“Semoga dia mau menemuiku,” gumam Ishana dengan raut wajah serius. Ishana menarik napas dalam dan membuang perlahan. Beberapa kali dia meyakinkan diri untuk datang ke tempat ini. Berulang kali juga dia mencoba menenangkan diri, berusaha untuk bersikap biasa. Dalam hati, dia yakin semua akan membaik dan dia mampu menghadapinya. Hingga dia yang sudah yakin sepenuhnya pun membuka pintu dan keluar. Ishana melangkah pelan, mendekat ke arah rumah dengan pintu tertutup. Di sana tidak terlihat siapapun. Suasana di sekitarnya juga sepi, seakan tidak ada kehidupan sama sekali. Sampai dia yang sudah berada di depan pintu pun mengangkat tangan dan siap mengetuk pintu. Namun, belum sempat dia mengetuk, pintu terbuka. Ishana yang melihat Andre berdiri di depannya pun langsung mengulas senyum canggung

