"Disa!" Gadis itu terjingkat kaget saat mendengar bariton suara keras dari bundanya. "Iya bunda," sahutnya setengah teriak. "Hanya mimpi?" beonya setelah sadar. Disa memegang jantungnya yang berdegub kencang, semua itu hanya mimpi tapi mengapa terasa sangat nyata. "Udah jam setengah 6 ini," kata Rini sambil membuka pintu kamar anak gadisnya. "Disa masih nggak enak badan bun," alibinya. Padahal ia masih memikirkan mimpi yang barusan ia alami. "Ya udah bunda ambilin sarapan dulu kalau gitu," Disa hanya mengangguk saja. Ia sedikit lega ternyata itu hanya mimpi, tapi perasaannya mengatakan lain. Tania, satu nama yang mengerayangi otaknya. Kalau mimpi itu benar nyata nantinya, lalu bagaimana ia? "Bodoh! Lo ngapain sih Dis!" "Itu cuma mimpi, cuma mimpi Disa!" runtuknya pada dirinya se

