Gara menikmati ice cream yang baru saja ia beli bersama Tania. Sesekali laki-laki itu menarik ujung bibirnya melihat gadis di sampingnya tengah bahagia menikmati ice cream vanillanya.
Gadis pencinta vanilla itu tak peduli dengan tatapan laki-laki di sampingnya. Ia teramat bahagia dengan ice cream vanilla yang berada di genggamannya.
"Enak ya Gar," ungkap Tania. Tak lama wajah gadis itu berubah murung.
"Katanya enak tapi kok kenapa tuh muka di tekuk?"
"Entah kapan terakhir aku menikmati ice cream bersama papa, mama dan juga Talia, aku rindu mereka Gar,"
Gara mengelus surai panjang Tania, "Udah dong jangan sedih terus, sekarang ada aku yang bakal nemenin kamu. Kalau kamu rindu sama mereka nanti aku antar ziarah ke tempat mereka ya?"
Tania menggangguk senang, memang hanya Gara yang bisa membuat gadis cantik itu merasa hidupnya berwarna.
Laki-laki itu melupakan bahwa jauh di tempat yang berbeda seseorang menunggunya dengan cemas. Kalau saja Disa tidak ingat dengan pesan Gara, ia akan memilih pulang sejak tadi. Ia sudah membuang waktunya selama satu jam dengan menunggu Gara yang tak pasti. Disa benci menunggu tapi kalau untuk menunggu Gara, lagi-lagi gadis itu tak pernah bisa menolak.
Satu jam bukan waktu yang sebentar, padahal tadi laki-laki itu mengatakan hanya sebentar. Sebentar versi Gara memang berbeda.
Disa menghela nafas panjang, "Lo kemana sih Gar?"
"Nganterin Tania atau kencan sih!"
"Aelah," dengus Disa.
"Susah banget mau jalan sama pacar sendiri,"
***
"Aku pulang dulu, nanti kalau ada apa-apa kamu langsung hubungin aku ya," pamit Gara.
Tania menganggukkan kepala lemah, sebenarnya gadis itu tak ingin Gara pamit. Ia ingin Gara selalu ada di sampingnya, tapi Tania tau ada Disa yang juga butuh Gara. Terkadang Tania ingin sekali egois, ia ingin Gara menjadi miliknya. Hanya miliknya.
"Kenapa?" tanya Gara saat melihat wajah Tania murung.
Tania menggeleng, "Nanti malam aku kesini deh, sekarang aku pulang dulu ya, boleh?"
Seketika perasaan gadis itu lega mendengar Gara nanti akan menemaninya, "Boleh." ujarnya dengan senyum merekah.
"Ya udah aku pulang dulu ya,"
"Iya, hati-hati Gar,"
Gara mengacak rambut Tania lalu pergi melajukan motornya.
Laki-laki itu segera kembali ke sekolah menjemput kekasihnya yang hampir satu jam lebih menunggunya. Entah Gara tak tau, apa Disa masih berada disana atau gadis itu memilih untuk pulang lebih dulu. Harapan Gara, Disa masih menunggunya.
Benar saja gadisnya masih berada disana. Rupanya Disa tak mengetahui kedatangan Gara. Gara melepaskan helmnya lalu berjalan mendekat, "Halo cantik." sapanya.
Disa mendongak, "Kirain lupa." sindirnya.
"Enggak lupa tadi ada urusan," alibi Gara.
"Sebentar?"
Gara menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Sebenarnya niat laki-laki itu hanya mengantar Tania pulang tapi di tengah jalan Tania merengek untuk mampir ke kedai ice cream langganan mereka. Mau tak mau Gara mengiyakan permintaan Tania.
"Iya maaf, kamu udah lama nunggunya?"
Disa memutar bola matanya jengah, menurutnya sejak kapan Disa disana? Barusan? 5 menit yang lalu? 10 menit yang lalu?
"Pikir aja sendiri," ia ingin sekali mengomel tapi tenaganya sudah habis untuk menunggu Gara.
"Jelas sejak pulang sekolah tadi lah g****k! Ngapain masih nanya sih!" batin Gifta memaki dirinya sendiri.
"Aku minta maaf ya," Gara tau ini adalah salahnya. "Sebagai gantinya kita jalan-jalan yuk!"
Disa menggeleng, "Aku mau pulang. Capek!"
"Kamu nggak maafin aku?"
Disa diam ia malas menanggapi Gara.
"Maaf kalau kamu nunggu aku lama," laki-laki itu masih saja membujuk kekasihnya.
"Nganter Tania?" skak Disa.
Gara tak bergeming, ia mencerna pikirannya. Kalau ia bohong Disa akan semakin marah. Lantas laki-laki itu mengangguk. Lebih baik ia jujur daripada Disa semakin murka kepadanya.
"Oh," sahut Disa diluar ekspetasi Gara. Ia kira Disa akan mengamuk ternyata tidak. Meski jawaban Disa sangat-sangat singkat.
Jangan tanya lagi perasaan Disa seperti apa? Gadis itu mencoba tenang, ia sudah lelah. Tenaganya terkuras habis untuk menunggu Gara. Ia mencoba berfikir baik untuk Gara. Setidaknya laki-laki itu sudah baik menjemputnya.
Disa berdiri dan hendak melangkah, "Mau kemana?" tanya Gara.
"Pulang,"
"Oh iya ayo,"
Hari semakin sore, satu jam Disa terbuang sia-sia padahal gadis itu bisa menggunakannya untuk aktivitas lain, seperti tidur siang misalnya.
Sebentar lagi mamanya akan mengomel kalau Disa tidur sore, sungguh ia mengantuk.
Gara memberikan helm untuk Disa, gadis itu menerimanya dengan ogah-ogahan. Dengan kesal ia memakai helm tersebut dan duduk di atas jok motor Gara.
***
Disa berdecak sebal, ia ingin pulang. Pulang ke rumahnya bukan pulang ke rumah makan. Namanya juga Gara, laki-laki bebal itu malah mengajak Disa pergi makan dengan berdalih bahwa ia lapar.
"Yakin nggak laper?" tanya Gara.
Lagi-lagi Disa hanya mendengus sebal.
"Masih marah aja?" oh jelas Disa masih marah. "Katanya tadi pengen siomay kan?"
Haa? Siapa? Siapa yang laki-laki itu maksud. Bahkan sedari tadi Disa tidak mengatakan apa-apa. Oh ayolah Disa sedang tidak ingin bercanda, terlebih dengan Gara. Ia masih kesal.
"Eh bukan kamu ya yang mau?" ujarnya sambil terkekeh.
"Terus siapa dong?" laki-laki itu masih berusaha membuat Disa tertawa meski terdengar garing di telinga Disa.
"Ya udah aku. Aku yang mau," lanjutnya pasrah.
"Ayolah Dis, jangan marah terus. Aku gak tau harus gimana lagi,"
Disa menoleh, "Emang siapa yang marah?"
Gara tersenyum ke arah Disa meski di dalam lubuk hatinya laki-laki itu bingung harus berbuat apa, "Kirain kamu marah." ujarnya mencoba mencairkan suasana. "Padahal kamu nggak marah kan?" kata Gara.
"Emang aku kok Dis yang salah," pasrahnya.
Gara masih tetap menampilkan senyum di wajahnya. Laki-laki itu saja heran, di lihat dari wajah kekasihnya itu jelas sekali Disa sedang marah. Raut mukanya memang ia tekuk sejak tadi.
Ya halo! Jangan katakan Disa terlalu berlebihan, siapa sih yang nggak kesal kalau ada di posisi Disa? Menyesakkan!
"Tolong bedain mana marah mana kesal ya Gar!" ketus Disa.
Gara mencoba mencerna, memangnya beda ya kesal sama marah? Pikir laki-laki tersebut.
"Memangnya beda?" oh tuhan Gara benar-benar membuat Disa ingin menerkamnya sekarang.
"Udah deh Gar, cepetin makannya. Aku mau pulang!" nah kalau sekarang Disa benar-benar marah tadi ia hanya kesal dengan Gara. Ya akibat ulah laki-laki itu sendiri.
Gara memasukkan sendok ke dalam mulutnya sambil berfikir letak kesalahannya dimana. Dia benar-benar tidak tau perbedaan marah dan kesal makanya laki-laki itu bertanya, memang salah?
Baiklah Gara salah.
"Ya maaf aku salah,"
Tak ada respon dari Disa, wanita itu memilih mengedarkan pandangannya di sekitar. Moodnya benar-benar ambyar.
***
Baru saja Gara masuk ke dalam rumah, ia sudah di sambut dengan bundanya yang sedang sibuk di dapur. Gara berjalan mendekat ke dapur, "Assalamualaikum bun."
"Eh abang, waalaikumsalam," sahut sang bunda.
Laki-laki tersebut mengambil tangan sang bunda lalu menciumnya.
"Gala udah dateng bun?"
Pelangi mengangguk, ya bunda Gara dan Gala adalah Pelangi.
"Udah bang sekarang di kamar tuh," jawab Pelangi sambil meneruskan masaknya.
"Ya udah bun, abang ke atas dulu,"
"Eh bang, kamu udah makan?"
"Udah bun," sahutnya.
"Panggilin tuh adeknya, katanya tadi laper. Ayah juga pulang bentar lagi,"
"Iya bunda," setelah itu ia pergi menuju kamarnya.
Baru saja ia hendak masuk ke dalam kamarnya, kamar yang berada di depan kamarnya terbuka. Menampilkan sosok yang mempunyai wajah sangat mirip dengannya.
Dengan wajah khas orang baru tidur, rambut tak karuan, kaos polos beserta celana pendeknya ia menatap Gara, "Dari mana lo bang?"
"Kencan sama doi atau Tania?"
"Kepo!" sahut Gara lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Yee lo sih sok sok an punya sahabat cewek lagi," cibir Gala sambil berlalu ke bawah.
"Bunda abang suka maiinin cewek!" adu Gala. Ia sengaja mengeraskan suaranya agar abangnya bisa mendengar teriakannya. Memang Gala itu suka kurang ajar, terlebih pada Gara.
"Cih cepu!" lirih Gara.
Fokus Gara teralihkan saat ia merasakan getaran di saku seragamnya. Ia mengambil benda pipih dan melihat ada sebuah pesan whatsaap, Gara kira Disa yang mengirimkan pesan padanya ternyata Tania.
Gadis itu menanyakan apakah Gara jadi kerumahnya malam ini, ia langsung mengetikkan jawaban untuk Tania. Setelah pesannya terkirim laki-laki itu segera membersihkan badannya karena sebentar lagi ia harus pergi kerumah Tania.
***
Laki-laki itu sudah siap akan pergi dengan setelan celana jeans dan kaos polos hitam. Bunda, ayahnya, serta Gala yang sedang makan di ruang makan menatapnya selidik.
"Mau kemana bang?" tanya Pelangi.
"Mau ke rumah Tania bun," Pelangi tau siapa Tania, yang tak lain adalah sahabat perempuan Gara.
"Dih lo mau ke rumah Tania bang?" sewot Gala.
Sedangkan Gifta sang ayah masih melanjutkan makannya.
"Diem deh lo!" sentak Gara karena laki-laki itu tak suka jika Gala melarangnya bersama Tania.
"Bang gak boleh gitu sama adeknya, orang adeknya cuma nanya," bela Pelangi.
"Kamu makan dulu bang," perintah sang ayah, Gifta.
"Abang tadi udah makan yah," sahutnya. "Bun abang pergi ya bentar doang kok." izinnya.
Bundanya mengangguk, "Hati-hati jangan pulang malem-malem ya bang."
"Iya bun,"
Gala berdecih, ia sangat tidak suka bila abangnya selalu memprioritaskan Tania. Seolah-olah laki-laki itu tidak menghargai adanya Disa.
"Disa udah tau lo mau ke rumah Tania bang?" tanya Gala.
Pastinya tidak, kalau sampai Disa tau pasti Disa marah dan hubungannya akan kandas. Gara tidak mau itu. Bagaimana tipikal orang egois bukan?
Gara tidak menjawab pertanyaan Gala. Setelah pamit dan bersalaman dengan Pelangi dan Gifta laki-laki itu nyelonong pergi begitu saja membuat Gala, sang adik kembarnya itu mendengus kasar.
"Emang Disa itu siapa sih dek?" tanya Pelangi.
