BAB 20 : Kegiatan Baru dan Alasan Cemerlang

1015 Kata
Katanya, ... tidak ada orang yang benar-benar berbakat di dunia ini. Adanya, orang-orang yang berusaha untuk menjadi berbakat. Karena saat seseorang tahu bahwa dirinya orang berbakat, maka dia akan merasakan perasaan yang jauh lebih menonjol daripada yang lain. Sehingga tidak jarang mereka akan terlena dengan kepuasan kata berbakat itu dan pada akhirnya menjadi orang rata-rata di kawasannya. Berbakat tanpa adanya action, hasilnya pun sama saja. Tidak ada yang berubah selain rasa tinggi hati. Mungkin itulah yang dikatakan Rafix beberapa jam yang lalu, yang maknanya masih melekat di dalam ingatan. Pertemuan singkat antara dirinya dengan pemilik yayasan sekolahnya seperti hal yang tidak mungkin untuk terjadi. Namun bertemu, lalu bersama menghabiskan waktu, rasanya sudah membuktikan bahwa keduanya pun sama-sama menikmati kebersamaan yang bisa dikatakan aneh. Tidak ada yang mau menghabiskan waktunya dengan Galen. Namun pria dengan senyuman luwes itu bahkan tidak segan mengajaknya untuk bermain bersama. Datang ke sebuah festival yang menyenangkan—menonton beberapa teater panggung yang dimainkan para mahasiswa seni untuk menggalang dana bagi pasien kanker anak-anak. Para mahasiswa itu melakukannya dengan bakatnya yang telah diasah atau mungkin bisa jadi bukan bakat. Katanya sebagian hanya mencoba peruntungan mereka dan berusaha rajin berlatih agar bisa disebut orang berbakat. Mereka menggunakan kemampuan mereka itu untuk melakukan kegiatan positif sekaligus untuk mengasah kemampuannya di dunia akting agar bisa dinilai dan diapresiasi secara positif. Tak hanya itu, ada beberapa bagian dari seni lukis yang ditonjolkan serta seni musik yang menjadi pengisi suara. Jangan lupakan seni tari yang akan menghibur setiap pertunjukannya. Intinya, festival itu benar-benar berkesan di hati. Apalagi ketika Galen dikenalkan dengan salah satu penggarap acara tersebut yang merupakan seorang mahasiswa jurusan seni kriya yang ternyata adalah seorang disabilitas. Laki-laki dengan satu kaki itu pun membagikan pengalaman berharga yang dimilikinya tentang seni dan memberikan banyak kesan positif di awal pertemuan mereka. Bahkan bahasa yang digunakan pun sangat komunikatif, sehingga orang awam seperti dirinya pun mampu dengan mudah memahaminya. "Jadi, ... kamu tertarik dengan seni? Sudah punya tujuan sekarang?" Tanya perempuan cantik dengan dress tosca yang begitu indah membalut tubuh rampingnya, Meisy. Galen mengangguk dengan sangat mantap, "gue mau kuliah seni nanti. Tapi masih bingung mau ambil seni apa. Soalnya semuanya menarik dan orang-orangnya seru dan ramah. Gue bisa lihat mereka dari banyak sekali latar belakang. Tapi dengan seni itu, mereka bisa membaur menjadi satu. Katanya, seni itu adalah perpaduan unik yang jarang dipikirkan orang lain. Jadi, sepertinya, gue tertarik." "Senang mendengarnya," jawab Meisy menanggapi keseriusan Galen dalam bercerita tentang minat barunya yang positif. "Kenapa enggak coba masuk kelas seni? Siapa tahu kamu tertarik dengan satu kegiatan." Sambungnya dengan serius. Galen berpikir sejenak. Dia memang bisa mengikuti kelas seni yang dirinya mau, tapi apakah Ayahnya mungkin akan mengijinkan? Tapi, bukankah ini kegiatan positif? Biasanya, orang tua akan senang ketika anaknya mulai memikirkan masa depan atau mulai mengikuti kegiatan positif di luar rumah. Tetapi, Ayahnya 'kan sangat berbeda dengan ayah-ayah pada umumnya. Ayah yang dimiliki anak lain adalah Ayah yang melindungi mereka. Namun Ayah yang dimiliki olehnya adalah Ayah yang tidak pernah menunjukkan diri sebagai