Part 09

1736 Kata
Siapapun yang mengetahui hubungan Disa dengan Gara sejak awal pasti capek, contohnya Raina. Perempuan yang paling dekat dengan Disa di sekolah. Perempuan yang paling mengerti Disa. Perempuan yang tau semuanya tentang Disa. Teman-teman sekelasnya yang hanya tau sekilas tentang hubungan Disa dan Gara saja angkat tangan, apalagi Raina yang sudah tau segalanya, mengenai drama percintaan mereka. Raina sampai kehabisan akal untuk menyadarkan Disa. Kalau bisa Raina tukar, pasti sejak dulu Raina akan lakukan. Menukar Disa dengan apapun yang bisa ia tukar. Sekesal itu Raina pada Disa. Sampai mulut Raina berbusa pun tak akan Disa dengar, akhirnya kini Raina menyerah. Ia serahkan semua kepada Disa sendiri, Raina hanya mengontrol Disa dari jauh. Ia hanya akan menjadi penikmat cerita dan penonton drama keduanya. Setidaknya ia tak meninggalkan Disa begitu saja, Rania masih bisa menjadi tempat Disa pulang. Rania tau sebenarnya Disa mengetahui semua tentang Gara dan Tania, tapi ia pura-pura b**o saja. Mengikuti arus yang malah menumbalkan perasaannya. Disa bukan polos tetapi tulus, terlalu tulus dalam melakukan apapun. Tapi kali ini tulusnya tidak pada orang yang tepat. Tiga tahun ia bertahan bersama Gara yang bahkan tidak menganggap Disa ada. Disa bukan perempuan posesif yang tidak membolehkan kekasihnya berteman dengan lawan jenis, tapi ayolah kalau sudah seperti Gara namanya kelewatan. Menyepelehkan Disa menomor satukan Tania. Seolah mereka selingkuh secara terang-terangan di depan Disa namun berkedok sahabat. "Rain temenin gue beli cat air yuk nanti pulang sekolah," Raina melirik Disa sekilas, "Kenapa nggak minta anter pacar lo aja?" "Gue males," "Tumben tumbenan lo males, biasanya lo paling seneng sama dia," Disa menopang kedua tangannya di atas meja lalu menenggelamkan kepalanya disana, "Ya sekarang males. Lo mau nggak sih Rain ikut gue?" "Liat nanti kalau mood gue bagus gue mau," Terdengar helaan nafas kasar dari Disa, "Ya udah." "Lo ada masalah sama Gara?" "Gue males sama dia Raina!" nggak Raina nggak Gara sama-sama menyebalkan. "Iya gue tanya kenapa lo bisa males sama tuh orang?" jelas Raina. "Lo diapain lagi?" "Enggak diapa-apain," ujar Disa menjeda. "Cuma gue kesel Rain dia tuh nggak peka! Nyebelin asli!" Raina menghela nafas sambil menepuk pundak Disa, "Disa dengerin gue!" "Bukan Gara yang nggak peka, tapi lo nya aja yang terlalu berharap," sekali-kali Disa harus ditampar dengan kata-kata seperti itu. Seketika Disa terdiam, ada benarnya juga apa yang di katakan Raina. Disa terlalu berlebihan, seharusnya ia tak bersikap begitu. Sikap Gara juga terlihat jauh lebih baik padanya, Disa lupa bahwa semuanya juga butuh proses. Mungkin untuk Gara, laki-laki itu masih belajar mengerti Disa. Kemarin saja waktu Disa menemani laki-laki itu makan, Gara sudah berusaha meminta maaf padanya. Pagi tadi juga Disa sengaja berangkat pagi-pagi sekali, agar tidak berangkat bersama Gara. Padahal belum tentu juga Gara datang menjemputnya. "Disa!" teriak seseorang yang membuat Disa menoleh. Gara tengah berdiri di depan pintu kelasnya dengan senyum lebar. Disa terkesiap, laki-laki itu datang menghampirinya. Panjang umur sekali manusia tersebut. Ia berjalan menghampiri, sebenarnya Disa juga ingin balik menyapanya tapi gadis itu gengsi jadi ia memilih untuk diam dan menunduk. "Kamu berangkat duluan ya tadi?" tanyanya. Disa mengangguk sambil memainkan jarinya. "Kamu masih marah?" Disa menggeleng masih enggan menatap Gara. "Masih kesal?" Disa menggeleng lagi. "Kalau nggak marah ngomong dong Disa," Perlahan-lahan Disa mengangkat kepalanya dan memberanikan diri menatap Gara, "Aku nggak marah." Gara bernafas lega, "Syukurlah." "Tapi aku masih sedikit kesal sama kamu, kenapa tadi malem kamu nggak chat aku. Minta maaf kek atau sekedar basa-basi gitu," dengus Disa mengutarakan hal janggal di hatinya karena percuma saja jika dia mengkode Gara. Sampai lebaran monyet pun