kecil, dinding berlumut, dekat dengan TPA, namun mempunyai kasur tipis yang lumayan nyaman untuk dibuat tidur. Ilyas hanya bisa menyewa kamar indekos demikian karena memang budget yang dimilikinya tidak seberapa. Jika ingin nge- kost di tempat yang lebih nyaman dan mahal, maka makannya sehari-hari akan terganggu.
Dan, ... sekarang motornya malah bermasalah. Ah, bukan itu masalah sebenarnya. Namun motornya yang dibawa Galen dan menggantikannya dengan motor cowok itu. Ilyas tidak bisa berpikir positif sedikitpun walaupun katanya anak itu ingin membantunya. Dari penampilan, bahkan tatapan saja sudah seperti cowok tidak baik. Begitulah yang selalu dilihatnya dari sosok Galen beberapa hari ini.
"Mas Ilyas," panggil seorang ibu-ibu berdaster lengan pendek dengan kerudung instan di depan indekos- nya.
"Eh, Bu RT. Ada apa, Bu?" Tanya Ilyas yang buru-buru beranjak dari duduknya.
Perempuan yang dipanggil Bu RT itu menyodorkan sebuah box makanan kepada Ilyas, "ini, buat kamu. Tadi makanannya sisa banyak. Ibu kasih kamu aja, anak-anak baru enggak di rumah. Enggak ada yang makan nanti."
"Wah, ... makasih banget, Bu. Kebetulan belum makan juga." Jawab Ilyas dengan senang karena mendapat makanan gratis. Lumayan, dia bisa berhemat untuk uang makan hari ini.
Bu RT tersenyum, "ya sudah, Ibu kembali lagi. Eh, motornya sudah ganti? Jadi bagus."
Ilyas hanya tersenyum saja, tidak menjawab. Setelah itu barulah dia masuk ke dalam indekos- nya untuk makan. Perutnya sudah demo sejak tadi karena memang belum makan. Hannah sempat membawa makanan dari rumah, sehingga mereka tidak datang ke kantin. Ilyas tidak ingin pergi ke kantin sekolah sendiri dan dia juga tidak mau datang bersama dengan para senior yang suka sekali bergunjing. Ah, rasanya tertekan sekali.
Tok... Tok... Tok...
Ilyas menatap pintu indekos- nya yang diketuk dari luar. Laki-laki itu beranjak untuk membuka pintu walaupun belum selesai makan. Siapa tahu Bu RT datang lagi membawakan sisa makanan yang belum sempat diberikan padanya. Dengan sangat semangat Ilyas membuka pintu dan senyuman di wajahnya memudar seketika karena melihat tamu yang berada di depan pintu indekos- nya.
"Han, ngapain kesini?" Tanya Ilyas ketika melihat Hannah datang dan menyodorkan kotak makanan gambar princess ke arahnya.
"Dari Mamak, katanya buat kamu. Udah makan belum?" Tanya Hannah yang memilih untuk duduk di kursi yang ada di depan indekos Ilyas, walaupun belum dipersilakan.
Ilyas menatap nasi kotaknya yang berada di dalam indekos- nya, "itu dikasih nasi kotak sama Bu RT. Mau minum apa?"
"Punya apa memangnya?" Tanya Hannah dengan tatapan menyelidik.
Ilyas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, "cuma ada air putih sih. Tapi kalau mau minum yang lain, aku beliin dulu di depan."
"Enggak usah minum deh. Aku bentar doang kok." Ucap Hannah akhirnya sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jaketnya. "Eh, memang sejak kapan kamu ganti motor?" Sambung Hannah yang menatap motor yang terparkir di depan indekos- nya.
Tatapan Ilyas beralih pada motor itu lagi, "aku udah pura-pura lupa, kamu malah ingetin lagi. Itu motor Galen—siswa kita itu. Ingat, 'kan?"
"GALEN?" Teriak Hannah yang langsung dibekap mulutnya oleh Ilyas.
"Mulutnya!" Sindir Ilyas sambil melepaskan tangannya dari mulut Hannah. "Suaramu ngalahin musik orang nikahan." Sambungnya lagi.
Hannah hanya nyengir tanpa dosa. Dia tahu betul tentang nama Galen. Sepertinya keduanya memang punya semacam masalah serius dengan anak itu. Bukan masalah pribadi sih, tetapi masalah di sekolah yang tentu saja melibatkan mereka berdua.
"Ban motorku bocor. Dia yang bantu sebenarnya dan ngasih motornya ke aku. Padahal jarak tambal ban sih kayanya agak jauh deh. Tapi masa, Galen sebaik itu?" Tandas Ilyas penasaran.
Hannah hanya mengangkat kedua bahunya, "dia itu memang aneh. Tapi kalau aku lihat-lihat, ada sesuatu yang sebenarnya menjadi beban tersendiri untuk dia. Kita harus deketin dia deh. Metode pendekatan seperti itu 'kan biasanya ampuh juga. Dia juga mau bantuin kamu."
Ilyas menghela nafas panjang, "tapi masalahnya dia Galen."
"Kenapa kalau Galen?" Tanya Hannah yang mengulang ucapan Ilyas tentang siswa mereka yang bernama Galen.
"Kamu ingat pelajaran di kampus enggak? Yang tentang mengenal karakter siswa~"
Laki-laki itu menyetop pembahasan
Hannah dengan tangannya, "iya deh, kita coba caranya. Tapi kalau enggak mempan, kita nyerah aja. Kalau perlu kita cari kerjaan lainnya. Aku mikir kalau sepertinya aku enggak cocok jadi guru."
Hannah tersenyum tipis, "guru itu bukan masalah cocok, tapi masalah niat. Oke, ... kita mulai besok. Oh iya, formal ya di depan umum. Kita 'kan partner kerja di sekolah."
"Iya, Bu Hannah." Jawab Ilyas lagi.
***