Seseorang yang mempunyai banyak pengalaman, impian, dan selalu maju untuk mendapatkan segalanya, sudah sepantasnya menerima apapun yang dia usahakan dengan maksimal dan sungguh-sungguh. Seperti yang selalu orang-orang biasa ceritakan, sedikit demi sedikit merangkak, pasti akan sampai tujuan juga—walaupun akan membutuhkan waktu yang lumayan lama. Karena terkadang, jalur sukses orang itu beda-beda. Ada yang sukses dengan mudah di usia muda, namun tidak jarang ada yang sukses ketika umurnya sudah senja. Tidak masalah untuk mengatakan diri kita 'sukses', meskipun belum masuk ke dalam ranah kesuksesan yang dimaksud orang lain. Kita bisa membuat standar kata sukses itu menurut kemampuan kita sendiri.
Banyak orang, banyak pengalaman, banyak pemikiran, dan banyak sekali ide. Tidak semua kepala itu harus bisa disatukan. Namun carilah fokus dan pembenahan dalam satu sisi sehingga pembahasan pun akan terfokus dan mempunyai jawaban tunggal yang tepat. Jika ada masalah pun, harus diselesaikan dengan baik, tidak bisa dengan cara berdebat yang tidak sehat untuk memenangkan jawaban sendiri. Merasa terhina karena apa yang disampaikan ditentang pun, bukan menjadi alasan untuk tetap berpegang teguh kepada keputusan yang harus diambil.
Galen pendengar yang baik. Dia terus mendengarkan penjelasan seseorang yang lebih tua darinya itu. Orang di depannya adalah orang yang sangat cerdas, namun tidak merasa bahwa dirinya cerdas. Galen seperti mampu memahami dan merasa dirinya juga dimengerti dengan cerita singkat nan padat yang membuat dirinya sedikit plong. Padahal, kemarin-kemarin ada yang mengganjal di hatinya dan itu mengganggu. Sekarang, semuanya seakan sirna dalam hitungan detik. Beban di pundaknya pun perlahan berkurang. Walaupun masih ada sedikit.
Cowok itu melirik ke samping, di mana Rafix tengah mengemudikan mobilnya. Keduanya memang sedang berada di dalam satu kendaraan yang sama, mobil Rafix yang bagus dengan aroma segar pengharum yang entah apa, Galen belum pernah mencium aroma seperti ini. Dia tidak pernah bermimpi bisa duduk di sini dengan seorang pengemudi yang baik dan memperlakukannya seperti manusia biasa, bukan kuman yang pantas untuk dibasmi.
"Kita mau pergi kemana, Pak? Tidak apa-apa jika kita bersama dalam satu mobil? Bapak pasti sudah tahu kalau saya bermasalah selama di sekolah." Ucap Galen dengan tidak enak.
Rafix hanya tersenyum tipis, "saya dulu juga siswa bermasalah! Lagipula masa depan tidak selalu ditentukan oleh masa lalu. Terkadang orang yang punya masa lalu buruk, di masa yang akan datang malah bisa lebih serius. Sehingga dia bisa bangkit dari masa lalunya yang buruk."
Galen hanya mengangguk saja tanpa berniat untuk menjawab. Cowok itu menikmati waktunya yang berharga bersama dengan seseorang yang tidak terlalu dikenalnya. Namun orang yang bersamanya itu adalah orang yang selalu menentang dirinya dikeluarkan karena alasan siswa yang bermasalah atau siswa tidak bisa diurus.
Hanya membutuhkan waktu setengah jam, sampai mereka sampai di depan sebuah gedung dengan poster-poster besar yang berjajar di sana. Ada juga banner dari berbagai sponsor yang terpajang di dekat pintu masuk. Ada beberapa stand makanan, minuman, atau permainan yang berada di sana. Banyak sekali orang-orang yang sibuk berjejal bersama dengan yang lain hanya untuk membeli sesuatu atau bermain sesuatu.
Galen tampak sangat takjub dengan apa yang dirinya lihat. Dia belum pernah datang ke festival seperti ini sebelumnya. Tepatnya, dia tidak tahu di mana ada festival yang menarik dan bisa dirinya tonton. Sebenarnya sih, karena selama ini Galen sendiri dan tidak ada yang menemaninya ke tempat yang menyenangkan.
"Suka?" Tanya Rafix dengan tatapan berbinar ke arah Galen yang tampak senang dengan apa yang dilihatnya.