laki-laki itu tak akan peka. Laki-laki itu meneguk ludahnya kasar, mana mungkin ia jujur di situasi genting seperti ini, "Oh tadi malem aku ketiduran maaf ya, jadi nggak sempet ngabarin kamu." "Ketiduran ya?" tiba-tiba saja Gala melintas di samping Gara. Rupanya kembarannya itu mendengar percakapannya dengan Disa. Gara ketar-ketir harus menjawab apa. Bisa saja Gala membongkar kebohongannya sekarang, padahal baru saja ia akan berdamai dengan Disa. Sial harusnya tadi ia mengajak Disa ke taman. "Capek banget kayaknya sih, ya kan bang?" ujar Gala sambil menaikkan kedua alisnya. Gara diam saja, ia hanya takut Gala mengungkapkan kebenarannya. Ia tak mau hubungannya dengan Disa berakhir begitu saja. "Tidur lo pules banget sampai-sampai lo nggak denger gue panggil," benar-benar Gala menyindirnya habis-habisan. Disa hanya mengangguk sedangkan Gara tampak sedikit panik meski ia berusaha untuk tetap biasa saja. Gala mendekat ke Disa lalu membisikkan sesuatu untuk gadis tersebut. "Makasih lo masih bertahan sama abang gue, kalau lo capek lo mundur aja gak papa. Hati lo juga butuh rehat," bisik Gala sangat pelan bahkan Gara tak mendengar apa yang kembarannya katakan. Disa hanya mengangguk meski sejujurnya gadis itu masih belum mencerna jernih ucapan kembaran kekasihnya. Setelah mengatakan pada Gala, laki-laki itu pergi meninggalkan dua orang yang saling menatap. Gara dengan perasaan yang sedikit tak tenang sebab ia takut Gala kembarannya mengatakan yang tidak-tidak kepada kekasihnya itu. "Gala ngomong apa?" tanya Gara penuh selidik. "Katanya makasih karena aku udah bertahan sama kamu," ia tak mengatakan semua yang apa Gala katakan. "Bohong," ujar Gara tak percaya. Disa menghela nafas kasar, "Ya udah sih kalau nggak percaya." jawabnya seraya masuk ke dalam kelas. Buru-buru Gara mencekal tangan gadis itu, "Iya-iya aku percaya." "Masa baru baikan mau ngambek lagi hum?" "Balik kelas sana, bentar lagi udah mau masuk," "Okedeh, dadah sayang!" sahut Gara sambil melambaikan tangannya. Disa menatap kepergian sang kekasih yang kini sudah tak terlihat di ujung lorong. Kata-kata Gala yang tadi laki-laki itu bisikkan masih ia cerna. Ada beberapa kalimat ambigu yang membuat Disa bertanya. Apa maksud dari kembaran kekasihnya yang mengatakan 'hati lo juga butuh rehat.' Disa benar-benar tak mengerti. *** Seperti sudah menjadi rutinitas Gara mengantarkan Tania pulang lalu kembali ke sekolah guna menjemput kekasihnya, Disa. Untung saja tadi Disa mengatakan bahwa ia harus kerja kelompok sepulang sekolah, jadi Gara tidak pusing memikirkan alasan untuk mengantar Tania pulang. Bisa saja ia jujur kepada Disa tapi ia tak enak hati takut Disa memikirkan hal yang tidak-tidak, dengan amat terpaksa ia masih belum bisa untuk jujur mengenai hal itu. Dari jauh Gara melihat Disa berjalan bersama Fahri, laki-laki itu berdecak sebal. Mereka berjalan beriringan sambil menikmati obrolan di setiap langkahnya. Saat mata Disa melihat Gara yang menunggunya buru-buru ia mempercepat langkahnya. Keduanya berpisah di persimpangan lorong kelas yang menghubungkan ruang kelas sebelas dan parkir motor siswa, Fahri yang akan mengambil motornya di tempat parkir, Disa yang berjalan ke arah Gara. "Fahri gue duluan ya," pamit Disa sambil mengangkat tangannya untuk salam. Fahri membalas high five Disa, "Iya hati-hati Dis." sahutnya. "Siap. Lo juga!" Gara tidak suka melihat keduanya yang tampak asik, jelas-jelas Disa tak melakukan adegan apa-apa hanya berjalan beriringan. "Yuk!" ajak Disa dengan menarik ujung bibirnya ke atas. "Udah selesai?" tanya Gara sedikit tidak ramah. Disa mencebikkan bibir, ia tau laki-laki sedang menahan gejolak di dalam hatinya. "Cemburu?" selidik Disa. "Di tanya apa jawabnya apa," "Kamu cemburu?" "Nggak ada yang cemburu," sanggah Gara. Disa memicingkan matanya sambil menahan tawa, "Yakin nggak cemburu? "Mau pulang atau aku tinggal?" "Ye kok marah," ujar Dira seraya mengambil helm yang dibawa Gara kemudian gadis itu naik ke atas jok motor Gara. Kedua anak manusia itu masih saja diam. Disa sampai heran ketika melihat seorang kekasih boncengan di jalan sambil ketawa-ketiwi terlihat sangat romantis sedangkan dia? Jangan harap! Gara mengajaknya berbicara saja ia bersyukur. "Ah iya aku lupa!" pekik Disa menepuk dahinya. Gara melirik gadisnya dari kaca spion motornya, "Kenapa?" Disa meringis menampilkan deretan giginya, "Lupa." "Lupa apa?" Gara memelankan laju motornya. "Mau beli cat air sama Raina," "Ya udah aku anter," "Tapi belum ngomong ke Raina," "Ngomong apa?" "Kalau nggak jadi minta anter," "Ya udah sana bilang," "Jangan marah-marah dong Gara!" padahal Gara biasa saja ngomongnya tapi menurut Disa suara Gara terdengar ketus. "Kalau sama Tania aja lembut," batin Disa. Gara mengusap dadanya dengan tangan kirinya, "Sabar Gar!" lirihnya. Disa mengeluarkan benda pipih dari saku seragamnya lalu mengetikkan nama Raina di kontaknya. "Rain?" "Kenapa?" jawab Raina. Disa cengengesan membuat Raina di sebrang sana menautkan alis bingung, "Nggak jadi minta antar beli cat air." "Oh terus?" terdengar Raina bersyukur mendengar pembatalan itu. "Di antar Gara," cicitnya. Raina mendengus, "Hadeh. Males gue dengernya." "Lo marah gue batalin?" "Enggak gue malah seneng, lo nggak ngerepotin gue," "Yee ya udah gue tutup ya Rain, nanti gue telfon lagi," "Iya awas aja lo pulang marah-marah," "Ya pokoknya lo-" Belum Disa selesai bicara dengan kurang ajarnya Raina langsung menutup sambungannya. "Dasar babi!" hardik Disa. Gara yang mendengar langsung merasa, "Siapa yang kamu bilang babi?" "Eh," Disa langsung menutup mulut lemesnya. "Itu Raina kok." *** Setelah keduanya berada di pusat perbelanjaan kota, Disa langsung menuju toko buku yang sekaligus menjual semua perlengkapan gambar. Matanya seketika berbinar melihat warna-warna cat air dengan berbagai macam pilihan. Rasanya Disa ingin membeli semuanya, gadis itu bisa kalap membelinya tapi ia sadar uang tabungannya hanya mampu untuk membeli 5 macam warna. Disa sibuk memilih warna cat air yang menurutnya lucu, bukan bagus tapi lucu. Ya maklum namanya perempuan lihat barang lucu sedikit, jiwa ingin membelinya meronta padahal belum tentu berguna nantinya. Sampai-sampai ia melupakan Gara yang ternyata laki-laki itu berdiam diri di rak komik. Gara tengah melihat komik-komik edisi terbaru dari komik favoritnya, detektif conan. Ia ingat dulu sewaktu ia dan Gala duduk di bangku sekolah dasar ayahnya selalu membelikan edisi terbaru dari komik tersebut. "Gara," panggil Disa. Laki-laki itu menoleh, "Udah?" Disa mengangguk lalu berjalan menuju kasir. "Laper nggak?" tanya Gara. "Hmm lumayan," "Mau makan dulu?" "Boleh sih. Emang kamu nggak sibuk?" Gara mencoba mengingat apakah ia ada janji dengan Tania tidak, "Enggak kok." Disa tersenyum, "Ya udah kalau gitu makan dulu ya?" "Iya," Setelah membayar cat air yang Disa beli keduanya berjalan menuju food court di lantai 5 mall tersebut. Bau semerbak jajanan-jajanan disana membuat Disa tak lagi bisa menahan perutnya. "Aku mau donat," ujar Disa. "Ayo beli!" ajak Gara ke tempat yang Disa mau. Disa memesan lalu menghampiri Gara yang duduk di tempat toko roti itu siapkan. "Udah?" "Tinggal nunggu aja, kamu mau makan apa?" "Lihat nanti aja," Tiba-tiba handphone Gara bergetar, setelah mengetahui siapa yang menghubungi laki-laki itu sedikit menjauh dari Disa. Disa sedikit ingin tau siapa yang menghubungi kekasihnya sampai-sampai Gara menjauh untuk menegangkatnya. "Gara kamu dimana? Aku takut," cicit perempuan dari ujung sana. Gara sedikit panik, "Aku bentar lagi kesana, kamu jangan kemana-mana oke?" Tak ada sahutan Gara semakin panik, "Tania dengar aku?" Tetap tak ada sahutan. Tanpa pikir panjang laki-laki itu berlari menuju tempat parkir motor dan meninggalkan Disa yang masih mengantri di toko roti. Bahkan Gara dengan mudahnya melupakan Disa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN