“Tristan?” panggil Ishana dengan melambaikan tangan dari balik kemeja putih kebesaran tersebut, handuk yang berada di kepalanya tersingkap ke arah belakang sampai nyaris terjatuh. “Kamu kenapa hanya diam saja?” lanjutnya lagi dengan menyentuh lengan Tristan, sedikit mengguncangkannya pelan. “T—Tristan,” panggil Ishana lagi dengan nada pelan sementara Tristan sedang sibuk menelan saliva. “Kamu membuatku takut, ayo katakan sesuatu. Jangan diam seperti ini,” cicit Ishana. Lai-laki itu meremas kedua tangan lalu mengusak dagu, mencoba menggerakan kepala sebelum membasahi bibir dan berdeham cukup kencang untuk memecah keheningan. Suara hujan dan kilat masih bersahutan dari arah luar, membuat area di dalam rumah ini terasa begitu mencekam karena aura Tristan yang berkemendang dengan begitu h