"Abang nggak pernah cerita bun?" sahutnya.
"Enggak mana pernah abangmu cerita sama bunda. Maunya di pendem sendiri,"
Gala tau memang Gara cuek dengan sekitarnya bahkan dengan dirinya sendiri tapi anehnya kalau soal Tania laki-laki itu nomer satu yang tau segala tentang gadis itu.
"Capek Gala sama abang bun. Padahal dia udah punya pacar dan udah lama banget mereka,"
"Siapa? Si Disa itu?" sahut sang bunda.
Gala mengangguk, "Abang lebih prioritasin Tania, kalau sama Disa nggak ada waktu."
"Kadang Gala kasian sama Disa,"
Gifta menyimak saja anaknya dengan istrinya yang asyik bercerita.
Pelangi semakin tertarik dengan cerita Gala. Ia juga bertanya seperti apa Disa. Hampir setengah jam mereka bercerita bahkan Pelangi tidak sadar kalau suaminya sudah tidak ada disana.
Pelangi jadi tau akar permasalahannya dari mana, jelas dari Gara. Ia juga akan berfikir sama seperti Disa jika kekasihnya memiliki sahabat cewek dan lebih memprioritaskan sahabatnya tersebut.
Ibu muda itu juga sedikit iba dengan Disa, ah Pelangi jadi ingat kisahnya dulu. Sama-sama berjuang untuk laki-laki yang, ah sudahlah menyakitkan jika diungkit lagi.
"Kapan-kapan bunda mau dong ketemu Disa," kata Pelangi.
"Ya ngomong ke abang bun. Disa pacarnya abang bukan pacar Gala,"
Pelangi tertawa, "Kalau Sina apa kabar?"
Memang Gala lebih terbuka menceritakan hal-hal pribadinya kepada Pelangi. Ia percaya kepada bundanya jadi ia tak segan-segan untuk bercerita banyak hal padanya.
"Baik bun. Kemarin Gala sama Sina baru aja pergi ke taman itu lho bun," Gala mengingat nama taman yang dulu kecil ia selalu kesana bersama Pelangi dan Gifta tentunya bersama Gara juga.
"Taman yang sering kita kunjungi waktu Gala kecil,"
"Katanya Sina juga udah kangen bunda. Besok-besok kalau Gala gak ada acara sama anak-anak, Gala ajak kesini deh," imbuhnya.
"Eh iya dek udah lama bunda nggak ketemu Sina. Ajak aja kesini, kamu sih ngeband mulu,"
Gala terkekeh, "Tenang aja bun nanti Gala ajak kesini."
***
Setelah makan malam Disa pamit untuk pergi ke kamar terlebih dulu. Ia sudah mengantuk. Lalu gadis itu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dari tadi sore ia bolak-balik mengecek notifikasi di smartphonenya namun tak ada notif dari seseorang yang ia tunggu.
Disa memanyunkan bibirnya kesal, Gara masih saja tidak peka padahal Disa masih marah padanya. Ia berharap kekasihnya minimal mengirimkan pesan kepadanya, sesimple itu permintaan Disa.
Iya sih mana tau Gara kalau Disa tidak mengatakan apa yang sebenarnya ia mau. Tapi setidaknya seharusnya Gara tau apa yang harus dia lakukan ketika kekasihnya marah. Kali ini saja dengan kesadaran Gara sendiri ia melakukan itu.
"Sebenarnya kamu itu nggak peka atau gimana sih Gar!" rancaunya sambil menatap room chatnya dengan Gara.
"Asli aku kesel banget sama kamu!"
"Peka dikit kek!"
"Masa harus aku duluan yang chat kamu!"
"Gengsi dong!"
"Ihh Gara nyebelin!" dumelnya sendiri.
Sudahlah, menunggu chat dari Gara sama saja seperti berharap turunnya salju di negaranya. Lebih baik Disa tidur, merehatkan tubuhnya yang sudah lelah seharian.
"Semangat Disa! Hari ini buruk, besok akan jauh lebih buruk!" monolognya.
Gadis itu menarik selimutnya dan mulai memejamkan mata. Sesekali ia bergeser ke kanan ke kiri mencari posisi ternyaman.