seorang Ayah. "Menurut Lo, apa gue bisa sukses seperti apa yang dibicarakan Pak Rafix? Dia bisa sukses juga 'kan karena dia kaya," ucap Galen lagi sambil melirik ke arah Meisy yang tampak tenang. Meisy menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi taman, "katanya, definisi sukses setiap orang itu beda—semacam pendapat aja. Kalau kamu sendiri, definisi sukses seperti apa? Antara aku sama kamu, definisinya bisa beda. Kalau menurutku, sukses yang aku inginkan lebih ke selesai kuliah dan bekerja di tempat yang sesuai dengan bidangku. Kadangkala, orang-orang akan mengartikan sukses setelah mereka punya mobil, rumah, aset-aset yang lain atau barang yang mewah. Siapa tahu, 'kan? Untuk orang yang kurang mampu, definisi sukses pun kadang bisa diartikan sebagai materi yang tidak mereka punya saat dulu." Galen tertawa pelan, dia teringat dengan sesuatu yang paling penting tentang kata sukses yang baru saja dibahasnya. "Ah, ... tapi kesuksesan gue nantinya buat siapa dong? Ibuk 'kan enggak bakalan menikmatinya juga. Lalu kenapa gue harus sukses?" Tandas Galen pahit sambil menatap sendu pada cup minuman dinginnya yang masih setengah. Tangan cewek itu membelai lembut punggung Galen. Memberi sedikit ketenangan kepada cowok itu. "Mau dengar nasehatku, enggak?" Tanya Meisy kembali. Galen menganggukkan kepalanya pelan. "Sukses itu untuk diri sendiri, jangan mempersembahkan kesuksesan kamu untuk siapapun. Walaupun itu orang tua, orang yang kamu cintai, ataupun orang yang kamu benci karena kamu ingin membuktikan. Kamu harusnya bangga kalau nantinya kamu sukses, karena itu bukti bahwa kamu serius dalam menjalani hidup. Kamu bisa lebih baik daripada hari ini. Dan itu jauh daripada cukup sebagai ajang balas dendam terhadap kejamnya kehidupan kamu hari ini. Orang lain enggak akan merasa wah, walaupun kamu di atas angin. Orang lain juga tidak akan meminta maaf ketika kamu membuktikan diri. Manusia tetap manusia. Mereka akan tetap dengki dan membenci tanpa alasan. Itu biasa terjadi." Ucap Meisy yang mengeluarkan kata-kata mutiaranya yang memang ada benarnya. Isi kepalanya kembali ribut. Dia pun mulai tertarik dengan pengalaman barunya, namun apakah semuanya tidak akan terbentur ijin dari sang Ayah yang terkadang alasannya pun tidak masuk akal untuk diikuti. "Enggak pulang?" Tanya Meisy. Galen mengangguk, "pulang! Gue mau tunjukkan sesuatu besok. Lo, ... mau ketemu di mana?" "Di tempat yang menyenangkan." Galen tertawa pelan, "di mana? Bagi gue, enggak ada tempat yang begitu." "Ada!" Jawab Meisy dengan mantap sambil tersenyum. "Taman bermain." Sambungnya. "Setuju!" Galen berdiri dari duduknya dan melambaikan tangannya ke arah cewek itu dengan antusias. Setelah itu, Galen benar-benar menghilang dari pandangan Meisy, digantikan gelapnya malam yang sedikit terang karena bantuan lampu taman. Malam itu, seperti malam terakhir yang menghubungkan Galen dengan harapannya yang nyata. Kebahagiaan kadangkala suka bercanda, hilangnya sangat cepat dan menyisakan sedikit remukan serta patahan dari harapan yang belum tersampaikan. Galen tak pernah tahu bahwa hadapannya itu hanyalah sebuah omong kosong yang menjadi penyesalan. Dia terbangun dengan harapan hidup tinggi, tetapi nyatanya dia mati dalam dekapan dan balutan luka. Dia hanyalah seorang anak kecil yang berharap ada tangan yang menolong dirinya dan menariknya. Semuanya seperti bingkai khayalan yang tetap berupa mimpi dan sifatnya tidak nyata, apalagi abadi. Semuanya hanyalah memori singkat sebelum mati. Seperti itulah ... Galen yang bermimpi tinggi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN