“Tristan mantan narapidana?” tanya Ishana kepada hatinya sendiri setelah membaca ulang sampai tiga kali untuk meyakinkan diri bahwa matanya sedang tidak berbohong. Dia menelan ludah dengan susah payah sambil mengusak wajahnya menggunakan salah satu tangan. Ishana mengadah, menatap langit-langit kamarnya sebelum tertawa hambar tanpa suara, lebih karena dia tidak mempercayai apa yang baru saja dia baca. “Ini lelucon atau apa? Tidak mungkin pria seperti Tristan merupakan seorang narapidana,” celetuk Ishana bersikeras dengan menggoyangkan kembali dokumen itu di tangannya. Jelas bahwa pada salah satu lembar terdapat foto Tristan selama pria itu berada di penjara, nampak lusuh tidak segar bugar seperti sekarang ini. “Apakah ini palsu?” tanyanya sambil menyangkal sebelum matanya membulat kar