Cowok itu tampak mengangguk dengan cepat, "saya belum pernah datang ke festival apapun. Ini seperti pertama kalinya saya datang dan saya sangat menikmatinya. Padahal belum memainkan permainan apapun atau membeli sesuatu yang enak."
Keduanya benar-benar mirip seperti Ayah dan anak yang tengah datang ke festival bersama-sama. Banner besar itu tertulis 'Selamat datang di festival tahunan dengan tema Cerita dongeng menyenangkan'—memang menarik perhatian. Para penunggu stand- nya pun menggunakan tema-tema cerita dongeng dengan berpakaian unik ala-ala kerajaan. Dari cerita-cerita kerajaan antara pangeran dengan putri sampai cerita fabel dengan kostum hewan lucu.
"Mau makan apa?" Tanya Rafix yang diam-diam tersenyum karena melihat bagaimana senangnya Galen.
Cowok itu menggeleng pelan sambil memperhatikan lalu-lalang manusia lainnya.
"Pernah dengar kisah Romeo and Juliet? Kisah cinta yang seringkali diceritakan dan menjadi buah bibir karena kisahnya yang dinilai sebagai cinta sejati." Tanya Rafix kembali.
Galen menggeleng pelan, "itu bukan cinta sejati. Cinta sejati tidak pernah menyakiti. Itu yang saya baca di buku tentang cinta sejati. Jika cinta saling menyakiti, itu bukan cinta sejati. Iya, 'kan?"
"Hm, ... mau melihat teaternya? Ada satu jam sebelum cerita Cinderella."
Dengan sangat antusias, Galen pun menganggukkan kepalanya. Mereka mengantri di sebuah loket di depan gedung yang ramai sekali. Banyak orang-orang yang sudah menunggu untuk menonton teater kesukaan mereka. Untuk judul Romeo and Juliet memang menjadi daya tarik bagi pengunjung sehingga mendapatkan banyak penonton. Dua tiket sudah di tangan, tinggal menunggu waktunya pertunjukan.
Keduanya duduk di jajaran kursi yang berada di tengah-tengah karena kursi depan sudah penuh dengan pembeli tiket awal-awal. Untunglah mereka mendapatkan tiket di pertengahan, setidaknya mereka bisa menonton walaupun tidak dari kursi yang paling depan.
Para aktor pun keluar, memberikan perkenalan singkat tentang peran masing-masing. Lalu setelah itu mereka mulai bermain.
"Bapak juga suka menonton seperti ini?" Tanya Galen serius.
Rafix mengangguk pelan, "saya suka seni. Semuanya yang berhubungan dengan seni, bagi saya adalah suatu kehidupan. Dengan adanya sebuah seni, kehidupan saya menjadi lebih berwarna dan tidak terkesan kaku atau monoton."
"Oh, ya?"
"Hm, ... seni adalah tempat untuk menghibur diri dari segala bentuk tekanan di dunia nyata. Mendengar musik, melihat seni peran, menonton tari atau segala macam tentang seni, seperti obat yang mujarab untuk kesendirian. Bagi saya, sendiri itu menyenangkan dan tenang. Sehingga saya bisa mengekspresikan diri saya sesuai dengan keinginan."
Galen menoleh, "lalu, ... apakah menjadi orang kaya juga termasuk dalam seni? Bahkan Bapak memberi saya kesempatan untuk tetap berada di sekolah, sedangkan Bapak sendiri tahu bahwa saya bermasalah. Guru pun tidak ada yang mau mengurusi saya. Mereka angkat tangan, bahkan menganggap saya tidak ada."
Rafix tersenyum tipis dan meminta Galen untuk kembali fokus kepada jalan cerita dari kisah Romeo and Juliet yang tengah tayang dengan lakonnya secara langsung.
"Andaikan Juliet tidak meminum racun palsu itu, pasti Romeo pun tidak akan meninggal bunuh diri dengan meminum racunnya. Tapi dari sisi negatif dari kisah itu, ada setitik kisah yang dianggap sebagai penyelesaian bagi semua orang. Jika Juliet tidak meminum obat palsu itu, dia pasti sudah dinikahkan. Namun karena obat itu, dia bisa bersama kekasihnya, Romeo. Walaupun itu untuk selama-lamanya." Jelas Rafix yang masih berusaha Galen cerna dengan baik.
Galen bingung, namun dia pun merasa lega. Lega karena semuanya baik-baik saja.
***