“Astaga, sekarang aku harus bagaimana? Tristan pasti kecewa padaku,” gumam Ishana dengan raut wajah cemas. Ishana melangkahkan kaki, ke sana kemari. Wajahnya tampak cemas setiap kali memikirkan ekspresi Tristan yang begitu kecewa. Dia juga terus menggigit kuku jarinya, mencoba meredam perasaan yang kian gelisah. Namun, tetap saja rasanya tidak tenang. Dalam pikirannya hanya ada nama Tristan, Tristan dan Tristan. Pria itu selalu terngiang dalam ingatannya, membuat Ishana bingung harus bersikap seperti apa. Dia juga tidak ingin terlihat berbeda, tetapi kenyataan yang diterimanya kali ini benar-benar sulit untuk diterima. Hingga Ishana menghentikan langkah dan duduk di sofa. Sejenak, Ishana hanya diam dan mencoba memikirkan cara. Apa yang harus dia katakan kalau bertemu dengan Tristan la

