Tak Sengaja

1034 Kata
Abian pun makan dengan duduk di kursi yang ia sediakan untuk bersantai. "Masakan kamu enak. Belajar dari mana?" ucap Abian yang sedang melahap masakan Ziva. "Go*gle." ucap Ziva karna mengetahui resep makanan dari go*gle. Abian mengangguk-anggukkan kepalanya. Selesai Fellysia makan, Ziva membersihkan mulut dan tangan Fellysia yang terkena bubur. Juga mengganti baju Fellysia di kamar. Karena kenyang, Fellysia pun menguap selebar-lebarnya. Ziva menutup mulut Fellysia yang sedang menguap menggunakan jari-jarinya. "Masih ngantuk ya? Mau bobok lagi?" tanya Ziva. Fellysia yang belum bisa bicara hanya menjawab dengan rengekan kecilnya. "Tolong buatkan susunya Fellysia." Ziva mengirim pesan kepada Abian yang berada di balkon. "Oke bentar.." balas Abian. "Ketuk pintu sebelum masuk ya." lagi balas Ziva memperingati Abian. Tanpa membaca pesan selanjutnya, Abian sudah di dapur dan sedang membuatkan s**u untuk Fellysia. Menggunakan dot berwarna pink yang bergambar Princess Aurora dan s**u yang ia beli di swalayan tadi. Sementara itu, Fellysia yang merengek tanpa henti dihadapkan dengan buah da*a Ziva yang ada di depan wajahnya. Fellysia yang dari kecil tak pernah di beri asi, dibuat penasaran sama bentuk buah dad* wanita dewasa. Suara rengekan Fellysia perlahan berhenti. Ternyata Fellysia sedang mencoba mengemut buah dad*nya Ziva. Ziva pun di buat tertawa geli melihat tingkah Fellysia itu. Tapi ia juga kasihan melihat Fellysia yang terlihat sangat ingin menyusu. Karena rasa kasihannya itu, Ziva mencoba menyusui Fellysia walaupun payudar* tidak ada asinya. Fellysia pun langsung gelagapan. Seakan memenangkan lotre yang ia tunggu-tunggu. Sementara Abian yang sudah selesai membuatkan s**u untuk Fellysia, langsung mengantarnya ke kamar. Abian membuka pintu tanpa mengetuknya. "Ini sus--" "Aaaaaaa" jerit Ziva yang serentakan dengan masuknya Abian tadi. Abian spontan langsung keluar dari kamar. Ia melihat pemandangan yang... waw banget! Kurang ajar memang, tapi Abian tak melihatnya dengan sengaja. Ziva langsung menarik p*tingnya dari mulut Fellysia yang sedang nikmat menyusu. Lalu merapikan bajunya. Fellysia pun langsung menangis dengan sangat sedihnya. "Cup cup.. maaf ya.. kamu minum s**u formula aja ya Fellysia." ucap Ziva sambil menggendong Fellysia. Ziva pun membuka pintu kamar itu. Mendatangi Abian yang sedang duduk di sofa dengan bantal sofa yang ada di pangkuannya dan botol s**u di tangan kanannya. Cuaca sedang normal dan AC ruangan tetap menyala, tapi kenapa dahi Abian malah berkeringat dan wajahnya menjadi merah padam? "s**u-" "Ha!!" Abian terkejut karena Ziva menyebut kata s**u. "O-oh.. i-ini.." ucap Abian gagap sambil memberikan botol s**u Fellysia dengan mata yang tetap tertuju pada siaran Televisi. "Jangan membayangkan yang nggak-nggak!" ucap Fellysia sambil mengambil bantal yang ada dipangkuan Abian lalu memukulkannya ke kepala Abian. Karena Ziva tahu apa yang sedang di tutupi oleh Abian di bawah bantal. Ziva tidak sepolos yang orang pikirkan. Lalu Ziva menuju balkon sambil memegangkan botol s**u yang Fellysia kenyut. Ziva yang sedang duduk di balkon tiba-tiba teringat kejadian yang memalukan itu. Ia memaki diri sendiri dalam hatinya, kesal dan merasa perempuan yang sangat bodoh karena sikap teledornya itu. Sambil di tepuk-tepuk kecil dan di nyanyikan lagu 'nina bobo', akhirnya Fellysia tidur juga. Ziva meletakkan Fellysia di kasur box yang ada dikamar Abian. Suasana dirumah itu menjadi canggung. Hanya suara tv yang terdengar. Setelah itu Ziva keluar dari kamar dan menuju pintu apartemen. "Aku minta maaf atas kejadian tadi. Aku nggak tahu kalo kamu ada kirim pesan kayak gitu." ucap Abian sambil menarik tangan Ziva. Ziva enggan menjawabnya, melepaskan tangan Abian dan pergi dari apartemen Abian. Esok paginya Ziva langsung ke kampus tanpa menemui Fellysia dulu. Tiba di kampus, Abian datang dengan membawa Fellysia yang masih menggunakan pakaian semalam. Kelihatan sekali hanya Abian yang mandi, tapi Fellysia tidak. Abian yang membawa Fellysia pun jadi pusat perhatian anak kampus, dan dikelas mereka di kelilingi sama cewek-cewek kampus yang mencoba mencuri perhatian Fellysia. Ziva yang sedang duduk dan membaca novel, bersikap cuek dan tak peduli. "Egois.. bisa-bisanya Fellysia nggak di mandikan. Itukan baju yang semalam ku pakaikan." batin Ziva. Meliana teman satu-satunya Ziva mendatangi Ziva di kelas. "Zivaaaaaa.." panggilnya dari kejauhan. Meliana walaupun tak sejurusan dengan Ziva, ia kenal semua dengan teman sejurusan Ziva. Makanya ia berani ribut di kelas orang. Hampir semua anak kampus kenal Meliana. Meliana benar-benar populer di kampus. Tapi anehnya seorang anak introvert berteman dengan seorang anak extrovert. Malahan ketika Ziva berbicara dengan Meliana, ia nggak terlihat seperti anak extrovert. Benar-benar beda suasananya. "Kelas kamu dimulai jam berapa?" tanya Meliana. "10 menit lagi.." "Cepat banget.. padahal aku mau minta temenin sarapan." ucap kesal Meliana. "Eh va.. diluar kelas tadi heboh kali, karna liat Abian bawa anak bayi. Itu adiknya atau anaknya va?" tanya Meliana yang sebenarnya datang menjumpai Ziva untuk mencari informasi. Ziva melirik tajam Meliana karena paham niat Meliana yang sebenarnya. "Ng-nggak.. aku memang mau ngajak kamu sarapan loh. Kamu selalu ya berfikiran negatif tentang aku." ucap Meliana menyangkal. "Itu adiknya.." jawab Ziva. "Tapi va.. ku perhatikan dari tadi kok adiknya Abian terus melihat ke arah sini va." ucap Meliana. Ziva yang penasaran pun melihat kearah mereka. Benar saja, Fellysia yang melihat wajah Ziva langsung tertawa riang. Sebenarnya Ziva senang banget dikenal anak bayi yang baru ia temui kemarin. Tapi karna ia tak mau jadi pusat perhatian, ia langsung menolehkan wajahnya kearah semula. "Gemes kali!!! Mau cium Fellysia.." bisik hatinya. Fellysia walaupun masih bayi, ia merasa Ziva tak peduli lagi dengannya. Ia sedih saat Ziva memalingkan wajahnya dari pandangannya. Fellysia pun menangis sekuat-kuatnya memberi peringatan kepada Abian kalau ia mau bersama Ziva yang duduk di depan sana. Karna tempat duduk sudah di ubah, Abian tak lagi duduk di belakang Ziva. Abian memberi Fellysia s**u yang sudah ia sediakan sebelum berangkat ke kampus. Tapi karna bukan itu yang Fellysia mau, ia menepis botol s**u itu. Fellysia menangis dan mengamuk. Meliana sedari tadi memperhatikan interaksi antara Fellysia dan Ziva. Pasti ada apa-apanya di antara Ziva dan Abian. Nggak mungkin adiknya Abian sangat senang ketika melihat Ziva yang menoleh ke arahnya. Tapi menjadi tangisan yang sangat sedih sewaktu Ziva memalingkan wajahnya. Meliana pun langsung menghampiri Fellysia, mengambil paksa Fellysia dari pangkuan Abian. Fellysia pun semakin menangis karena di gendong oleh orang yang tidak ia kenal. Tetapi karena kepekaan Meliana yang sangat kuat, ia menaruh Fellysia diatas meja Ziva. Benar saja, yang sebelumnya suara tangisan Fellysia memenuhi satu ruangan berubah menjadi tawa riang Fellysia. Seakan bertemu dengan mainan yang ia sukai. Karena itu, Ziva menjadi pusat perhatian satu kelasnya. Dasar ya Meliana..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN